Wednesday, February 20, 2008

BOYONGAN PROJO

KATETEPAN DALEM
NOMOR 01/SNJ/II-08 TAHUN 2008
TENTANG
BOYONGAN PROJO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SANG NANANGING JAGAD

Menimbang : dan seterusnya…
Mengingat   : dan seterusnya…


MEMUTUSKAN:
Menetapkan: Untuk dan atas nama aspirasi penulisan di jagad perbloggeran, menitahkan kepada yang bersangkutan untuk melakukan:


Pasal 1
Lengser keprabon, pindah secara bedhol desa dan sukarela untuk babad alas di
jagad baru.

Pasal 2
Segala hal yang terkait dengan pemindahan blog dan lain sebagainya akan diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pasal 3
Memberikan ketetapan kepada yang bersangkutan untuk menempati, lenggah dampar anyar di jagad baru.

Pasal 4
Segala hal yang terjadi akibat kesalahan ketetepan ini di kemudian hari dapat ditinjau kembali.

Pasal 5
Ketetapan ini mulai berlaku pada saat ditetapkan dan memerintahkan pengumumannya di dunia blogger.

Ditetapkan di Projo Njakarta Hadiningrat
pada tanggal 12 Sapar 1941 Jawa

ttd

Sang Nananging Jagad

Posted by Nananging Jagad in 01:50:50 | Permalink | Comments (8)

Monday, February 11, 2008

FAKTA NYATA

DETIK-DETIK KELAHIRAN

Seiring bergugurannya daun-daun tua ditelan usia, maka bersemi pulalah tunas-tunas muda gantikan yang tua. Adalah Senin Pon dini hari bertepatan dengan tanggal 12 Suro 1941(12 Muharam 1429 H) terlahirlah sosok ponang jabang bayi yang sempat menghebohkan seisi kampung dikarenakan menurut perhitungan dan perkiraan para dokter ahli kandungan belum tiba wayahnya untuk tedak marcopodo. Dan memang perkiraan dokterpun sang bayi akan terlahir tanggal 12 Februari 2008 bukannya 12 Suro 1941 Jawa. Ini memang sedikit ngowahi adat, di luar prekdiksi, unpredictable wis pokoke.

Adalah sang biyung dari sang bayi, yang tengah mengandung dalam usia kandungan delapan bulan lewat beberapa hari, sore menjelang malam itu masih tukar kawruh dengan para ksatria tetangga, menjelang pelaksanaan ujian sekolah dasar. Tukar kawruh tersebut berlangsung sampai kira-kira mendekati tabuh sepuluh malam hari. Menjelang menuju ke peraduan, sang biyung merasakan tulang boyoknya terasa pegel dan ngilu, padahal dalam sejarah perjalanan hidupnya tiada pernah mengalami sakit tersebut.

Boyok yang terasa pegel tersebut sengaja diampet sekedar sebagai bekal mengarungi dunia mimpi di malam tersebut. Menjelang wayah lingsir wengi di jam setengah satu malam, nyeri boyok semakin tidak tertahankan. Di dalam kondisi tersebut sang biyung mengalami muntah laksana orang mabuk kendaraan, sehingga seluruh isi perut terkuras habis keluar semua. Dan satu rasa yang dirasakan saat itu adalah lemes lunglai kehabisan tenaga.

Sang eyang putri berusaha mengelus boyok nyeri secara perlahan dan memberikan saran agar segera menuju rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang memadai. Dibangunkalah kemudian sang bulik untuk meminta bantuan para tetangga yang memiliki mobil atau sekedar gerobak dorong untuk mengantarkan sang biyung menuju klinik bersalin terdekat. Waktu itu sang biyung sudah tiada daya lagi untuk mengampet rasa nyeri di punggung yang disertai rasa ingin buang air besar yang sudah sangat kritis. Sang biyung hanya pasrah mengingat daya tenaganya sudah terkuras habis akibat pemuntahan isi perut sebelumnya, hal tersebut membuatnya berpikir andaikanpun sang ponang jabang bayi akan lahir, dirinya tiada tenaga untuk sekedar ngeden dan satu-satunya pilihan persalinan hanyalah melalui operasi.

Sejurus kemudian…pyuuuh! sang ketuban pecah berantakan dan muncrat berhamburan ke empat arah penjuru secara acak, bagaikan ledakan hulu ledak nuklir yang diakibatkan pelepasan energi super hasil proses reaksi inti. Pecahan ketuban berusaha ditangkap dengan kedua belah telapak tangan sang eyang, meski dengan perasaan panik tiada menentu. Kemudian dengan segala upaya diusahakanlah jalan tol yang telah terbuka lebar aksesnya tersebut untuk dapat dihambat dan ditutup, untuk mengerem laju jabang bayi sambil menunggu pertolongan dari sang ahli.

Ndilalah mobil tetangga yang ada hanyalah sebuah jip rover tinggi yang hanya mempunyai pintu depan saja, tidak mungkin rasanya digunakan untuk membawa seorang ibu hamil tua menuju klinik persalinan, dalam kondisi darurat lagi. Meski demikian sang empunya jip tetap berusahan untuk memanaskan sang mesin yang masih tertidur, terbuai oleh dingin malam. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan sang pesakitan dibawa menuju klinik, maka muncullah inisiatif sang eyang untuk menculik sang bidan klinik guna memberikan pertolongan, dan hanya dengan meluncurkan suatu teror melalui telepon tentunya. Dengan mukjizat Tuhan akhirnya dijemputlah sang bidan dari klinik yang memang hanya berjarak sekitar setengah kilometer.

Sesampainya di tempat kejadian perkara, sang bidan langsung melakukan diagnosa dan pemeriksaan awal untuk melihat segala kemungkinan. Dari hasil pengamatan sang bidan disimpulkanlah bahwa sang ponang jabang bayi akan segera terlahir ke muka bumi. Dalam suasana pergantian detik ke detik yang demikian sangat cepat dan krusial dimintalah para hadirin semua untuk memanjatkan doa kepada sang Raja Manusia agar proses persalinan dapat berjalan dengan baik. Dan puji kepada Gusti Allah, hanya dengan sekali jeritan ngeden, bak orang akan bebuang akhirnya terdengarlah cenger tangis sang jabang bayi, cenger…..ooek! tanpa mules perut, tanpa kontraksi, tanpa bukaan pertama, ke dua, ke tiga,……..sampai ke sepuluh, pokoke langsung ceprot, sedikit kontroversial dan tentunya anti teori kebanyakan. Ruaar biasa memang kuasa Tuhan!

 Dan sang bayipun terlahir ke alam fana, satu tunas muda bersemi, jalani hidup gantikan yang tua. Sedetik berikutnya cep, sang bayi berhenti menangis meski melirik melotot memainkan bola mata sambil berpencak silat menggerakkan tangan dan kakinya. Meneng, anteng, sugeng, jeneng, jumeneng menjadi sebenarnya manusia, titah sewantah, di jagad kauripan. Nampak legalah nafas para hadirin di bilik kecil tersebut.

Di saat sang bayi sudah terlahir dan melegakan hadirin, teringatlah di benak sang eyang akan siapa yang akan mengadzankan sang bayi di telinga kanan dan mengiqomatkannya di telinga kiri untuk pertama kalinya mengingat sang bopo tiada menunggui proses kelahiran dan berada jauh di bumi perantauan. Akhirnya terpaksalah ditanggap tetangga sebelah rumah yang dikenal sebagai orang sholeh untuk melakukan tugas suci tersebut.

Sang bidan dengan tangan trampilnya secara cekatan mengambil tindakan untuk membersihkan sang jabang bayi untuk kemudian dilarikan ke klinik karena kondisi bayi merah yang masih sangat prematur dan memerlukan pertolongan inkubator untuk menjaga kestabilan temperatur organ seluruh badannya. Sepeninggal sang bayi, sang bidanpun kemudian mulai menggarap sang biyung dari sang bayi.

Pada saat akan mengerjakan proses penjahitan  rupanya sang bidan lupa membawa benang jahit khususnya. Maka bergegaslah sang bidan meminta dilarikan ke kliniknya untuk mengambil sekedar benang dan segala uba rampe tugas akhirnya.

Setelah benang di tangan, dimulailah pekerjaan ketrampilan tangan tersebut, ”menjahit organ khusus”. Pada detik-detik proses penjahitan tersebut sang biyung merasakan sakit yang teramat sangat. Dan rupanya bius yang diberikan kurang memadai. Kemudian dilakukanlah penambahan bius, hingga proses penjahitan dan pengobrasan spesial tersebut dapat berlangsung dengan sukses dan sempurna.

Demikianlah kemudian segalanya berlangsung sebagaimana wajarnya sebuah skenario Tuhan. Sang biyung cepat pulih kondisi tubuhnya, bahkan di hari pertama paska kelahiranpun sudah bisa berjalan-jalan secara normal. Akan halnya sang ponang jabang bayi selama tiga hari ditempatkan dalam inkubator untuk kemudian menghirup udara bebas di hari ke empat. Dan kelak di kemudian hari sang bayi tersebut menyandang nama Radya Hermawan Putra.

Posted by Nananging Jagad in 04:32:15 | Permalink | Comments (14)

Monday, February 4, 2008

SERANGAN FAJAR

CARI TUKANG NGARIT

Thit……thirithit….thit thit, demikian pagi selepas mandi ponsel antik saya berbunyi menandakan seseorang di sebrang menghubungi. Dengan bergegas saya angkat. “Hallo?, wis tangi?”, tanya suara bertanya. “Uwis, ono opo?”, kujawab. Kemudian si penelepon berlanjut, “ Iki le ngresiki kebonan ro taman ngarep sido dilekasi, tulung sisan nggoleke tukang ngarite wong loro yo!”, perintahnya cepat seraya memutus hubungan telepon.

Jagad dewo batoro…………, saya rak kaget dan tak menyangka mendapatkan sederetan teror yang tidak saya mengerti tersebut. Saya kemudian amati nomor telepon sang komandan misterius tersebut. Dan…….saya sama sekali tidak mengenalinya. Siapakah dia gerangan, seribu tanya kemudian muncul dan bermain di benak kepala. Pagi-pagi begini disuruh cari tukang ngarit? Yo lelakon opo iki pak Mantep?

Belum genap semenit telepon putus, terdengar lagi nada panggilan. Suara di sebrang langsung menerjang kebingunganku. ” Nuwun sewu Mas, niki Sulis saking Saung Nini. Wau niku salah kontak, jane ajeng ngontak Kang Samijo ken ngresiki taman ngajengan lan sisan pados tukang kebone”. Ooo……Mas Sulis, baru ingat, saya memang mengenalnya sebagai suami Mbak Marsih anak Pak Dukuh Klapaloro I tempat KKN saya dulu. Kami memang masih terus saling berkomunikasi dan berusaha mempererat tali paseduluran. Mereka saat kini mengelola sebuah villa di depan Taman Bunga Nasional kawasan Puncak.

Dengan sisa keheranan sayapun bertanya, ”Lha kok saged kulo sing ketelpon Mas?”. ”Lha njih Mas, soale teng phonebooke jejeran je”, Mas Sulis mencoba menjelaskan. ”Oooo……ngoten, njiih mboten nopo-nopo kok Mas, niki nomer enggal njiih?, jawab saya. ”Njiiih Mas…….njing ampun supe mampir Saung Nini njih?Pareeng riyin njiih Mas!”, pamitnya. ”Njiih Mas…….monggo!!”, jawab saya seraya menutup telpon.

Kaget sekaligus nggumun…….pernahkah kisanak semua mengalami peristiwa sebagaimana  yang saya alami tersebut? Pagi buta disuruh cari tukang ngarit?
Posted by Nananging Jagad in 04:00:40 | Permalink | Comments (11)

Monday, January 28, 2008

PAMBIOWORO

Wus tilair ing marcopodo kalis ing rubeda, titah dalem kang maha kuwasa, mios jaler, ing wanci lingsir wengi tabuh kalih enjing, surya 12 Suro 1941 Jawa (12 Muharam 1421 H) kaleres 21 Januari 2008 mapan ing Magelang Hadiningrat. Sang ponang jabang bayi banjur kaparingan tetenger:

RADYA HERMAWAN PUTRA

Apalah arti sebuah nama, demikian disampaikan oleh seorang simbah penyair dari masa lampau di negeri sebrang. Namun dalam hal ini sang bopo kurang berkenan dengan konsep nama tanpa makna tersebut hingga kemudian othak-athik gathuk berdasarkan wangsit wingit yang pernah diterimanya.

Nama sebagaimana tersebut di atas berasal dari dua kombinasi kata: Radyaputra + Hermawan

Tinjauan pertama:

# Radyaputra:

1. sisi keilmuan:

radya diandaikan atau dipersepsikan berasal atau mirip dengan kata radial;radiasi. Hal demikian dikarenakan kebetulan sang bopo bekerja di lingkungan medan radiasi. Radial merupakan proses pemancaran sesuatu dari suatu titik pusat pancaran tertentu ke segala penjuru secara simetris atau konvergen, bisa berupa berkas cahaya, panas, atau energi lain. Radiasi merupakan proses perpindahan energi tanpa melalui media perantara, sebagaimana energi panas matahari yang dipancarkan ke segenap penjuru Bimasakti. Oleh sebab itu diharapkan ke depan sang ponang jabang bayi yang menyandang nama tersebut dapat memancarkan nilai positif ke segala penjuru dimensi kehidupan, laksana anak matahari yang menyinari semesta sebagai sumber penghidupan bagi sesama makhluk Tuhan.

2. sisi ontologi linguistik:

menurut kamus bahasa Baoesastro(1935), radya berakar kata sama dengan radyan;rahardyan;raden. Radya atau radyan berarti kerajaan bisa juga raja itu sendiri, sedangkan rahardyan atau raden merupakan orang mempunyai sifat-sifat dapat memengku sebuah fungsi dan misi kerajaan dalam arti luas. Dengan demikian radyaputra merupakan anak kerajaan, anak bangsa, putra pertiwi yang diharapkan dapat menjunjung tinggi martabat tanah air, bangsa dan negara, dapat menghidupi kehidupan serta memayu hayuning bawana, mengasah mingising budi, lan memasuh malaning bumi. Dalam rangka mewujudkan tugas mulia tersebut sang radyaputra akan mendukung namun juga sekaligus didukung oleh sedulur sekawan keblat gangsal pancer.

Sekawan keblat yang dimaksud adalah:

a. raja; dapat berarti kesatuan dari unsur birokrat, teknokrat, alim ulama dan pemegang nilai-nilai kearifan lokal;

b. sentono dalem; diartikan sebagai trah, kerabat atau keluarga besar;

c. abdi dalem; diartikan kanca sejajar,teman karib, sahabat;

d. kawulo dalem; dimaksudkan rakyat atau masyarakat luas.

Sedangkan satu pancer kelima yang dimaksud adalah Tuhan. Dengan berusaha melaksanakan tugas mulia tersebut, diharapkan sang radyaputra kelak dapat menjadi abdi(abdullah) sekaligus manusia paripurna(insan kamil) sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan untuk memakmurkan bumi(kalifahtullah fil ardli).

3. sisi historis jagad pekeliran:

Dikisahkan bahwa Suryoputro alias Suryoatmojo alias Suryoyoga adalah anak sang Dewo Suryo yang dititipkan kelahirannya melalui telinga Dewi Kunthi sehingga dikenal juga sebagai Basukarno(basu:anak; karno:telinga). Dengan demikian lebih dari segalanya sang Basukarno adalah kakak tertua dari para Pandhawa Lima. Sesaat setelah kelahirannya, sang Basukarno dilarung atau dihanyutkan di sungai Gangga sehingga diketemukan sais kereta Prabu Radeya, kemudian diberi peparab Radeyaputra;radyaputra. Kelak di saat detik-detik menjelang meletusnya Bharatayudha, Radyaputra memilih membela tanah air yang telah menghidupinya dan kerabat yang menyantuninya yaitu Astina. Sebagai suatu strategi perang, Ibu Kunthi diperintahkan Basudewa Khrisna untuk membujuk Radyaputra agar bergabung dengan adik-adiknya di Pandhawa. Radyaputra menolak permintaan sang ibu, namun sebagai bukti kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya dan juga sebagai bukti dharma bakti kepada sang ibunda yang telah membuangnya di masa kecil, semua jimat kesaktian diserahkan kepada sang ibu demi kemenangan Pandhawa dan dia berjanji tidak akan mempergunakan senjata kunto(senjata pamungkasnya) saat menghadapi Arjuna, sehingga bahkan dia gugur di tangan Arjuna adiknya sendiri.

Dengan menyandang nama radyaputra, diharapkan kelak sang ponang jabang bayi dapat meneladani rasa narimo ing pandhum, memiliki jiwa jembar samodra, berjiwa sabar dan pemaaf sehingga tidak memiliki sifat pendendam bahkan terhadap orang yang telah menyia-nyiakannya sekalipun. Bakti kepada sang ibuadalah dharma tertinggi dengan perngorbanan segenap jiwa dan raga. Setia kepada janji dan tanah tumpah darah sampai hembusan nafas terakhir(dan memang istri Basukarno bernama Dewi Setyawati).

Tinjuan kedua:

# Hermawan:

Her, warih, tirto, banyu, atau toya adalah dasanama(synonime) dari air. Air merupakan sumber kehidupan, air sejati bersifat suci dan menyucikan. Sifat air adalah mbanyu mili, dia akan mengikuti kodrat alam sesuai perintah Tuhan. Namun ketika aliran air terbendung atau mampat, maka ia akan menjelma menjadi air bah yang sanggup meluluhlantakkan setiap penghadang dan penghalang di hadapannya.

Ma merupakan akronime dari manungso(manunggaling kridho lan roso), manusia, titah sewantah jalma limrah.

Wan adalah kata ganti kepemilikan sifat seorang pria.

Dengan demikian Hermawan dapat diartikan sebagai sosok pria yang mempunyai sifat atau perwatakan air.


Demikian othak-athik gathuk seorang bopo sebagai doa terhadap sang atmojonya agar kelak menjadi orang yang berbakti dan berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara terlebih bagi agamanya. Lepas dari segala harapan dan doa kridhaning ati ora biso mbedhah kuthaning pasthi, budi dayane menungso ora biso ngungkuli garising Kang Maha Kuwasa.

Bagaimana pendapat kisanak?

Posted by Nananging Jagad in 04:57:40 | Permalink | Comments (22)

Wednesday, January 16, 2008

OPO TUMON?

PROGRAM
KETAHANAN PANGAN NASIONAL

“Sebuah Kisah Ironi Bagi Petani”

Dalam satu kesempatan rapat kabinet terbatas di Departemen Pertanian 15 Januari 2008, Presiden Susi menyampaikan bahwa terjadinya bencana alam yang menimpa tanah air akhir-akhir ini juga banyak menimpa daerah-daerah sentra produksi pangan nasional. Hal tersebut membuatnya khawatir bahwa bencana alam yang terjadi akan disusul dengan bencana kelaparan akibat tidak adanya ketahanan pangan nasional yang mampu menyediakan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Untuk itu diluncurkanlah di awal tahun ini program untuk peningkatan ketahanan pangan nasional.

Dana yang dianggarkan untuk program tersebut mencapai sembilan triliun rupiah, ini berarti terdapat peningkatan anggaran di Departemen Pertanian sebesar 40% yang secara khusus akan digunakan untuk pembangunan kembali infrastruktur penunjang sektor pertanian seperti bendungan, saluran irigasi, penyediaan bibit unggul dan sarana produksi, serta prasarana pasca panen. Selain dipicu oleh berbagai bencana alam di tanah air, program tersebut juga sebagai respon adanya kekurangan stok berbagai produk pertanian untuk kebutuhan dalam negeri, seperti kedelai dan gandum, bahkan juga beras yang terpaksa harus diimpor dari luar negeri.

Nampaknya pemerintah tidak akan pernah kehabisan ide dan kreativitas untuk menciptakan suatu program baru. Hanya pertanyaan masyarakat adalah sejauh mana program yang dicanangkan pemerintah dapat berjalan efektif dan mendapat respon dari pelaku di lapangan, sehingga dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Di pertengahan Juni 2005, barangkali masih segar di ingatan kita, Presiden Susi meluncurkan program revitalisasi pertanian, kehutanan dan kelautan. Program tersebut identik dengan program ketahanan pangan, namun apa lacur, bagaimana kabar program tersebut, apakah berhasil, ataukah gagal total?

Sepertinya suatu program pembangunan di era pemerintahan Presiden Susi ini hanya abang-abang lambe, sekedar pemanis bibir, sehingga antar suatu program dengan program lainnya tidak terintegrasi dengan baik, sehingga selalu amburadul dalam implementasinya di lapangan. Disamping itu seringnya terjadi perubahan struktur organisasi dan pergantian pejabat menjadi penghambat keberlanjutan program yang telah dicanangkan sebelumnya, sehingga masalah keberlangsungan dan kelanjutan program tidak dapat tertangani dengan baik. Masih ingat barangkali, di era Menteri Pertanian Prakoso dicanangkan Gema Palagung(Gerakan Masyarakat Palawija dan Jagung), era Bungaran Saragih dengan program agribisnis dan agroindustrinya, dan sekarang era Anton telah berubah dua kali pencanangan program, ditambah pola impor berbagai bibit unggul varietas pertanian dari luar negeri seperti RRC dan Thailand. Nampaknya program hanya tinggal program di dunia awang uwung.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pembina HKTI, Siswono Yudhohusodo mengatakan bahwa yang paling penting untuk dilakukan pemerintah adalah peletakan pondasi yang kokoh bagi suatu kebijakan politik pertanian yang terencana dan terimplementasi dengan baik, sinergis, dan berkelanjutan. Kebijakan yang dibuat secara parsial dan terpotong-potong tidak akan menuai hasil yang optimal.

Pertumbuhan penduduk di muka bumi berkembang sangat pesat mencapai satu miliar jiwa per tahun. Hal tersebut jelas harus diiringi dengan penyediaan cadangan pangan yang mencukupi sehingga ke depan harga pangan akan senantiasa naik secara signifikan. Sebagai satu contoh harga cpo sepuluh tahun yang lalu US$ 220 kini telah mencapai US$ 880 per tonnya. Indonesia sebagai negara tropis dengan luas lahan pertanian jutaan hektar sangat berpeluang untuk menjadi negara penghasil komoditas produk tropis terbesar di dunia. Hanya saja kebijakan pemerintah nampaknya sangat mengesampingkan peluang tersebut.

 

Kebijakan yang seringkali dibuat malahan sering memukul sektor pertanian di dalam negeri sendiri. Di negara belahan dunia manapun negara selalu memproteksi produk pertanian dalam negeri dengan penerapan bea masuk impor yang tinggi sebagaimana Jepang yang menerapkan angka 400%, Taiwan 140%. Kebalikan dengan negara kita, bahkan untuk kedelai, pemerintah menghapuskan sama sekali bea masuk menjadi 0%, hal ini jelas akan mejadikan Indonesia sebagai pasar yang dibanjiri kedelai dari berbagai negara. Negara seperti Amerika Serikat sebagai penghasil kedelai terbesar jelas akan berpesta pora menikmati keadaan tersebut, sedangkan nasib petani kedelai kita akan semakin hancur karena sistem pertanian yang tidak didukung kebijakan yang menunjang. Beberapa dekade yang lalu, saat bea masuk kedelai masih tinggi, para petani bergairah menanam kedelai hingga mencapai luas lahan 1,4 juta hektar dan mampu mensuplai kebutuhan nasional hingga 80%. Saat ini dengan bea masuk 10%, kedelai luar mulai membanjir, hingga petani kedelai melesu dan luas lahan berkurang menjadi 700 ribu hektar dan hanya mensuplai 60% kebutuhan nasional. Bayangkan dengan bea masuk 0%! Apa yang akan terjadi?

 

Contoh lain kebijakan yang salah juga terjadi untuk komiditas coklat atau kakao. Pada saat produksi bagus pemerintah menerapkan PPn sebesar 10% untuk pabrik pengolahan kakao di dalam negeri, sedangkan bea ekspor diterapkan 0%. Akibatnya banyak pabrik pengolahan yang gulung tikar dan kakao kemudian banyak lari ke luar negeri yang disambut dengan sangat baik oleh sebuah perusahaan di Johor yang menjadikannya sebagai pengolah kakao terbesar di Asia Tenggara. Dan lucunya kemudian produk coklatnya banyak dijual kembali ke Indonesia. Nampaknya hal tersebut bisa terjadi kemungkinan karena dua hal, pertama bodohnya pembuat kebijakan, atau hal yang ke dua adanya kolusi dan manipulasi untuk keuntungan oknum tertentu.

Dalam kondisi demikian, dimanakah keberpihakan pemerintah kepada petani, kepada anak bangsa sendiri? Apakah nasib petani selamanya hanya menjadi komoditas bagi kepentingan penguasa semata? Sepertinya petani dari jaman ke jaman hanya senantiasa dijadikan sebagai tumbal atas nama stabilitas pangan dan pembangunan nasional. Mohon renungkanlah kembali. Ampuuuuun pemrentah….!!!
Posted by Nananging Jagad in 04:15:44 | Permalink | Comments (12)

Monday, January 14, 2008

KIAMAT SUDAH DEKAT

SI MISKIN MEMBANGUN GEDUNG TINGGI
“salah satu fenomena tanda-tanda kiamat besar”
Seminggu berlalu di mesjid sebelah diselenggarakan sebuah tausiah mengambil tema “KIAMAT SUDAH DEKAT”. Dilihat dari judulnya sekilas nampak kesan sinetron banget yo! Tapi penyampaian Subkhi Al Buchori cukup menarik dan kocak. Diawali dengan pandangan mengenai penyambutan tahun baru dengan tradisi peniupan trompetnya. Hal tersebut dinilainya sebagai menyangi malaikat Isrofil yang bertugas meniup sangkakala tanda bumi akan segera hancur musnah tiada sisa yang dikenal sebagai fenomena kiamat besar(kubra).

Beberapa tanda-tanda akan datangnya hari kiamat besar dibagi menjadi tanda-tanda besar dan kecil. Tanda besar diantaranya terbitnya matahari dari arah barat, datangnya nabi-nabi palsu, bangkitnya Nabi Isa untuk memberantas ya’juj wal ma’juj. Sedangkan tanda kecil diantaranya datangnya hujan yang tidak menyuburkan bumi, seringnya lapisan batuan bumi diguncangkan melalui gempa, banyaknya populasi perempuan dibandingkan pria, banyak ibu yang melahirkan tuannya, banyak orang miskin yang membangun gedung tinggi, dan masih ada beberapa contoh lainnya.

Hal yang menarik adalah ketika di akhir pekan kemarin saya sempat mudik, pulang kampuang di kampuang nan jauh di mato lereng Gunung Merapi. Ruar biasa….. baru sekitar tiga bulan tidak ngaruhke dusunku tercinta tersebut, sudah terdapat beberapa perubahan pemandangan yang sangat mencolok. Memasuki mulut dusun, langsung disuguhi sebuah bangunan mentereng nan menjulang tinggi yang dibangun oleh seorang “juragan baru” yang saat ini sedang mendulang won di Korea dan tengah berada di puncak karirnya. Sebuah rumah bergaya kemewahan kota dengan bertingkat tinggi.

Bergeser kira-kira 500 meter memasuki jalan utama dusun terlihat sebuah rumah setengah jadi bertingkat dua berdinding batako yang belum tersentuh plesteran. Rumah ini dibangun oleh seorang “cukong” yang mengaku sebagai pemborong yang barusan menerima uang gusuran rumahnya di Tangerang. Sang cukong kemudian mudik dan membangun rumah tersebut dengan sejumlah anggaran yang sangat fantastis yang selalu tergembar-gemborkan menjadi perbincangan warga dusun.

Kemudian tepat di ujung dusun, juga berdiri sebuah bangunan rumah bertingkat lagi, yang nampak masih jauh dari selesai. Konon rumah tersebut dibangun sebuah pasangan keluarga baru yang keduanya mantan TKI di Malaysia.

Hal penting yang menjadi keprihatinan saya sebenarnya adalah bahwa kisah pembangunan rumah-rumah gedung berukuran tinggi menjulang oleh para OKB tersebut dilatari oleh suasana keprihatinan yang terjadi di internal keluarga masing-masing. Untuk rumah yang pertama, sebuah keluarga kecil yang ditinggalkan sang kepala keluarga mengadu nasib di Korea. Kurangnya perhatian dari ayah nampaknya membuat si sulung menjadi sulit terkontrol untuk ukuran anak seusianya sehingga menjadi anak “kurang cerdas” diantara sebayanya. Dan yang lebih memrihatinkan, “tanda-tanda kepremanan” sudah nampak di depan mata. Ugal-ugalan pake motor untuk anak seusia kelas enam esde di sebuah kampung terpencil nampaknya menjadi aib tersendiri bagi sebuah keluarga. Nampaknya sang bapak di rantau sangat kurang bijak dalam “ngejor” semua kebutuhan sang anak yang berakibat menjadi bumerang di masa depan. Kejadian kedua terkait pembangunan rumah mewahnya adalah jatuhnya kurban seorang tukang bangunan akibat tersengat listrik pada saat pemasangan atap. Hal tersebut dikarenakan tinggi rumah yang menyundul kawat listrik PLN. Tak tanggung-tanggung, dua orang menjadi kurban meskipun tidak sampai meninggal, namun memerlukan perawatan di rumah sakit sekitar 2 minggu, dan hingga kini, dua bulan berselang dari kejadian naas tersebut sang tukang masih terbaring lemah di pembaringan.

Rumah tinggi ke dua juga nyundul kawat listrik PLN, namun tidak ada korban. Keprihatinan muncul karena setelah pembangunan rumah yang tidak diiringi dengan kecukupan dana pendukung membuat proyek mogol di tengah jalan, ibarat pepatah besar pasak daripada tiang. Gaji para tukang yang seharusnya dibayarkan terpaksa sampai saat ini masih diutang. Hal tersebut membuat pasangan suami istri yang baru pulang kampung setelah “sukses” menjadi orang “kaya” sering ricuh dan terjadi pertengkaran hebat yang membuat geger warga dusun. Dan sebagai puncaknya, si istri minggat dari rumah tanpa kabar jelas keberadaannya hingga kini. Dan tragisnya tiga orang anak ditinggalkan telantar, yang paling kasihan barangkali si bungsu yang baru berusia dua tahuan-an.

Rumah tinggi ke tiga tidak perlu saya lanjutnya……..gak jauh berbeda. Hal yang membuat saya nggumun, apakah fenomena OKB warga dusun kami, yang sebenarnya hanyalah orang “kere”(mohon maaf) yang sedang munggah bale tersebut ada hubungannya dengan salah satu tanda kecil akan datangnya tiupan Sang Terompet Isrofil?Bagaimana menurut kisanak sedoyo?

Posted by Nananging Jagad in 02:51:30 | Permalink | Comments (3)

Monday, January 7, 2008

FAKTA JAKARTA

TIKUS-TIKUS DI KEDOYA

Adalah Mas Edi, pria berpenampilan kalem dan berambut gondrong dengan kaca minus yang malam itu turut nguda roso. Dia adalah seorang wartawan mantan redaktur bertema budaya di sebuah koran besar bergelar Media Indonesia. Dia secara terbuka dan lugas menyampaikan pemaparan mengenai intrik-intrik yang terjadi di dalam rumah tangga koran besar tersebut yang diistilahkannya sebagai “pelembagaan agama dalam institusi media massa. Hal tersebut perlu disampaikannya sebagai suatu pembelajaran publik tanpa mau mendeskriditkan kelompok atau agama tertentu.

Media massa semestinya menyampaikan informasi kepada publik secara transparan, obyektif dan netral. Apabila disimak banyak koran besar yang telah mengambil posisi menuju kondisi ideal tersebut. Ambillah contoh, Kompas. Koran ini di sisi manajemen dan pemegang saham didominasi oleh kalangan Katolik. Namun dalam hal pemberitaan suatu berita tidak pernah mensortir pemberitaan menyangkut kejadian atau dakwah agama tertentu. Demikan halnya dengan Republika yang berangkat dari ICMI dan dimotori oleh para kuli tinta muslim.

Di Media Indonesia, dari jajaran petinggi mulai dari direktur dan wakil direktur, para redaktur didominasi oleh kalangan agama tertentu. Dan nampaknya hal itu berlangsung tidak secara alamiah, namun dengan suatu rekayasa terstruktur dan sistematis. Dalam suatu perekrutan pegawai baru, dari dua belas yang diterima, sepuluh diantaranya pasti berasal dari agama tertentu. Pernah ada suatu kasus penerimaan seorang jurnalis wanita muda kemudian dianulir karena yang bersangkutan diketahui mengenakan jilbab. Secara struktur dan kebijakan sangat terasa diskriminasi terhadap karyawan muslim di sana.

Dalam soal pemberiataan di bulan haji ini, menurut survey dan rating pemasang iklan tertinggi adalah liputan mengenai ibadah haji dan kegiatan umat Islam menyambut Idul Adha, dan berita tersebut sangat layak dimuat bahkan menjadi headline dan ditempatkan di halaman utama. Namun kebijakan dari para ndoro petinggi menitahkan bahkan berita tersebut jangan dimuat. Demikian halnya ketika terjadi domonstrasi besar-besaran oleh PKS di berbagai kesempatan juga laporan beritanya selalu dianulir oleh para petinggi.

Dalam pergaulan keseharian, pada saat rekan-rekan muslim melaksanakan sholat jum’at, karyawan dan jajaran direksi yang beragama lain kemudian secara sporadis selalu melaksanakan misa dengan alunan nyanyian gerejawinya seakan tak mau kalah dengan para muslim yang tengah khusuk beribadah. Hal ini mendorong Mas Edi menyusun buku berjudul ”Senandung Gereja di Kedoya” yang akan membeberkan kebusukan yang terjadi di media raksasa tersebut.

Hal tersebut oleh Mas Edi disampaikan kepada Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni, Dirjen Bimas Islam Prof Nazarrudin Umar, dan Direktur Pasca Sarjana UIN Prof Azuramardi Azra, dan pesan moral dari mereka adalah agar Mas Edi dan rekan-rekan yang masih bertahan di dalam sistem terus berusaha memperjuangkan aspirasi warga muslim.

Beberapa redaktur penting dan lebih senior dari Mas Edi kemudian mengundurkan diri setelah menempuh berbagai cara untuk memperjuangkan idealisme kode etik jurnalistik. Pihak manajemen kemudian merekrut para wartawan ”muslim abangan” yang bisa mereka ”tawar” dan dapat bekerja sama sekaligus untuk melegitimasi bahwa mereka tidak membawa misi pelembagaan agama. Seorang rekan dari anggota Jaringan Islam Liberal bahkan dengan suka rela membatalkan puasa Ramadhan ketika diajak makan siang oleh para bos. Dan hal tersebut dijadikan senjata oleh para ndoro bahwa ternyata si A dapat bertoleransi tinggi terhadap agama lain, dan yang lainnya semestinya juga bisa melakukan hal yang sama.

Berbagai cara telah ditempuh oleh Mas Edi dan rekan-rekan yang bertahan, mulai dari cara halus dan sopan sampai cara kasar tanpa sopan-santun lagi. Di tempat-tempat tertentu pada dinding tembok, semisal di toilet banyak karyawan yang mencoretkan umpatan dan keluhan…..si A redaktur brengsek, bajingan, dll. Bahkan pernah mereka melancarkan aksi membuat spanduk besar disertai karangan bunga raksasa yang memberikan selamat kepada seorang pejabat yang mengundurkan diri, padahal kenyataannya pejabat tersebut tidak mundur.

Akhirnya Mas Edi memilih jalan pengunduran diri dan mencoba memperjuangkan idealisme di luar kandang Kedoya. Proses hukum sedang berjalan dan atas bantuan serta mediasi Menteri Agama kasus-kasus tak wajar tersebut akan diangkat ke meja hijau di 2008. Seorang teman sejawat Mas Edi juga tengah menuliskan kesaksiannya dalam buku yang kelak diberinya judul Tikus Tikus di Kedoya.

Posted by Nananging Jagad in 08:14:55 | Permalink | Comments (2)

Thursday, December 27, 2007

REFLEKSI DIRI

HUKUM KEKEKALAN MASALAH

“masalah tidak dapat diciptakan dan masalah tidak dapat dimusnahkan”

Masalah demi masalah seperti tak lelah mendera bangsa “besar” bernama Indonesia ini. Mulai dari bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Pangandaran, gempa dahsyat di Jogja, lumpur panas Lapindo, longsor di Bantargebang, Banjarnegara, Manggarai(NTT), banjir bandang di Njakarta, Kalimantan, dan terakhir gempa di Sumatra Barat. Di samping bencana dari “mengamuknya” alam, masih ditambah dengan berbagai bencana akibat kesalahan langsung manusia seperti kecelakaan kereta api Bengawan dan beberapa kereta api lain yang anjlok, tenggelamnya kapal Senopati Nusantara, hilangnya pesawat Adam Air, tenggelamnya Levina I, dan pesawat Garuda gagal landing dan terbakar di Jogja.

Kisah di atas terjadi beberapa waktu silam, bahkan bencana tsunami Aceh sudah berulang tahun untuk ke tiga. Kisah tersebut kembali ditambah dengan kisah sedih berbagai bencana di tahun 2007. Bahkan akhir tahun ini ditutup dengan berbagai bencana banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah. Indramayu, Solo, Purwodadi, Padang, Sulawesi, Denpasar, Tawangmangu, dan entah mana lagi yang akan menyusul. Belum mengenai air bah akibat laut pasang seperti di Muara Baru, Semarang, Demak, dan Probolinggo. Gempa juga masih mengancam di Bengkulu, juga Maluku dan Sulawesi. Opo tumon? Ono opo iki?

Ada apa dengan negara kita? Dengan bangsa kita? Dengan manusia Indonesia? Kenapa seolah bangsa dan negara kita ini semakin terpuruk? Dan kenapa di setiap peristiwa dan kejadian yang menyayat pilu hati nurani kita selalu melayang korban-korban tak berdosa? Dan kenapa korban-korban itu tidak lain adalah rakyat kecil, komponen anak bangsa yang semestinya mendapatkan perlindungan hidup dari institusi negara, dimana saham terbesar sebuah negara berasal dari pundak rakyat? Pemrentah yang semestinya melindungi segenap tumpah darah Indonesia, seakan berpangku tangan tak berdaya menyaksikan penderitaan anak bangsanya.

Masalah senantiasa datang silih berganti dan nampaknya menjadi semakin tak terkendali. Belum terselesaikan, atau bahkan belum tersentuh penanganan suatu masalah keburu datang masalah lain mendera dengan tiba-tiba, sehingga membuat pemrentah kita terbengong dan tak mengerti harus melakukan apa. Dan seringkali tindakan yang dilakukan pemrentah sebatas tindakan yang responsif, dalam artian hanya menunggu bergerak apabila memang suatu masalah telah timbul dan mendapatkan tekanan ataupun protes dari berbagai pihak. Tidak pernah ada konsep kebijakan pemrentah dalam suatu grand strategi yang valid dan teraplikasi secara baik. Itupun seringkali tindakan responsif yang dilakukan oleh pemrentah untuk mengatasi suatu permasalahan yang sudah terlanjur terjadi tidak pernah menyentuh akar permasalahan dan tidak jarang salah resep sehingga menimbulkan masalah baru.

Mengatasi masalah dengan masalah, barangkali demikianlah slogan yang semestinya disandang oleh pemrentah saat ini. Perhatian masyarakat terhadap suatu masalah harus dialihkan dengan menciptakan masalah baru. Masyarakat harus diyakinkan bahwa masalah yang baru harus diprioritaskan dan segara diatasi, sehingga masyarakat secara pasti harus melupakan masalah sebelumnya. Gali masalah tutup masalah, itu nampaknya rumus baku yang melandasi tindakan pemrentah kita.

Masalah bisa datang dan mendera siapa saja, tidak hanya pada level negara, bahkan setiap individu kita tentu mempunyai masalah masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Kerumitan dan tingkat kesulitan suatu masalah barangkali sesuai dengan kapasitas dan tingkatan hidup kita. Masalah yang dihadapi seorang tukang becak, semestinya tidak serumit masalah seorang sudagar yang tengah jatuh tempo hutangnya harus dilunasi. Dan bahkan Tuhanpun telah menegaskan tidak akan memberikan cobaan di luar kesanggupan hamba-Nya. Jadi secara tidak langsung sebenarnya problematika kehidupan manusia juga mengenal jenjang dan tingkat.

Masalah tidak dapat diciptakan dan masalah tidak dapat dimusnahkan. Ini sekedar otak-atik gathuk perumusan derivatif dari Hukum Kekekalan Massa yang pernah diajarkan di bangku SMP. Apakah ada diantara kita yang merencakan suatu masalah? Kita tentu sebisa mungkin menghindari, menjauhi, atau paling tidak memperkecil potensi timbulnya masalah. Kalaulah ada orang yang merencakan masalah barangkali hanya orang yang sakit jiwa atau seorang provokator, yang sebenarnya mereka adalah bagian masalah di masa lalu yang menjadi residu kehidupan di kemudian hari. Intinya dalam setiap perencanaan sebisa mungkin manusia pasti mereduksi potensi timbulnya masalah. Masalah tidak dapat diciptakan, ia adalah bagian dari mata rantai sejarah kehidupan panjang manusia yang telah dimulai semenjak penciptaan Adam, sang manusia pertama.

Kemudian kalaupun dengan perencanaan yang tliti dan njlimet, ternyata timbul masalah di tengah penerapan rencana yang telah dibuat, apakah ada jaminan kita mampu menyelesaikan masalah tersebut tuntas sampai 100%? Jawabnya sudah pasti tidak atau paling tidak relatif tidak tuntas, karena ditengah kesibukan kita menyelesaikan masalah keburu timbul masalah lain yang memaksa manusia untuk kemudian berpaling ke permasalahan baru. Begitu dan begitu seterusnya tanpa akan pernah berakhir sampai berakhirnya kehidupan duniawi. Masalah seakan manjadi siklus dan rantai maha panjang yang tiada akan pernah dapat terpecahkan misterinya oleh otak manusia yang terbatas. Masalah tidak pernah bisa dimusnahkan, ini sudah merupakan sunatullah, ketetapan dan hukum-Nya.

Barangkali jawaban jujur dan obyektif dari setiap masalah yang kita hadapi hanyalah bisa dijawab oleh sang waktu. Seiring berjalannya waktu, masalah akan selalu datang dan pergi silih berganti untuk kemudian tersimpan dalam catatan sejarah hidup kita untuk kemudian kita lupakan. Satu hal yang pasti bahwa semakin beragam jenis masalah yang kita hadapi, sadar atau tidak, semestinya akan memperkaya batin kita menuju kepada kematangan dan kedewasaan berpikir dalam menjalani roda kehidupan di muka bumi ini.

Permasalahan sebenarnya bukan pada masalah kekekalan masalah, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sikap dan tindakan kita dalam merespon suatu masalah. Suatu asumsi dan pendekatan harus dilakukan untuk memformulasikan masalah sehingga efek negatif suatu masalah sedemikian mungkin mempunyai peluang yang minimal dalam mendistorsi keselarasan hidup yang menjadi tujuan hidup manusia.

Ampun pemrentah………………..

Posted by Nananging Jagad in 07:06:21 | Permalink | Comments (5)

Monday, December 17, 2007

HAK PATEN

MASIH SOAL REOG

Cak Buat mengingatkan sahabatnya Cak Kartolo agar segera mempatenkan jula-juli suroboyonan yang sering dibawakannya di berbagai kesempatan sebelum dipatenkan oleh negara tetangga. Demikian amanah penting yang disampaikan salah seorang punggawa Sri Mulat dalam diskusi bulanan Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki.

Adalah Pak Didik, seorang pakar pertanian dari IPB sekaligus sebagai Ketua Asosiasi Inverter, sebuah perhimpunan para peneliti dan penemu teknologi yang beranggotakan lebih dari 2000 orang di Indonesia. Beliau memberikan penjelasan bahwasanya orang seringkali salah kaprah dalam memahami antara hak paten dan hak cipta(copyright).

Hak paten merupakan insentif yang menjadi hak seorang penemu/pencipta suatu teknologi baru. Sedangkan hak cipta lebih berlaku untuk karya dari pola pikir dan kreasi manusia tanpa menyangkut teknologi, seperti lagu, desain produk, tulisan, karya sastra dan seni, dll. Untuk penentuan siapa pemegang hak paten harus dibuktikan dengan ketertelusuran dokumentasi sejarah yang jelas dan teknologi yang diciptakan harus memiliki unsur kebaruan.

Dalam kasus pematenan batik oleh Malaysia, harus dilihat konteksnya apakah jenis batik yang dibuat disana memiliki teknologi, baik peralatan, cara ataupun metode yang berbeda dan sama sekali baru jika dibandingkan dengan teknologi yang telah ada di Indonesia. Apabila semua unsur tersebut terpenuhi, maka pematenan batik Malaysia dapat dipertanggungjawabkan, artinya memang batik yang khas Malaysia. Sedangkan menyangkut desain batiknya sendiri, karena tidak menyangkut teknologi setiap orang dapat menciptkan kreasi baru untuk kemudian dimintakan ”hak cipta”.

Lain cerita dengan kasus reog ponorogo. Hal pertama, agar persepsi dari sisi aturan dan ketentuan internasional sama, kita harus berangkat bahwa kreasi reog bukanlah suatu penciptaan teknologi namun merupkan hasil kreasi seni seseorang atau sekelompok orang, sehingga jangan lagi bilang reog dipatenkan, namun yang paling tepat adalah berbicara mengenai hak cipta atas kesenian reog ponorogo. Kedua, klaim Malaysia atas reog sesungguhnya sangat lemah karena untuk pendaftaran sebuah hak cipta maupun paten harus dipenuhi unsur dokumentasi dan memiliki dimensi kebaruan. Adalah hal yang sudah sangat nyata, dari berbagai literatur sejarah ketika ditelusur dan dirunut kemanapun ujung-ujungnya pasti ya sampai di Ponorogo.

Cak Nun pada kesempatan tersebut juga menambahkan, bahwa kepindahan suatu bagian komunitas suku Jawa ke daerah lain baik untuk sekedar pengembaraan maupun sekedar mburu upo, senantiasa secara tradisional mengikutsertakan empat perwakilan yaitu golongan ahli pertanian, ahli agama, ahli pertukangan, dan ahli kesenian. Demikian halnya kepindahan manusia Jawa ke semenanjung Malaka pertama kali dipelopori oleh Parameswara seorang pelarian dari Majapahit yang kemudian mendirikan kasultanan.

Di era modern justru semakin banyak warga Indonesia yang terpaksa menadi buruh migran(baca:TKI) di negeri jiran tersebut untuk sekedar menyambung hidup. Kemudian para migran tersebut berkeluarga dan beranak pinak di sana. Konsitusi di Malaysia setiap kelahiran bayi di negara tersebut secara otomatis memiliki kewarganegaraan Malaysia. Adalah hal yang sangat wajar apabila kemudian sang orang tua tetap menanamkan nilai dan budaya yang dibawa dari daerah asalnya.

Taruhlah orang Ponorogo yang ada di Malaysia dan ”terpaksa” menjadi warga negara sana kemudian mengajari dan mendidik anak-anaknya kesenaian reog, karena toh reog telah menjadi darah dan dagingnya. Kemudian sang anak dan untuk selanjutnya diteruskan secara turun temurun memahami dan menguasai seni reog yang lambat laun kemudian menjadi suatu varian yang khas, dan kemudian mereka namakan reog Malaysia, apakah salah?

Tentu tidak salah dan menjadi hal yang lumrah. Permasalahan kemudian timbul ketika pihak tersebut kemudian mengklaim diri bahwa seni reog berasal dari Malaysia. Sedangkan literatur sejarah manapun dan pengetahuan dunia manapun di segenap penjuru bumi tahu persis bahwa reog secara sejarah jelas berasal dari Ponorogo. Apakah kita warga negara yang besar ini harus marah? Nampaknya kita malah harus mengasihani ”keponakan” kita tersebut, karena mereka telah bermanuver untuk menelanjangi diri sendiri di muka umum pergaulan dunia.

Sekian ribu bahkan sekian juta warga kita turut menyumbangkan tenaga dan keahliannya untuk membangun negeri saudara sereumpun tersebut. Kalau anda bertanya, siapakah yang menangani proyek megah menara Petronas? Jawaban jujur pasti akan menyatakan bahwa putra-putra Indonesia ikut memberikan andil utama, mulai dari tenaga para kuli dan mandornya, sampai beberapa arsitek yang terlibat.

Mereka katakan bahwa Majapahit adalah bagian dari kerajaan Malaka, saking kepengennya mereka ingin tetap eksis menjadi bagian dari budaya Nusantara. Oleh karena dalam menaggapi isu perselisihan dengan keponakan muda kita tersebut, seyogyanya kita sebagai bangsa yang besar bersikap bijaksana dan ngemong. Betapa semua aset yang kita miliki semata pinjaman dari Sang Maha Esa.

Posted by Nananging Jagad in 04:20:08 | Permalink | Comments (6)

Friday, December 14, 2007

PROFESOR RISET

mikroPROFESOR


Hari ini mendapatkan anugerah kesempatan yang luar biasa dari Tuhan karena dapat ikut menyaksikan suatu prosesi pengukuhan profesor riset oleh LIPI. Apa sih sebenarnya yang dimaksud profesor riset? Barangkali yang selama ini telah dipahami kebanyakan orang adalah gelar profesor sebagai pengukuhan guru besar di padepokan perguruan tinggi. Lalu yang satu ini model ‘makanan’ opo meneh?

 

Profesor riset jebulnya merupakan “gelar” tertinggi seorang fungsional peneliti yang diberikan kepada ahli peneliti utama(APU) setelah melampaui kriteria tertentu. Gelar ini masih tergolong baru karena baru dilaunching melalui Keputusan Menpan No. 128/2004.

 

Kriteria sebagaimana dimaksud di atas rupanya bahwa seorang ahli peneliti utama harus sudah mencapai skor 1050, disamping yang dapat menyandang gelar tersebut minimal berpendidikan S2 atau apabila S1 harus menulis paling kurang dua makalah ilmiah yang dipublikasikan secara internasional dalam jangka waktu dua tahun.

 

Skor 1050 merupakan penghargaan untuk setiap kegiatan penelitian yang dilakukan, termasuk penulisan makalah ilmiah, presentasi dalam suatu pertemuan ilmiah, keikutsertaan dalam seminar atau workshop atau pelatihan,dll.

 

Tradisi pemberian gelar profesor riset tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan spiritualitas guna memacu para peneliti untuk lebih giat meneliti guna memecahkan berbagai persoalan di masyarakat dan upaya pengembangan ilmu pengetahuan, disamping untuk peningkatan profesionalisme peneliti sendiri. Hal tersebut menjadi penting dan strategis dikarenakan dorongan negara berupa dana dan insentif untuk penelitian sangat minim. Kembali satu fakta ironi yang dihadapi negara berkembang(baca:miskin) seperti kita.

 

Untuk para pengembara dunia maya di alam perbloggeran, guna memacu profesionalisme para blogger, barangkali perlu dibuat suatu penjenjangan keahlian ngeblog sehingga dunia tersebut semakin berkembang dan berdayaguna. Seorang rekan bahkan telah mengusulkan gelar tertinggi yang kelak dianugrahkan memakai titel mikroPROFESOR. Bagaimana menurut kisanak?


Posted by Nananging Jagad in 08:47:20 | Permalink | Comments (3)