HIKMAH SYAWAL
SUCI DALAM DEBU
Hari Raya Idhul Fitri merupakan momentum yang sangat membahagiakan bagi kami, warga lereng Merapi. Bukan karena merdikonya kami dari kewajiban segala ritual di bulan Ramadhan, tetapi bagi kami lebaran merupakan waktu yang dinanti-nanti untuk ujung, ngaruhke lan sungkem kepada para sesepuh dan sanak kerabat. Dengan ujung, tali silaturahim senantiasa diperbaharui dan dilahirkan kembali, silsilah kekerabatan dipernahke, dijernihkan dan didongengkan kepada anak cucu kembali. Tak heran jika orang-orang desa kami selalu menyambut llebaran dengan suka cita dengan kegiatan bersih rumah dan kampung, dan yang tidak ketinggalan, membuat makanan hidangan khas lebaran untuk para kerabat yang akan datang.

Menurut cerita simbah, silaturahim harus senantiasa dipupuk, dan momentum lebaran dijadikan wahana untuk saling mengunjungi dan memohon maaf. Terkadang saya juga tidak habis pikir, lha wong sesama saudara tidak pernah ketemu, e.....ketika ketemu di hari raya, langsung saling minta maaf atas kekhilafan. Apakah mereka sempat saling membuat kesalahan, padahal mereka tidak pernah bertemu sepanjang tahun? Barangkali itulah yang namanya kebesaran jiwa, biso rumangso lan ojo rumongso biso sebagaimana diajarkan oleh para sesepuh dulu.
Hari Idul Fitri tahun ini sedikit kurang semarak dikarenakan adanya “dua hari raya “. Bagi warga dusun saya, rumus sakti yang dipakai untuk menentukan lebaran yang berbeda hari adalah dengan mengikuti hari raya yang lebih awal, tidak perlu susah-susah mikirnya, praktis wae. Di samping itu, tahun ini juga sedikitnya pihak berwajib memperkenankan beredarnya obat long(mercon), membuat suasana kurang gempita dengan ledakan petasan. Demikian juga para pemuda kampung juga jarang yang sempat membuat balon raksasa dari plastik maupun kertas wajik bandung. Namun demikian lebaran harus tetap dirayakan.

Yang menjadikan keprihatinan para warga dusun adalah suasana lebaran di tengah kemarau panjang yang membuat paceklik kawasan tempat tinggal kami, ditambah masih berterbangannya abu vulkanik akibat letusan Merapi beberapa waktu lalu yang masih melekat di dedauanan dan genteng rumah warga, yang hingga saat kini belum tersapu oleh air hujan yang tak kunjung tiba. Sungai kering, sumur kering, sawah dan ladangpun kering kerontang. Sawah bapak yang hanya beberapa petak di ngarep dan wetan ndeso dibiarkan saja bero tanpa tanaman sambil menunggu turunnya hujan.
Meski dalam suasana jalanan yang mabluk, membuat pedih kelopak mata, tidak menyurutkan warga desa untuk saling bepergian ujung kepada sanak saudara. Ujung merupakan ritual wajib yang harus kami jalani, yang menurut Pak Kiai di mesjid kami bisa memudahkan rejeki dan memanjangkan umur bagi siapapun yang menjalankannya. Bersihnya hati dengan saling memaafkan dan tersambungya persaudaraan merupakan harta termahal yang tidak boleh hilang begitu saja. Meskipun baju bluthuk karena terkena abluk jalanan yang terik, tak menyurutkan langkah kami. Suci dalam debu, barangkali perupamaan kami. Biar secara fisik rambejaji, namun kami berharap hati kami terlahir kembali menjadi fitrah yang suci.










*sok bijak nih* (Comment this)
Moga saja senantiasa begitu Mas...........
(Comment this)
=) (Comment this)