PANGGILAN DARI GUNUNG
REUNI PARA PRIYAGUNG
Jum’at minggu kemarin Ndalem KK kedatangan tamu priyagung dari kampung, seorang tetangga rumah. Kedatangan sang priyagung sekedar andrawina, dolan-dolan jajah kutha nlisih kahanan donya. Tris, priyagung saya ini, putra pertama Lik Wandi, tetanggaku yang beberapa tahun silam pernah merantau di Bekasi sebagai buruh pabrik kontrak, dan kini ia ditugasi untuk ngemong kedua orang tuanya yang semakin renta di kampung selepas sang adik semata wayang ngayahi jejibahan sebagai bebentenging negara, menjadi tentara di perbatasan rimba Papua.
Sehari-semalaman kami habiskan waktu sekedar ngobrol, nanjehke kahanan ndesa tempat tinggal kami yang dua bulan lepas tidak pernah lagi kudengar kabarnya. Cerita dimulai dari meninggalnya Mbokdhe Sul akibat serangan tetanus sepuluh hari selepas riaya, dan yang membuat bertambah sedih kematian tersebut disusul oleh Mbah Sito, ibu dari Mbokdhe Sul, yang meninggal selang seminggu kemudian. Dengan demikian Pakdhe Yahman harus semakin berlara lapa dalam menjalani hidupnya seorang diri di rumahnya.
Sang priyagung melanjutkan dengan kabar beberapa kerabat dan tangga teparo yang tengah sakit, seperti simbok saya sendiri yang sudah satu minggu ini tidak beranjak dari peturon karena kelelahan yang mendera, dan mungkin akibat kejengklak di galengan beberapa waktu lalu ketika beliau tengah nggendong salak dari sawah, hal tersebut telah menyebabkan tekanan darahnya menurun drastis hingga mencapai titik 60. Lik Irah, seorang tetangga masih menggendong sebelah tangannya akibat terjatuh dari motor ketika diboncengkan Kang Samat sehabis memanen kacang panjang di sawah ngarep Pelas di pertengahan puasa kemarin. Mbah Kromo dan Lik Pingah juga masih belum tuntas penyakitnya sehingga masih harus terus kontrol ke Puskesmas dan mesti rutin minum obat.
Cerita kemudian berlanjut ke datangnya musim hujan di lereng Merapi yang senantiasa menjadi dambaan para kadang tani. Ketika lebaran kemarin saya mudik, keadaan desa begitu bero, di sana-sini kebanyakan sawah dianggurkan karena ketiadaan air irigasi. Kondisi tersebut ternyata pada saat ini belum begitu berubah, karena meski beberapa kali diguyur hujan namun belum mampu mengalirkan air di sungai-sungai sekitar dusun kami. Itu artinya harapan untuk segera nglaboh, menanam padi di sawah-sawah kami masih tertunda sesaat.

Dongeng kemudian berlanjut mengenai aktivitas sosial kemasyarakatan dusun kami. Berawal dari kegiatan masjid dan TPA kami yang mengalami pasang surut didera badai modernisasi. Bagaimana kepedulian orang tua muda sekarang begitu rendah tanggung jawabnya dalam membina dan mendidik, paring tuladha, kepada anak-anaknya untuk belajar dan beribadah di mesjid. Beberapa anak masih setia ngaji ke Kyai Abu Hasan di Pesantren Al Umar, meski madrasah kami terpaksa tutup karena ketiadaan guru pengganti setelah sang pengampu pensiun dari tugasnya. Pengajian selapanan tingkat kelurahan di setiap hari Ngad Wage sudah tidak berjalan lagi, meski pengajian rutin di Mts tiap Ngad pagi masih rutin terselenggara.
Beberapa tradisi untuk forum diskusi warga sebagai arena musyawaroh, seperti pertemuan selapanan malem Ngad Pon di rumah Pak Bayan sudah demisioner. Arisan para taruna muda tinggal sebagai ajang setor arisan saja. Di kalangan para ibu-ibu, pertemuan dasa wisma makin terseok-seok perjalanannya. Apa yang terjadi dengan dusunku?, dengan masyarakat dan rakyatku?, dengan para pamong dan prabotku?, dengan.......dan dengan ......yang lainnya???
Kisah-kisah tersebut membuat hati saya trenyuh dan bertekad untuk lebih sering lagi ngrungoke swaraning sepi wong cilik di pelosok gunung. Itu artinya saya harus mengatur waktu saya untuk sering ngarohke sedulur-sedulur tersebut, minimal menyapa dari jarak jauh melalui tali roso yang ada kalaupun tidak bisa secara rutin hadir di tengah mereka. Duh Gusti mugi Paduka paringi kekiyatan........










wahh.... akeh banged penghuni kono yohhh... :D (Comment this)