ANJANGSANA
MBAH RAMIDJAN van GEJUGAN

Simbah dulu pertama kali datang ke Njakarta di tahun 70-an sebagai seorang staf administrasi di Depdikbud. Di tahun 2000 kemarin, Simbah memasuki masa paripurna pengabdiannya sebagai punggawa negara. Ketiga putranyapun sudah memasuki dunia kerja dan masing-masing telah berkeluarga, sehingga tinggallah Sang Simbah sekalian Mbah Putri tinggal di ndalem sederhananya. Memang Simbah sebagaimana di setiap kesempatan kondurnya, senantiasa menjadi simbol seseorang yang telah berhasil menundukkan Njakarta mengangkat derajat hidupnya, meskipun jiwanya tetap prasojo.
Pertemuan kami dimulai dengan berbasa-basi memperkenalkan diri lagi karena Simbah sudah sedemikian lupa dengan kami, karena setiap kali Simbah pulang mudik tidak menjumpai kami, dan beliau hanya mengenal kami dari cerita orang tua-orang tua kami. Memang Simbah sendiri tidak mesti dua-tiga tahun sekali pulang ke dusunnya. Namun demikian setiap pulang, pasti beliau menyempatkan diri untuk beranjangsana ke beberapa kenalan di dusun saya dan pasti menemui Bapak.
Obrolan kemudian berlanjut dengan pertanyaan Simbah yang nanjehke kabar kakak-kakanya yang masih tinggal di dusun. Sang priyagung teman saya yang sering manjawab soal itu, karena dialah yang masih menetap di rumah dan lebih mengetahui kondisi aktual yang ada. Nampak sekali roman muka Simbah yang nampak terharu mendengar cerita tentang kampung halaman yang sekian lama ditinggalkannya. Barangkali memang begitulah keadaan seseorang di perantauan, ketika dimensi jarak dan waktu telah menghempaskannya ke sisi dunia yang lain atas nama mencari pengupa jiwa.
Ketika sedikit saya singgung, kenapa Simbah tidak pulang saja kembali ke dusun untuk nentremke jiwa di masa senja usianya. Simbah menjawab bahwasanya semua hak milik dan harta benda yang diwariskan oleh kedua orang tuanya sudah bukan lagi menjadi miliknya karena sudah diliru oleh saudara-saudaranya. Oleh karena itu, seandainya beliau harus pulang, lantas mau tinggal dimana dan mau ngapain. Atau mungkin juga Simbah sudah demikian menyatunya dengan bumi Njakarta, dan mungkin baginya dimanapun bumi dipijak di situlah langit akan dijunjungnya.
Terkadang saya juga jadi ikut mikir, nasib saya sebenarnya tak beda jauh dengan Simbah. Sayapun atas nama nasib dan luru pangupa jiwa, ikut-ikutan mengadu nasib dan nyasar di bumi Betawi ini. Namun sampai saat ini, saya masih belum dapat memahami hakekat ketersesatan saya ini. Ataukah kota ini memang ditakdirkan untuk menjadi paraning hidup saya? Tapi yang jelas sampai saat ini saya tidak sepenuhnya bisa menjiwai menjadi orang Njakarte, dan sebagaimana ungkapan Ndoro Sinyo van mBangsari, tetap bercita-cita suatu saat nanti saya harus kembali ke dusun terpencil saya di lereng barat Merapi. Roda nasib memang harus terus berputar, dan saya termasuk yang belum bisa memahami dimana awal dimana akhir, dimana sama dimana beda, dimana sangkan dan dimana paraning dumadi.









