SALAH TANGKAP
Kisah di malam Tahun Baru…..
Bukan karena apa-apa di malam tahun baru kemarin saya tidur lebih awal habis Isya’, tetapi karena sirah ini terus cenut-cenut akibat gempuran serangan sekawanan tawon ndas yang menyarangkan rudalnya di pelipis kiri saya. Persitiwanya terjadi di siang harinya, ketika selesai menyembelih sapi hewan kurban, kemudian simbok memintaku menemaninya ngundhuh salak di tegal. Ketika sedang mapras dahan salak, yang ternyata tanpa saya ketahui ada sarang tawon ndas sebesar kendi, walhasil sang tawon merasa tersinggung dan langsung mubal menyerang saya. Tak kurang dari tiga antupan mengenai pelipisku, dan sudah pasti meninggalkan aboh dan rasa kecenutan.
Kisah antik lainnya dialami Mas Ipar saya yang kebetulan di malam tahun baru tersebut kehabisan pulsa phonselnya sehingga terpaksa keluar rumah sekitar jam 20.00. Setelah membeli pulsa di sebuah wartel perempatan Tuguran, samping Secaba Rindam IV/Diponegoro, tiba-tiba HPnya berdering dan langsung dijawabnya.
“Ning ngomah ora Mas?”, tanya si Ahmad di seberang.
“Iki lagi golek pulsa, sedelo ngkas yo mulih, langsung wae dinteni ngomah yo!, jawab Mas Ipe.
“Yoo……..”, sahut si Ahmad.
Belum sempat menutup telpon, tiba-tiba datang tiga orang menyergap Mas Ipe dan berteriak “jangan bergerak!!!”.
“Ono opo iki?”, tanya Mas Ipe sedikit gugup karena kaget.
“Jangan banyak tanya….”, jawab seorang diantara penyergap dan yang lainnya berusaha meraih kunci sepeda motor, satu orang lainnya menarik tangan Mas Ipe ke belakang punggung.
Mas Ipe sedikit berontak sambil berusaha menjelaskan, “kalau mau tangkap saya, lapor dulu sama komandan saya, jangan sembarangan begini”.
Seorang polisi keluar dari sebuah mobil di tepian jalan sambil menggandeng seorang yang diborgol, kemudian berjalan mendekati posisi penangkapan Mas Ipe.
“Bukan ini Pak.”, kata orang yang diborgol.
Rupanya orang diborgol tersebut merupakan merupakan penunjuk jalan bagi satuan regu anti narkoba Polda DIY yang mendapatkan kabar akan terjadi sebuah transaksi narkoba di Magelang. Menurut Polisi tersebut sang tersangka mengendarai sepeda motor hitam, memakai celana hitam, berjaket coklat dan berhelm cakil, persis yang dikenakan Mas Ipe. Ketika Mas Ipe keluar wartel dan menerima telpon si Ahmad, rupanya teman tersangka, si penunjuk jalan, disuruh oleh Polisi untuk menelpon tersangka, dan ndilalahnya Mas Ipe juga langsung angkat HP.
Akhirnya kesalahpahaman tersebut dapat diklarifikasi, dan Mas Ipe menjelaskan bahwa dirinya merupakan anggota kesatuan Rindam IV/Diponegoro, dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, segera Kanit Narkoba Polda DIY yang mengkomandoi langsung minta maaf dan segera pamit tanpa mendapatkan orang yang diincarnya.
Beberapa saat berselang, sekawanan siswa dan pengajar Secaba berlarian keluar ksatriaan sambil berteriak “Pak Sakimun diajar wong ning prapatan, ayo cepet-cepet”. “ Sopo sing kurang ngajar?”, tanya beberapa rekan Mas Ipe.
“ Rapopo kok, mung salah tangkap, Pulisine wis lunga”, jawab Mas Ipe lugas.
Untung satuan unit Polisi kesasar tersebut sudah sempat pergi, kalau tidak barangkali akan terjadi lagi tawuran antara tentara dan polisi sebagaimana pernah terjadi di beberapa sudut tanah air. Mulane ati-ati dalam bertindak, ampun grusa-grusu Pak Pulisi!!!










(Comment this)
Fyuhhh...gak sido kecekel aku
:)) (Comment this)