HANTU DALAM KAYU
Dedicated for Mas Joko
Salah satu sifat Allah adalah esa, atau tunggal, dalam teori fiqih disebut wahdaniyah. Oleh karena itu merupakan suatu kemustahilan jika dikatakan Tuhan berbilang atau lebih dari satu. Jika tuhan seseorang banyak, berarti dia memiliki tuhantuhantuhantuhantuhan........jadilah hantu, kata sang begawan filsafat Damardjati Supadjar.Suatu malam Jum'at Kliwon dalam suatu sarasehan perbincangan di Ndalem KK, pembicaraan terseret arus suasana ke sekitar dunia perhantuan. Hantu sebenarnya satu konsep teoritis yang sudah eksis semenjak jaman klenik ala nenek moyang dulu, meskipun secara metodologis sulit dicerna dan dibuktikan secara ilmiah, namun sebagian orang mempercayainya sebagai suatu realitas dunia lain.
Pembicaraan bermula dari pancingan saya bahwa di Ndalem KK, khususnya bilik ksatriyan di gandok utama, terdapat mitos keberadaan hantu, meskipun saya yang telah menempatinya selama dua tahunan tidak pernah sekalipun menemuinya. Mas Joko, yang kala itu baru semingguan menjadi ksatria baru di Ndalem KK, kemudian terhanyut untuk kemudian menuturkan pengalamannya melewati "malam pertama" di biliknya.
Alkisah di tengah malam, Mas Joko sulit untuk memejamkan mata, padahal badannya sudah didera kelelahan yang teramat sangat. Balik kanan, balik kiri, guling kanan, guling kiri, namun tetap sulit untuk tertidur. Akhirnya dia memiringkan badan ke arah tembok, dengan salah satu telinga terganjal di atas bantal. Mendengarkan swaraning asepi barangkali itulah yang coba dilakukannya.
Tiba-tiba radar telinganya menangkap suara aneh......"krek.....krek....krek....kriuk....kriuk". Degub jantungnya bertambah kencang oleh rasa mencekam dalam batinnya. Sejam dua jam suara tersebut terus berlangsung. Dengan mengumpulkan rasa keberaniannya, Mas Joko menengok ke kolong peraduannya. Tak terlihat apapun. Kemudian dengan segala kenekatan dibongkarnya kasur tidurnya, lalu ditempelkannya lekat-lekat telinganya ke galar yang ada. Suara itu bukannya kian surut, malahan semakin terdengar keras.
Selidik punya selidik ternyata suara tersebut berasal dari dalam kayu palangan galar yang ada. Sebuah kayu sengon muda yang masih setengah basah. Akhirnya Mas Joko yakin bahwa suara tersebut bukan suara hantu, dugaannya adalah suara semacam ulat penggerek batang yang orang Ndalem Kronggahan menyebutnya "gendhon". Diambilnya bilah palangan tersebut, kemudian dinyalakannyalah korek api untuk nylomot kayu tersebut. Pada posisi yang diperkirakan, terdengar semakin keras suara sang gendhon, lalu dengan sebilah cutter, dibedahnya kayu palangan dan ternyata benar, didapatinya gendhon sang hantu dalam kayu.










salam kenal om ... (Comment this)
tapi memang pernah di awal kemunculan ngelmu ini disebut fiqh akbar (imam hanafi), namun selanjutnya biasa disebut ngelmu kalam
demikian... (Comment this)
*suwun pun kersa mampir* (Comment this)
nderek.. (Comment this)