PLESIRAN BOCAH GUNUNG
Tour de Djakarta,
Dua hari berturut-turut ini serombongan siswa sebuah SMP dari lereng Gunung Merapi sejumlah tiga buah bus berdarma wisata di ibukota Njakarta Hadiningrat. Bagai melakukan ritual "angon bocah" sejumlah guru turut mendampingi rombongan tersebut. Saya yang sudah beberapa tahun ini terbuang dari kumpulannya, ikut ngenger ngudi upo di ibukota, kemarin petang kedhapuk untuk bertemu mereka di Wisma PHI Cempaka Mas.
Pertemuan tersebut sekedar tombo kangen dan ngaruhke beberapa siswa yang kebetulan tetangga sebelah rumah di Ndalem Kronggahan. Si bocah gaul Hendi, anaknya Lik Hari terlihat surprise menjumpai saya di ruang depan wisma. Hendi adalah sebagian aset dusun kami yang telah ikut tergilas gelombang modernitas yang melanda pelosok gunung melalui tayangan sinetron bubrahnya. Hal tersebut dapat saya amati dari cara si bocah berpakaian dan potongan rambutnya yang disisir jari semi ngepang, menjulang vertikal bak penangkal petir.
Hendi merupakan bocah yang longgor, ukuran tubuhnya subur untuk anak seusianya. Yang agak nyentrik lagi adalah kemampuan berpikirnya yang sangat jauh di bawah teman-temannya. Suata hari ketika dia baru memasuki sekolah barunya yang lumayan jauh dari dusun kami, sekitar 3 km, yang biasa ditempuh orang dengan by sikil, sepulang jam sekolah ketika mau pulang dia lupa jalan. Dia hanya mengikuti seseorang di depannya, hingga sampai ke dusun lain di seberang sungai Putih. Akhirnya dia hanya mringis karena kesasar tak tahu arah. Seorang petani di tepi jalan kemudian menanyainya, dan atas jasa baiknya diantarlah si Hendi pulang.
Dia selalu nglucu, kalau menjawab soal ulangan yang tak bisa dijawabnya. Siswa lain barangkali kalau tidak bisa menjawab soal hanya mengumpulkan lembar jawaban kosong. Lain halnya si Hendi, dia akan meracau menulis seenak perutnya hingga membuat sang guru mrengut memikirkan tingkahnya. Seringkali dia menulis, "jawabe opo hayo bu guru?","yang bener si anu dan si ani pasti sering ihik...ihik", atau "ah soal begini kok diteskan to?", dan kadang tak jarang muncul ideom saru tumpahan curahan otaknya. Hal itulah yang menyebabkannya menjadi langganan tamu guru BPne. Kasihan memang....catatan akademiknya begitu memprihatinnya, sehingga sebenarnya dia seringkali tak layak untuk naik kelas. Lik Irah, ibunya seringkali bercerita kepada saya, bila satu waktu kebetulan saya pulang kampung.
Cerita para bocah kemarin diwarnai oleh kegumunan mereka mengenai Jakarta. Jalan-jalane, gedung-gedunge, air mancur, Monas, taman mini, Ancol dll. Hal ini memang tak beda dengan diri saya yang selalu nggumun akan Njkarta, bahkan sampai saat ini. Bagi kebanyakan anak kampung, Njakarta terlalu mewah dan glamor, mereka kadang tidak pernah berpikir bahwa Njakarta banyak menyimpan berjuta masalah sosial dan moral. Kota ini tidak ada apa-apanya dengan ketentraman hidup yang selama ini direguknya dalam kesejukan alam Merapi.
Donya pancen tan kena kinira............ampun pemrentah!!!!










taon wingi, kulo sowan bolak-balik, dijarke wae, dadine yo wedi arep sowan maleh, malah tak kiro kulo sampeyan jothak lho mas. Maturnuwun, sampun purun sowan maleh teng ndaleme kulo ^_^ (Comment this)
Orak paham bangeti ceritomu pasal 'bocah' kuwi.... Orak opolah. :D
Iklan: Koncoku iki ngelencer nanh Pulou Jowo. <A HREF="http://www.sastris-ramblings.blogspot.com/">Sastri Ratna Sari</A>
(Comment this)
(Comment this)
(Comment this)