KESAKSIAN
Sebuah Kisah Kesaksian Suatu Pengkhianatan
Alkisah pada masa akhir pemerintahan Prabu Kertanenagara di singgasana Kerajaan Singosari, terdapatlah seorang menantu sang prabu bernama Ardharaja yang melakukan pembelotan alias pengkhianatan keji sehingga menyebabkan hancurnya kerajaan yang didirikan oleh Wangsa Rajasa tersebut.
Kisah berikut ini sebenarnya tidaklah sebesar kisah Ardharaja tersebut, namun yang menjadikannya sama adalah pada corak suatu sifat yang bernama “pengkhianatan” yang dalam wacana budaya modern saat terkini disebut sebagai perselingkuhan.
Dikisahkan, saya kebetulan punya beberapa teman seperguruan sewaktu sama-sama menuntut ngelmu di Padhepokan Nggajah Mada, dan ndilalahnya kemudian teman tersebut saat ini juga satu prakaryan dengan saya. Sebut saja teman tersebut bernama Ardha dan Bedhes. Ardha adalah seorang lelaki yang kebetulan kepernah sedulur tuwa saya sewaktu nyantrik, namun dirinya kini menjadi adik leting saya di prakaryan. Sedangkan Bedhes seorang wanodya adik seperguruan dan saat ini juga menjadi junior saya di kantor.
Si Bedhes kebetulan sudah terikat rembug tuwo dengan teman seangkatannya yang notabene jelas adik seperguruan saya juga. Rencana punya rencana Bedhes akan melangsungkan perhelatan akbarnya pada pertengahan Februari ini, namun karena jejibahan harus mengikuti suatu ritual “ospek” yang diberlakukan bagi setiap pekerja baru di kantor kami sehingga event tersebut dengan sangat senang hati harus diundur. Kenapa saya katakan dengan senang hati???
Duduk persoalane begini....Semenjak bulan Agustus 2006, Bedhes mulai makarya mengadu nasib di ibukota Njakarta. Semenjak detik awal tersebut status dia terikat rembug tuwo dengan sang korbannya anak sesuku bangsa dengan Yusuf Kalla, alias penjantan dari timur, Makassar. Namun semenjak awal makaryo tersebut pula, Budhes runtang-runtung rerentengan dengan seorang pria idaman lain yang di awal telah saya sebut bergelar Ardha(bukan yang aku tak biasa lho.....!).
Bagi saya pribadi persoalan tersebut sebenarnya bukan menjadi urusan saya. Namun kok yo soyo suwe tansaya kebangeten aggone orang berdua tersebut show of kepada kami keluarga besar kantor. Sehingga tanpa sembunyi dan malu-malu, tanpa tedheng aling-aling dan tak menghiraukan sedikitpun unggah-ungguh dan norma kesusilaan mereka menjadi tontonan yang sangat memuakkan. Dan yang menjadi puncaknya bagi kesaksian saya adalah pada waktu Jum’at Kliwon malam Sabtu Legi tanggal 2 Februari 2007 pukul 21.00 WIB yang lalu saya tanpa dinyana-nyana memergogi sepasang orang gila tersebut sedang berduaan di bawah pohon tak jelas di seputar parkir IRTI Monas.
Semula saya sengaja diam seribu basa dan seolah-olah tak menghiraukan keberadaan mereka dan dengan acting seolah-olah saya tak melihat mereka, saya melintas beberapa meter di depan mereka. Sepertinya mereka agak kedher juga melihat gelagat kerawuhan saya. Mungkin mereka berdua sengaja merapal mantra dan doa-doa ilmu sirep yang membuat mata saya lamur dan tak melihat mereka. Setelah beberapa puluh langkah melewati mereka, dengan sekonyong-konyong dan tiba-tiba saya balik kanan dan menuju ke arah mereka dengan langkah tegap seorang komandan saya langsung mengacungkan tangan ke arah mereka. Mereka seakan tergagap....
Saya langsung nrocos, “wah pura-pura gak lihat yo, ethok-ethok ra kenal.Kenapa gak pada nyapa saya dari tadi”. Terlihat dengan jelas mereka grogi dan raut mukanya pucat setengah basi. Saya bilang lagi, “ Ngapain malam segini bengong sendirian di sini Budhes?”, sengaja saya teror pertanyaan rekenan tersebut karena kebetulan Ardha berkulit hitam dan saya katakan saya tak melihat gelebat bayangan apalagi wujud wadagnya. Memuakkan batin saya......
Rupanya kasak kusuk dan kabar burung yang selama ini beredar sedikit banyak ada kebenarannya juga dan malam itu sayalah yang kebagian menikmati kesaksian pedih tersebut. Bukannya apa-apa, yang membuat hati saya trenyuh dan sedih adalah si Bedhes yang satu ini wujud fisiknya adalah seorang perempuan yang berjilbab, dus dia sedikit banyak membawa imej dan jelek buruknya nama baik agama.
Besar kemungkinan nantinya setelah Bedhes menikah dengan si ayam jantan dari timur hanya sekedar status. Bahwasanya secara de jure memang menjadi istrinya, namun secara de facto milik sang Ardha. Mungkin inilah yang oleh Kang Sastro tetangga saya disebut sebagai MTS, “Menikah tapi selinthut”. Di sisi lain barangkali memang Ardha ini juga tipe lelaki yang “pagar makan tanaman”. Dan menjelang detik-detik pernikahan Bedhes yang semestinya sakral, mereka bilang ingin menikmati kesempatan yang tersisa sebelum kemudian mengikat tali keluarga. Omong kosong, barangkali pendapatan sebagian orang.
Nampaknya bagi Bedhes, agama barulah sebatas sebagai ageman, sebagai pakaian fisik atau topeng tanpa ruh dan jiwa sejatinya. Agama adalah suatu topeng kemunafikan. Sosok perempuan yang satu ini nampaknya persih sebagai perwakilan ramalan para pujangga sebagai “wanita murang tata, wanita kang ilang wirange”, dan ini sebenarnya satu gejala tiba waktunya laknat Tuhan akan datang secara beruntun di hadapan manusia. Apakah banjir bandang Njakarta ini ada kaitannya dengan kisah ini??? Ataukah benar kata para pujangga, di jaman edan ini “tak ada gadis yang tak retak?”. Embuh raruh lah....










wis ora bener iki... (Comment this)
(Comment this)
opo maneh akhir2 iki, kok tambah akeh wong ayu yo?
Iki rejeki or cobaane kaum laki2? (Comment this)
matur nyuwun sanget sampun sudi mampir dateng rompok kulo nggih kang...salam tepang ugi saking kulo. nanging kulo kog di panggil 'cak', mangke yen metu brengose..wong podo wedi kabeh...hihihi, kulo wedhok kog mas.
*mbenggeh2 krn hrs boso kromo...aku tak biasa, hehehe* (Comment this)
Nuwun sampun kersa pinarak (Comment this)
Matur nuwun sampun pinarak. (Comment this)
lebih aman dan tidak menyakitkan di hati :D (Comment this)
cari di search engine deh kalo gak percaya :P (Comment this)