Jumat, Februari 16, 2007

TRI HITA KARANA

"Allah – Aku – Alam"

Di penghujung tahun 2006 salah seorang putra terbaik bangsa Indonesia, Anak Agung Gde Agung pewaris Kerajaan Gianyar dari raja sebelumnya Ida Anak Agung Gde Agung, berhasil meraih gelar doktor pada Universitas Leiden Belanda dengan mempertahankan desertasi yang mengungkap falsafah hidup bertajuk “Tri Hita Karana”.

Tri Hita Karana merupakan produk nilai kearifan lokal yang telah bersemayam di kalbu nenek moyang kita semenjak awal peradaban Jawa, baik di era Mataram Hindu, Kediri, Singosari, Majapahit hingga Mataram Islam jilid ke dua di bawah Pangeran Mangkubumi di Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat. Di masa akhir pemerintahan Brawijaya V, ketika Majapahit mencapai era senja kalaning kedhaton, sebagian penganut Hindu Dharma bermigrasi mengungsi ke Pulau Dewata dan kemudian menjadi penduduk mayoritas di sana di samping suku Trunyan sebagai penduduk asli Bali. Begitupun konsep Tri Hita Karana kemudian terpelihara lestari di kalangan masyarakat Bali hingga dewasa ini.

Tri Hita Karana merupakan trilogi konsep hidup dimana Tuhan, manusia dan alam berdiri di masing-masing sudut sebagai unsur mutlak terselenggaranya denyut nadi alam raya. Dunia semesta dibagi menjadi tiga lapis alam. Pertama alam Parahyangan, alam malakut di mana Tuhan bersinggasana. Kedua alam Pawongan, alam manusia dimana manusia melangsungkan hidupnya pada dimensi jasmani maupun rohaninya. Alam ketiga adalah alam Pelemahan, alam semesta raya di bawah derajat manusia, seperti dunia tumbuhan, binatang, atau pendek kata merupakan lingkungan hidup.

Terselenggaranya keselarasan dan keharmonisan hidup manusia sebenarnya mutlak merupakan keselarasan dari ketiga dimensi alam tersebut. Manusia harus taat dan patuh terhadap aturan dan hukum alam yang telah digariskan kepadanya melalui ajaran agama yang telah diturunkan oleh Tuhan. Agama berasal dari bahasa Sansekerta a-gama, a berarti tidak dan gama berarti kacau. Jadi agama mempunyai makna sebagai instrumen atau metodologi untuk mengatur segala segi kehidupan manusia agar tidak terjadi kekacauan dalam kehidupan dan sebaliknya keselarasan, ketentraman dan kedamaian hidup dapat dicapai.

Dilanggarnya norma dan aturan agama yang telah digariskan Tuhan akan berakibat terjadinya degradasi moral manusia yang akan menjadikan manusia menurutkan hawa nafsu untuk memenuhi segala hasrat hidupnya tanpa memperdulikan kaidah norma hidup, sehingga akan menimbulkan berbagai masalah sosial dan lingkungan hidup. Lingkungan hidup akan dieksploitasi dengan semena-mena tanpa memperhitungkan tata kelola lingkungan sehingga terjadi kemerosotan daya dukung lingkungan terhadap manusia, dan akibatnya akan timbul bencana dimana-mana sebagai balas dendam alam terhadap manusia.

Yogyakarta sebagai salah satu kerajaan yang mewarisi konsep Tri Hita Karana kemudian mengejawantahkannya dengan pembentukan garis imajiner Merapi-Kedaton-Segara Kidul. Konsep ini sejak awal telah disadari oleh Pangeran Mangkubumi dengan menempatkan kratonnya pada dataran tinggi yang diapit oleh Sungai Code di seberang timur dan Sungai Winongo di sisi barat, sehingga praktis keberadaan kraton akan selalu terhindar dari banjir. Di sisi hulu, kelestarian Merapi sebagai penyangga dan daerah resapan air bagi masyarakat Yogya diupayakan tetap terjaga kelestariannya dengan menempatkan Mbah Maridjan, seorang abdi dalem sebagai juru kunci penjaga alam. Demikian pula di sisi hilir ditugaskanlah Mbah Tomo di Panggang sebagai juru kunci laut Kidul. Ini berarti bahwa untuk mencapai keselarasan hidup, manusia harus melaksanakan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya dan mengupayakan kelestarian lingkungan hidup sebagai daya dukung terhadap kehidupannya.

Lain halnya dengan Jakarta, ibukota yang semula dirintis pertama kali oleh Fatahillah di awal abad 17 yang dilanjutkan oleh Pangeran Jayakarta. Jakarta merupakan daerah rawa yang sebagian tanahnya mempunyai ketinggian di bawah permukaan air laut. Hal inilah yang kemudian mendorong Belanda yang kemudian menjadikannya Batavia sebagai ibukota Hindia Belanda membuat sistem pintu saluran air sungai Ciliwung, kemudian berusaha menyodet aliran Ciliwung melalui pembuatan banjir kanal barat. Banjir kanal timur sebagai saluran kedua sampai saat ini belum terealisasi dan masih dalam tahap pembebasan lahan oleh Pemda DKI. Tata air di Jakarta terkait erat dengan daerah resapan dan penyangga di kawasan Bopunjur(Bogor-Puncak-Cianjur).

Andaikan budaya masyarakat Jakarta juga memiliki konsep semisal Tri Hita Karana, pastilah dimensi hulu, tengah dan hilir ketigabelas sungai yang memasuki kota dapat dijaga kelestariannya dengan penerapan tata kota dan ruang yang menjaga keseimbangan tata kelola lingkungan hidup dengan menyisakan paling tidak 40% daerah aliran sungai tetap hijau sebagai daerah reapan air. Keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam dan kegiatan pembangunan yang memusatkan uang di Jakarta mendorong warga dari berbagai penjuru daerah mengadu nasib di ibukota. Hal tersebut jelas akan menimbulkan dampak masalah sosial dan tentunya lingkungan hidup.

Kepadatan penduduk yang tinggi jelas membutuhkan sistem sanitasi lingkungan yang memadai sebagai kompensasi timbulnya limbah maupun sampah dari berbagai aktivitas manusia. Kesadaran masyarakat dalam membuang sampah akan sangat mempengaruhi lingkungan. Sampah yang dibuang di sembarang tempat, termasuk di sungai, akan menimbulkan sungai tercemar dan jika terjadi hujan deras di sisi hulu, maka banjirlah yang akan dituai oleh masyarakat.

Oleh karena itu, kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana, manusia harus sadar akan tugas dan fungsinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi untuk memakmurkannya bukan utnuk merusaknya. Setiap tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhannya harus dipandu dengan tata nilai dan norma yang telah dietentukan oleh-Nya. Hal ini berarti hubungan vertikal antara makhluk dengan sang khalik harus benar-benar diperhatikan. Demikian pula hubungan horisontal antar sesama manusia dan terhadap lingkungan hidup harus tetap dijaga lestari sehingga akan tercipta satu kesatuan fungsi dan keterpaduan yang saling mendukung kepentingan manusia baik generasi saat ini maupun anak cucu di kemudian hari. Terciptanya pola pikir yang didasari oleh nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kelestariaan lingkungan hidup akan membawa keselarasan hidup yang akan membawa kepada kesejahteraan manusia. Sebaliknya ketidakseimbang ketiga unsur di atas akan membawa kehancuran terhadap peradaban manusia dan kelestarian lingkungan hidup.

Posted by Nananging Jagad at 07:50:34 | Permanent Link | Comments (28) |
Komentar
1 - jebule tulisan bab banjir nggih mbah...
pancen jakarta ki blas ora ono sinergi sing apik bab tri hita karono. ojokno tekan semono adohe, won babagan menungso dewe wae sok sok ora gathuk bab pikiran karo howo nepsu (Comment this)

Ditulis oleh: walaaaahhh..... at 2007/02/16 - 15:23:27
2 - aku setuju banget deh, manusia emang harus sadar akan tugas dan fungsinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi untuk memakmurkannya dan bukan malah merusaknya. thanks ya (Comment this)

Ditulis oleh: awi at 2007/02/16 - 16:03:07
3 - Akhirnya nyampe juga di rumah ini... maklum agak tersesat, soalnya ynag empunya rumah nggak ninggalin alamat rumah di rumahku.. heheheh

Tulisannya berbobot Mas.. konsepnya sangat masuk akal atau applicable dikaitkan dengan disaster jakarta kemaren ini...

keep writing Mas!
pareng..... (Comment this)

Ditulis oleh: agil at 2007/02/16 - 17:11:05
profile
4 - Jenenge howo nepsu mono gumantung menungsone niat arep negndaleni opo malah menungso sing dadi bature nepsune dhewe, sumonggo kerso...... (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/19 - 08:38:23
profile
5 - awi, Bener banget Mbak...kesadaran akan diri pribadi kita, asal usul dan kemana kita akan melangkah(sangkan paraning dumadi) itu perlu digali dan dipertahankan. (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/19 - 08:41:49 in reply to: 2
profile
6 - agil, Nuhun atuh teh sudah sudi mampir di jagad saya...sebenarnya bangsa kita lewat warisan nenek moyang dan para leluhur sudah menggali berbagai macam konsep dan falsafah hidup untuk mencapai keselarasan hidup dengan berbagai nilai, norma dan kearifan lokal yang sangat bijaksana.

Ampon bosen mampir lagi Teh.....
Nuhun sanget (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/19 - 08:45:34 in reply to: 3
7 - kalau manusia tidak bisa menjaga keseimbangan alam, maka alam akan membuat keseimbangan dengan caranya sendiri: banjir, longsor, kekeringan dll (Comment this)

Ditulis oleh: de at 2007/02/19 - 09:31:01
8 - weleh.....pinter filsafat juga mas ini, jago malah!!
tri hita karana : parahyangan, pamongan, palemahan....lha saya dan kerabat saya dimana? (Comment this)

Ditulis oleh: eblis™ at 2007/02/19 - 18:10:15
9 - nah kalo fenomena bunderan HI diterjemahkan dalam bahasa "tri hita karana" bisa ndak kang?? (Comment this)

Ditulis oleh: bebek at 2007/02/22 - 02:20:19
profile
10 - de, Butul itu Mbak...makane jangan pernah skali-kali melawan alam, emang siapa manusia ini??? (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/23 - 08:25:58 in reply to: 7
profile
11 - eblis™, Lha sampeyan mbiyene ra kedaftar je, soale pas kon sujud ro Adam malah mbalelo...:-( (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/23 - 08:28:20 in reply to: 8
profile
12 - bebek, Bunderan iku pralambang siklus urip(sangkan paraning dumadi), mujudake lintasane urip menungso kang asipat langgeng. Menungso mono asale seko Gusti(Parahangan) mergo sak perangane jiwa mujudake sebulaning ruh ilahi. Banjur menungso tinitah urip ing ndoya(Pawongan) sesandingan karo alam(Pelemahan). Sak banjure paripurnaning uripe menungso tumuju alam kelanggengan ngliwati marga pati.
Sesambungane karo kisanak2 para bloger kang kerep ngumpul ing Bunderan HI, mujudake sarana kanggo tansah ngeling-eling ing jaman kang kepungkur, nglakoni alam saiki kanthi sakmadya kanggo ngurip-irupi urip kang arep teko.

Kirang langkung mekaten sedherek.... (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/23 - 08:38:59 in reply to: 9
13 - wah...dalem banget maknanya, ya mas. kalau kita bisa ngesapinya dan mngejawantahkanya dalam kehidupan kita, niscaya hidup manusia akan senantiasa aman dijaga oleh alam, begitu kan mas? (Comment this)

Ditulis oleh: trie at 2007/02/23 - 15:41:06
profile
14 - trie, Leres itu Mbak....sopo gawe bakale nganggo, sopo ngrusak bakale rusak, sopo nandur bakale ngunduh. (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/23 - 16:19:08 in reply to: 13
15 - Jadi intinya, harus ada keseimbangan antara hubungan vertikal dan hubungan horizontal yaa?? (Comment this)

Ditulis oleh: Iko at 2007/02/24 - 10:09:50
16 - manusia suka sok pinter sih. betul gak, mas? (Comment this)

Ditulis oleh: venus at 2007/02/25 - 13:51:22
17 - mencintai alam itu indah sekali, seindah kecantikan yang ditawarkan alam beserta isi2 nya. Apa kabar bro? (Comment this)

Ditulis oleh: ely at 2007/02/25 - 16:58:28
profile
18 - Iko, Yoi, habluminallah lan habluminnas.... (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/26 - 08:38:25 in reply to: 15
profile
19 - venus, Ya begitulah manusia seringkali menuhankan diri sendiri, merasa tidak butuh lagi dengan Tuhannya. (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/26 - 08:40:52 in reply to: 16
profile
20 - ely, Leres mbakyu....pawartos kula sae lan sehat wal andong mbak, nuwun sewu awis-awis pinarak wonten griya panjenengan, njiih ngengeti kawontenan ingkang saweg nandang prihatos teng negari kita mbak... (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/26 - 08:55:38 in reply to: 17
21 - Konsep pemerintahan yg berpegang pada nilai2 agama & keselarasan semesta... Hmmm... jaman skrg ini sesuatu sperti ini kenapa jadi terdengar seperti utopia ya? :(
Btw, suku Trunyan skrg cenderung 'dikucilkan' loh.. Kemarin dapat info dari guide di Bali. Krn mereka suka memperdaya turis. Aku mau kesana nggak dibolehin sama si guide :( (Comment this)

Ditulis oleh: rhani at 2007/02/26 - 18:16:57
profile
22 - rhani, Itulah barangkali kelemahan bangsa kita, terlampau kagum dengan konsep dari negara lain biar dibilang modern, padahal terkadang konsep terkait kurang aplikatif dengan sistem dan budaya kita, dan sebenarnya sedari nenek moyang kita sudah mempunyai sistem kearifan lokal yang tidak kalah hebatnya.
Soal orang Trunyan, barangkali karena mereka "dipinggirkan" oleh pemerentah dan hanya sekedar dijadikan komoditas pariwisata tanpa dimanusiakan barangkali itu membuat ladang penghidupan mereka menyempit dan mereka terpaksa melakukan hal yang kurang terpuji tersebut.Jadi intinya pemerintah dalam membuat setiap kebijakan harus menjaring partisipatif warga lokal....bener gak? (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/02/27 - 10:02:58 in reply to: 21
23 - mas,,,artikelnya keren,,kepake wat tugas,,tentang kearifan lokal,,kalau buku tentang tri hita karana itu sendiri ada gak?apa yah judulnya?mohon bantuannya,,makasih,, (Comment this)

Ditulis oleh: dini at 2007/03/21 - 20:16:02
profile
24 - dini, Nah itu dia....sayapun belum pernah menemukan buku yang mengulas dalam mengenai Tri Hita Karana, saja juga hanya baca dari artikel2 lepas, mungkin bisa ditelusur ke perpustakaan Kraton Yogya atau Solo untuk di Jawa, bisa juga coba buka di www.babadbali.com/canangsari/trihitakarana.htm.

Ntar kalo ada info saya sampaikan....tapi lewat mana ngontak sampeyan? (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/03/23 - 11:18:06 in reply to: 23
25 - oooo,,,,,
jadi,gini mas,aq dapet tgs metodologi penelitian tentang kearifan lokal yang dihubungkan ma perencanaan,nah pas liat artikel ini tertarik untuk ngambil tentang ini,dosennya juga suka,tapi justru jadi bingung coz ternyata susah bahannya.ngomong ngoming artikel lepasnya dari mana aja?masih nyimpen?boleh minta gak?kirim ke email aja,,,ngehubungin ke alamat email aja,dini6659050@yahoo.com,,,yasud,maaci yaw,,, (Comment this)

Ditulis oleh: dini at 2007/03/27 - 22:29:53
profile
26 - dini, Yo ntar saya coba inventarisir lagi dan kalau sudah mendapatkannya saya kirim ke sampeyan....siiip wis. (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/03/28 - 09:59:48 in reply to: 25
27 - bagus banget, aku yang orang bali aja belum bisa nulis gini, aku harap konsep ini gak cuma diterapkan di bali tapi di Indonesia... biar gak terus-terusan pohon-pohon ditebang jadi gedung bertingkat hix (Comment this)

Ditulis oleh: co-that at 2007/05/08 - 21:13:30
profile
28 - co-that, Setuju...gandos 100%, tetapi yo sekali lagi bangsa kita ini kaya akan konsep dan falsafah hidup namun belum punya nyali untuk menerapkannya secara sungguh-sungguh dan konsisten. (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/05/10 - 09:41:06 in reply to: 27
Tulis komentar