Al Wudun bin Menyun
ROSO SAKIT Itu......
Al kisah sudah kurang lebih empat hari ini, saya diberi nikmat berupa sebuah miniatur gunung sisa lumpur Lapindo Brantas di janggut sisi kanan saya. Awalnya saya kira gundukan nylekit itu hanya merupakan cikal bakal sebuah jerawat yang sebenarnya jarang mendera para priyagung. Sejak hari pertama bintik kecil itu muncul, si Enjeli cucune Bu Ageng selalu mengunyel-ngunyelnya seakan mendapatkan mainan baru yang unik.
Lha kok hari-hari berikutnya bengkak itu kian membesar dan menyadikan roso kaku dan senut-senut di sekitar tulang rahang saya. Meski tanpa ada pemberitaan dari Badan Vulkanologi maupun BPPTK, saya kemudian berinisiatif melakukan investigasi akan hal apa gerangan yang telah terjadi dan langsung saya putuskan, melihat kecenderungan peningkatan gunung mini tersebut, bahwasanya saya harus memasuki kesiapan Siaga I. Yang paling nggak lazim sebenarnya adalah posisi al wudun tersebut yang mendungul di atas janggut yang ”nawon kemit” tersebut. Selidik punya selidik, sepertinya di daerah persendian rahang kanan tersebut merupakan jalur patahan yang sangat memungkinkan terjadinya tumbukan lempeng ”ngisor gulu” dan ”nduwur janggut” yang mengakibatkan pengangkatan lempeng dan timbullah apa yang disebut fenomena al wudun tersebut(ketok ngawure to...).
Mengenai fenomena al wudun sendiri hanya pernah terjadi ketika usia balita saya, itupun posisinya selalu tersembunyi di sekitar ”brokong” dan tidak pernah neko-neko bin kreatif menggusur daerah lain. Pernah dulu waktu sedang aktif-aktifnya al wudun menyerang brutu saya, sampai ditemukan beberapa deret pegunungan wudun, sehingga dengan terpaksa simbok saya melarang pakai celana dan dipakaikannya rok mbakyu saya. Sudah barang tentu hal tersebut menjadi bahan olokan dan gosip tak sedap antar tetangga. Usia saya waktu itu sekitar tiga tahunan, dan kemana-mana saya harus mbrangkang sambil ngerrok.
Ihtiar yang selalu dijalani simbok waktu itu biasanya masih dengan cara-cara tradisional warisan nenek moyang. Obat yang paling manjur katanya didudutkan pupus pohon salak untuk diambil pondoh(pangkal pupus) untuk kemudian dikunyah terus ditempelkanlah ramuan tersebut di pucuk al wudun. Resep lainnya adalah dengan ngupili al wudun minal upil(kalau nggak percaya jangan pernah nyoba). Ditunggu beberapa hari tentu al wudun tersebut akan mateng untuk diproses lebih lanjut. Terapi selanjutnya adalah pembedahan wudun dengan cara mencukil ”mata” wudun yang berupa ”kaldera” berbentuk ”strato”, untuk kemudian melalui kawah terbuka tersebut dilakukan pemlothotan gunung dengan sadis dan ngoyo hingga menimbulkan roso sakit yang luar biasa. Dikuras sampai habis-bis darah kotor yang berwarna merah hitam pekat tersebut bersama lelehan nanah yang iiiihhhhh amit-amit medeni hiii......tapi habis itu rek, uuu... lueegone ati dan tinggal menunggu proses recovery saja.
Upaya lain yang dilakukan berkenaan dengan kehadiran al wudun biasane yang disertai dengan timbulnya berbagai pringkilan atau ”panjer” pada lekuk-lekuk persendian dekat lokasi penggunungan, seperti di sendi siku, kelek ataupun di selangkangan. Nah untuk gejala ini, dulu di kampung saya ada Mbah Dul yang sering dimintai tolong untuk mengurut mencairkan panjer tersebut. Ketika pasien datang, Mbah Dul langsung mengambil minyak, bisa minyak klentik ataupun minyak mambu, untuk mengurut pringkilan. Biasanya beliau memberitahukan berapa jumlah pringkilan, yang menunjukkan tingkat keparahan penyakit. Pringkilan tersebut kemudian diurut dengan disertai pringisa kesakitan para pasien untuk kemudian diberikan sugesti dan donga bahwa ”nggak popo lan mesti bakal waluyo jati peparinge kang sejati”. Tinggal menjalani proses resep simbok saya di atas.
Al wudun kelihatannya hanyalah penyakit sepele wal ndesit, tapi dari catatan sejarah, banyak para pemimpin dan tokoh dunia yang ternyata pernah mengalami fenomena al wuduniyyah ini. Salah satu contoh yang terkenal adalah raja ke dua Majapahit, Sang Prabu Jayanegara. Bahkan penyakit ndesit inilah yang kemudian memberikan kesempatan kepada Tabib Tanca untuk meracuni sang raja sebagai upaya nglingsir keprabon yang dipimpim oleh Kuti, seorang perwira darmaputra. Dan wal hasil sang prabupun meninggal dan tahta berhasil diduduki oleh kaum pembrontak untuk beberapa saat.
Kalau di era kemajuan sekarang ini sih fenomena al wudun tidak terlalu menjadi majalah dan lebih mudah serta praktis penangannya. Sudah banyak tersedia di pasaran obat oles berupa salep, tinggal dioles dan tunggu kempesAl wudun bin bisul......heeem, pernahkah anda mengalaminya juga???? sendiri sang gunung itu.










cenut2 dan gatel rasanya
diolesi minyak tawon aja pak
atau daun dewa yg dialusin alias dikunyah
syafakallah pak
makasih dah mampir ;) (Comment this)
ntar ilang gak bekas lho!!
*pengalaman!* (Comment this)
Nuwun.... (Comment this)