SARI ILMU (2)
BUMI MEMINTA LANGIT MENAGIH
Sari Ilmu Kenduri Cinta Maret 2007
Bumi meminta langit menagih, begitulah tema sentral diskusi bulanan di Taman Ismail Marzuki kali ini. Malam itu tampak sedikit istimewa karena saat acara baru dimulai beberapa saat, langitpun langsung memberikan curahan air hujannya, bahkan bisa dibilang sepanjang acara hingga pukul 03.00 dini hari, langit tiada pernah berhenti mencurahkan tangisnya.
Suasana diskusi yang sumringah berselang seling dengan alunan musik Kiai Kanjeng menambah seru pembicaraan para jama’ah. Bahkan menjelang tengah malam kami diajak memasuki RUANG RINDU dengan kehadiran segerombolan anak-anak band Letto yang dipimpin Sabrang Mowo Damar Panuluh(Noe) yang kebetulan merupakan yuwaraja bagi Cak Nun, pengasuh KC. Canda ala bapak dan anakpun berlangsung sedemikian hangatnya hingga menimbulkan gelak tawa dan sesekali diselingi ledekan “kethek”. Sentral diskusi berupaya mendudukkan secara obyektif dan seproporsional mungkin, kedudukan alam raya dalam tata kosmos pewujudan keseimbangan peradaban manusia.
Manusia dalam menjalani kehidupan tidak akan terlepas atas keterkaitan dan ketergantungan terhadap lingkungan hidup. Keserasian dan keharmonisan hidup hanya akan tercapai apabila terdapat keseimbangan fungsi dan daya dukung lingkungan terhadap manusia. Tindakan manusia yang terlalu mementingkan kepentingan diri pribadi tanpa menimbang kepentingan generasi mendatang dan kelestarian lingkungan hidup, akan menimbulkan bencana dimana-mana.
Dalam teori penciptaan makhluk oleh Sang Khalik, alam sebenarnya mempunyai sifat netralitas atau bebas nilai. Sebagaimana malaikat yang bebas dari nafsu dan keinginan pribadi, alam juga digariskan untuk tunduk dan patuh terhadap sunatullah-Nya. Alam tidak mempunyai nafsu, sehingga jelas alam tidak bisa marah ataupun susah apalagi bosan. Sehingga kurang pas jika kita kemudian menuduh bahwa alam mulai enggan bersahabat dengan kita.
Dengan demikian setiap bencana alam yang datang menimpa manusia seratus persen akibat kelalaian manusia dalam memperkosa dan mengeksploitasi alam secara semena-mena. Sebagai contoh, kasus air. Air diperintahkan oleh Tuhan melalui sunatullah atau hukum alam, bahwasanya air secara gravitasi akan mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Ketika saluran dan sarana resapan air diambil, bahkan dihilangkan demi kepentingan manusia tertentu, air akan tetap patuh pada kodrat sejati tugasnya. Air akan berusaha mencari celah untuk mengalir dalam rangka menjalankan sunnah-Nya. Akhirnya semua kemungkinan ditempuh oleh air dengan menerjang tanggul, menggenangi pemukiman manusia dan menenggelamkan tanah desa dan kota. Maka terjadilah banjir bandang. Jelas disini terlihat bahwa seratus persen air tidak bersalah apalagi marah.
Hal utama yang menjadi good point adalah bahwa alam senantiasa patuh dan tunduk kepada-Nya, jadi hakikat bumi tidak akan dan pernah meminta kurban akibat ulah manusia, langit tidak akan menagih tumbal dari anak cucu Adam. Manusia sendirilah yang berulah, sehingga jatuhlah kurban jiwa dan harta benda. Manusialah yang mengakibatkan timbulnya kurban dan tumbal sebagai akibatkeserakahannya merusak alam. Jadi monggolah sadar para menungso.........!!!!!!!










---
Lha pas Sunami kae opo yo salahe menungso aceh ? opo mbahe mbiyen nate dolanan dhukir2 lempengan kerak bumi ? (Comment this)
sirahku ngelu - mergo kudanan mas :) (Comment this)
Wah...foto tumpenge menggoda nafsu nih! nafsu makan!! (Comment this)
Acara kenduri (seperti acara banca'an maksudnya ya?) di sini nggak ada. Tapi kalau syukuran, semacam syukuran setelah panen dsb, ada di desaku. Kalau aneka cara diskusi juga mblather di sini , akeh banget. (Comment this)
Ngomong2, gambar tumpengnya kayaknya lezat banget, Mas.. :) (Comment this)