NYASAR di AL IZHAR
REFLEKSI 20 TAHUN
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
AL IZHAR
PONDOK LABU, 11 MARET 2007

Sebuah tempat yang penuh dengan bunga-bungaan atau bisa dibilang taman bunga, begitulah kurang lebih makna kata al izhar, dan siang itu kami, saya dan seorang rekan nyasar di Al Izhar, sebuah lembaga pendidikan Islam di kawasan Pondok Labu. Berawal dari sms seorang teman di Komunitas Kenduri Cinta yang meminta perkenan saya untuk hadir dalam acara CNKK tepat pukul 13.00 WIB di Al Izhar Pondok Labu.
Tanpa berpikir rumit dan bertele-tele, kami nekad berangkat meski dengan referensi informasi lokasi yang masih kabur dan meragukan. Tapi akhirnya tanpa menemui kendala berarti sampai juga kami di lokasi. Selidik punya selidik, ternyata acara yang akan berlangsung tersebut merupakan kegiatan tasyakuran dua puluh tahun keberadaan lembaga Al Izhar.
Al Izhar merupakan lembaga pendidikan di bawah Yayasan Anakku yang menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Melihat sekilas namanya, seolah mirip dengan Al Azhar. Memang pada awal berdirinya lembaga ini merupakan bagian dari Al Azhar dan bernama Al Azhar Pondok Labu. Dua tahun berjalan kemudian terjadi pemisahan manajemen dan menjadilah Al Izhar.
Puncak acara tasyakuran tersebut diisi dengan penampilan gamelan musik Kiai Kanjeng yang dimotori Cak Nun dan Mbak Via. Di sela-sela hingar musik yang dimainkan, terjadi diskusi yang melibatkan siswa-siswi, para guru dan wali murid. Tema diskusi berkisar tentang dunia pendidikan dalam konteks Islam.
Diskusi diawali dengan pancingan pertanyaan Cak Nun mengenai berapa prosentase pendidikan agama dan umum di Al Izhar. Hampir semua hadirin terjebak ke dalam pola pikir, bahwasanya ilmu dikelompokkan menjadi dua kelas besar yaitu ilmu agama dan ilmu umum. Apakah paradigma tersebut sudah tepat dan benar?
Cak Nun kemudian mengupas dengan melemparkan pertanyaan ke dua, apakah bila kita belajar ilmu biologi, belajar tentang pohon, dahan, ranting dan daun, kita bisa meninggalkan keberadaan Tuhan, ataukah kita sadar bahwa itu semua ciptaan-Nya? Ternyata secara nalar, belajar ilmu apapun kita tiada akan pernah bisa lepas dari konteks Tuhan karena memang hakikat ilmu itu sendiri merupakan metode untuk mengungkap keberadaan dan keagungan Tuhan, dan semata-mata ilmu itu milik-Nya jua. Dan ini berarti sebenarnya semua ilmu itu merupakan ilmu agama yang islamis.
Agama itu bukan sekedar sebuah departemen, sehingga di pertanian harus ada sentuhan agamanya, di pasar harus ada agama, di pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya harus ada sentuhan agama, dlsb. Agama tidak bisa dilembagakan ataupun dikotak atau dibingkaikan dalam satu disiplin pandangan yang sempit. Agama bagaikan rasa manis yang harus hadir dalam soto, dalam sate, dalam sirup, dalam lodeh, dalam wajik, dlsb tentunya dalam konteks komposisi dan proporsi yang pas.
Dalam konteks ilmu pengetahuan, setiap ilmu yang membawa kepada kepatuhan dan mendorong sikap taqarub kepada Tuhan, berarti itu merupakan bagian dari agama. Agama melintasi dimensi simbolisme. Syahadat, sholat, puasa, zakat, haji dan segala dimensi ibadah mahdzoh hanyalah kompor bukannya hidangan masakan. Ibadah hanyalah hanyalah urusan dapur, metodologi dan cara untuk bertadabur dalam rangka bertaqarub kepada-Nya. Demikian pula musik dan notasi nada hanyalah alat, sehingga semestinya tidak ada musik Islam, Kristen, Jawa, Sunda, Batak, Dayak dlsb. Musik ya hanya sekedar musik, suatu alat yang bebas nilai dan manusialah yang akan memaknainya dengan polesan nilai moralitas dan spiritualitas sehingga musiknya bisa menjadi bernilai religius.
Di atas tingkatan orang sekedar beribadah adalah segolongan orang berilmu dan lebih tinggi lagi adalah orang yang beramaliah dengan ilmunya. Makna dari kata amal adalah bekerja keras, sehingga konteks “kotak amal” menjadi salah kaprah dalam terminologi bahasa. Dalam pengertian tersebut kita seringkali terlupa dan lalai sehingga seringkali tindakan serta sikap kita merendahkan martabat para pekerja keras. Ini berarti kita harus menghormati martabat para tukang becak, para buruh bangunan, buruh angkut, buruh pabrik, pedagang kaki lima dlsb. Para pekerja keras, orang pinggiran kata Franky, belum tentu kedudukannya di mata Tuhan lebih rendah dan hina dibandingkan para hartawan dan pejabat. Di mata Tuhan ketaqwaan dan ketinggian akhlaklah yang menjadi standar derajat dan kemuliaan seseorang.
Oleh karena itu generasi Islam harus dididik dan dibekali ilmu pengetahuan dan mampu menerapkan konsep amal ilmiah dan ilmu amaliah, artinya setiap amal harus dilandasi dengan ilmu dan setiap ilmu harus diamalkan. Demikian diharapkan peran lembaga Al Izhar, sebagai taman bunga yang siap sedia membentuk buah, akan mampu menghasilkan generasi unggul berbalut akhlakul karimah untuk disumbangkan bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara serta tegaknya panji Islam. Amiiiiiin.










makasih ya mas (Comment this)
*kagum*
smoga ya :) (Comment this)
Piye kabare dab? (Comment this)
Kontrakku isih tekan wulan septemberan, anak bojo akhir bulan iki nyusul.Yo bot-bote wong golek upo, Nang....
Aku nang kene ketemu cah Nuklir, mungkin sak kantor ro kowe nek nang Njokarto? Saiki wonge agi njupuk S3, jenenge Ismail.Sering ngisi pengajian nang konco2ku....
(Comment this)
apa cuman ngisi formulir trus bayar doank,,?? (Comment this)