KEPEMIMPINAN SEJATI
REFLEKSI 20 TAHUN UNIVERSITAS PARAMADINA

Ini berarti bahwa seorang Muhammad tiada lagi pernah sempat untuk memikirkan diri sendiri. Bagi dirinya hidup mulia dan disanjung oleh segenap semesta alam adalah tidak penting dibandingkan dengan urusan Tuhan dan umatnya. Muhammad meniadakan diri, moksa dan meleburkan dirinya dalam cintanya kepada Tuhan dan umatnya.
Di depan Allah, Muhammad tidak pernah meminta dan memikirkan sesuatu kecuali pengampunan serta petunjuk untuk keselamatan setiap umatnya. Dia tiada pernah egois meminta sesuatu untuk dirinya sendiri. Yang selalu menjadikan kegelisahan bagi diri Muhammad adalah bagaimana menjadikan umatnya menjadi manusia-manusia terpilih, sosok-sosok insan kamil yang sanggup menjadi wakil Tuhan, menjadi khalifatullah fil ardzi, menjadi semulia-mulianya makhluk untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Di sisi lain ketika Muhammad berhadapan dengan umatnya, adalah risalah dan wahyu ilahi yang diamanatkan kepadanya yang disampaikan. Dia tidak pernah meminta dihormati sebagaimana raja, dia tidak pernah meminta dilayani sebagaimana seorang kaisar, dia tetaplah seorang nabi pembawa petunjuk. Dia memilih untuk menjadi abdan nabiya(nabi yang pengabdi), bukan mulkan nabiya(nabi yang seorang raja). Dia tiada pernah mengambil keuntungan harta dan benda atas status kenabiannya. Sekali lagi dia, Muhammad, meniadakan dirinya sendiri dari dalam dirinya sendiri.
Demikianlah semestinya seorang pemimpin yang amanah. Dia tiada pernah memikirkan suatu cara untuk memperkaya diri sendiri dan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan para kroninya. Di hadapan Tuhan, dia harus berfikir bahwasanya kekuasaan yang diembannya adalah amanat Allah, dia akan tunduk kepada Allah dan menjalankan amanat sesuai aturan yang telah digariskanNya, yang dipikirkannya hanyalah bagaimana memakmurkan rakyatnya. Di hadapan rakyat, dia akan bersikap arif dan bijaksana, mengerti kesusahan dan penderitaan rakyat, tidak akan bersikap adigang adigung dan adiguna menggunakan kekuasaannya. Dia akan takut melukai dan bahkan menyengsarakan rakyat karena bila ia berbuat demikian, hal itu akan membuat Tuhan marah dan menimpakan azabNya.
Itulah sebenarnya hakikat dari konsep manunggaling kawula lan Gusti. Demikianlah sebagian uraian hikmah yang disampaikan oleh Budayawan Muhammad Ainun Nadjib dalam acara Reflesi 20 Tahun Universitas Paramadina Jakarta yang mengambil tema "Revolusi Akal Sehat, Merawat Kewarasan Ruang Publik"
Di sisi lain, tujuan pendirian Paramadina oleh Cak Nur merupakan pembentukan suatu , lembaga pemikiran sebagai wahana dan instrumen dalam rangka mewujudkan ide, gagasan dan konsep masyarakat madani. Masyarakat madani merupakan konsep masyarakat yang diterapkan oleh Baginda Nabi dalam mengatur tata pemerintahan Madinah dengan segala pluralitas masyarakatnya. Diharapkan oleh Cak Nur, hadirnya Paramadina bisa senantiasi menjadi oase bagi setiap komponen masyarakat dan bangsa Indonesia yang serba plural dan majemuk untuk secara damai berdampingan bersama, bersatu padu dalam mewujudkan negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghofur....Amien.









