Tuesday, May 30, 2006

SEMANGAT JOGJA(2)

                 

   SEMANGAT JOGJA(2)

 

……………

Si mata elang dari Jogjakarta

Resahkah kamu

Kurindu sorot matamu yang tajam dalam gelap malam

Dimana runcing kokoh paruhmu

Tetapkah angkuhmu hadang keruh


Masih sukakah kau mendengar

Dengus nafas saudara kita yang terkapar

Masih sukakah kau melihat

Butir keringat kaum kecil yang terjerat

……………..

Terasa petikan syair lagu Willy yang khusus dibuat Iwan Fals di pertengahan tahun 80-an mengenai ketegaran Jogjakarta menantang jaman dengan segala tradisi dan budaya ala Mataramnya. Di tengah badai gelombang globalisasi, Jogja tetap eksis dengan nilai jatidiri tradisi tiada henti.

Jogja tidak akan tenggelam hanya oleh sapuan getaran gempa.

Jogja akan tetap berdiri tegak tak lekang ditelan jaman.

Jogja akan bangkit lagi menepis segala kedukaan.

Jogja akan abadi sepanjang jaman.

Kita semua yakin…………………

 

Posted by Nananging Jagad at 09:15:02 | Permalink | Comments (3)

Monday, May 29, 2006

Semangat JOGJAKARTA

Semangat Jogjakarta…….

Jogjakarta sebuah kota dengan seribu satu legenda yang melekat erat, telah berdiri sebagai “kuthagara” bagi Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat yang terbentuk pasca Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Bagi sebagian orang Jogja asli maupun orang perantauan yang pernah mengenyam tinggal di kota tersebut, tentunya banyak kenangan dan memori yang tak akan pernah hilang sekalipun ditelan gempa bumi mencekam Sabtu, 27 Mei 2006 kemarin. Dari kota ini berawal berbagai gerakan kebangsaan semasa pemerintahan Hindia Belanda, jaman Jepang, masa revolusi kemerdekaan dimana ibukota RI sempat hijrah ke kota ini, juga di masa alam kemerdekaan, Jogja senantiasa menjadi tonggak bagi perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di masa akhir kekuasaan pemerintahan Orde Baru, Jogjalah yang sedari awal menjadi pionir bagi gerakan suksesi kekuasaan yang menjadi tulang punggung bagi gerakan reformasi di tahun 1998.

    Jogja sebagai kota pendidikan takkan pernah kering dan kehabisan akan pencetakan kader-kader muda penerus perjuangan di alam pembangunan yang akan mewarisi tongkat estafet kepemimpinan nasional di masa depan. Tak sedikit seniman dan budayawan yang memilih bermukim di kota gudeg ini untuk menggali ilham dan inspirasi bagi penciptaan kreasi seni budaya mereka. Tidak berlebihan dalam kondisi kedukaan yang mendalam akan terjadinya gempa bumi yang banyak memakan korban jiwa dan harta benda, sedikit kita mengenang kembali suatu lirik lagu yang menceritakan tentang spirit dan semangat Jogja.

Seperti debu tajam menerpa mata

Aku tersentak dari lamunan

Ketika kubuka tirai jendela

Seperti angin lembut menyusup jiwa

Aku terpejam kuhirup nafas dalam

Di gerbang kotaku Jogjakarta

Hari ini aku pulang

Hari ini aku datang

Bawa rindu

Bawa haru

Bawa harap-harap cemas

Masihkah debu jalanan menyapa gerak langkahku

Masihkah suara cemara mengiringi nyanyianku

Seperti bintang yang menunggu fajar

Aku berfikir untuk membangunkanmu

Bergumul dengan gelora nafasmu

Di sini aku ditempa

Di sini aku dibesarkan

Semangatku keyakinanku keberadaankupun terbentuk

Masih aku pelihara kerinduanku yang dalam

Setiap sudutmu menyimpan derapku Jogjakarta

Setiap sudutmu menyimpan langkahku Jogjakarta

Itulah lirik lagu yang ditulis Ebiet G. Ade berjudul Jogjakarta yang menggambarkan semangat yang senantiasa berkobar tak kunjung padam dalam menentang kejamnya jaman. Gempa boleh meluluhlantakkan jiwa raga dan harta benda, namun kita harus yakin Jogja akan segera bangkit menyongsong masa depan yang lebih baik. JOGJA NEVER ENDING ASIA.

Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas……………

 

Posted by Nananging Jagad at 07:52:04 | Permalink | Comments (5)

GEMPA JOGJA

SASMITA DARI JOGJA

Berbagai kejadian bencana alam yang sangat luar biasa dan maha dahsyat nampaknya belum mampu menjadi pelajaran dan wahana mawas diri bagi manusia yang seakan buta terhadap “sasmita” dari Sang Penguasa Jagad Raya. Belum sempat hilang ingatan kita dengan berbagai rangkaian peristiwa bencana mulai dari tsunami Aceh, banjir dan tanah longsor di berbagai daerah, hingga kehebohan geliat Gunung Merapi, kita kembali terhenyak kaget dengan kedahsyatan gemba bumi yang melanda Yogyakarta pada Sabtu, 27 Mei 2006 kemarin.

Bagi sebagian masyarakat Jawa yang masih berpegang kepada mitologi “ilmu titen”, mempercayai bahwa dalam siklus selang waktu di antara 8 tahun(1windu), 32 tahun (1 zaman) dan 100 tahun (1 abad) seringkali merupakan sasmita terhadap akan terjadinya suatu peristiwa yang maha dahsyat. Adalah barangkali sosok Mbah Maridjan yang diberikan sedikit ilmu titen untuk

memahami fenomena Gunung Merapi sehingga beliau senantiasa setia terhadap tugasnya selaku juru kunci Merapi. Ketika opini publik digiring oleh media massa yang menggambarkan seolah Merapi dengan “wedhus gembelnya” seperti monster yang siap menelan banyak korban jiwa dan harta benda dari masyarakat yang berdiam di sekitarnya, beliau tetap memegang filosofisnya bahwa Merapi adalah sahabat yang sedang punya “gawe” sehingga peningkatan aktivitas dipandangnya sebagai suatu kewajaran.

Belum usai perhatian pemerintah untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan meletusnya sang Merapi, dunia dikejutkan oleh gempa yang tak pernah terlintas di benak kita akan menimpa daerah “swapraja” Ngayojakarta Hadiningrat. Dan yang lebih menakjubkan ketika kemudian gempa diketahui berpusat di dasar Laut Selatan yang secara mitologi merupakan kesatuan “kerajaan ghaib” penopang berdirinya dinasti Mataram Islam. Ketika kita menganalogikan Laut Selatan dengan Merapi, sebenarnya Laut Selatan juga mempunyai juru kunci seperti sosok Mbah Mitro yang berdiam di Ngetal Tegalarum Imogiri dan juga ada Mbah Tomo di pertapan Kembanglampir Girisekar Panggang. Adakah kedua sosok sang juru kunci tersebut sebelum peristiwa gempa menimpa menerima sasmita-sasmita sebagaimana Mbah Maridjan terhadap Merapi. Pada dasarnya setiap juru kunci merupakan tokoh sentral terhadap suatu pola kearifan lokal yang memiliki pemahaman yang “linuwih” terhadap gejala dan sifat alam yang menjadi wilayah tanggung jawabnya.

Mengingat kembali terhadap sasmita yang disampaikan oleh Mbah Tomo kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, beliau menyampaikan bahwa: “amenangi jaman edan wong cilik poyang paying, kelangan bandha tegese ora kelangan apa-apa, kelangan nyawa mung kelangan separo ananging kelangan kapercayan/kapribadhen pada karo kelangan sak kabehe….” Apakah pernyataan tersebut relevan terhadap kejadian gempa yang banyak menelan korban jiwa dan harta benda kali ini? Apakah ketika manusia sudah banyak yang meninggalkan tata nilai, norma dan kaidah hukum yang digariskan oleh Tuhan, kemudian Tuhan menyampaikan peringatan melalui berbagai gejala alam dan manusia tetap tidak menemukan arti kesadaran sejati, maka tibakah waktunya Tuhan menghukum makhluknya? Mungkin lebih bijak bagi kita untuk mencoba mawas diri dalam pengertian “mulad sarira hangrasa pribadhi” dan menanyakannya kembali kepada rumput yang bergoyang……….
Posted by Nananging Jagad at 03:16:02 | Permalink | Comments (3)

Wednesday, May 24, 2006

nDalem Kebun Kacang

Discription of nDalem Kebun Kacang……..

Jln. Kebun Kacang II No.70 Tanah Abang yang untuk selanjutnya di dalam blog ini disebut nDalem Kebun Kacang merupakan sebuah Istana kecil kediaman Bu Ageng “Keken” dimana beberapa orang ksatria dari berbagai suku dan etnik di Indonesia menumpang “ngenger” di dalamnya. Dengan demikian nDalem Kebun Kacang merupakan bentuk miniatur Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Para penghuni nDalem Kebun Kacang terdiri atas penghuni Griya Utama dan Ksatriyan dengan keterangan sebagai berikut:

Penghuni Griya Utama:

1. Bu Ageng “Keken” sebagai pihak yang “nglenggahi dampar” sekaligus merangkap sebagai Ketua RW 02.

2. Kang Odi “si Pendekar Transistor” and family, terdiri Mbak Lina dan si Kecil “Angelie”.

3. Pak “Kostrad” and family, terdiri Mbak Fitri dan si “Bocah Angon” Ardi.

4. Om “Dirjen Kichen” and family, terdiri Bi Lida and her dughter.

Penghuni Ksatriyan:

1. Aku sendiri “nDoro Seten van Magelang”, begitu sebutan dari “nDoro Sinyo” Ipul Bangsri ketika terinspirasi Para Priyayi-nya Pak Ageng Umar Kayam.

2. “si Bos” Yerry asli Sukabumi tapi always comeback to Metro-Lampung.

3. “Dik Fuad” cah Buluspesantren-Kebumen.

4. “Pak Direktur” Bang Sitepu yang asli Binjai-Medan.

5. Herman “si jago tidur” van Mertoyudan.

6. “Koh Kiki” asal Sukabumi.

7. Si Tyor cah Ngupasan yang jarang nongol.

8. Sang Abib si Batak keturunan de Acehers.

9. Sang “Mami” and family.

10.”nDoro Sinyo” Ipul Bangsri van Cilacap.

11. Kangmas Bahtiar kerabat Sukaharjo Hadiningrat.

12. Mas Budi bujang Bukittinggi.

13. Kang “Wendi” yang I don’t very full about him.

Melihat komposisi penghuni nDalem Kebun Kacang tersebut terlihat bahwa terdapat suku Jawa, Sunda, Batak, Minang dan juga Chinese sehingga sangat dimungkinkan terjadinya suatu pola hubungan keseharian yang sangat beragam dan tentu saja “unik”. Tidak hanya sebatas itu, proses dialektika yang dinamis dengan berbagai ragam latar belakang dan pola berpikir sering menjadi pewarna yang sangat dominan bagi dunia kami. Dalam kondisi yang demikian, kami secara alamiah dididik untuk senantiasi mengembangkan sikap “tepo sliro”, saling menghormati dan menghargai satu sama lain untuk tercapainya suatu hubungan keluarga besar nDalem Kebun Kacang yang harmonis dan dinamis menentang jaman globalisasi. Prinsip dasar yang kami pegang adalah bahwa perbedaan dan pluralisme bukan penghalang bagi terwujudnya suatu persatuan bagi suatu cita-cita dan tujuan yang lebih besar, namun justru merupakan sarana pengkayaan terhadap suasana kebatinan kami untuk menjadikan hidup senantiasa berperadaban luhur.

Dengan keyakinan yang tinggi dan dengan didorong oleh keinginan luhur untuk ikut menyumbangkan darma bakti kami “Memayu Hayuning Bawana” bagi kejayaan Nusantara di masa depan, kami bertekad untuk mengukir sejarah baru Indonesia Masa Depan dari nDalem Kebun Kacang tercinta……….

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI……….

 

Posted by Nananging Jagad at 02:21:37 | Permalink | Comments (4)

Friday, May 19, 2006

Mbah Maridjan(2)

Isih bab Mbah Maridjan….

Pancen koyone awake dhewe kudu sinau lan mahami apa sing diarani basa simbol. Babagan juru kunci kanthi umum jane nduweni teges pawongan sing tansah nguri-uri utawa mahami kahanane jaman kanthi basa kearifan lokal. Amarga deweke nduweni keluwihan anggone ngrasa rasane alam sahengga kena diarani yen paham basa alam. Alam ing kene pangertene amba, ora mung wujud pisik neng uga sakabehing kahanan kang nduweni dimensi ruang lan wektu.
Kadangkala pancen kang diarani kearifan lokal kuwi mau angel dipahami lan dionceki nganggo nalar uga pengetahuan modern. Sinau seko sosoke Mbah Maridjan, paling ora wong akeh dadi mangerteni yen sing jenenge alam, ing kene Merapi, jane nduweni basa kang alus lan kudu dingerteni kanggo njaga tata keseimbangane alam raya. Merapi najan katone mbebayani nanging beda karo sosoke teroris sing tansah ngupadi banten wong kang ora nduweni dosa, mergo Merapi jane mung nglakoni hukume alam utawa sunatullahe Gusti kang yen dipikir kanthi jero malah bakale ngenehi aset kang ora sithik tumrap masyarakat sekitare. Sepiro akehe muntahan kang awujud krikil, krakal, pasir lan uga watu kang tembene dadi panguripane para sedulur penambang pasir. Durung meneh awune kang disemburake kang minangka rabuk alami sing ningkatake kesuburane lemah kiwa tengene minangka dadi sumber penguripane kadang tani.

Kawit mbiyen mula, Mbah Maridjan tansah kritis lan tatag penemune ngenani kelestariane alam Merapi. Deweke tansah ngelingake cara penambangan pasir sing kanthi ngrusak alas nganggo “bighoe”, bab penggundulan alas nganti kedadeane Taman Nasional Gunung Merapi sing dadi keprihatinane wong akeh ing sak ngisore Merapi. Ora bosen Mbah Maridjan tansah sumanak marang kanca-kanca pendaki Merapi sing asring mampir ing omahe, tansah diwelingi yen munggah Merapi ojo nganti gawe rusake lingkungan lan tansah melu njaga kelestariane.

Mbok menawa penguripane Mbah Maridjan kang sakmadya kuwi sing njalari deweke nduweni kawicaksanan lan kawaskithan bab alam.
Muga wae kahanan iki bisa kanggo pepeling tumrape kawula dasih…….


Manungso tan keno kiniro….

Posted by Nananging Jagad at 09:54:08 | Permalink | Comments (7)

Thursday, May 18, 2006

Mbah Maridjan

Memahami fenomena Merapi dengan segala misterinya seakan tidak ada habisnya di saat kondisi gunung teraktif ini sedang bergejolak. Di samping itu Merapi tak bisa dipisahkan dengan sosok sang juru kunci Raden Ngabehi Surakso Hargo alias Mbah Maridjan. Beliau Mbah Maridjan merupakan penerus ketiga dari juru kunci Merapi sebelumnya yaitu Mbah Wonokaryo dan Mbah Sulakso Hargo.

Mbah Maridjan menempuh pembelajaran lewat proses pemagangan dari tahun 1978, sebelum dinobatkan sebagai juru kunci pada tahun 1982. Tingkat pembelajaran tertinggi yang harus dikuasai seorang juru kunci adalah mengenal, memahami dan merasakan alam semesta untuk memposisikan pengutamaan terhadap kepentingan masyarakat di atas kepentingan dan keselamatan diri sendiri.

Mengambil pembelajaran dari Merapi, melihat kondisi negara yang semakin suram dikarenakan ulah manusia yang semakin mengesampingkan tata keseimbangan dan keharmonisan alam semesta, kiranya negeri ini membutuhkan banyak sekali sosok Mbah Maridjan- Mbah Maridjan yang lain. Sosok yang berani mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kepentingan yang jauh lebi besar, suatu sikap patriotisme dan solidaritas yang semakin luntur di negeri yang katanya gemah ripah ini.

JER BASUKI MAWA BEA………..

Posted by Nananging Jagad at 07:21:54 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, May 17, 2006

Neo GNB

Akhirnya dengan didorong oleh keinginan luhur dan propokasi beberapa sodara sebangsa setanah air, dengan ini menyatakan ikut bergabung dengan GNB (Gerakan NgeBlog). Thank you very full buat semua….
Posted by Nananging Jagad at 02:09:53 | Permalink | Comments (6)