Friday, June 30, 2006

THEKLEK

THEKLEK ala nDalem Kebun Kacang

 

Siang-siang tanpa aktivitas di hari liburan kadang terasa gerah dan menjemukan di dalam nDalem Kebun Kacang. Untuk sekedar memanjakan mata yang terkena teror serangan kantuk, seringkali kuhabiskan waktu rebahan sambil  rengeng-rengeng campur sarinan dan membayangkan seolah klekaran di bawah sebatang waru doyong yang suejuk. Eunak hemm…….seakan tiada lagi kenikmatan dunia yang dapat melebihinya.

Suatu siang mengalunlah sebuah tembang campur sarinya Om Manthous…….” horotoyo nganggo theklek kecemplung kalen, tinimbang golek Dik, becike aluwung balen……..” kebetulan pada waktu itu nDalem kami sedang kedatangan tamu agung, si Topik teman seperjuangan di Jogja yang telah sejak lama ditasbihkan sebagai cucune Mbah Marto. Sambil ngobrol ngalor ngidul, Topik bercerita tentang keadaan Dik Fuad yang lagi nandang wuyung. Selidik punya selidik aku bertanya wanodya mana yang gerangan dapat memikat lekat hatinya Dik Fuad. Apakah si Atun, pengelola restoran Mc Atun yang selalu menjadi langganan makan malam para ksatria nDalem ini.

Kemudian Topik yang memang punya otak dan selalu otak-atik ngelmu perdetektifan dengan dibantu si Bagor, menyampaikan analisisnya. Menurut data dan fakta yang berhasil dihimpunnya dan beberapa kali mewancarai Dik Fuad, dia meyakinkan bahwa sang wanodya yang digandrungi Dik Fuad adalah seorang lulusan Pakultas Geograpi dan ternyata masih tetangga desa di pelosok Buluspesantren, Kebumen sono. Mereka bertemu secara tak sengaja pada sebuah even yang diselenggarakan di bilangan Jakarta Selatan. Disebabkan kesamaan  dan persamaan asal usul keduanya kemudian menjadi semakin akrab dan dekat, sehingga kemudian berlakulah teori atau lebih pasnya disebut kutukan para leluhur ”tresno jalaran soko kulino”. Wuaaduh………..

Mendengar cerita mengenai kisah percintaan dua insan dengan kesamaan asal usul tersebut, kemudian diinspirasi oleh lagunya Om Manthous lalu kami membangun suatu teori dan menelurkan suatu istilah bagi perjalan kisah asmara Dik Fuad sebagai ”theklek kecemplung kalen”. Secara sederhana dapat diartikan bahwa seseorang yang telah memasuki jenjang kedewasaan dan terlambat menceburkan diri dalam dunia percintaan mempunyai kecenderungan untuk mencari sang belahan jiwa dari bagian masa lalunya. Hal tersebut dimaksudkan untuk memimalisir resiko dan kemungkinan terjadinya kegagalan di tengah perjalanan karena secara garis besar masing-masing pasangan telah mengetahui perjalanan hidup pasangannya dan relatif lebih mengenalnya.

Dari teori theklek kecemplung kalen tersebut, kemudian seiring berjalannya waktu, Dik Fuad menjadi semakin jarang mempunyai waktu luang bagi kebersamaan nDalem kami seperti waktu-waktu sebelumnya. Hari liburan lebih sering dihabiskannya bersama dengan sang pujaan hati, sehingga apabila ada teman yang mencarinya, kamipun menjawabnya bahwa Dik Fuad sedang sibuk dengan thekleknya. Kemudian istilah theklek mengalami pergeseran dan penyempitan makna di dalam khasanah budaya nDalem Kebun Kacang sehingga eksistensinya dipersamakan untuk menggantikan kata cewek bin themon alias kenya.

Virus theklek itupun kemudian menyebar dan menjadi perbendaharaan kata di nDalem kami. Begitupun ketika Topik mengalami ketersandungan dengan teman TTM-nya di nDalem sebelah gang, dikarenakan tragedi tembak di tempat yang sempat terjadi di sekitar perempatan BI, maka secara spontan kamipun mengistilahkannya tragedi theklek. Bang Sitepu si Direktur Bank yang Batak tulen, pernah suatu malam minggu nylonong keluar dari nDalem kami dan ketika kutanyakan mau kemana, dibilangnya ”Cari theklek, Mas………….”

        Theklekadalah cewek dan cewek adalah theklek. Tanpa maksud merendahkan derajat kaum hawa yang sama-sama selalu kami kagumi sebagai para calon ibu bagi putra-putri pertiwi. Bagi kami itulah bentuk suatu ungkapan nDalem kami yang  berakar pada budaya adiluhung leluhur kita dan merupakan ungkapan keakraban antar kami penghuni nDalem  Kebun Kacang dalam merajut kehidupan yang beragam warna. Oalaaah theklek-theklek…………..
 
Posted by Nananging Jagad at 09:07:24 | Permalink | Comments (14)

Thursday, June 29, 2006

NASEHAT

JANGAN MENTANG-MENTANG

(Aja dumeh versi Indonesia)

           Pengantar: Aja dumeh diambil dari judul (dalam tulisan huruf Jawa) yang ada dalam gambar. Gambar tersebut mengilustrasikan satu episode pewayangan dengan lakon cerita Petruk dadi ratu. Dalam cerita tersebut dikisahkan bagaimana si Petruk, sang punakawan(abdi), mendapatkan keberuntungan nasib menjadi seorang raja. Gelimang harta benda dan kekuasaan menyebabkan Petruk lupa daratan dan mabuk kekuasaan sehingga bersikap sewenang-wenang dan merendahkan orang lain. Dia mempergunakan aji mumpung.

        Aja dumeh merupakan merupakan nasehat luhur warisan dari para leluhur dan nenek moyang yang mempunyai maksud agar manusia di dalam menjalani kehidupannya di alam dunia tidak hanya mengandalkan aji mumpung. Dumeh merupakan kondisi kejiwaan yang meyebabkan seseorang menggunakan kesempatan(dalam konotasi negatif) untuk kepentingan diri sendiri tanpa menghiraukan sesamanya. Kesempatan tersebut bisa berupa derajat, pangkat kedudukan, harta dunia, kekuasaan, kelebihan ilmu, kecantikan rupa dan lain sebagainya.

          Di negeri Eropa atau dunia barat juga mempunyai peribahasa “power tends to corrupt” yang mempunyai arti bahwa kekuasaan bisa menyebabkan sang penguasa mempunyai kecenderungan untuk menyelewengkan kekuasaannya demi kepentingan pribadi dan mengkhianati amanat rakyat.

 Orang hidup harus selalu ingat kepada yang menciptakannya ke alam dunia, harus selalu ingat akan asal usul dan tujuan hidupnya. Ingat darimana, dimana dan kemana tujuan yang kelak akan dituju. Keadaan yang dapat diraih dalam hidup tidak boleh menyebabkan manusia lupa kepada kodrat sebagai hamba Tuhan. Dengan begitu sifat aja dumeh bisa membuat manusia senantiasa ingat akan asal usul, sehingga tidak lupa bahwa apa yang dimilikinya hanya merupakan titipan atau amanat sang Khalik. Sikap tersebut bisa mendorong agar manusia selalu mensyukuri pemberian Tuhan dengan cara mempergunakan pemberiannya untuk mendukung tugas kewajibannya sebagai khalifah Tuhan di alam dunia yang mempunyai tugas utama memakmurkan bumi.

Keadaan hidup yang dijalani manusia bisa diumpamakan sebagai cakramanggilingan atau roda kereta yang sebagian roda pada suatu waktu berada di atas dan pada waktu yang lain berganti berada di bagian bawah. Hidup merupakan pergiliran nasib. Oleh karena itu, pada saat manusia sedang menjumpai nasib baik tidak boleh sombong dan takabur terhadap sesama dan sebaliknya pada saat menemui nasib kurang mujur tidak menyerah dan putus asa.

Kadangkala manusia diberi kenikmatan tiada kira. Pada keadaan tersebut, nasehat aja dumeh sangat sesuai untuk diamalkan. Manusia harus senantiasa bersyukur dan harus bersikap welas asih serta pemurah terhadap sesama, tidak boleh sombong dan senantiasa bisa hidup apa adanya dan bersikap rendah hati.

Ada juga keadaan hidup yang sedang diberikan cobaan, sehingga kadangkala manusia merasa tidak kuat menjalani dan mempunyai anggapan bahwa dunianya sudah kiamat. Menghadapi keadaan ini, manusia harus selalu pasrah kepada sang Khalik dan sabar menerima pemberianNya. Manusia harus mempunyai keyakinan bahwa cobaan tersebut juga merupakan perwujudan rasa cinta kasih Tuhan untuk menggemblengnya menjadi manusia yang tabah dan tangguh dalam menjalani hidupnya.

Aja dumeh mengajarkan manusia senantiasa mawas diri dan mempunyai keyakinan yang kuat bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara waktu bagaikan mampir minum seteguk air. Kejadian hidup merupakan proses yang tidaklah abadi dan semua akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di alam akhirat.

Sifat atau watak aja dumeh bisa dijabarkan dengan nasehat sebagaimana

Aja dumeh berkuasa, bertindak sewenang-wenang terhadap sesama.

Aja dumeh pintar, kemudian bertindak nyasar.

Aja dumeh kaya, kemudian lupa kepada orang lemah.

Aja dumeh menang sewenang-weang.

Aja dumeh tampan, terus congkak dengan ketampanannya.

Aja dumeh cantik, terus sombong dengan kecantikannya,dll

Nyawa hanyalah pinjaman, harta dunia hanyalah titipan, begitu nasehat para cendekiawan. Dengan begitu sesungguhnya manusia hidup di alam dunia tidak mempunyai apa-apa, begitu juga kalau sudah tiba saatnya menghadap kepada Tuhan juga tidak membawa apa-apa. Jadi apa yang bisa disombongkan oleh manusia?

Posted by Nananging Jagad at 08:55:28 | Permalink | Comments (12)

Wednesday, June 28, 2006

MASALAH BANGSA

ANAK SEKOLAH
 
            Malam itu sehabis sembahyang Isya’ di masjid, aku yang sudah hampir tiga bulan tidak mampir di kampung halamanku, ditanggap crito oleh beberapa karib lama di perempatan depan rumah Pak Dukuh. Tema pembicaraan awal berkisar pada peristiwa gempa Jogja untuk kemudian disambung episode Merapi kami yang sedang punya gawe. Dusunku yang terletak kira-kira 11 km barat Merapi malam itu makin tampak kelam karena semua pemandangan berlapis putih abu dan sedikit lapisan pasir muntahan Merapi, sehingga sesekali masih menyisakan sesak nafas dan rasa perih di mata ditambah hawa dingin angin gunung mengawali musim panas tahun ini.

Pembicaraan kemudian berlanjut dengan tema aktual setiap bulan Juni-Juli begini, pengumuman kelulusan siswa sekolah. Kang Muhadi menceritakan tentang ketidaklulusan keponakan perempuannya, Si Lilik. Ia merasa menyesal bahwa keponakan yang sudah yatim tersebut menghabiskan banyak biaya, ternyata hasilnya hanya sebuah ketidaklulusan. Ia merasa kurang sreg dengan kakangnya, Pakdhenya Lilik, yang ngotot prunannya harus sekolah. Padahal waktu itu sang keponakan sudah dilamar orang dan menyatakan tidak berkeberatan. Kang Muh berpendapat, “ Lha kalo anak perempuan itu sekolah mahal-mahal ndak lulus lagi buat apa? Biaya habis banyak, lagian kalo sudah nikah kan tidak dipakai ijazahnya”.

Rupanya masih ada juga warga di dusunku yang masih berpikir cekak soal pendidikan terutama jika yang bersangkutan adalah makhluk kaum hawa. Apakah memang penalaran berpikir Kang Muh yang baru sampai segitu, ataukah karena memang karena besarnya biaya pendidikan yang semakin melambung dan tak mungkin terjangkau bagi orang dusun seukuran Kang Muh. Di era privatisasi dan komersialisasi pendidikan saat ini, bagi kami warga dusun, pendidikan bagaikan supermarket dan mal-mal yang menjajakan beraneka barang yang bagi rata-rata kami merupakan impian yang sangat mustahil.

Belum sempat berlanjut pengembaraan anganku, Kang Samat nimbrung,” Sebenarnya tidak ada yang sia-sia dibelanjakan untuk tabungan pendidikan. Meskipun si Lilik tidak lulus, namun paling tidak dengan pendidikan yang pernah dilaluinya telah membuka cakrawala pandang yang lebih luas sebagai bekal yang sangat berharga untuk kehidupannya kelak.” Saya sempat kagum dengan pernyataan Kang Samat yang dulu pernah menamatkan pendidikannya sampai tingkat STM. Ternyata di dusunku di lereng gunung, yang adoh ratu mung cedhak watu, ada juga kesadaran tentang pendidikan yang tumbuh.

Kang Samat menambahkan, “Rendahnya mutu pendidikan saat ini lebih banyak disebabkan pengaruh negatif lingkungan”. Dia mencontohkan banyaknya stasiun televisi yang bermunculan membuat siswa lebih betah nonton tv daripada belajar di malam hari. Anak sekarang kurang sekali rasa prihatinnya dibanding jaman dulu. Sekarang anak sekolah sudah banyak yang megang motor, sehingga kalau habis pulang sekolah banyak menghabiskan waktu keluyuran tak karuan. Siswa yang naik kendaraan umum, sehabis jam sekolah, bahkan tak jarang yang bolos, hobinya thethek di terminal. Berbeda dengan anak dulu, pulang sekolah ya langsung pulang tanpa mampir-mampir meski sekedar ke rumah teman kalau memang tidak ada perlunya, apalagi yang harus ngonthel 8-10 km nanjak Merapi. Di samping faktor lingkungan juga terlihat kebijakan pemerintah dalam hal kurikulum dan standar pendidikan yang rendah, masak nilai rata-rata untuk kelulusan 4 koma. Jaman dulu murid selalu ditakuti kalau nilai rata-rata kurang dari angka 6 pasti tidak naik kelas atau tidak lulus. Ini berarti sekarang tidak ada lagi cambuk yang mampu memaksa siswa untuk mau tak mau rajin belajar.

Memang kondisi dulu lain kondisi sekarang, esuk dele sore tempe. Barangkali memang suatu keharusan jaman harus demikian. Namun apakah ini suatu kemajuan atau kemunduran jaman, pasti kita masih punya nurani untuk menjawabnya.

Obrolan kemudian berlanjut ke si Uud, anak Lik Yono, si anak cerdas yang barusan lulus SD. Saya sendiri yakin dengan potensi kecerdasan anak satu ini, karena dulu saya pernah intens mendampinginya di TPA. Bahkan sore sebelumnya, saya sempat berpapasan dengannya pada saat ia akan ngumbulke layangan di tegalan kosong. Dia sempat pula nagih kepadaku, seperti biasa setiap saya mudik, “ Lik, mangkih bar maghrib didongengi nggih”.Usut punya usut rupanya ia bukan saja hanya bisa ngumbulke layangan namun ternyata ia sendiri yang membuat layangan tersebut. Bahkan banyak pesanan layangan yang mengalir padanya. Uud membuat layangan bidho dengan bahan plastik mulsa hitam sisa penutup bedhengan di sawah. Saya lihat hasil karyanya rapi dan indah dan ketika kulihat layangannya mengudara juga mempesona.

Bocah Angon : Uud berdiri paling kanan

Permasalahan yang dihadapi si Uud adalah keinginan orang tuanya untuk menyekolahkannya di MTs terdekat dimana dari segi mutu dipandang kurang menunjang bakat kepandaiannya. Hal tersebut didorong karena perasaan pekewuh Lik Yono sarimbit dengan salah seorang tokoh masyarakat yang cukup berpengaruh di desa kami.

Untuk hal yang satu ini giliran Lik Hari yang nimbrung. “Kalo aku namanya anak pinter ya disekolahke di tempat yang mutu, nasib dia nanti mau jadi apa kan tak ada yang tahu, sehingga harus diihtiari sungguh-sungguh. Ra usah pekewuh karo Bu Hadi, wong anake Bu Hadi yo ra ono sing sekolah MTs kono to?.” Lik Hari pernah menyampaikan hal tersebut ke Lik Yono, bahkan waktu itu si Uud juga njawab ke Lik Hari. “ Mbah nek kados kula niki ajeng dadi nopo to? Dadi tentara yo ra nyonggah wong ra iso dhuwur”, begitu jawab Uud yang memang berperawakan pendek dibanding teman sebayanya.

Mendengar hal itu, saya menjadi terharu, anak sekecil dia sudah sebegitu pasrah sumarah mengenai jalan hidupnya. Ataukah ia sekedar nglulu sebagai suatu protes terhadap sikap bapaknya? Barangkali masih banyak anak bernasib senada dengan Uudku ini.

***************

Posted by Nananging Jagad at 07:18:53 | Permalink | Comments (16)

Tuesday, June 27, 2006

BENCANA TAN PARIPURNA

SAKSI SOPIR TAKSI

Kamis petang, 22 Juni 2006, aku bersama seorang rekan meluncur menumpang sebuah taksi dari Tunjungan Plaza menuju Terminal Bungurasih, Surabaya. Sang pengemudi taksi menawarkan apakah kami ingin menempuh jalur biasa dimana pada jam-jam segitu sering macet atau melewati tol masuk di gerbang Pasar Turi. Akhirnya kami memilih lewat jalur tol agar perjalanan lebih cepat.

Sedikit basi-basi kupancing pembicaraan dengan menanyakan kabar terakhir luapan lumpur panas di Porong kepada Pak Sopir. “Wah makin parah Mas, sekarang tol km 37-38 sudah diblokir dan hanya kendaraan beroda tinggi boleh lewat pelan”, jawabnya. Ia kemudian melempar sebuah argumentasi bahwa kondisi tersebut dikarenakan “Yang ngecet lombok abang” lagi serius marah(dia mencoba mempersonifikasikan Tuhan secara lebih membumi dan akrab). Tak jauh dari lokasi sumur pengeboran PT Lapindo Brantas, pabrik tempat “Sang Pahlawan Buruh” Marsinah kebetulan berada. Barangkali karena banyak oknum di sekitar lokasi banyak yang terlibat kasus tersebut sehingga menjadikan kasus itu menjadi abadi tak pernah tersentuh keadilan tangan hukum. Dan ketika Tuhan membalas tindak ketidakadilan terhadap suatu kaum, maka yang terkena dampak adalah semua penduduk tanpa pandang bulu.

Dia kemudian menarik lingkup pembicaraan ke tingkat nasional. “Sing kuoso iku ra iso diduga Mas, sing dadi perhatiane pemrintah Merapi ee…Bantul malah kenek gempa. Gempa bar Mrapi rewel maneh, durung tuntas malah lumpur mecothot mbek Sidoarjo. Durung neh banjir Solowesi ro Kalimantan. Memala lan pagebluk ko yo ra leren nggih Mas,”kisahnya.

Tidak orang besar orang kecil kelihatan lupa diri dan mementingkan egonya masing-masing. Para pejabat memberi janji bahwa semua korban bencana akan mendapatkan bantuan pemerintah. Korban lumpur Porong akan mendapat ganti rugi dari Lapindo. Rakyat ndak percaya, terjadilah konflik vertikal. Antar warga saling memblokir lumpur yang menuju dusunnya, yang lain membobol tanggul agar lumpur tak mengalir ke kampungnya, meledaklah bibit konflik horisontal.

Yang menderita adalah yang benar-benar punya rumah dan lahan sawah serta kehilangan mata penghidupannya, sehingga merekalah yang pertama layak mendapat bantuan. Mereka menjadi stress tinggal di pengungsian tanpa melakukan aktivitas sebagaimana biasa mereka bersawah, berladang dan pekerjaan fisik yang lain. Haa.. lha yang enak, penduduk pengangguran, gak punyak sawah, lahan dan pekerjaan ikut mengungsi dan dapat jatah bantuan. Mereka sebenarnya yang mendapatkan pemasukan akibat adanya bencana, jadi dari sisi keuangan, mereka malah mendapatkan income.

Mestinya dalam kondisi darurat di pengungsian masyarakat korban bencana juga harus toleran dan maklum dengan keterbatasan pemerintah, sehingga tetap mengutamakan kebersamaan dan kepentingan umum. Mereka harus taat kepada mekanisme yang dibuat oleh para pamong untuk memudahkan penyaluran bantuan supaya tepat mengenai sasaran. Kejadian di Bantul dalam pembagian bantuan dimana warga diharuskan menunjukkan KTP, hendaknya jangan disikapi secara berlebihan dan dianggap aparat mempersulit warga. Hal tersebut harus disikapi sebagai suatu mekanisme meminimalisir kekeliruan penyaluran bantuan kepada yang tidak berhak, karena bagaimanapun di negeri Hastina kita ini terlalu banyak oknum yang sengaja memanfaatkan keadaan untuk kepentingan diri sendiri. “ Wong mung meruhne KTP, yen ora nduwe gur njaluk surat keterangan lurah sing cetho kenal wargane, opo susahe to?”, kilah sang sopir taksi.

Demikian pula di sisi pemerintah sebagai pelayan publik, agar dalam kondisi darurat dapat bertindak bijak, tanggap, akurat dan cepat serta proaktif terhadap kebutuhan warga korban bencana. Jangan pernah memberikan janji kosong danmuluk tanpa bukti yang di kemudian hari akan menjelma menjadi bom waktu. Semangat dan tekad warga untuk bangkit dari keterpurukan harus senantiasa ditumbuhkan dengan senantiasa berlandaskan kebijaksanaan lokal sehingga benar-benar menyentuh permasalahan yang ada.

Bencana barangkali bisa dimaknai agar manusia bisa saling bercermin untuk kemudian bangkit memperbaiki diri.

**********

Posted by Nananging Jagad at 04:57:38 | Permalink | Comments (11)

Monday, June 26, 2006

DOLAN - DOLAN

Dolan SUROBOYO

        Menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya by kereta malam itu terasa sunyi dikarenakan tidak semua kursi terisi penumpang. Perjalanan tersebut aku tempuh karena suatu tugas pekerjaan bersama seorang rekan kerja yang lain. Seperti biasa nasibku mesti apes kalau melakukan perjalanan jauh, dalam hal teman duduk. Terlebih malam itu, karena sengaja rekanku mojok di sudut gerbong sehingga diriku jangankan perawan ayu, nenek tuwek elekpun gak ada yang bisa diajak ngobrol.
Untuk menghilangkan kejenuhan akhirnya aku baca beberapa buku dongeng yang sengaja aku bawa untuk bocah angon di kampungku, sampai kemudian aku terlelap tidur.

         Tugas yang aku bawa dari kantor tak sampai setengah hari aku selesaikan dengan lancar. Kucoba hubungi adik sepupuku yang dines di Marinir agar dapat menemuiku. Namun dia tidak bisa menjanjikan dapat keluar tangsi sampai sore, dia hanya meberiku harapan agar aku pulang ke Muntilan malam saja siapa tahu sore dia bisa izin keluar.

 
     Untuk sekedar mengisi waktu akhirnya kami, aku dan rekanku, mencoba sedikit plesiran di pusat kota Pahlawan. Pertama kami bertandang ke WTC sekedar ingin tahu aktivitas di tempat tersebut. Ternyata WTC Surabaya semacam duplikatnya Roxy di Jakarta, merupakan pusat penjualan ponsel dan segala thethek bengeknya. Puas melihat WTC, kami kemudian bergeser ke utara mengunjungi Surabaya Plaza. Di tempat ini fokus kami hanya pada toko buku Gunung Agung untuk menjelajahi koleksi buku yang ada di situ. Capek muter-muter di situ, kami meneruskan anjangsana ke Monumen Kapal Selam di tepian Kali Mas.

Kapal selam KRI Pasopati 410 salah satu kapal selam TNI AL dari satuan Kapal Selam Armada RI kawasan Timur. KRI Pasopati termasuk jenis SS type whisky class di buat di Vladi Rusia tahun 1952. Masuk jajaran TNI AL (Satselarmatim) tanggal 29 Januari 1962 dengan tugas pokok menghancurkan garis lintas musuh (anti shipping), mengadakan pengintaian dan melakukan “silent raids”. KRI Pasopati juga berperan aktif menegakkan kedaulatan negara dan hukum di laut yurisdiksi nasional, misalnya dalam operasi Trikora. KRI Pasopati terlibat langsung di garis depan, memberi tekanan-tekanan psikologis terhadap lawan, sehingga Irian Barat/Jaya [sekarang Propinsi Papua], dapat kembali ke dalam wilayah RI.

        Pengunjung di monumen ini dapat melihat dan masuk ke dalam kapal dan mengamati dari dekat ruang kendali, ruang perwira, ruang tamtama, ruang peluncuran torpedo dll. Di samping melihat dan masuk ke dalam kapal selam, pengunjung juga disuguhi pemutaran diorama TNI AL di sebuah home theatre yang cukup nyaman.

        Puas pengembaraan di Monumen Kapal Selam, kami melanjutkan klinong-klinong kami ke Tunjungan Plaza. Di sini kami berkunjung ke Matahari(tapi tak panas lho….) dan Sogo(bukan sego tapi…) di sampingnya. Bertandang ke Sogo bersamaan waktunya sholat Ashar sehingga kami mencoba mencari sekedar mushola tempat sholat. Ternyata dari informasi yang kami dapat mushola terletak di lantai 7. Sebuah mushola kecil mojok di sudut perpakiran kendaraan dan berada di bawah selang-selang gedung, mengingatkanku pada tulisan Cak Nun tentang Tuhan di bawah selang-selang.

    Nampaknya memang dalam tatanan sistem arsitektur bangunan modern, mushola dianggap sebagai klilip sehingga keberadaanya harus tidak terlalu mecolok agar tidak mengganggu pemandangan. Tuhan ditempatkan di sudut-sudut pengap gedung dan di bawah selang-selang ruang parkir. Di era modern barangkali manusia sudah kurang atau bahkan merasa tidak membutuhkan Tuhan sehingga Tuhan ditaruh di belakang tumitnya. Tuhan bukanlah sesuatu yang penting dan menentukan. Semoga ini hanya pesismisme saya saja.

    Di mushola tersebut kami bertahan sambil beristirahat mengendorkan otot kaki yang lemas sampai waktu Maghrib untuk kemudian kami cabut menuju terminal Bungurasih. Aku menuju Mount Island di barat Merapi, sedangkan rekanku ke kota Mapatih Nambi, Lamongan. Begitu kisah sehari di Suroboyo…….

Posted by Nananging Jagad at 03:19:05 | Permalink | Comments (14)

Wednesday, June 21, 2006

PITUTUR LUHUR

AJA DUMEH

    Aja dumeh mujudake pitutur luhur warisane para leluhur lan pinisepuh kang ngemu teges supaya jalma manungsa utawa titah sewantah anggone nglakoni penguripane ana ing alam donya ora ngendelake aji mumpung. Dumeh, mujudake kahanan kajiwan kang njalari sawijining pawongan nggunakake kesempatan(aji mumpung) kanggo kepentingane dhewe tanpa ngelingi sak padhane urip. Kesempatan kasebut ing ndhuwur bisa maujud drajat, pangkat, bandha donya, panguwasa, ilmu linuwih, kebagusane rupa lan liyane.

    Ing donya Eropa utawa dunia barat uga nduweni sanepa “power tends to corrupt” kang nduweni teges yen kuwasa bisa njalari wong kang nyekel kuwasa kuwi nylewengake kekuwasaane kanggo kepentingane pribadhi lan ngianati marang wong kang ngamanati .

Wong urip mono kudu tansah eling marang kang nitahake urip ing alam donya, kudu tansah mawas marang sangkan paraning dumadi. Seko ngendi bibit kawite urip, ana ngendi saiki dumunung lan papan ngendi kang tembene bakal dituju. Kahanan kang bisa direngkuh ora kena njalari lali marang kodrate minangka kawulane Gusti. Kanthi mengkono sifat aja dumeh bisa njalari wong tansah eling marang asal-usule, sahengga ora nglali yen apa kang diduweni mung minangka titipan utawa amanate kang gawe urip. Sikep ini bisa nyurung supaya manungsa tansah nyukuri peparingane Gusti, kanthi nggunakake peparingane mau kanggo nyengkuyung kewajibane minangka khalifahe Gusti ing alam donya, kang nduweni kewajiban memayu hayuning bawana.

Kahanan urip kang dilakoni manungsa kena digambarake kaya dene cakramanggilingan utawa rodha kreta, kang ana sakperangane rodha sakwijining wektu mapan ing dhuwur nanging ing kala wektu liyane ganti mapan ing ngisor. Urip mujudake ganti gumiliring nasib. Mula saka kuwi nalikane wong lagi nduweni nasib kang apik ora kena gumedhe lan umuk marang sak padha-padha lan nalikane ngalami nasib kang ala uga aja nglokro utawa mutung.

Kadangkala wong urip diparingi kanikmatan kang tanpa kinira. Ana ing kahanan iki pitutur aja dumeh trep banget kanggo diamalake. Wong kudu tansah syukur lan uga kudu loma marang sak padhaning urip, ora kena umuk lan gumedhe nanging kudu tansah bisa sakmadya lan andhap asor.

Ana uga kahanane urip kang lagi diparingi pacoban nganti kadangkala wong sing rumangsa ora kuwat nglakoni kahanan mau nduweni panganggep yen donyane wis kiamat. Ngadepi kahanan mengkene, manungsa kudu tansah pasrah sumarah marang kang gawe urip lan sabar anarima ing pandum. Manungsa kudu nduweni keyakinan yen pacoban mau uga mujudake wujud katresnane Gusti kanggo nggembleng manungsa supaya tatag lan tanggon anggone nglakoni uripe.

Aja dumeh ngajarake manungsa tansah mawas diri lan nduweni keyakinan kang kuat menawa urip ing alam donya iki mung sakwetara mampir ngombe. Kabeh lelakone urip mujudake proses kang ora langgeng lan kabeh bakale dijaluk pertanggungjawabane mbesuk ing alam akherat.

Sifat utawa watak aja dumeh bisa diwedhar kanthi pitutur kayadene:

1.Aja dumeh kuwasa, tumindake daksura lan daksiya marang sakpadha-padha.

2. Aja dumeh pinter, banjur tumindak keblinger.

3. Aja dumeh sugih, banjur tumindak lali marang wong ringkih.

4. Aja dumeh menang, tumindake sak wenang-wenang.

5. Aja dumeh bagus, banjur gumagus.

6. Aja dumeh ayu, banjur kemayu, lan sakpiturute.

    “Nyawa mung gaduhan, bandha donya mung sampiran”, mengkono pituture para winasis. Kanthi mengkono sejatine manungsa urip ing alam donya ora duwe apa-apa. Kayadene nalika dilahirake manungsa ora nggawa apa-apa, smono uga mengko yen wis tumeka titi wancine sowan ing ngarsa Gustine uga ora sangu apa-apa. Dadi apa kang bisa diumukake manungsa?

 

Posted by Nananging Jagad at 01:46:07 | Permalink | Comments (12)

Monday, June 19, 2006

EMHA ROOM

KECANTIKAN SEPAK BOLA

Sebagian penggemar sepak bola, dengan alasan yang berbeda-beda, menginginkan kesebelasan Brazil menjadi juara. Wajarlah itu. Tetapi apakah sepak bola cantik belum saatnya menyadari bahwa ia semakin menuju kematiannya? Apakah faktor kecantikan masih akan pernah mampu menjadi substansi utama olah raga dan budaya sepak bola? Apakah hegemoni industri pada peradaban ultra modern sekarang ini masih mengizinkan nilai-nilai yang non-materiil menjadi panglima? Apakah profesionalisme pragmatis masih mengizinkan nilai-nilai non-market berada di garis terdepan dari dialektika pasarnya?
    Estetika, art, kecantikan, keindahan - tetap sangat diperlukan manusia semodern apapun - tetapi tidak boleh menjadi dominan. Religiousitas, bahkan agama, juga tetap diperlukan oleh manusia seliberal apapun - tetapi keagamaan hanya boleh menjadi pelengkap penderita, menjadi unsur belaka. Yang penting liberalnya, bukan agamanya. yang lokomotif liberalnya, agama hanya gerbong.
    Maka kesebelasan Brazil dan sekaligus kebudayaan masyarakat Brazil benar-benar menghadapi dilema-dilema panjang dalam konteks itu. Keindahan sepakbola Brazil tidak hanya di lapangan, tapi juga dimunculkan dalam setiap sisi kehidupan budaya masyarakatnya yang terkait dengan bola. Budaya masyarakat Brazil bertitik berat pada budaya pesta. Mereka bekerja setahun untuk dihabiskan dalam pesta sebulan. Kalau kita bikin acara 17-an sehari dua hari, mereka sebulan penuh. Pada kejuaran apapun saja asalkan kesebelasan Brazil menang, meskipun baru pada babak awal - masyarakat sudah pasti memenuhi jalanan, kafe-kafe dan tempat apapun saja - bahkan media massa utamanya televisi mendukung semua itu dengan menyuguhkan acara-acara yang seirama.
Sebaliknya kalau ada seseorang tanya kepada Anda berapa skor Brazil melawan X, kemudian Anda menjawab 1:0 untuk X - maka ia akan langsung menangis. Dan kejadian semacam ini sudah sangat sering terjadi sejak kesebelasan sepak bolah indah Pele cs. juara Piala Dunia tahun 1970 mangakhiri kejayaannya. Piala Dunia 1974 ditonggaki oleh gol spektakuler Gerd Muller yang menghancurkan kejayaan total football Johan Cruyff dari Belanda tetangganya.
    Sepak bola indah Brazil dikubur oleh fenomena total football,meskipun puncak kreativitas, sepak bola ini kemudian dibentur oleh antiklimaks sistem ultra-defensif Italia yakni catenaccio. Empat tahun demi empat tahun paradigma karakter persepakbolaan terus berkembang dan bergeser: Brazil selalu membayangi sampai hampir ke puncak - tatapi cobalah kita saksikan apakah keindahan masa silam akan sanggup mengungguli profesionalisme total persepakbolaan kontemporer. Yang penting gol! - dengan cara apapun, indah atau tidak, spektakuler atau tidak - yang penting gol. Dan Brazil sekarang benar-benar berada di titik tengah dilema untuk memilih persuasi terhadap sepak bola kontemporer ataukah mempertahankan kepribadian kontemporernya.
    Tapi bagaimana mungkin Brazil mempertahankan keBraziliannya dalam sepak bola - kalau kebanyakan pemainnya bermain di Eropa dan sehari-hari menjalankan karakter sepak bola Eropa? Apakah tiba-tiba mereka bisa “menjadi Brazil” kembali dengan hanya kumpul sebulan dua bulan empat tahun sekali? Sebagaimana dalam kesenian, dunia sepak bola juga menawarkan excitement, sebaran rasa penasaran tentang akan muncul fenomena, paradigma, innovasi atau invensi apa lagi?
 
****************
Emha Ainun Najib

 

Posted by Nananging Jagad at 08:12:35 | Permalink | Comments (4)

Thursday, June 15, 2006

FLU GUNUNG(?)

MERAPI PENUH MISTERI

Baru satu hari masyarakat warga lereng Merapi merasa lega dengan penurunan aktivitas Gunung Merapi, hari Rabu, 15 Juni 2006 sekitar pukul 12.00 dan 15.00 WIB terjadi luncuran wedhus gembel dengan jangkauan sekitar 7 km yang menyebabkan kembali dinaikkannya status Merapi menjadi Awas. Status awas kali ini hanya diberlakukan secara sektoral untuk daerah arah selatan dan tenggara yang meliputi alur Kali Gendol di Kecamatan Cangkringan dan Kali Woro di perbatasan Klaten. Flu dan batuk Merapi seakan suatu penyakit yang sudah kronis dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengembalikan kondisi kestabilannya seperti semula.

    Meskipun guguran lava pijar yang menghasilkan awan panas tersebut selalu mengarah ke arah selatan dan tenggara bahkan kemarin sempat mencapai daerah wisata Kaliadem, namun karena arah angin selalu berhembus ke arah barat, mengakibatkan sektor barat Merapi termasuk desa kelahiranku kembali diguyur hujan abu dan pasir. Kondisi demikian membuat 150 warga di Desa Ngargosoka tetangga desaku terpaksa diungsikan untuk menghindari bahaya sekunder letusan Merapi berupa terhamburnya material mulai dari pasir, kerikil, krakal, bom, lapili dan mofet. Merapi memang penuh misteri dan sangat sulit untuk dipreksi akhir-akhir ini.

    Informasi dari media massa yang sempat saya baca, diantaranya memberitakan tragedi Kaliadem yang porak poranda dan dua orang relawan terjebak di dalam sebuah bunker perlindungan. Di beberapa titik lereng Merapi memang telah dibangun beberapa bunker untuk perlindungan terakhir warga apabila datang si wedhus gembel yang tak terantisipasi. Di awal tahun ini pada saat memberitakan sebuah berita lelayu seorang tetanggaku yang meninggal kepada Padhe Joyo sakbrayat di Tunggularum, saya sempat menyaksikan dari dekat sebuah bunker yang terletak di Dusun Tunggularum Desa Wonokerto Kecamatan Turi yang berada di sebelah barat kawasan Kaliurang.

    Bunker dirancang sebagai tempat perlindungan terhadap awan panas dan tidak dirancang secara khusus untuk perlindungan terhadap lava panas. Kasus kejadian Kaliadem kemarin dimana telah terjadi hamburan lava pijar yang mengubur bunker, sehingga menjadi sebuah teka-teki besar apakah dua relawan yang terjebak tersebut bisa bertahan. Pada sebuah bunker dilengkapi dengan fasilitas diantaranya persediaan air, tabung oksigen dan MCK. Barangkali kita semua hanya bisa berdoa semoga dua orang relawan yang diistilahkan oleh Pak Widi (seorang pejabat Pemkab Sleman) sebagai “bonek” tersebut dapat bertahan dan selamat.

    Batuk dan flu gunung Merapi itupun sepertinya membuat batuk yang kuderita seminggu ini dan sudah memasuki tahap kesembuhan, kembali bangkit menyerang. Untuk yang satu ini barangkali terlebih karena kondisi pemulihan yang harusnya saya jalani dengan istirahat total, namun karena terbawa gegap gempita para maniak bola yang begadang nonton pertandingan di waktu dini hari seperti dini hari ini saat pertandingan Swedia vs Paraguay, sehingga menyebabkan tertundanya pemulihan batukku.

    Dari dimensi mitologi masyarakat Jawa, Pangeran Mangkubumi, pendiri Kasultanan Ngayojakarto Hadiningrat membangun suatu konsep filosofis kesatuan imajiner diantara Merapi – Keraton – Laut Kidul. Konsep tersebut terkemuka dengan istilah Trihita Karana yang dapat diartikan tiga dimensi utama pilar penyangga sangkan paraning dumadi (asal, keberadaan dan tujuan hidup manusia).

        Merapi pralambang ketinggian Parahiyangan(Allah) yang merupakan dunia malakut(ghaib) tempat bertahtanya Sang Khalik kehidupan. Keraton lambang Pawongan(Aku) dimana hal tersebut merujuk kepada dimensi dunia nyata tempat kehidupan manusia. Sedangkan Laut Kidul(Alam) sebagai simbol tataran dunia di bawah manusia seperti dunia hewan, tumbuhan dan makhluk halus.

    Adanya Merapi yang sedang punya gawe dan senantiasa fluktuatif aktivitasnya bisa dimaknai bahwa Tuhan merupakan dzat Maha Kuasa yang mutlak kehendaknya atas titah makhluk-Nya di semua tingkatan kehidupan. Merapi barangkali merupakan sasmita bagi manusia agar kembali kepada jati diri dan kodrati fitrahnya untuk senantiasa berbakti, mengabdi dan beribadah hanya kepada-Nya. Terpaan globalisasi dunia barangkali telah banyak meninabobokkan manusia sehingga seringkali tidak mengindahkan perintah-Nya dan dengan segala kecongkakan jiwanya seringkali melanggar larangan-Nya.

    Begitupun peristiwa gempa tektonik beberapa waktu lalu sebenarnya sebagai peringatan alam bahwa manusia terlampau serakah dalam mengekploitasi sumber daya alam sehingga seringkali mengesampingkan fungsi dan kelestarian lingkungan hidup serta kepentingan generasi anak cucu kita..

    Manusia sebagai hamba Allah dan pengemban kekhalifahan alam semesta raya, harus waskitha dan bijak dalam memahami kehidupannya sehingga ia mampu mengambil sikap yang sebaik dan seadil-adilnya untuk kepentingan keberlangsungan keharmonisan kehidupan di semua dimensi kehidupan. Hal tersebut akan menciptakan suatu tatanan kehidupan yang serasi, selaras dan seimbang dan akan membawa keberkahan bagi ketentraman dan keselamatan hidup di dunia hingga akhirat.

Wallahualam………………..

Posted by Nananging Jagad at 10:14:51 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, June 14, 2006

KABAR MERAPI

MERAPI LEBIH TENANG

 

               Selasa, 13 Juni 2006, Kantor BPPTK Yogyakarta menetapkan status aktivitas Gunung Merapi diturunkan dari Awas menjadi Siaga seiring dengan makin berkurangnya frekuensi terjadinya guguran lava maupun luncuran awan panas “si wedhus gembel”. Hal itu tentu saja membuat saya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari warga lereng Merapi merasa lega dan sedikit tenang. Meskipun dikatakan bahwa endapan kubah lava yang terbentuk selama periode 2006 sebesar kurang lebih 3 juta m3, namun apabila terjadi luncuran tidak akan mencapai daerah pemukiman penduduk.

           

            Dengan penurunan status tersebut paling tidak bisa menenangkan warga untuk kembali beraktivitas mengolah sawah dan ladang yang untuk beberapa hari ini ditinggal untuk mengungsi atau bagi warga yang daerahnya relativ masih aman dan tidak mengungsi bisa bertani kembali secara lebih normal. Semalam kabar tersebut saya klarifikasi ke rumahku di sisi barat Merapi, dan memang dikabarkan hujan abu dan bahkan pasir yang beberapa hari lalu mengguyur desaku telah berhenti meskipun masih sesekali terdengar gemuruh ledakan dari puncak Merapi.

             Untuk beberapa rentang waktu dimana Merapi berada pada puncak aktivitasnya, memang adanya hujan abu sangat mangganggu kegiatan pertanian di desaku. Beberapa varietas tanaman pertanian yang tidak tahan terhadap guyuran abu memang kebanyakan layu kemudian mengering, hal ini terutama terjadi terhadap jenis tanaman sayur-sayuran seperti sledri, loncang, wortel, tomat, kubis dan sawi. Namun  tanaman utama seperti padi dan tanaman palawija berumur sedang masih bisa bertahan terhadap abu vulkanik. Dengan demikian secara umum tanaman pertanian tidak mengalami kerusakan yang terlampau berat.

               Dikisahkan oleh tetanggaku bahwa adanya hujan abu sedikit mengganggu kegiatannya ngarit untuk sapi dan kerbaunya karena kolonjonone terlapisi debu dan pasir sampai beberapa milimeter sehingga memerlukan proses pencucian rumput sebelum diberikan kepada hewan ternak. Di samping itu kegiatan di sawah atau ladang juga terganggu dengan adanya debu beterbangan yang mengganggu pernafasan warga meskipun mereka sudah mengenakan atribut sang hanoman (masker). Dalam kondisi demikian warga harus waspada dan selalu menjaga kondisi tubuh agar tidak mengalami gangguan saluran pernafasan.

              Di balik kendala “sementara” yang dihadapi warga tersebut, sesungguhnya ada beberapa keuntungan terkait dengan turunnya abu vulkanik Merapi. Abu yang mengandung beberapa unsur kimia seperti belerang ternyata cukup efektif untuk secara alamiah memberantas hama tanaman sayuran berupa ulat dan serangga. Manfaat yang akan dirasakan oleh warga kami untuk jangka panjang adalah meningkatnya unsur hara tanah akibat pengkayaan oleh abu vulkanik yang menimbulkan meningkatnya kesuburan tanah. Daerah kami semenjak dulu memang terkenal sebagai daerah utama penghasil tanaman holtikultura terutama jenis sayur mayur.

               Belum lagi keberadaan material berupa pasir dan batu yang mengendap  di beberapa sungai wilayah kami seperti Kali Putih, Kali Blongkeng dan  Kali Lamat merupakan sumber penghidupan bagi beberapa tetanggaku yang berprofesi sebagai penambang pasir tradisonal.

               Dengan demikian adanya Merapi yang punya gawe beberapa bulan ini merupakan keberkahan tersendiri bagi kami warga lereng Merapi. Marapi adalah anugrah penghidupan kami. Terima kasih Tuhan.

 

Posted by Nananging Jagad at 02:46:59 | Permalink | Comments (5)

Tuesday, June 13, 2006

JANOKO

Janoko bali nDeso

 

         Sore pukul 17.00 aku ayunkan langkah menuju stasiun Senen untuk memulai perjalanan panjang yang sudah tertunda sekitar dua tahunan untuk napak tilas menemui salah satu sangkanku yang ada di sudut tenggara Jawa Tengah. Gandrungmangu itulah tujuanku, sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Cilacap. Menjelang jam 18.00 loket tiket dibuka dan segera aku pesan dua buah tiket satu untuk diriku dan satu lagi untuk nDoro Sinyo sahabatku yang mudik ke mBangsari, sebuah desa di mBantarsari tetangga kecamatan.

          Pukul 19.45 kereta Citrajaya yang kutunggu memasuki jalur 1 dan segera diserbu penumpang yang sedari tadi tak sabaran. Bergegas aku masuk ke gerbong 3 dan kucari tempat duduk sesuai yang tercantum di tiket yang kubeli. Beberapa saat aku temukan kursiku dan segera kuatur bawaanku agar dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Beberapa penumpang masih simpang siur mencari tempat duduknya karena beberapa diantaranya salah memasuki gerbong dan bahkan ada yang saling berebut tempat duduk dengan nomor sama tanpa mau mengalah satu sama lainnya. Setelah dijelaskan oleh petugas dan penumpang sekitarnya untuk mengecek kembali nomor gerbong sesuai dengan tiket yang dipesan, akhirnya persoalan tersebut berhasil diselesaikan dengan tuntas.

Di tengah kesemrawutan penumpang yang hilir mudik, tanpa sengaja kulihat seorang penumpang membawa sebuah gandewa, busur panah besar terkalung di pundaknya. Maka secara spontan aku bisikkan ke nDoro Sinyo di sampingku “ Janoko bali ndeso Dab!!!”, karena terbersit di benakku Raden Arjuna, sang penengah Pandawa yang menenteng sebuah busur panah di pundaknya menuju Padang Kuruseta. Selidik punya selidik ternyata yang dibawa oleh sang Janoko yang unik ini bukannya gandewa tetapi sebuah knalpot sepeda motor yang dibelinya di kota sebagai souvenir kepulangannya ke kampung halaman. Sepanjang perjalanan tak habis pikir dan tanpa sengaja sering kuamati sang Janoko sampai akhirnya ia mendarat selamat di Sidareja, sebuah kota kecil sebelum Gandrung tempat tujuanku.

Sang Janoko yang satu ini mungkin merupakan perwakilan dari perwujudan dialektika desa dan kota yang senantiasa bersanding secara kontras. Di satu sisi terdapat fenomena terserapnya sumber daya baik alam maupun manusia dari desa ke kota lewat proses eksploitasi dan urbanisasi, namun di sisi yang lain masyarakat desapun senantiasa menggeliat dengan adopsi terhadap perkembangan teknologi modern. Pemuda desa yang pada umumnya merupakan generasi penerus petani kebanyakan kurang berminat lagi untuk meneruskan kehidupan bercocok tanam di sawah dan ladang serta lebih memilih untuk mengadu nasib di kota.

Hal tersebut bisa terjadi karena pola pikir yang memandang kehidupan petani sebagai bagian kelas sosial yang kurang bergengsi dan senantiasa identik dengan keterbelakangan baik segi intelektual maupun taraf ekonominya. Alasan kedua mungkin seiring dengan peningkatan tingkat pendidikan generasi muda di pedesaan, generasi berpendidikan tersebut lebih memilih profesi sesuai dengan keahlian yang diperolehnya dari bangku sekolah atau kuliah yang seringkali mengharuskannya hijrah mengadu nasib ke lain daerah, kota atau bahkan negara lain. Alasan berikutnya barangkali karena memang keluarga generasi muda tersebut tidak lagi memiliki lahan garapan yang layak, karena kebanyakan dari petani kita merupakan petani gurem yang sekedar menggarap lahan yang luasnya pas-pasan atau malahan hanya menjadi penggarap atau buruh lahan orang lain. Dengan demikian pandangan masyarakat terutama generasi muda masa kini memandang sektor pertanian kurang menjanjikan untuk dijadikan sandaran penghidupan mereka.

Memang harus diakui mungkin hal tersebut sudah menjadi kaharusan jaman, namun perlu ada suatu kompromi yang adil sehingga masyarakat desa dan kota bisa berdampingan secara harmonis dan saling menguntungkan satu sama lain. Perlu ada keseimbangan berpikir agar sang janoko-janoko tersebut  tidak terlampau luntur jiwa kepribadiannya oleh arus kehidupan kota yang seringkali tidak bersahabat dengan budaya mereka. Justru harus diyakinkan bahwa dengan pengembaraan sang Janoko di kota besar mampu menjadikan “kawah candradimuka” baru sebagai pertapaan yang mampu menempa diri mereka menjadi sosok ksatria utama penebar kebajikan di setiap langkah hidupnya. Semoga jiwa sang Janoko senantiasa hidup di tengah masyarakat kita………..

Posted by Nananging Jagad at 08:42:06 | Permalink | Comments (7)