Saturday, July 29, 2006

RTC

NGANGSU KAWRUH

Dua minggu ini dari tanggal 24 Juni - 4 Agustus, saya lagi ngangsu kawruh lagi dengan mengikuti “REGIONAL TRAINING COURSE ON RESPONSE TO RADIOLOGICAL EMERGENCIES - FIRST RESPONDER” yang diadakan oleh IAEA di nJakarta. Pesertanya meliputi dari beberapa negara Asia, diantaranya Korea, China, Mongolia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Philipina, Bangladesh, Sri Lanka dan Indonesia.

Senang juga mengikuti RTC kali ini, bisa kenal banyak saudara dari negeri lain. Mr. Gophal orang Bangladesh selalu ngotot bahwa saya orang Japanese not Javanese. Dia memperkenalkan saya kata “samus” untuk sendok dalam bahasa Banggali, “sini” untuk gula dan “damp’ untuk young coconut. Lucu kedengarannya.

Seorang profesor dari Ulaanbaatar,Mongolia selalu menyebut saya Mr. Comander( taken from Inciden Comander), satu istilah untuk seorang koordinator ujung tombak di lapangan pada saat terjadi kedaruratan. Profesor yang satu ini orangnya lucu dan super konyol,selalu bikin iseng dan bhs Inggrisnya payah karena keseharian pakai bhs Rusia, tak pernah mau presentasi di kelompokku.

Pada satu kesempatan makan siang,Ms Osthman dari Malaysia sempat mencicipi soto betawi yang ada babat jeroan kambingya.Ia kemudian bertanya kepadaku, “betawi itu artinya kambing ya?”. Karena dikiranya sedang makan “soto kambing”. 

Hari Sabtu-Minggu ini tidak ada jadwal pelatihan, so kegiatan kami jalan2 keliling Jakarta.Aku secara otomatis sebagai local observer ditodong untuk menggaide mereka ke Taman Mini dan Pasar Tanah Abang. Mereka juga pingin belanja ke Mangga Dua di Minggunya. Capek memang……..tapi seneng juga lah.

Minggu ke dua ini, agenda kami mengikuti pelatihan penanganan kedaruaratan akibat ledakan high explosive di kompi Zeni - NUBIKA TNI AD Pusat. Seru pasti………..

 

Posted by Nananging Jagad at 13:30:33 | Permalink | Comments (6)

Friday, July 21, 2006

RENUNGAN

SURUP: Bencana Tidak Mampu Mengubah Binatang Menjadi Manusia

 

Judul di atas diangkat menjadi tema pada suatu acara kajian rutin di Taman Ismail Marzuki pada Jum’at malam, 14 Juli 2006. Surup, waktu senja, merupakan suatu pertanda peralihan dari keadaan terang di siang hari menuju gelap di malam hari.

 Bila seseorang memasuki era kegelapan, paling tidak terdapat dua kemungkinan keberlanjutan peradaban hidupnya. Pertama dengan sedikit harapan yang tersisa, melihat kondisi negara kita, barangkali dalam gelap malam tersebut akan muncul secercah sinar harapan sebagai pelita penuntun agar manusia tidak salah langkah dan mampu melewati malam dengan selamat hingga menuju fajar harapan baru. Ke dua, surup bisa juga dimaknai sebagai berakhirnya suatu peradaban manusia, bisa jadi berupa kiamat nashuha(sebagaimana pernah saya tuliskan).

Bang Ali Shahab seorang putra Betawi asli dan seorang sutradara kawakan yang pernah mengusung film serial Rumah Masa Depan pada kesempatan tersebut menyampaikan, “Bencana alam beruntun yang menimpa bangsa kita hanyalah merupakan bencana yang kecil, sedangkan bencana yang jauh lebih besar dan dahsyat dampaknya adalah bencana moral”. Bencana moral menurutnya sedikit banyak merupakan dampak negatif dari penayangan berita, informasi, sinetron dan film rendahan yang belakangan banyak diproduksi atas nama komersialisasi di berbagai media negri ini.

Dalam forum yang sama sebulan sebelumnya, bertepatan dua minggu pasca gempa Jogja, sempat terlempar satu keyakinan bahwa gempa yang terjadi di Bantul merupakan awal dari gempa-gempa berikutnya yang akan datang secara beruntun paling tidak sampai kurun waktu enam bulan ke depan.

Ternyata saudaraku, dua hari baru berlalu kami mendiskusikan ‘surup’, tsunami kembali menerjang pantai selatan Jawa dan merenggut korban(lagi) terutama di Pengandaran dan Cilacap Timur.

Belum hilang keterkejutan dan rasa shock kita, gempa kembali mengguncang ujung barat Jawa pada Rabu petang disertai dengan isu tsunami, meskipun tidak terbukti terjadi. Kabar tersebut cepat menyebar terutama melalaui siaran salah satu televisi swasta kita, bahkan saya yang pada waktu tersebut berada di Surabaya dan sedang dalam perjalanan kembali ke kota setelah mengantar ‘Bapak’ ke Juanda mendapatkan kabar dari seorang rekan di Jakarta.

Dua kejadian bencana beruntun di depan mata kita, dan korban nyawapun kembali melayang. Apakah hal tersebut ada hubungannya dengan mimpi kehilangan dua gigi depan saya Senin dini hari? Nyawa-nyawa hidup seakan sudah sangat tidak berharga di republik ini. Dimana-mana seakan akan alam sudah memusuhi kita. 

Memang, jika kita sadar dan mau bercermin, apakah yang layak diberikan oleh Tuhan atas ‘setoran’ kita kepada-Nya? Bencana bahkan azab mungkin sudah sangat layak diberikan kepada bangsa kita. Hari ke hari, dari waktu ke waktu hanya maksiat dan tindakan bermoral rendah yang kita lakukan.

Manusia sudah kian terpuruk oleh perbuatannya hingga terperosok kepada kehinaan dunia binatang. Apakah tepat pengkambinghitaman tersebut? Kiai sesat mana yang mengajarkan binatang berwatak serakah? Binatang adalah makhluk yang berhenti makan ketika porsi kebutuhannya telah terpenuhi, dan mereka tidak berlebihan. Manusialah yang serakah. Manusia yang selalu lapar sehingga tidak mampu lagi membedakan makanan dengan triplek, mana empal mana aspal, mana madu mana batu. Semua ingin dimakannya. Itulah manusia.

Bencana yang sudah beruntun datang dan menjadi hidangan utama di meja makan kita, ternyata tidak pernah mampu menggerakkan hati nurani kita untuk kemudian sadar dan bangkit memperbaiki diri. Sampai kapan kita akan terpuruk di tengah peradaban global yang menggila ini?

Anugrah dan bencana adalah kehendaknya…………….kita harus tabah menghadapi. Barangkali sepenggal bait lagu Ebiet tersebut menjadi relevan kembali untuk direnungkan. Jangan ndablek rai gedhek…………..

                                                                  ********************** 

Posted by Nananging Jagad at 01:39:59 | Permalink | Comments (15)

Tuesday, July 18, 2006

BENCANA DATANG LAGI

TSUNAMI: Fenomena Kang Paijo

Yunami, begitulah Kang Petruk, rekan kerjaku menyebut tsunami karena menganggapnya perempuan dan masih prawan. Pagi kemarin Kang Petruk menyambangiku dan menanyakan keberadaan Kang Paijo yang tak nongol batang hidungnya. Kujawab bahwa Kang Paijo sedang  dines ke Lampung 2 minggu ini. Kang Petruk kemudian berkomentar, ” Wah kok tumben Lampung masih aman dari gempa ya…”. 

Kang petruk memang selalu berseloroh bahwa kejadian gempa Jogja bisa terjadi karena kepulangan Kang Paijo sarimbit naik kereta waktu itu(pernah saya posting Kang Paijo estafet mbecak Lempuya-Piyu(ngan)). Dengan asumsi yang sama, ketika kali ini Kang Paijo pergi ke Lampung bisa jadi mengakibatkan terjadinya gempa dahsyat di sana, karena selama ini Lampung sudah sedikit digoyangin(ini teori ngawur lho..). E…..lha kok lagi pagi dirasani, sorenya bener datang itu yunami di Pangandaran.

Anehnya lagi, sehari sebelumnya, Heri temen SMA-ku datang ke tempatku dengan kaos bertuliskan “Pangandaran” berwarna oranye. Kemudian di Senin dinihari menjelang pagi, saya bermimpi copot gigi dua buah, di bagian depan lagi. Dan ini jelas jenis mimpinya puspatajem kata simbahku, dimana kejadiannya pagi hari dan konon merupakan sasmita yang akan benar-benar terjadi. Apakah ini sekedar firasat atau gathuk anthuk?

Pagi hari kemarin ketika saya sampai di kantor, terdengar suara that.. thit.. that.. thit mesin fax yang setelah saya cek tak ada kiriman fax yang masuk. Saya jadi teringat sebuah email yang dikirim teman terkait tsunami di Aceh dan Jogja kemarin, dimana email tersebut menceritakan tanda atau fenomena yang dapat digunakan untuk memprediksi bakal terjadinya gempa yang kemungkinan juga disertai dengan tsunami.

Fenomena tersebut, seperti  adanya awan Cyrus, sebagaimana dikabarkan terlihat oleh temen-temen di Jogja beberapa hari kemarin. Adanya gangguan sinyal telekomunikasi, seperti terjadi pada mesin fax, frekuensi gelombang radio dan sistem wireless lainnya.

Ada yang bisa nembang Lagunya Kang Doel Sumbang berikut, saya yang Jawa tulen dijamin gak bisa, hanya pernah dengar tapi seneng juga. Sisi laut Pangandaran……. 

Harita basa usum halodo panjang
Calik paduduaan
Dina samak salambar
Hmmm.. saksina bulan anu sapotong
Hmmm.. saksina bentang anu baranang
Aya kasono aya katresna
Aya kadeudeuh aya kanyaah
Ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan
Aya kasono aya katresna
Aya kadeudeuh aya kanyaah
Ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan
Sisi laut Pangandaran?
Tina ati pada pada kedal jangji
Urang silih asuh silih asih silih jadi
Deg ngadegkeun arti asih saenyana
Deg ngadegkeun arti deudeuh saenyana
Ulah dugika rasa katresna
Kerep ngagedur ukur amarah
Nu balukarna nuntun kana jalan salah
Sisi laut Pangandaran?
Reup dicanggreud hate geus pageuh kabeungkeut
Sisi laut Pangandaran?
Reup dicangkrem beuki rapet beuki deudeuh
Sisi laut Pangandaran?..

Posted by Nananging Jagad at 02:49:43 | Permalink | Comments (8)

Monday, July 17, 2006

RAZIA KTP

UNTUNG MASIH SLAMET….

Malam itu Sabtu dinihari sekitar pukul 01.30, saya dan seorang rekan menumpang sebuah taksi sehabis ngangsu kawruh di Taman Ismail Marzuki. Tiba-tiba laju taksi kami terhenti karena di hadapan kami, sisi kanan dan kiri jalan penuh dengan Polisi yang memberhentikan semua kendaraan yang lewat.

Seorang Polisi berpangkat bintara segera menghampiri kami dan meminta kami menunjukkan identitas kami masing-masing. Rekan saya yang membawa tas, diminta tasnya oleh Polisi tersebut untuk kemudian dibuka, diudhal-udhal dan diperiksa segala isinya, dikiranya kami bos pengedar narkoba barangkali. Bagi saya yang merasa tidak ada sesuatu yang harus kami cemaskan, tenang-tenang saja menjalani prosesi tersebut.

Ketika sampai pada giliran saya diperiksa, saya tunjukkan KTP Musiman yang sempat saya buat tahun lalu dan sudah berakhir masa berlakunya Januari kemarin. Polisi bertanya, “Lha ini KTPnya sudah kadaluwarsa Mas, ada identitas yang lain?”. Kemudian saya jawab, ” Lha iya Pak, itupun kan KTP Musiman, memang belum sempat ngurus lagi”, sambil kekeluarkan KTP yang kubawa dari kampung.

Sang Polisi bertanya lagi, “kok nggak ngurus KTP Jakarta saja, emang nggak enak tinggal dan jadi warga Jakarta?”. Saya jawab, “ya namanya masih sementara juga kok Pak di nJakarta”. Emang enak hidup di nJakarta? Saya ini sebenarnya hanya “diperjalankan” untuk sampai di ibukota ini karena tak pernah mendapatkan pilihan lain yang lebih baik, ya sebuah keterpaksaan nasib barangkali.

Akhirnya ketika Polisi tersebut mengecek namaku, dia malah tersenyum dan berkata, “lho kok namanya sama Mas?”. Saya jawab sekenanya sambil melirik nama di dadanya, “berarti barangkali kita saudara jauh Pak Sersan Nanang R”. Akhirnya sang Polisi menyampaikan komentar terakhirnya, ” identitas Mas amburadul”, sambil mempersilakan taksi kami berlalu.

Slamet…….slamet pikirku, tanpa tergugah sedikitpun nuraniku untuk kelak mengurus KTP nJakarta yang ribet prosedural administrasinya dan “mahal”. Aturan tinggal aturan selama masih dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memupuk keuntungan atas diri sendiri. So be hati-hati kalau keluar malam di ibukota.

Posted by Nananging Jagad at 02:14:14 | Permalink | Comments (15)

Friday, July 14, 2006

LEGENDA

DEGAN WAHYU

Legenda Ki Ageng Pemanahan

Sebuah cerita buat priyayi mBangsari

        Dengan sepeda motor, nDoro Sinyo menjemputku sore itu untuk kemudian mengglandangku dari Gandrung menengok istananya di nDalem mBangsari. Menurut riwayat mBangsari merupakan nama daerah yang diberikan oleh para pinisepuh, yang di kemudian hari desa tersebut secara resmi berganti menjadi Desa Bulaksari. Nama resmi desa jarang disebut oleh masyarakat setempat dibandingkan mBangsari, sebuah kontradiksi kearifan masyarakat lokal yang berusaha mempertahankan historis asal usul desanya dengan kebijakan pemerintah yang seringkali tidak bijak.

Sampai di rumah nDoro Sinyo, aku langsung disambut oleh kedua Romo lan Ibunya selayaknya “priyagung” dari “kuthagara”. Dengan keramahan khas mBangsari, mereka menyuguhkan air degan lengkap dengan uba rampenya kepadaku seraya berucap untuk calon “narendra” masa depan. Begitu mendengar ungkapan narendra aku terhenyak heran dan teringat akan legenda Ki Ageng Pemanahan pendiri dinasti Mataram.

         Alkisah di masa pemerintahan Kerajaan Pajang tersebutlah dua orang sahabat karib, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring terkenal sebagai seorang petani pertapa sekaligus penyadab nira kelapa yang hidup di tengah pegunungan selatan, sedangkan Ki Ageng Pemanahan merupakan abdi dalem Sultan Hadiwijoyo. Dalam satu pertapaannya Ki Ageng Giring mendapatkan ‘wahyu gagak emprit’ berwujud sebuah degan dimana barang siapa meminum air degan tersebut sekali tenggak maka anak turunnya akan menjadi raja-raja besar di tanah Jawa.

Dengan pertimbangan agar sekali teguk air degan dapat habis maka Ki Ageng Giring menaruh degannya di pawon rumahnya untuk pergi ke ladang dengan maksud nanti setelah bekerja di ladang dan kehausan maka dia akan segera pulang dan menenggak habis air degannya.

Tanpa diduga sebelumya, tiba-tiba datanglah Ki Ageng Pemanahan mampir ingin menengok sahabat karibnya. Setibanya di depan rumah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan mendapati rumah sahabatnya kosong tanpa penghuni. Ia kemudian njujuk ke pawon dan mendapati sebuah degan yang ranum di sebuah babagran pawon sahabatnya. Ia berpikir mungkin sahabatnya sengaja menyediakan degan tersebut bagi sang tamu yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Tanpa berpikir panjang degan tersebut kemudian diboboknya untuk kemudian ditenggaknya sekali tenggak habis.

Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng Giring dari ladang. Ia langsung menuju pawon bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibobok orang dan isinya sudah habis. Ia keluar ke belakang rumah dan didapatinya sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai menikmati semilir angin di bawah waru doyong. “Adi Pemanahan? kapan tiba di gubugku ini Di?” tanyanya. “Baru saja Kakang, aku sekedar mampir setelah menengok Alas Mentaok atas perintah Kanjeng Sultan”,jawab Ki Ageng Pemanahan. “Dan Kakang, karena perjalanan jauh yang telah ketempuh tadi aku langsung njujug di pawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang” lanjut Pemanahan.

“Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat. “Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari”,ia menegaskan. Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini. Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikut nunut mukti.”

Pemanahan kemudian menjawab, “ Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa. Dan untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”.Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.

Kelak di kemudian hari terbuktilah oleh sejarah, Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama setelah keruntuhan Kerajaan Pajang. Dan setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwana I, kekuasaan berganti jalur setelah pusat pemerintahan baru berpindah ke Kartasura.

Posted by Nananging Jagad at 09:22:18 | Permalink | Comments (10)

Wednesday, July 12, 2006

HUT KOPERASI

GELAR BUDAYA KOPERASI

Petang itu, sehabis Maghrib saya mendapat kabar dari Mas Riswanto, seorang teman “baru”(kebetulan baru bertemu sekali di Paramadina) yang memberitahukan bahwa ada acara gelar budaya di Tugu Proklamasi, dan saya dimintanya datang sekedar sebagai penggembira. Karena waktu yang sangat mendesak, tidak memungkinkan saya untuk menghubungi bala kurawa saya, sehingga dengan terpaksa saya berangkat sendirian. Bersamaan malam itu sebenarnya juga sedang diselenggarakan karnaval budaya dalam rangka HUT Jakarta di sekitar Monas – Bunderan HI. Dengan menerobos kerumunan massa di perempatan Sarinah, saya menuju ke arah Sabang untuk kemudian naik sebuah taksi yang membawaku ke Tugu Proklamasi.

Sampai di lokasi ternyata acara sudah dimulai, dan samar saya lihat dari kejauhan, seorang tokoh LSM yang pernah saya kenal pada saat penggalangan massa di sekitar pergerakan mahasiswa tahun 1998. Tak salah lagi dialah Adi Sasono, mantan Menteri Koperasi di era pemerintahan Habibie yang saat ini menjabat Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia(DEKOPIN), sebuah LSM induk koperasi yang berada di luar struktur pemerintahan. Rupanya malam itu merupakan acara Gelar Budaya Koperasi dalam rangka HUT Koperasi Ke-59. Hadir sebagai tokoh sentral adalah Adi Sasono, Taufik Ismail, Imam Prasodjo, Frans Welirang, Kang Sobari serta Cak Nun sak Kiai Kanjenge.

Acara dimulai dengan guyonan Cak Nun dan Kang Sobari mengenai kondisi Bantul pasca gempa dimana sebenarnya dua tiga hari setelah kejadian, masyarakat sudah sangat kooperatif satu sama lain dengan mengedepankan jiwa dan semangat kekeluargaan serta gotong royong yang masih lestari di tengah pedusunan. Masyarakat sudah mulai sambatan menyingkirkan puing dan sebagian sudah mulai beraktivitas mengurusi sawah ladang, serta sebagian pergi ke pasar. Kondisi tersebut kemudian dirusak secara sewenang-wenang oleh pernyataan dan janji wakil Presiden “Sang Bethara” Kalla yang akan mengucurkan dana Rp.30 juta untuk setiap keluarga korban gempa. Janji itu benar-benar membuat masyarakat terbuai dan kemudian menjadi malas untuk beraktivitas untuk kemudian melakukan kridha lumahing asta kepada pemerintah. Sungguh suatu kejahatan yang teramat keji bagi rakyat, dimana bencana oleh sebagian penguasa hanya dijadikan ajang komersialisasi, selebritasi dan politisasi bagi kepentingan kekuasaan.

Dialog kemudian diselingi dengan pembacaan puisi oleh Taufik Ismail yang menceritakan mengenai kebershajaan sang Bapak Koperasi kita, Drs. Mohammad Hatta. Kebersamaan dan sikap kooperatif Dwitunggal Soekarno-Hatta yang saling melengkapi satu sama lain. Bung Karno bertugas menggembleng mantalitas dan semangat nasionalisme anak bangsa, sedangkan Bung Hatta meletakkan pondasi birokrasi dan korporasi untuk mengentaskan negara dari ketergantungan negara lain menuju bangsa yang mandiri.

Sesi selanjutnya menampilkan pembicara Mas Frans, Pak Guritno dan Mas Imam dengan moderator Cak Nun. Mas Frans mengawali pemaparannya dengan mengemukakan pengalamannya bertemu dengan para anggota koperasi susu di Boyolali yang menyampaikan bahwa mereka sudah menjadi anggota koperasi lebih dari 15 tahun, namun dari segi kesejahteraan tidak pernah meningkat bahkan cenderung tambah miskin.

Kondisi demikian menurutnya disebabkan oleh kegagalan sistem. Secara internal hal tersebut dikarenakan para pengurus dan pengelola koperasi hanya terpaku kepada pencapaian nama baik (image building) tanpa menyentuh ranah kesejahteraan anggota. Para anggota hanya baru menikmati keuntungan koperasi dalam bentuk SHU(Sisa Hasil Usaha), padahal semestinya mereka juga harus dapat merasakan kedayagunaan aset yang dibiayai dan dimodali dari iuran anggota. Di sini nampak sekali ketidakadilan. Dari sisi eksternal perubahan dan globalisasi dunia belum secara nyata direspon oleh pengelola koperasi sebagai peluang yang dapat didayagunakan untuk tidak hanya sekedar bertahan hidup namun lebih dari itu untuk mengembangkan usaha dan memenangkan persaingan. Hal ini masih ditambah dengan kebijakan pemerintah yang seringkali kurang berpihak terhadap sektor usaha kecil dan menengah yang banyak tergabung dalam keanggotaan koperasi. Masalah kemudahan penyaluran kredit usaha kecil dan menengah, serta kebijakan proteksi usaha mikro yang banyak terlupakan oleh pemerintah.

Pembicara selanjutnya adalah Mas Imam yang secara antusias menyampaikan bahwa koeprasi selamanya tidak akan pernah maju jika pola pembinaan dilakukan oleh birokrat yang sangat birokratis. Ruh, nafas dan jiwa koperasi membutuhkan sentuhan yang berbeda dengan birokratisme, karena koperasi bersifat sosial kekeluargaan berlandaskan semangat kebersamaan dan kegotong-royongan. Oleh karena itu, kalau koperasi ingin maju para tokoh dan pendekar perkoperasian harus keluar dari birokrasi dan menyusun barisan di luar sistem pemerintahan, sehingga bisa berbuat lebih netral, profesional dan lebih bebas mengekspresikan diri untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

Di samping itu, keberadaan Departemen Koperasi dan UKM di pemerintahan hanya menjadi departemen catatan kaki(pheripheral) sebagai objek pelengkap saja. Koperasi sebagai gerakan sosial corporation harus berhadapan dengan monopoli kapitalisme di struktur pemerintahan yang diwakili oleh Departemen Perdagangan dan Departemen Perindustrian yang jelas memperoleh dukungan dana anggaran yang jauh lebih besar dan tidak berimbang. Di sini nampak jelas pembelaan pemerintah sebenarnya kepada siapa.

        Pak Guritno, Sekjen Departemen Koperasi dan UKM mencoba menetralisir pendapat Mas Imam dengan mencoba mendudukkan permasalahan keberadaan instansinya di dalam struktur ketata-negaraan kita. Sebagaimana diamanatkan oleh UUD ’45 Pasal 33, bahwa perekonomian disusun berdasrkan asas kekeluargaan. Berawal dari situ, sistem ekonomi yang sesuai dan relevan menedekati konsep tersebut adalah koperasi. Oleh karena itu, pemerintah sebagai penyelenggara negara mempunyai kewajiban untuk menetapkan kebijakan dan pembinaan perkoperasian nasional kita dengan melembagakannya ke dalam sebuah departemen. Dengan demikian keradaan Departemen Koperasi lebih dijiwai semangat pengabdian. Namun demikian, adanya amandemen atau perubahan UUD ’45 keempat yang menghilangkan sistem ekonomi kekeluargaan, barangkali memang perlu dikaji lagi keberadaan Departemen Koperasi di dalam struktur pemerintahan.

Pak Adi Sasono menambahkan bahwa keberadaan koperasi di Indonesia tidak lepas dari sejarah bangsa kita. Ketika kita berhasil merebut kemerdekaan di tahun ’45, masyarakat dan bangsa kita masih mewarisi mentalitas kuli yang memang sengaja ditanamkan oleh kaum penjajah untuk mengekalkan penjajahannya. Di samping mentalitas kuli, kita juga mewarisi kesenjangan kesejahteraan dan pola piki yang terlampau lebar. Ada diantara golongan anak bangsa yang minoritas dalam kuantitas, namun dari segi pendidikan dan tingkat perekonomian berada di atas. Sedangkan mayoritas bangsa kita berada di garis keterbelakangan baik di sisi pendidikan maupun ekonomi. Adanya kesenjangan tersebut menyebabkan Bung Hatta pada waktu itu mencoba mengintrodusir sistem perkoperasian yang aslinya memang berasal dari Inggris.

         Sebagai langkah awal untuk menumbuh-kembangkan benih yang sudah bersemi tersebut, pemerintah harus mengambil peran signifikan untuk meletakkan kebijakan perekonomian nasional dan melakukan pembinaan koperasi. Hal ini menjadi suatu keharusan pada waktu itu karena kalau pemerintah tidak melakukan stimulan, maka koperasi yang menjadi idaman tidak akan pernah terwujud. Oleh karena itu, pemerintah memendang perlu melakukan intervensi dan melakukan proteksi terhadap perekonomian nasional dengan membentuk Departemen Koperasi.

Pendekatan struktural pada waktu itu memang sangat relevan dan tepat diambil oleh pemerintah, namun demikian seiring dengan perkembangan dunia saat ini, pertanyaan untuk mereposisi kembali keberadaan koperasi apakah masih tetap di dalam atau di luar struktur pemerintahan menjadi valid dan menjadi tugas bersama untuk merumuskannya kembali.

Dewan Koperasi Nasional Indonesia merupakan wadah koperasi di luar struktur pemerintahan yang mempunyai keanggotaan lebih dari 15 juta. Organisasi ini merupakan potensi besar bagi suatu proses pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Berbeda dengan ormas lainnya yang mengkliam mempunyai keanggotaan sekian juta orang, DEKOPIN keanggotaannya nyata dan tercatat secara administrasi dan bahkan masing-masing anggota rutin membayar iuran bulanan.

Koperasi memang masih menyisakan berbagai permasalahan yang menantang untuk dipecahkan. Semoga di masa yang akan datang koperasi kita bisa lebih maju dan dapat secara nyata mengentaskan kesejahteraan anggotanya. Dirgahayu Koperasi Indonesia……………………

***********************

Posted by Nananging Jagad at 07:34:34 | Permalink | Comments (9)

Monday, July 10, 2006

HUT KOPERASI

KEPRIHATINAN BU PRIHATIN……………….

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya tulis, namun sepertinya Tuhan menahanku untuk menunggu waktu yang tepat guna mempostingya. Tanpa sadar dan kuketahui dengan pasti, ketika suatu malam takdir melangkahkan kakiku dan membawaku menghadiri suatu Gelar Budaya Koperasi di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 Juli 2006 kemarin. Baru kali ini saya tahu HUT Koperasi Indonesia ternyata jatuh pada tanggal 12 Juli. Acara tersebut menghadirkan beberapa tokoh budayawan, peneliti, pemerhati dan pelaku dunia perekonomian sektor marjinal. Realitas ternyata masih menggambarkan betapa masih suramnya nasib para pengusaha kecil golongan ekonomi lemah kita yang berusaha mengembangkan usahanya dengan bergabung, menggalang kekuatan melalui koperasi. Tulisan di bawah ini setidaknya merupakan salah satu gambaran betapa masih buramnya potret anggota koperasi yang dari hari ke hari belum terangkat juga kesejahteraannya, bahkan semakin terseok dan terlindas oleh era globalisasi yang semakin menyudutkan mereka menuju kematian usahanya.

        Sabtu, 27 Mei 2006, seiring dengan tersebarnya kabar terjadinya isu tsunami terkait dengan kejadian gempa bumi Jogja yang waktu itu aku rasakan juga goyangannya, aku meluncur dari Gandrungmanis menuju kota Cilacap untuk suatu keperluan. Sehabis angon ponakanku, kami sedikit plesiran menengok Pantai Teluk Penyu dan PPNC di sampingya yang dulu pernah kutinggali selama beberapa bulan. Setelah urusan kami di Cilacap selesai, dalam perjalanan pulang kami singgah di sebuah sanggar kerja pembuatan boneka di tepian Jalan Raya Cilacap – Wangon untuk sedikit kulakan karena kakakku memang seorang yang bakulan di Gandrung. Sanggar tersebut berada di Desa Tritih Lor Kecamatan Jeruk Legi, beberapa menit dari Bandara Tunggul Wulung.

Sanggar tersebut dikelola oleh sepasang suami istri setengah baya. Pada saat kedatangan kami, sang tuan rumah, sebutlah Ibu Prihatin menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami untuk melihat-lihat dan memilih boneka yang kami inginkan. Beraneka ragam dan ukuran boneka diproduksinya secara tradisional dengan mengandalkan tenaga beberapa karyawan yang juga merupkan tetangga Bu Prihatin.

Sambil kami memilih boneka yang dipesan, sedikit saya berkesempatan berbinsang dengan sang ibu. Beliau bercerita bahwa usahanya tersebut merupakan usaha yang dirintisnya sendiri sejak usia muda. Setelah sekian lama berusaha, sebenarnya pesanan semakin banyak dan berasal dari berbagi kota besar di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Semarang dan Jogjakarta. Terpaan badai krismon beberapa waktu yang lalu memang sempat dirasakan, namun usahanya masih dapat bertahan bahkan kemudian bangkit dan mulai berkembang. Di jaman Mega, bahan bakar minyak sempat dinaikkan beberapa kali dan hal itu membuat usahanya berjalan tersendat. Masa awal kepemimpinan SBY, dengan kenaikan BBM yang tinggi membuat usahanya seakan ngos-ngosan untuk sekedar bertahan dan kondisi tersebut berlangsung hingga kini.

        Pokok utama permasalahan yang dihadapi Bu Prihatin adalah langka dan mahalnya bahan dasar yang harus didatangkannya dari Bandung. Kemudian masalah berikutnya adalah sulitnya mencari, membina dan melakukan regenerasi tenaga kerja yang benar-benar bisa dididik trampil. Selama ini tenaga kerja yang dipekerjakan berasal dari daerah sekitar dan umumnya para remaja putri dan ibu-ibu muda. Tiga hal kendala yang dihadapi terkait dengan tenaga kerja ini. Pertama, tenaga kerja wanita yang lajang biasanya mengundurkan diri ketika memasuki jenjang perkawinan. Kedua, banyaknya terjadi eksodus tenaga kerja potensial yang memilih untuk mengadu nasib menjadi TKI di negeri orang karena tergiur oleh pendapatan yang lebih besar. Kendala berikutnya, tuntutan dari Pemda untuk menerapkan segala ketentuan perlindungan dan pemenuhan hak tenaga kerja seperti uang tunjangan, Jamsostek, pesangon dlsb, padahal menurutnya pekerjanya kebanyakan belum bisa memenuhi tuntutan perilaku sikap pegawai yang profesional seperti masalah disiplin jam masuk kerja yang sering tidak ditaati.

Di samping bercerita tentang permasalahan usahanya, Bu Prihatin juga merasa sedih dengan iklim usaha kecil khususnya pedagang yang semakin terdesak oleh para pemodal besar seperti maraknya jaringan Alfamart, Indomart, Hypermart dll. ”Pedagang kecil terdesak oleh ekspansi minimarket, sedangkan pasar tradisional kalah bersaing dengan supermarket dan mall”, ungkapnya. Dia mengisahkan dulu di jaman Pak Karno, pemerintah mempunyai kepentingan untuk melindungi ekonomi rakyatnya sehingga dibuat kebijakan pembatasan ruang gerak pedagang China hanya pada tingkat kota kabupaten. Dia mengusulkan agar para pedagang kecil saat ini untuk bersatu dalam menghadapi para pemilik modal besar, dengan cara mengajukan surat keberatan kepada bupati baik langsung maupun melalui Kadin untuk melakukan pembatasan pendirian minimarket di daerah tertentu, hal ini mengingat bahwa dengan adanya otonomi daerah maka Pemda Kabupaten atau Kotalah yang mempunyai banyak kewenangan untuk mengatur hal tersebut.

Isu globalisasi memang seringkali mengorbankan pertumbuhan usaha kecil dan menengah yang merupakan pilar utama perekonomian negara, sebagaimana telah terujinya usaha kecil dalam menghadapi badai krismon. Di sinilah sebenarnya peran pengambil kebijakan sangat menentukan. Apakah negara dan bangsa kita bisa berdikari dan mandiri sehingga mampu menjadi negara yang bermartabat di mata dunia? Apakah pemerintah cukup peka dan mendengar keluh kesah Bu Prihatin kita yang lain?Ampun pemerintah…………………

****************
Posted by Nananging Jagad at 02:11:19 | Permalink | Comments (11)

Wednesday, July 5, 2006

IRONIS

SEPAK BOLA

Putaran semifinal Piala Dunia 2006 kembali dikejutkan dengan rontoknya tim raksasa unggulan yang sekaligus bertindak sebagai tuan rumah, Jerman. Di pertandingan yang menentukan tersebut secara mengejutkan, Jerman dilibas di menit-menit akhir babak kedua perpanjangan waktu. Tragis memang.

Mengiringi pertandingan Piala Dunia di Jerman, Griya Tembi Yogyakarta menyelenggarakan lomba pembuatan gambar komedi bertema “sepak bola yang semakin terpinggirkan”. Negara sebesar Indonesia boleh jadi memiliki katakanlah 22 orang bibit unggul pesepak bola profesional. Namun harapan tersebut nampamknya hanya sekedar isapan jempol, mengingat di lingkungan kita betapa sulit menemukan ajang lapang untuk sekedar sepak-sepakan. Tata kota maupun tata lingkungan kita tidak mengapresiasi kebutuhan ruang publik berupa lapangan bola. Masih mending di dusunku waktu kecil dulu, masih ada tetangga yang memiliki pelataran rumah luas yang bisa dimaanfaatkan. kalaupun tidak di pelataran, kami biasa memanfaatkan lebaran pari atau ladang kering atau bahkan jalan dusun. Ironis memang, jika kita menginginkan negeri kita juga bisa unjuk gigi berlaga di pentas internasional tanpa fasilitas untuk menempa, minimalnya secara alamiah, anak negeri untuk mengasah bakat bolanya. Lain ladang memang lain belalang. Negeri kita seperti biasa selalu mempunyai kenginan muluk tanpa kemampuan memadai. Bangsa tak mau “jer basuki mawa bea” dalam hal ini.

Sepak Bola merupakan sebuah olahraga yang paling banyak digemari di planet bumi. Tidak kecuali Indonesia. Tahun 2006 ini ada peristiwa besar dalam dunia persepak bolaan. Di Jerman pada tanggal 9 Juni 2006 telah dibuka perhelatan akbar sepak bola “Piala Dunia.” Bersamaan waktunya, di Jakarta, tepatnya di Goethe Institut, sebuah lembaga Pendidikkan dan Kebudayaan di bawah Kedutaan Besar Jerman, diadakan pengumuman juara hasil lomba Komik Sepak Bola dengan tema “Yuk main Bola, tetapi di mana?”

Kenapa komik Sepak Bola? Menurut Bettina Radner, Director Information & Library Departement, dimaksudkan untuk ikut berpartisipasi memeriahkan Piala Dunia yang berlangsung di Jerman. Sedangkan tema yang diangkat untuk membidik ke-ironis-an yang terjadi pada olah raga sepak bola ini. Menurut Dinyah Latuconsina ketua panitia lomba, di Indonesia khususnya di Jakarta, arena yang tersedia untuk bermain sepak bola sangat terbatas. Sementara harapan pemerintah melalui Menteri Olahraga dan PSSI, disemarakan oleh club-club yang dibentuk dan di hidupi oleh perusahaan perusahaan swasta, mengharapkan sepak bola di Indonesia maju dan berprestasi. Ini kan sangat ironis. Bagaimana akan mendapatkan bibit-bibit yang baik, jika tidak ada tempat yang layak untuk bermain sepak bola?

Di antara 53 peserta lomba Komik Sepak Bola, dipilih 5 pemenang, meliputi Pemenang I, II, III, harapan I & II. Penyelenggara merasa puas, karena karya para pemenang dapat menampilkan apa yang diharapkan panitia tentang ironisme yang terjadi dalam dunia sepak bola.

Untuk Pemenang pertama, dengan judul “Lapangan Tanpa Batas” karya Herjaka. HS, dari Rumah Budaya Tembi Jogyakarta, dengan visualisasi wayang. Di dalam karyanya herjaka menangkap bahwa dunia sepak bola mempunyai makna luas, tidak sekedar apa yang tampak dan terjadi di lapangan hijau, tetapi dapat dibidik dari segi politik, budaya dan ekonomi. Dunia sepak bola merupakan pertarungan antara ke dua belah pihak. Pertarungan tersebut tidak hanya berlangsung di lapangan hijau, tetapi juga terjadi di luar lapangan.

Pada halaman pertama digambarkan pihak oposisi yang diwakili oleh Togog dan bilung membuat jebakan kepada lawannya, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Togog berhasil menjebak lawannya.

Bola yang ditendang Bagong dengan enaknya ditangkap oleh seorang Raksasa yang duduk santai di mulut gawang (halaman 2). Semar dan kelompoknya tidak berkutik, ketika bola itu tidak segera dilempar di lapangan.

Bahkan bola yang menjadi focus utama pertandingan sepak bola dilempar di keranjang, tempat anak raksasa sedang mandi bola (halaman 3).

Raksasa merupakan simbol kekuatan besar yang bermain dibelakang layar, untuk mencapai tujuan tertentu. Maka ketika raksasa ikut bermain, simbol bola di lapangan yang menjadi satu-satu focus sebuah permainan, dapat diubah fungsinya masuk keranjang “mandi bola” untuk sekedar memberi rasa senang.

Olah raga sepak bola memang dapat menembus batas. Tidak hanya terjadi di lapangan sepak bola, tetapi juga terjadi di luar lapangan, di setiap aspek kehidupan. Yuk Kita Main Bola, tetapi di mana? tempatnya sudah habis untuk pemukiman. Ya kita main sepak bola disetiap aspek kehidupan yang berjubel. (hjk)

Sumber: Griya Tembi

Posted by Nananging Jagad at 05:07:46 | Permalink | Comments (13)

Tuesday, July 4, 2006

ASAL USUL

Kawula dan Raja

Oleh: Mohamad Sobary


        Sri Sultan Hamengku Buwana X, juru kunci Merapi, juru kunci Parangtritis, Adipati(Bupati) Bantul, dan para kawula “ Kadipaten” itu, dua minggu lalu berkumpul di tengah reruntuhan Wanakrama.

Raja, perangkat keraton, dan para kawula bertemu bukan untuk sesambat atau mengeluh tanda tak berdaya, melainkan untuk bangkit dari reruntuhan.

Apa yang sekarang hilang itu, asalnya dulu tidak ada. Maka, apa yang sudah tak adakemebali ke tak ada sesuai sunatullah. Tetapi, karena sejarah harus berlanjut dan Tuhan masih menyerahkan keberlanjutan ini di tangan manusia, maka muncullah tekad bersama: tekada kawula dan raja yang hari itu secara simbolis maupun riil menyatu raga, menyatu sukma, menegakkan kembali hidup dari awal.

Kawula dan raja-sperti ucapan penyair kita, Goenawan Mohamad-ibarat kata, “bersiap untuk kecewa, dan bersedih tanpa kata-kata”, karena sedih apalah gunanya. Hidup harus diisi dengan kerja.

Bangun lagi rumah rakyat seadanya dan semampunya, dengan corak dan warna lokal seperti dulunya. Bila suatu saat datang lagi gempa dan segalanya rusak lagi, maka tugas kitalah untuk memebangunnya kembali. Dan bila gempa datang lagi, kita wajib bangun lagi. Bangun lagi….

Emha Ainun Nadjib, dengan perangkat Kiai Kanjengnya, tampil dan memimpin jalannya pertemuan. Ia memberi kerangka serta kemudian memberinya isi, dan isi ini yang membuat-ibaratnya-ruh warga Bantul muncul kembali.

Bersihkan puing-puing. Singsingkan lengan baju. Dan pelan-pelan kita bangkit bersama. Dan bersihkan semua bendera partai dari seluruh tlatah Bantul. Tetapi, kibarkan Sang Saka Merah Putih. Hanya satu bendera itu boleh berkibar. Selebihnya, silakan kembali ke neraka.

Semua orang jengkel melihat orang-orang tak tahu malu, yang mengerek bender partai, bendera perusahaan, dan bendera-bendera kepentingan lain, berkibar-kibar di tengah derita rakyat dan reruntuhan rumah-rumah, toko, warung dan segenap milik mereka.

Emha menggenggam data tak menggembirakan. Dan berseru, kalau menolong, ya menolonglah, dengan ikhlas dan kita terima dengan ikhlas pula. Jangan sodorkankepentingan kalian, yang buruk bagi kami dan tak etis bagi siapapun. Bila di balik niat menolong itu tersembunyi kepentingan-kepentingan yang tak ada sangkut pautnya dengan derita kamanusiaan, lebih baik jangan menolong.

Jauhkan semua jenis kepentingan, juga kepentingan “mengagamakan” orang lain, yang kelihatannya bagus, maupun-dan apalagi-kepentingan dajjal, yang mengotori Bantul dan sekitarnya.

Pendek kata, kita meinta dijauhkan dari tangan-tangan dan hati yang-kata Ebiet G Ade-masih juga “tega berbuat nista”, dalam situasi semuram ini.

Dan rajapun, Sri Sultan Hemngku Buwana X, kemudian memberikan siraman hati yang duka itu dengan sikap empati dan pengertian yang dalam.

“ di tempat ini, dulu, leluhur Anda semua, juga leluhur saya, Sultan Agung, membangun. Maka, marilah kita memetik teladan itu untuk memberi kita kekuatan membangun kembali segenap milik kita yang hancur akibat gempa.

Kita diajak untuk ada tak ada bantuan, bangkit, mandiri. Dari Bantul kita membangun. Kalau pemerintah pusat memberi bantuan, ya kita terima, karena itu memang tugasnya.

Saya mendengarkan pidato demi pidato dengan gelisah, karena harus segera pulang ke Jakarta dengan pesawat yang tak mau tahu di bantul sedang ada apa. Idiom “dari Bantul untuk untuk Indonesia” itu membuat saya bangga. Saya mendengar jelas Emha memanggil-manggil lewat pengeras suara agar saya muncul, tetapi saya jawab dengan sms.

Saya sibuk merenungkan bencana. Ini bencana lokal, bukan nasional. Karena itu, bebaskan kami untuk bisa menanganinya dengan cara kami, dengan cita rasa kami.

Di tingkat nasional bencana lebih banyak dan tak tertangani. Kami tahu diri. Maka, Bantul tak boleh mengharap mereka terlibat terlalu jauh. Apalagi bila ingin menjadi aktor utama dan mendesak kami menjadi figuran. Tidak. Bantul bukan Aceh.

Sejak minggu sebelumnya, Ngarso Dalem sudah menyampaikan tekad bahwa disini tak akan dibenarkan hadirnya pemborong atau orang-orang yang membangun rumah tanpa koordinasi dengan pemda. Orang lain yang tak tahu kami dan tak paham akan apa yang enak dan nyaman menurut ukuran budaya kami, tak dibenar datang ke sini membangun rumah-rumah. Kegagalan di tempat lain tak perlu dijejalkan untuk menjadi kegagalan di tempat ini. Kami tak ingin menjadi ajang kegagalan.

Terus terang maaf, derita ini tak boleh “diproyekkan”. Derita tak boleh menjdai komoditas nasional dan internasional. Ini perlu ditegaskan karena sekarang banyak jiwa manusia yang sudah menjadi batu.

Gempa ya gempa. Derita ya derita. Ini kewajaran hidup. Suka duka itu pakaian jiwa. Semua ada faedahnya. Kebudayaan Jawa menyimpan banyak energi untuk bertahan dalam derita.

Sudah lama kita hidup nyaman tanpa gempa. Dan baru sekali dalam ribuan tahun ada gempa seperti ini lagi. Ketika nyaman kita diam saja, mengapa ketika ada gempa kita mesti merintih-rintih? Kira-kira, beginilah inti wejangan Ngarso Dalem. Sebagai kawula, saya tunduk. Kepala dan jiwa saya tunduk mendengar wejangan yang membuat suasana terasa lebih teduh itu.

Gempa membikin kita berpikir lebih jauh akan makna hidup dan penyerahan, atau hidup dan kegigihan. Kita harus menyerah seperti apa, dan harus gigih seperti apa? Ini tiba-tiba menjadi pertanyaan ruwet.

Saya tak bisa mengukur kebesaran Allah itu seberapa dan seperti apa, tetapi saya bisa merasakan betapa kecil manusia yang merambat-rambat di kulit Bumi, bagai semut di jagat raya yang luas ini.

Maha besar Allah dengan segenap firman dan takdir-takdirNya, dalam kasih dan sayangNya, dalam teguran dan cubitanNya, yang tak juga kunjung kita mengerti kasihNya seperti apa, sayangNya seperti apa. Dan bagaimana pula ukuran maha pelindungNya? Kita tak punya ukuran.

Tuhan, dalam meomen kesatuan macam ini, pada saat kawula dan raja secara simbolik maupun nyata menyatu, dalam satu raga, satu jiwa, dimana rahasia berkah dan kasih sayangMu kau sembunyikan?

Tuhan, kami tak jemu meminta kepadaMu. Bila satu pintuMu Kau tutup, kami akan jongkok dengan wajah dan jiwa tunduk di depan pintuMu yang lain.

Di sini kami tetap mengetuk, seperti Chairil Anwar, “dan kamipun tak bisa berpaling”(dari mengharap rahmatMu).

***************

Posted by Nananging Jagad at 02:47:49 | Permalink | Comments (11)