KABAR YOJA
PEMBUKAAN MAN KE-6
Ahad malam, bertepatan tanggal 26 Rajab 1427 H, berlangsung acara pembukaan Musabaqoh Al Qur’an Nasional PT Telkom ke-6 di Yogyakarta. Saya yang kebetulan sedang mudik liburan di Merapi, sempat pula hadir dalam acara tersebut. Sebagai puncak acara pembukaan tersebut adalah panampilan Cak Nun dengan musik Kiai Kanjengnya.

Rupanya sebagian jama’ah yang hadir merupakan jama’ah rutin Mocopat Syafaat yang selalu rutin digelar di Bantul. Ini terbukti ketika Kiai Kajeng mendapat giliran tampil, semua hadirin yang sebelumnya hanya berdiri di belakang tribun utama, segera menyerbu maju dan langsung duduk memenuhi pelataran tribun utama. Yang paling unik, mereka bergerak spontan tanpa aba-aba dan langsung duduk rapi meski langsung beralaskan tanah alun-alun yang mabluk. Luar biasa tenan……….bak semut menyerbu gula.
Diawali dengan aransemen lagu Tanah Air yang unik, mengalirlah beberapa tausiah Cak Nun. Diantaranya diungkapkan dengan nada humor, bahwa gempa yang terjadi di Jogja beberapa waktu yang lalu diakibatkan oleh fatwa Gus Dur yang meminta Nyi Loro Kidul memakai jilbab.(???) Terang saja yang mbaurekso samodra tersebut marah……
Gempa Jogja merupakan pertanda harus segera diakhirinya dominasi legitimasi mistis Mataram kepada Nyai Loro Kidul. Jogja harus mampu menjadi pemandu bagi suatu perubahan yang fundamental terhadap setiap segmen dan segi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tipelogi orang Jogja yang lemah lembut tidak cocok sebagai agen pendobrak jaman. Oleh karena itu adanya fenomena lumpur panas Sidoarjo merupakan tanda pergeseran tongkat estafet perubahan ke tlatah wetan untuk segera menyongsong bang-bang wetan, sang fajar yang penuh harapan. Dalam terminologi bahasa Arab sang agen perubahan tersebut harus memiliki kualifikasi al muttaqien, yang dalam bahasane wong wetan disebut ‘bonek’. Legitimasi pemerintahan dunia harus dikembalikan kepada para wali sebagaimana era Demak awal. Oleh karena itu ‘wali-wali’ harus dibangkitkan kembali di bumi Nusantara sebagai syarat mutlak kebangkitan negeri ini. Ini artinya segala dimensi kehidupan kita harus kembali ke konteks Al Qur’an dan Al Hadist.
Kita sebagai hamba Tuhan tidak boleh lagi mempermainkan dan mbebeda Tuhan dengan kepicikan nalar kita. Satu contoh, kasus Inul dengan goyang ngebornya yang langsung tidak langsung membawa suatu fenomena kemerosotan moral hingga terkenanya Sidoarjo, sang tetangga pasuruhan tempat asal Inul, oleh bor maut Lapindo Brantas. Apakah ini hanya suatu kebetulan ataukah sesungguhnya ini suatu pepeling? Di masa depan dimungkinkan akan muncul suatu fenomena nyleneh yang lain, yang akan berakibat fatal terhadap keseluruhan dimensi kehidupan manusia. Bayangkan nantinya akan ada goyang nglepo atau goyang ngaci………..

Apakah kita sebagai komponen bangsa akan tetep pekok memandang fenomena jaman ataukah kita mau sedikit berpikir, mengendapkan hati dan batin, membangun paradigma baru untuk bangkit mengatasi permasalahan bangsa guna memenangkan globalisasi dan menjadi bangsa yang besar disegani di segala jaman? Tidak mudah untuk menjawabnya memang………
Liburan cuti bersama dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-61 sengaja saya manfaatkan sebaik-baiknya. Jauh hari saya sudah ancang-ancang untuk mudik pulang ke sangkan di kampung halaman tercinta. Dalam hati sih kepingin menikmati suasana detik-detik proklamasi di kecamatan, yang selalu ramai dengan “ritual” khas lengkap dengan segala ubarampe pentas seni tradisional, mulai janthilan, campur, kobra, lutungan, ndayakan, ndolalak, angguk dan lain sebagainya. Namun apa daya maksud hati tak sampai karena kehabisan tiket kereta.

Hari-hari ini merupakan detik-detik menjelang peringatan kemerdekaan kita. Merdeka yang belum mardhika, karena kenyataanya masih banyak ide dan paham penjajahan yang malahan semakin mengakar kuat di tengah kehidupan kita.