SAHUR BERSAMA
SAHUR Ala Ndalem Kebun Kacang
Tanpa terasa sang waktu demikian cepat merambat, sehingga dengan penuh semangat tanpa merasa berat, kami warga Ndalem KK kembali dapat menjalani ”ritual” tahunan ibadah puasa Ramadhan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya Bu Ageng sanantiasa menawari kami para ksatria penghuni Ndalem KK untuk andrawina, kembul bujana pada saat sahur puasa. Tentu saja bagi kami para ksatria, hal tersebut kami sambut dengan hangat dan penuh suka cita. Bagi kami semangat kebersamaan yang telah diwariskan oleh para leluhur dalam pitutur mangan ora mangan waton kumpul masih sangat membumi di relung hati kami.
Meski dari segi jumlah peserta yang mempunyai komitmen tinggi untuk nguri-uri tradisi ala Ndalem KK ini untuk tahun ini sedikit menurun, dikarenakan beberapa ksatria lama telah lengser ksatriyan manjalani tour of duty di jagad yang berbeda termasuk si Bagor keponakan Bu Ageng, paling tidak masih ada saya, Gus Puad, Wan Abid serta suadara Yerri tanpa ”Tomm”nya. Sedikit sepi memang tanpa kelakar si Bagor yang lugu dan konyol melempar omongan lugu-lugu bathoknya.
Sahur perdana selalu menjadi momen istimewa, terlebih untuk tahun ini sahur langsung dihadiri oleh sedulur Topik van Mount Island, yang sekaligus membuka ritual tahunan ini. Acara sedikit sumringah ketika Wan Abid, yang kebetulan ksatria ragil di Ndalem KK, sedikit grogi sehingga salah ambil dan memegang sendok di kedua belah tangannya, padahal lazimnya orang dhahar memegang sendok di tangan kanan dan garpu di tangan kiri. Dan yang lebih unik, hal tersebut berlangsung sekian menit tanpa disadarinya. Lucune lagi Wan Abid protes kenapa si Herman(yang waktu sekolah nilainya jelek terus sehingga harus selalu ”her”:-)) kok tidak dibangunkan, dia tidak sadar bahwa Herman mempunyai keyakinan yang berbeda dengan kami.

Yang bagi saya sedikit mengherankan adalah perilaku Ndoro Sinyo, ksatria sebelah, yang di bulan Ruwah kemarin paling semangat bertanya apakah di Ndalem KK ada kembul bujana sahur, ternyata setiap kali dibangunkan dari sarenya selalu menjawab ”sampun saur”. Lha pripun to Ndoro jane?
Satu hal yang pasti, bahwa semangat kebersamaan dan budaya kolektivitas yang dimiliki bangsa kita sebenarnya merupakan aset dan modal yang sangat berharga bagi eksistensi sebuah peradaban bangsa. Oleh karena itu, marilah kita jadikan momentum Ramadhan 1427 H kali ini untuk kembali menggalang kemanunggalan untuk menggapai manunggaling kawula Gusti.



Leluhur padha karo luhur-luhur, yaiku kang ana ing dhuwur-dhuwur. Ana sing nyebut, para eyang sing wis seda utawa surud ing kasedan jati. Wong Jawa uga ana sing nyebut, para eyang sing wis kondur ana ing tepet suci, lokabaka utawa alam kelanggengan.
bersama:
Emha Ainun Nadjib
Jose Rizal Manua
Permadi
Eep Saefulloh



Beberapa Langkah