Makan pada prinsipnya halal bagi manusia, tetapi kita diminta menahan diri untuk tidak makan semenjak terbit fajar hingga matahari tenggelam ketika kita menjalankan puasa. Begitupun minum dan hal lain yang membatalkan puasa. Tahapan puasa demikian sering disebut sebagai puasa fiqihiyyah. Tataran berikutnya tidak hanya meninggalkan hal yang dapat membatalkan puasa, tetapi lebih dari itu, meninggalkan hal yang membatalkan pahala puasa. Tataran ini sering disebut tataran uluhiyyah.
Sebagaimana sering disampaikan bahwa kebanyakan ibadah yang diwajibkan kepada manusia adalah untuk kemaslakhatan mnausia itu sendiri. Berbeda dengan puasa, bahwasanya Allah menyatakan khusus ibadah puasa adalah untuk-Nya. Hal tersebut bukan berarti bahwasanya Tuhan membutuhkan puasa hambanya untuk mengukuhkan kekuasaannya sebagai penguasa alam semesta. Ungkapan tersebut sebenarnya merupakan makna kiasan betapa Tuhan sangat ingin dekat dengan hamba-Nya dengan landasan limpahan kasih dan cinta-Nya yang tiada pernah terkira. Tuhan sedang mengungkapkan cinta-Nya, seraya seolah merendah bahwa Ia sangat-sangat membutuhkan puasa hamba-Nya.
Puasa sebenarnya mempunyai makna yang jauh lebih luas daripada sekedar menahan lapar dan dahaga. Ketika kita mempunyai keinginan memiliki sesuatu, kemudian kita berpikir untuk menangguhkan atau bahkan membatalkan keinginan tersebut dengan pertimbangan bahwa keinginan kita akan lebih cenderung mambawa kemadharatan daripada kemanfaatan terhadap kepentingan ummat, maka sesungguhnya kita tengah berpuasa. Sesuatu sebagaimana dimaksud di atas bisa berupa tindakan melakukan sesuatau, baju, mobil, rumah, wanita, kekuasaan, harta benda, pangkat dan jabatan dan lain sebagainya.
Bahkan sesungguhnya, Tuhan tidak hanya memerintahkan hamba-Nya berpuasa, tetapi Tuhan sendiripun berpuasa. Tuhan sangat-sangat menahan diri untuk melakukan tindakan pengadzaban terhadap segala perilaku manusia di muka bumi yang semakin tidak tahu diri. Tuhan senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada manusia. Tanah yang subur, kekayaan alam, lautan yang luas, bahan galian dan tambang yang melimpah semuanya diberikan kepada manusia untuk kesejahteraannya. Tetapi kebanyakan dari manusia tidak mau bersyukur dan tidak mempergunakan amanat Tuhanya untuk menciptakan kemakmuran bumi.
Manusia semakin serakah merusak alam dan tata nilai serta peradaban yang telah diwahyukan Tuhan melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Tindakan pengrusakan alam, korupsi, kolusi, nepotisme, kebohongan, kemunafikan, kesyirikan dan kemurtadan semakin merajalela. Dalam kondisi sedemikian, semestinya Tuhan bisa langsung menghukum hamba-Nya dengan menurunkan adzab dan siksa-Nya. Tetapi sampai saat ini, Tuhan sangat-sangat menahan diri untuk melakukannya, dan bukankah ini berarti Tuhan sedang berpuasa. Kita tidak bisa membayangkan sama sekali seandainya Tuhan berbuka dari puasanya. Barangkali peristiwa tsunami Aceh, gempa Jogja, letusan Merapi, luapan lumpur Sidoarjo, banjir bandhang, tanah lonsor, dan segala bencana lain yang lebih dahsyat akan segera beruntun menimpa kita. Komponen struktur alam yang selama ini diam, akan segera dengan serta merta hidup dan menyerang manusia.
Peristiwa-peristiwa besar yang wela-wela ketok mata begitu ternyata belum mampu membangkitkan kesadaran kita. Bahkan tindakan korup, perdagangan hukum dan keadilan, tindakan asusila, pornoaksi dan pornografi semakin menjadi di negeri yang katanya mayoritas muslim ini. Setoran amalan yang kita kirimkan ke langit senantiasa tindakan tercela dan penuh lumuran dosa. Ya Tuhan, semua terserah titah-Mu. Semoga senantiasi Engkau lindungi sekalian hamba-Mu yang masih mau mengamalkan ajaran-Mu.