Thursday, October 19, 2006

MAHARGYA RIAYA

SUGENG MAHARGYA

DINTEN RIAYA IEDUL FITRI

1 SYAWAL 1427 H

 

********* 

Boyo papat ning Malioboro

Sedaya lepat nyuwun pangapuro

 

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Taqaballahu minna waminkum, siyamana wa siyamakum

Mugi Gusti Ingkang Maha Kuasa kersa anampi sedaya amal kita 

Posted by Nananging Jagad at 02:11:04 | Permalink | Comments (6)

Monday, October 16, 2006

MUDIK’S THEME SONG

TULISAN TANGAN……

(Sapa bisa nembang lelagon iki)

Pangripta: Didi Kempot

Penyanyi : Didi Kempot

 

Udan-udan dalane lunyu

Lintange ndelik mbulane turu

Wayahe udan ing wanci ndalu

Nambahi kangene atiku

Swara takbir ngelengke aku

Kepingin nangis jroning batinku

Arep mulih ora duwe sangu

Sungkem rama lan ibu

 Aku sing ning paran bisaku mung kirim layang

Tulisan tangan ana ing kartu lebaran

Jane pingin mulih ing dina Fitri kang suci

Nyuwun pangaksami sdaya dosa-dosa niki

Minal aidzin wal fa idzin

Mohon maaf lahir dan batin

Posted by Nananging Jagad at 07:46:57 | Permalink | Comments (14)

Friday, October 6, 2006

RENUNGAN RAMADHAN

BAHKAN TUHANPUN BERPUASA

Sejarah peradaban manusia sebagaimana sering dipaparkan oleh para khatib atau ustadz telah memiliki tradisi puasa semenjak penciptaan sang Adam, manusia pertama. Bukankah inti daripada puasa merupakan pengendalian kenginan terhadap sesuatu yang menurut hukum dasarnya adalah diperbolehkan untuk manusia. Begitupun Adam, sebagai penghuni surga waktu itu, mempunyai kewajiban untuk mempuasai berdekatan apalagi memetik buah khuldi.

Makan pada prinsipnya halal bagi manusia, tetapi kita diminta menahan diri untuk tidak makan semenjak terbit fajar hingga matahari tenggelam ketika kita menjalankan puasa. Begitupun minum dan hal lain yang membatalkan puasa. Tahapan puasa demikian sering disebut sebagai puasa fiqihiyyah. Tataran berikutnya tidak hanya meninggalkan hal yang dapat membatalkan puasa, tetapi lebih dari itu, meninggalkan hal yang membatalkan pahala puasa. Tataran ini sering disebut tataran uluhiyyah.

Sebagaimana sering disampaikan bahwa kebanyakan ibadah yang diwajibkan kepada manusia adalah untuk kemaslakhatan mnausia itu sendiri. Berbeda dengan puasa, bahwasanya Allah menyatakan khusus ibadah puasa adalah untuk-Nya. Hal tersebut bukan berarti bahwasanya Tuhan membutuhkan puasa hambanya untuk mengukuhkan kekuasaannya sebagai penguasa alam semesta. Ungkapan tersebut sebenarnya merupakan makna kiasan betapa Tuhan sangat ingin dekat dengan hamba-Nya dengan landasan limpahan kasih dan cinta-Nya yang tiada pernah terkira. Tuhan sedang mengungkapkan cinta-Nya, seraya seolah merendah bahwa Ia sangat-sangat membutuhkan puasa hamba-Nya.

Puasa sebenarnya mempunyai makna yang jauh lebih luas daripada sekedar menahan lapar dan dahaga. Ketika kita mempunyai keinginan memiliki sesuatu, kemudian kita berpikir untuk menangguhkan atau bahkan membatalkan keinginan tersebut dengan pertimbangan bahwa keinginan kita akan lebih cenderung mambawa kemadharatan daripada kemanfaatan terhadap kepentingan ummat, maka sesungguhnya kita tengah berpuasa. Sesuatu sebagaimana dimaksud di atas bisa berupa tindakan melakukan sesuatau, baju, mobil, rumah, wanita, kekuasaan, harta benda, pangkat dan jabatan dan lain sebagainya.

Bahkan sesungguhnya, Tuhan tidak hanya memerintahkan hamba-Nya berpuasa, tetapi Tuhan sendiripun berpuasa. Tuhan sangat-sangat menahan diri untuk melakukan tindakan pengadzaban terhadap segala perilaku manusia di muka bumi yang semakin tidak tahu diri. Tuhan senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada manusia. Tanah yang subur, kekayaan alam, lautan yang luas, bahan galian dan tambang yang melimpah semuanya diberikan kepada manusia untuk kesejahteraannya. Tetapi kebanyakan dari manusia tidak mau bersyukur dan tidak mempergunakan amanat Tuhanya untuk menciptakan kemakmuran bumi.

Manusia semakin serakah merusak alam dan tata nilai serta peradaban yang telah diwahyukan Tuhan melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Tindakan pengrusakan alam, korupsi, kolusi, nepotisme, kebohongan, kemunafikan, kesyirikan dan kemurtadan semakin merajalela. Dalam kondisi sedemikian, semestinya Tuhan bisa langsung menghukum hamba-Nya dengan menurunkan adzab dan siksa-Nya. Tetapi sampai saat ini, Tuhan sangat-sangat menahan diri untuk melakukannya, dan bukankah ini berarti Tuhan sedang berpuasa. Kita tidak bisa membayangkan sama sekali seandainya Tuhan berbuka dari puasanya. Barangkali peristiwa tsunami Aceh, gempa Jogja, letusan Merapi, luapan lumpur Sidoarjo, banjir bandhang, tanah lonsor, dan segala bencana lain yang lebih dahsyat akan segera beruntun menimpa kita. Komponen struktur alam yang selama ini diam, akan segera dengan serta merta hidup dan menyerang manusia.

Peristiwa-peristiwa besar yang wela-wela ketok mata begitu ternyata belum mampu membangkitkan kesadaran kita. Bahkan tindakan korup, perdagangan hukum dan keadilan, tindakan asusila, pornoaksi dan pornografi semakin menjadi di negeri yang katanya mayoritas muslim ini. Setoran amalan yang kita kirimkan ke langit senantiasa tindakan tercela dan penuh lumuran dosa. Ya Tuhan, semua terserah titah-Mu. Semoga senantiasi Engkau lindungi sekalian hamba-Mu yang masih mau mengamalkan ajaran-Mu.


Posted by Nananging Jagad at 03:54:02 | Permalink | Comments (13)

Tuesday, October 3, 2006

MATI LAMPU

JAKARTA PUSAT NAN REMANG-REMANG

Senin malam sehabis mengikuti sholat tarawih di Istiqlal yang menghadirkan Syaikh Muhammad Syam, imam besar Masjidil Aqso Palestina, sebagai penceramah, dalam perjalanan pulang ke Ndalem KK tanpa sadar saya perhatikan Taman Monas yang gelap gulita bagai alas gung liwang liwung. Ternyata usut punya usut terdengar informasi dari sopir bus bahwa sebagian Jakarta Pusat mengalami mati lampu. Demikian pula, sepanjang Jalan Thamrin, lampu pengatur lalu lintas juga koit.

    Masuk ke kawasan KK juga mati lampu, gelap, dimana-mana gelap. Suasana tampak mencekam diiringi suara gaduh para precil yang bersenda gurau dengan teman spermainan mereka. Beberapa anak bermain mercon ipret, membuat suasana seakan akan ada kudeta militer di pusat pemerintahan republik ini. Masuk di Ndalem KK nampak si Om sedang berapi unggun ria dengan sebatang lilin di pelataran kedhaton. Suasana gelap mati lampu mengingatkan kepada sebuah lagu parodi campur sarine Mas Didi Kempot yang berjudul “MATI LAMPU”, kurang lebih begini syairnya:
       
        Pet…….lampune mati, peteng ndhedhet omah iki
        Pet…….mati lampune, teplok-teplok diuripke
        Nyamuk-nyamuk pada nyanyi, nguing-nguing terus nyakoti
        Tak inggati ketatap kursi, aduh biyung sikilku mlenthung
 
        Pet…….lampune mati, bocah-bocah padha wedi
        Pet…….mati lampune, thole nangis nggoleki mboke
        Mbah putrine grayah-grayah, mbah kakunge pingin ngopi
        Mlaku ngarep kleru mburi,
        grayah-grayah ngutahke kopi pet……lampune mati
   
        Paling enak sing lagi pacaran
        Lampune mati…….o ……mlah sun-sunan
        Paling enak, sing lagi sun-sunan
        Mati lampune pet…..mati-matian
        Anget tenan mati lampune, anget tenan mati lampune….
 
        Byar……lampune padhang, sing pacaran dha konangan (shokur)
        Byar……lampune padhang, sing sun-sunan ketok tenan
        Byar……lampune padhang, sing pacaran yo konangan
        Byar……lampune padhang, sing sun-sunan ketok tenan
        
        Modar hayyo!!!!
        
 

 

Posted by Nananging Jagad at 02:15:49 | Permalink | Comments (11)