Tuesday, November 21, 2006

LAGU KENANGAN

SEMALAM DI MALAYSIA

aku pulang
dari rantau
bertahun-tahun di negeri orang
oh, Malaysia

oh, dimana
kawan dulu,kawan dulu, yang sama berjuang
oh, Malaysia

kekasih hatipun telah pula hilang
hilang tiada pesan
aduhai nasib
apakah daya
cita hampa
jiwaku merana
mana dinda

inilah kisahku semalam di Malaysia
diri rasa sunyi
aduhai nasib
apakah daya
aku hanya
seorang pengembara
yang hina

 

 

 Akhire aku pulang ke alam semula……………INDONESIA.

Posted by Nananging Jagad at 07:11:20 | Permalink | Comments (13)

Saturday, November 11, 2006

Tempat Melancong

Budaya
Muzium Islam Melaka

Muzium Islam Melaka terletak di Jalan Kota, hanya beberapa minit berjalan kaki dari The Stadthuys. Di hadapannya adalah Ibupejabat Polis Kontinjen Negeri Melaka.

Muzium ini terletak di bangunan tiga tingkat yang dibina pada tahun 1850 untuk mencatat pembangunan Islam di Semenanjung dan di rantau Asia Tenggara. Bangunan ini telah diwartakan sebagai antikuiti oleh Akta Antikuiti 1976.

Di Muzium ini, terdapat 8 buah ruang pameran, setiap satunya mempunyai tema tersendiri. Bahan pamerannya yang disusun mengikut kronologi memberi pelawat perspektif ringkas tentang kedatangan Islam di Melaka dan bagaimana ia tersebar ke seluruh negara. Ia juga menunjukkan hubungan Melaka dengan pusat Islam yang lain seperti China, India, negara-negara Arab dan Asia Tenggara.

Di antara bahan pameran yang ada disini termasuk kitab suci Al-Quran yang bersaiz besar dimana setiap hurufnya adalah sebesar empat hingga lima inci. Juga terdapat salinan Al-Quran dalam bahasa Mandarin dan juga Al-Quran yang ditulis dengan tangan serta buku-buku yang diterbitkan mengenai Islam.

Di salah sebuah ruang pameran ini terdapat artifak Islam seperti kotak mempamerkan keris yang diukir dengan ayat-ayat suci Al-Quran, wang syiling dan senjata yang diukir dengan kaligrafi khat dan ayat-ayat suci Al-Quran.

Terdapat juga pinggan porselin dari Belanda yang diukir dengan tulisan islamik yang menceritakan tentang pendudukan Belanda di Melaka.

Di ruang pameran lain, terdapat lukisan masjid-masjid yang ada di Melaka termasuk Masjid Peringgit yang dibina pada tahun 1720.

Turut dipamerkan di sini ialah seni ukiran kayu yang menonjolkan kehalusan kaligrafi Islam yang memberi bukti bahawa kemahiran pengukir-pengukir Islam pada masa dahulu. Berdiri megah di kawasan muzium ini adalah batu bersurat yang ditulis dalam bahasa Arab yang menceritakan bahawa agama Islam merupakan agama rasmi seorang pemimpin Melayu di semenanjung pada abad ke-13. Banjir besar telah menemukan batu yang mempunyai ketinggian dua kaki di satu tempat hampir 32 batu daripada Kuala Terengganu pada tahun 1902. Sebuah batu bersurat lagi telah di temui di Pasai, Aceh yang dikatakan merupakan batu nesan pemimpin Islam iaitu Sultan Malik Al’ Salih yang telah mangkat pada tahun 1297.

Kenderaan Awam
Bas Bandar No 17
Bas Syarikat Kenderaan Aziz (SKA)
Teksi dan beca

Waktu Beroperasi
Ditutup pada hari Isnin

Muzium Islam Melaka
Perbadanan Muzium Melaka
Jalan Kota, 75000 Melaka

Tel: 06 282 2973
Faks: 06 282 6745
Emel: admin@perzim.gov.my
www.perzim.gov.my

Posted by Nananging Jagad at 01:01:25 | Permalink | Comments (10)

Wednesday, November 1, 2006

HIKMAH SYAWAL

SUCI DALAM DEBU

Hari Raya Idhul Fitri merupakan momentum yang sangat membahagiakan bagi kami, warga lereng Merapi. Bukan karena merdikonya kami dari kewajiban segala ritual di bulan Ramadhan, tetapi bagi kami lebaran merupakan waktu yang dinanti-nanti untuk ujung, ngaruhke lan sungkem kepada para sesepuh dan sanak kerabat. Dengan ujung, tali silaturahim senantiasa diperbaharui dan dilahirkan kembali, silsilah kekerabatan dipernahke, dijernihkan dan didongengkan kepada anak cucu kembali. Tak heran jika orang-orang desa kami selalu menyambut llebaran dengan suka cita dengan kegiatan bersih rumah dan kampung, dan yang tidak ketinggalan, membuat makanan hidangan khas lebaran untuk para kerabat yang akan datang.

Menurut cerita simbah, silaturahim harus senantiasa dipupuk, dan momentum lebaran dijadikan wahana untuk saling mengunjungi dan memohon maaf. Terkadang saya juga tidak habis pikir, lha wong sesama saudara tidak pernah ketemu, e…..ketika ketemu di hari raya, langsung saling minta maaf atas kekhilafan. Apakah mereka sempat saling membuat kesalahan, padahal mereka tidak pernah bertemu sepanjang tahun? Barangkali itulah yang namanya kebesaran jiwa, biso rumangso lan ojo rumongso biso sebagaimana diajarkan oleh para sesepuh dulu.

Hari Idul Fitri tahun ini sedikit kurang semarak dikarenakan adanya “dua hari raya “. Bagi warga dusun saya, rumus sakti yang dipakai untuk menentukan lebaran yang berbeda hari adalah dengan mengikuti hari raya yang lebih awal, tidak perlu susah-susah mikirnya, praktis wae. Di samping itu, tahun ini juga sedikitnya pihak berwajib memperkenankan beredarnya obat long(mercon), membuat suasana kurang gempita dengan ledakan petasan. Demikian juga para pemuda kampung juga jarang yang sempat membuat balon raksasa dari plastik maupun kertas wajik bandung. Namun demikian lebaran harus tetap dirayakan.

Yang menjadikan keprihatinan para warga dusun adalah suasana lebaran di tengah kemarau panjang yang membuat paceklik kawasan tempat tinggal kami, ditambah masih berterbangannya abu vulkanik akibat letusan Merapi beberapa waktu lalu yang masih melekat di dedauanan dan genteng rumah warga, yang hingga saat kini belum tersapu oleh air hujan yang tak kunjung tiba. Sungai kering, sumur kering, sawah dan ladangpun kering kerontang. Sawah bapak yang hanya beberapa petak di ngarep dan wetan ndeso dibiarkan saja bero tanpa tanaman sambil menunggu turunnya hujan.

Meski dalam suasana jalanan yang mabluk, membuat pedih kelopak mata, tidak menyurutkan warga desa untuk saling bepergian ujung kepada sanak saudara. Ujung merupakan ritual wajib yang harus kami jalani, yang menurut Pak Kiai di mesjid kami bisa memudahkan rejeki dan memanjangkan umur bagi siapapun yang menjalankannya. Bersihnya hati dengan saling memaafkan dan tersambungya persaudaraan merupakan harta termahal yang tidak boleh hilang begitu saja. Meskipun baju bluthuk karena terkena abluk jalanan yang terik, tak menyurutkan langkah kami. Suci dalam debu, barangkali perupamaan kami. Biar secara fisik rambejaji, namun kami berharap hati kami terlahir kembali menjadi fitrah yang suci.

Tidak kurang dari dua puluh saudara saya kunjungi setiap harinya, mulai budhal dari rumah jam 09.00 pagi hingga Maghrib menjelang. Begitupun bapak saya di rumah senantiasa kedatangan saudara tak kurang dari 100 orang per harinya, yang sowan untuk menyampaikan sungkem pangabektennya. Lebaran senantiasa menjadi lahan panenan bagi anak-anak yang pasti senantiasa mendapatkan bebungah dari para simbah, sekedar buat uang jajan. Tak heran seperti Citra, keponakan saya, yang bisa mengantongi kekucah sampai Rp.65.000 di hari lebaran pertama. Akankah tradisi yang adiluhung ini bertahan oleh desakan arus gombalisasinya dunia edan?
Posted by Nananging Jagad at 08:05:48 | Permalink | Comments (8)