Tuesday, December 26, 2006

SAKWETARA NING NDESA

MUDIK II

Sengaja wektu seminggu ing akhir taun iki aku cuti seko penggaewanku ning Njakarta. Niatku arep mberesi penggawean ngomah sing lagi nglekasi mangsa ceblok pari. Bapak, simbok, adi2ku lan tangga teparoku katon sumringah ngerteni aku mrei rada sakwetara wektu. Iki sengaja tak rewangi medun ning kuthagara sak perlu andum crita ro kadang sutresna sedaya.

Ing tlatah sak kiwa tengene Mrapi saben dina tansah diguyur udan kang njalari anane banjir lahar seko material Mrapi minangka turahan muntahan nalikane gunung kuwi njebluk tengah taun kepungkur. Panen pasir kanggone kanca2 penambang pasir kang saben ndinane bisa panen 80-100 ewu. Emane ora akeh wong seko ndesaku kang melu panen mau, mergo pancene papan penambangan mau rada adoh.Kejaba kuwi nmasyarakat ing kampungku rata2 penggaweane dadi tani.

Banyu udan kang wis turah2 ndadekake para kadang tani sengkut menyang sawah lan mangsa angkler langsung kawiwitan. Rabeda wong tani liyane, Bapak yo wis lekas ceblok tanduran pari ning sawah ngarep desa. Saiki mung gari ngupakara lan sithik ngrabuk tanduran mau. Yen tak bayangke, wong tani ing negara iki sak hohah jumlahe kok nganti ana crita kekurangan pangan ki yo jeneng mokal, ora ketemu nalar. Kejaba nandur pari, tanin ing desaku uga pada sengkut nandur werna2 sayuran,  kayata lombok, tomat, kacang lanjaran, pare, lobis lan liyane.

Kejaba tanduran sawah lan tegalan, ing ndesaku uga akeh tanduran salak, jenis pondoh lan lumut. Tegalanku dhewe sing rada  cengkar saiki wis ditanduri salak kabeh, ana mbok menawa 1500 wit. Rabeda yen aku bali mesti tak legake andrawina ning kebon, Jebul saiki wis wiwit mangsa kembang lan sedela meneh bakale panen raya. Dina mbaka dina mung tak entekke wektu ngopeni tanduran salak mau, seko maprasi godhonge, matuni lan ngaleni. Sanajan awak kesel, pegel lan lungrah kabeh, mergo wis suwe ora kulina nggota, ning saajak ati bungah ndeleng tanduran ijo royo-royo. Yen wis ngono njur lali ro Njakarta, terus dadi mikir “ngopo adoh2 ngglidik ning Njakarta?” yen sejatine ketentreman kuwi dumunung ing ngendi papan ngendi panggonan.

Mula sejatine, aku ngrasaki urip sakwutuhing urip ki yo yen ning ndesa. Tansah ayom, ayem, tentrem lan kerta raharjo……Muga wae sakwijining dina aku bisa bali kanggo saklawase.

Posted by Nananging Jagad at 03:31:22 | Permalink | Comments (8)

Thursday, December 21, 2006

MANGAYUBAGYA

IBU…………….

Mengenang sebait tembang,

 

RIBUAN KILO JALAN YANG KAU TEMPUH,

LEWATI RINTANGAN UNTUK AKU ANAKMU,

IBUKU SAYANG MASIH TERUS BERJALAN,

WALAU TAPAK KAKI PENUH DARAH PENUH NANAH,

SEPERTI UDARA KASIH YANG ENGKAU BERIKAN,

TAK MAMPU KU MEMBALAS,

IBU…………..IBU……………

INGIN KUDEKAP DAN MENANGIS DI PANGKUANMU,

SAMPAI AKU TERTIDUR BAGAI MASA KECIL DULU,

LALU DOA-DOA BALURI SEKUJUR TUBUHKU

DENGAN APA MEMBALAS,

IBU…………..IBU………………

 

Akhire sido mulih MBOK…………..!!!!!!!!!

Posted by Nananging Jagad at 13:46:53 | Permalink | Comments (16)

Friday, December 15, 2006

ANJANGSANA

MBAH RAMIDJAN van GEJUGAN

Minggu kemarin saya diajak seorang priyagung tetangga kampung untuk mengunjugi Mbah Ramidjan van Gejugan di gang Lontar kawasan Lenteng Agung. Simbah ini sebenarnya bukan saudara atau kerabat saya. Sang Simbah pada dahulu kalanya berasal dari dusun Gejugan tetangga dusun saya. Barangkali kesamaan asal-usul inilah yang membuat “garis kekerabatan khusus” diantara kami. Mbah Ramidjan memang lain dengan Mbah Maridjan, sosoknya tambun dan nampak semakin uzur meski baru memasuki usia enam puluhan.

Simbah dulu pertama kali datang ke Njakarta di tahun 70-an sebagai seorang staf administrasi di Depdikbud. Di tahun 2000 kemarin, Simbah memasuki masa paripurna pengabdiannya sebagai punggawa negara. Ketiga putranyapun sudah memasuki dunia kerja dan masing-masing telah berkeluarga, sehingga tinggallah Sang Simbah sekalian Mbah Putri tinggal di ndalem sederhananya. Memang Simbah sebagaimana di setiap kesempatan kondurnya, senantiasa menjadi simbol seseorang yang telah berhasil menundukkan Njakarta mengangkat derajat hidupnya, meskipun jiwanya tetap prasojo.

Pertemuan kami dimulai dengan berbasa-basi memperkenalkan diri lagi karena Simbah sudah sedemikian lupa dengan kami, karena setiap kali Simbah pulang mudik tidak menjumpai kami, dan beliau hanya mengenal kami dari cerita orang tua-orang tua kami. Memang Simbah sendiri tidak mesti dua-tiga tahun sekali pulang ke dusunnya. Namun demikian setiap pulang, pasti beliau menyempatkan diri untuk beranjangsana ke beberapa kenalan di dusun saya dan pasti menemui Bapak.

Obrolan kemudian berlanjut dengan pertanyaan Simbah yang nanjehke kabar kakak-kakanya yang masih tinggal di dusun. Sang priyagung teman saya yang sering manjawab soal itu, karena dialah yang masih menetap di rumah dan lebih mengetahui kondisi aktual yang ada. Nampak sekali roman muka Simbah yang nampak terharu mendengar cerita tentang kampung halaman yang sekian lama ditinggalkannya. Barangkali memang begitulah keadaan seseorang di perantauan, ketika dimensi jarak dan waktu telah menghempaskannya ke sisi dunia yang lain atas nama mencari pengupa jiwa.

Ketika sedikit saya singgung, kenapa Simbah tidak pulang saja kembali ke dusun untuk nentremke jiwa di masa senja usianya. Simbah menjawab bahwasanya semua hak milik dan harta benda yang diwariskan oleh kedua orang tuanya sudah bukan lagi menjadi miliknya karena sudah diliru oleh saudara-saudaranya. Oleh karena itu, seandainya beliau harus pulang, lantas mau tinggal dimana dan mau ngapain. Atau mungkin juga Simbah sudah demikian menyatunya dengan bumi Njakarta, dan mungkin baginya dimanapun bumi dipijak di situlah langit akan dijunjungnya.

Terkadang saya juga jadi ikut mikir, nasib saya sebenarnya tak beda jauh dengan Simbah. Sayapun atas nama nasib dan luru pangupa jiwa, ikut-ikutan mengadu nasib dan nyasar di bumi Betawi ini. Namun sampai saat ini, saya masih belum dapat memahami hakekat ketersesatan saya ini. Ataukah kota ini memang ditakdirkan untuk menjadi paraning hidup saya? Tapi yang jelas sampai saat ini saya tidak sepenuhnya bisa menjiwai menjadi orang Njakarte, dan sebagaimana ungkapan Ndoro Sinyo van mBangsari, tetap bercita-cita suatu saat nanti saya harus kembali ke dusun terpencil saya di lereng barat Merapi. Roda nasib memang harus terus berputar, dan saya termasuk yang belum bisa memahami dimana awal dimana akhir, dimana sama dimana beda, dimana sangkan dan dimana paraning dumadi.

 

Posted by Nananging Jagad at 08:23:35 | Permalink | Comments (6)

Monday, December 11, 2006

PANGGILAN DARI GUNUNG

REUNI PARA PRIYAGUNG

Jum’at minggu kemarin Ndalem KK kedatangan tamu priyagung dari kampung, seorang tetangga rumah. Kedatangan sang priyagung sekedar andrawina, dolan-dolan jajah kutha nlisih kahanan donya. Tris, priyagung saya ini, putra pertama Lik Wandi, tetanggaku yang beberapa tahun silam pernah merantau di Bekasi sebagai buruh pabrik kontrak, dan kini ia ditugasi untuk ngemong kedua orang tuanya yang semakin renta di kampung selepas sang adik semata wayang ngayahi jejibahan sebagai bebentenging negara, menjadi tentara di perbatasan rimba Papua.

Sehari-semalaman kami habiskan waktu sekedar ngobrol, nanjehke kahanan ndesa tempat tinggal kami yang dua bulan lepas tidak pernah lagi kudengar kabarnya. Cerita dimulai dari meninggalnya Mbokdhe Sul akibat serangan tetanus sepuluh hari selepas riaya, dan yang membuat bertambah sedih kematian tersebut disusul oleh Mbah Sito, ibu dari Mbokdhe Sul, yang meninggal selang seminggu kemudian. Dengan demikian Pakdhe Yahman harus semakin berlara lapa dalam menjalani hidupnya seorang diri di rumahnya.

Sang priyagung melanjutkan dengan kabar beberapa kerabat dan tangga teparo yang tengah sakit, seperti simbok saya sendiri yang sudah satu minggu ini tidak beranjak dari peturon karena kelelahan yang mendera, dan mungkin akibat kejengklak di galengan beberapa waktu lalu ketika beliau tengah nggendong salak dari sawah, hal tersebut telah menyebabkan tekanan darahnya menurun drastis hingga mencapai titik 60. Lik Irah, seorang tetangga masih menggendong sebelah tangannya akibat terjatuh dari motor ketika diboncengkan Kang Samat sehabis memanen kacang panjang di sawah ngarep Pelas di pertengahan puasa kemarin. Mbah Kromo dan Lik Pingah juga masih belum tuntas penyakitnya sehingga masih harus terus kontrol ke Puskesmas dan mesti rutin minum obat.

Cerita kemudian berlanjut ke datangnya musim hujan di lereng Merapi yang senantiasa menjadi dambaan para kadang tani. Ketika lebaran kemarin saya mudik, keadaan desa begitu bero, di sana-sini kebanyakan sawah dianggurkan karena ketiadaan air irigasi. Kondisi tersebut ternyata pada saat ini belum begitu berubah, karena meski beberapa kali diguyur hujan namun belum mampu mengalirkan air di sungai-sungai sekitar dusun kami. Itu artinya harapan untuk segera nglaboh, menanam padi di sawah-sawah kami masih tertunda sesaat.

Dongeng kemudian berlanjut mengenai aktivitas sosial kemasyarakatan dusun kami. Berawal dari kegiatan masjid dan TPA kami yang mengalami pasang surut didera badai modernisasi. Bagaimana kepedulian orang tua muda sekarang begitu rendah tanggung jawabnya dalam membina dan mendidik, paring tuladha, kepada anak-anaknya untuk belajar dan beribadah di mesjid. Beberapa anak masih setia ngaji ke Kyai Abu Hasan di Pesantren Al Umar, meski madrasah kami terpaksa tutup karena ketiadaan guru pengganti setelah sang pengampu pensiun dari tugasnya. Pengajian selapanan tingkat kelurahan di setiap hari Ngad Wage sudah tidak berjalan lagi, meski pengajian rutin di Mts tiap Ngad pagi masih rutin terselenggara.

Beberapa tradisi untuk forum diskusi warga sebagai arena musyawaroh, seperti pertemuan selapanan malem Ngad Pon di rumah Pak Bayan sudah demisioner. Arisan para taruna muda tinggal sebagai ajang setor arisan saja. Di kalangan para ibu-ibu, pertemuan dasa wisma makin terseok-seok perjalanannya. Apa yang terjadi dengan dusunku?, dengan masyarakat dan rakyatku?, dengan para pamong dan prabotku?, dengan…….dan dengan ……yang lainnya???

Kisah-kisah tersebut membuat hati saya trenyuh dan bertekad untuk lebih sering lagi ngrungoke swaraning sepi wong cilik di pelosok gunung. Itu artinya saya harus mengatur waktu saya untuk sering ngarohke sedulur-sedulur tersebut, minimal menyapa dari jarak jauh melalui tali roso yang ada kalaupun tidak bisa secara rutin hadir di tengah mereka. Duh Gusti mugi Paduka paringi kekiyatan……..

Posted by Nananging Jagad at 05:37:40 | Permalink | Comments (10)

Wednesday, December 6, 2006

RENUNGAN KEMBALI

OJO GUMUNAN, OJO KAGETAN

Ungkapan tersebut barangkali sangat tepat untuk menyikapi berbagai warta kekagetan nan super heboh yang belakangan ini menghiasi media kita. Dikatakan super heboh karena warta tersebut menyangkut “ta” yang terakhir dari trilogi “tiga ta” (harta, tahta, dan wanita) yang disebut-sebut dalam berbagai referensi primbon sebagai godaan terberat sekaligus penghancur peradaban bumi manusia apabila salah mengempan papankannya.

Pertama barangkali kisah menikahnya seorang da’i kondang Aa Gym untuk kedua kalinya. Beliau dikabarkan telah merabi lagi seorang janda beranak tiga sekitar pertengahan Ramadhan lalu.

Barangkali dengan pilihan poligami yang ditempuh Beliau, akan menjadi suatu referensi baru bagi para lelaki yang pingin rabi lagi, Meskipun telah dinyatakannya bahwasanya keputusan yang diambil tersebut merupakan hal yang telah dipikirkan secara masak dan panjang, serta dengan persyaratan yang sangat berat untuk dipenuhi. Persyaratan yang dimaksud adalah kemampuan sang suami untuk bersikap adil serta restu atau iikhlasnya pihak istri pertama. Oleh karena itu, orang atau pihak suami lain yang mempunyai niat untuk poligami jangan semata-mata anut grubyuk, mengekor dan menirunya, karena nantinya yang didapat bukannya sakinah malahan musibah. Ini bisa berarti bahwa sang Beliau telah yakin bahwa dirinya merupakan sosok suami yang mampu berbuat adil dan orang lain belum tentu bisa seperti dia dan apa yang dilakukannya semata-mata mencari ridlo Awwoh.(Betul begitu???)

Pendapat saya pribadi, sebenarnya sangat menyayangkan tindakan tersebut, karena Beliau sebagai seorang tokoh agama yang menjadi panutan dalam setiap ucapan dan perbuatannya sebegitu mudahnya mengambil keputusan yang sangat kontroversial. Hal yang kemudian menjadi korban dalam kasus ini adalah munculnya persepsi di masyarakat bahwa “Islam ki yo mung ngono kuwi jebule”. Nampaknya tidak ada lagi hal yang nyenengke lan nentremke untuk dilihat dari profil Islam. Dan ini berarti Beliau telah mengorbankan dakwah dan citra Islam yang tengah tertatih-tatih untuk membuktikan dirinya sebagai rahmatan lil ‘alamin. Da’i tiada beda jauh dengan selebritis, hanya mencari popularitas dan ujung-ujungnya keuntungan pribadi.

Di sisi lain, pernah dalam kesempatan ceramahnya Beliau dintanya soal poligami dan menjawab bahwasanya meskipun hal tersebut dibolehkan oleh Awwoh, namun persyaratannya sangat berat dan Beliau menegaskan bagi dirinya istri satu saja tak habis-habis kok mau nambah. Ini berarti sudah terjadi ketidakkonsistenan ucapan seorang da’i yang mestinya bisa amanah berbicara. Ataukah sekarang filosofi Beliau telah berubah menjadi “istri satu saja tidak habis-habis, apalagi dua, tiga, empat……..”

Cerita kedua, sudah tentu mengenai skandal jepitnya seorang wakil rakyat sekaligus penggede elit partai angkel GORKAL. Lagi-lagi sangat disayangkan, sang tokoh yang mamtan aktifis HMI dan mengetuai bidang kerohanian terjerumus dalam perbuatan maksiat. Dan lagi-lagi juga yang menjadi korban, ketiban pulung menerima citra dan stigma negatif adalah agama Islam.

Jaman barangkali memang tengah memasuki era kalatida setelah sebelumnya didahului kalabendu. Dan sikap kita menghadapi keadaan tersebut, sebagaimana diwariskan para pinisepuh kita, adalah ojo gumunan lan ojo kagetan. Para era jaman ini, Tuhan akan secara pelan namun pasti akan menampakkan kasejatene kang sejati, akan terlihat endi wingko endi kencono, akan nampak wujud asli dari semua sifat manusia. Ojo gumunan mengandung makna agar kita jangan menjadikan hal fisik, formalitas dan penampilan luar sebagai acuan dan standar dalam kehidupan dunia yang fana. Jangan mudah tertipu oleh hal-hal yang bersifat sementara dan kamuflase, kita harus lebih banyak belajar mengenai hakekat dan kesejatian hidup. Ojo kagetan berarti dalam menyikapi hal-hal yang aneh kita harus mengambil sikap yang wajar dan bijak untuk mengambil hikmah dari suatu peristiwa. Sak beja-bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan wasapda. Waspadalah…………….waspadalah…………………..
Posted by Nananging Jagad at 08:27:52 | Permalink | Comments (17)