SAKSI SOPIR TAKSI
Kamis petang, 22 Juni 2006, aku bersama seorang rekan meluncur menumpang sebuah taksi dari Tunjungan Plaza menuju Terminal Bungurasih, Surabaya. Sang pengemudi taksi menawarkan apakah kami ingin menempuh jalur biasa dimana pada jam-jam segitu sering macet atau melewati tol masuk di gerbang Pasar Turi. Akhirnya kami memilih lewat jalur tol agar perjalanan lebih cepat.
Sedikit basi-basi kupancing pembicaraan dengan menanyakan kabar terakhir luapan lumpur panas di Porong kepada Pak Sopir. “Wah makin parah Mas, sekarang tol km 37-38 sudah diblokir dan hanya kendaraan beroda tinggi boleh lewat pelan”, jawabnya. Ia kemudian melempar sebuah argumentasi bahwa kondisi tersebut dikarenakan “Yang ngecet lombok abang” lagi serius marah(dia mencoba mempersonifikasikan Tuhan secara lebih membumi dan akrab). Tak jauh dari lokasi sumur pengeboran PT Lapindo Brantas, pabrik tempat “Sang Pahlawan Buruh” Marsinah kebetulan berada. Barangkali karena banyak oknum di sekitar lokasi banyak yang terlibat kasus tersebut sehingga menjadikan kasus itu menjadi abadi tak pernah tersentuh keadilan tangan hukum. Dan ketika Tuhan membalas tindak ketidakadilan terhadap suatu kaum, maka yang terkena dampak adalah semua penduduk tanpa pandang bulu.
Komentar terakhir
Bisa b
Aku ini durung sempat mampir