Tuesday, January 30, 2007

KONSERVASI PANTAI

PERMASI

Perhimpunan Masyarakat Konservasi

Sekejap mata saya terhenyak dari tidur yang lelap selepas lingsir wengi semalam. Berita heboh tentang kejadian gempa Manado berskala 6,5 skala Richter memang telah mengantarkan saya terlelap dalam dunia mimpi yang nggegirisi, sehingga tak berapa lama saya merasakan tindihen oleh kilatan kisah mimpi nan ngeri, hingga saya tergagap seketika dari tidur gelisah tersebut. Rupanya tv di ruang saya masih menyala dan rupanya sedang memaparkan cerita menarik tentang kawasan Pantai Wedhi ombo.

Pantai Wedhi ombo merupakan salah satu kekayaan obyek wisata di kabupaten Gunung Kidul, tepatnya terletak di desa Jepitu Kecamatan Girisubo. Dulu kawasan ini secara administratif merupakan bagian dari kecamatan Rongkop, dan setelah terjadi pemekaran kecamatan di tahun 2001, bergabunglah menjadi sebuah kecamatan baru bernama Girisubo. Mengapa kisah mengenai pantai tersebut menjadi daya tarik bagi diri saya? Pertama karena saya pernah merasakan tinggal di sekitar kawasan tersebut, tepatnya di desa Giripanggung Kecamatan Tepus, selama kurang lebih dua bulan di pertengahan tahun 2000 dalam rangka SIBERMAS, Sinergi Pemberdayaan Masyarakat, sebuah program kerjasama antara ADB dan LPM UGM.

Daya tarik desa terpencil tersebut juga tak lepasa dari keberadan sosok Mbah Tomo yang konon merupakan salah satu guru spiritual Presiden Soekarno yang sampai saat ini masih segar bugar. Dan konon para ahli waris Soekarno, termasuk Megawati masih sering mengunjungi sang Simbah.

Kedua memang tertarik dengan liputan berita yang mengisahkan tentang sekumpulan anak muda yang merasa prihatin akan kelestarian lingkungan hidup sekitar pantai Wedhi ombo yang telah mengalami degradasi beberapa tahun terakhir ini. Pantai tersebut merupakan pantai teluk yang tersusun dari batuan karst khas deretan Pegunungan Sewu yang secara geologist diduga sebagai hasil evolusi morfologis batuan karang dasar laut yang terangkat ke atas oleh gaya endogen menjadi permukaan darat. Pantai ini merupakan pantai fyord yang merupakan tebing tinggi nan terjal dan berkelok. Yang unik di sana terdapat batuan berbentuk kipas raksasa yang tampak indah dipadu dengan goresan jingga di cakrawala langit setiap menjelang senja hari. Pantai Wedhi ombo juga merupakan salah satu pantai berpasir putih di Gunung Kidul selain Krakal di sebelah baratnya. Kawasan pantai ini juga merupakan habitat monyet ekor panjang yang saat ini sering mengganggu tanaman pertanian petani akibat kerusakan hutan habitat asli mereka.

Liputan utama warta tersebut terfokus pada kegiatan kelompok relawan beberapa anak muda setempat yang diprakarsai oleh Mbah Sutadi yang tergabung dalam PERMASI(Perhimpunan Masyarakat Konservasi). Tujuan paguyuban tersebut adalah melakukan konservasi terhadap kawasan pantai sepanjang sekitar 10 km. Kerusakan utama pantai disebabkan oleh abrasi gelombang laut yang mengakibatkan daratan semakin terkikis dan merusak kawasan hutan pantai. Disamping itu ulah para pengunjung pantai yang seringkali membawa pulang pasir ataupun batuan pantai sebagai “souvenir”.

Kegiatan yang dilakukan oleh PERMASI adalah merintis pembibitan tanaman pantai untuk mereklamasi dan menghijaukan kembali kawasan pantai. Bibit yang ditangkarkan diantaranya tanaman pandan, sengon laut, bakau, ipik, akasia dan tanaman khas pantai yang lain. Disamping upaya penghijauan, kelompok tersebut juga secara bergiliran malakukan piket penjagaan pantai untuk mengingatkan pengunjung agar jangan melakukan hal-hal yang dapat merusak kelestarian lingkungan hidup. Luar biasa memang yang dilakukan rekan-rekan tersebut, mereka membiayai sendiri kegiatan mereka dari swadaya masyarakat setempat dan tanpa mengharapkan imbalan dari siapapun, terlebih dari pemrentah.

Selain pantai keindahan wisata pantai, kawasan tersebut juga menyimpan potensi keindahan alam bawah tanah berupa keberadaan gua atau luweng, istilah masyarakat setempat. Daya tarik yang lain di kawasan tebing Ngungap, dimana warga sekitar pada bulan-bulan tertentu melakukan pemanenan sarang burung walet secara tradisional di tebing bibir pantai selatan yang ganas gelombang lautnya tersebut.

Siapa ingin kesana?Ikuuuuuuuuut…………………….

Posted by Nananging Jagad at 06:25:27 | Permalink | Comments (7)

Wednesday, January 17, 2007

PLESIRAN BOCAH GUNUNG

Tour de Djakarta,

        Dua hari berturut-turut ini serombongan siswa sebuah SMP dari lereng Gunung Merapi sejumlah tiga buah bus berdarma wisata di ibukota Njakarta Hadiningrat. Bagai melakukan ritual “angon bocah” sejumlah guru turut mendampingi rombongan tersebut. Saya yang sudah beberapa tahun ini terbuang dari kumpulannya, ikut ngenger ngudi upo di ibukota, kemarin petang kedhapuk untuk bertemu mereka di Wisma PHI Cempaka Mas.

          Pertemuan tersebut sekedar tombo kangen dan ngaruhke beberapa siswa yang kebetulan tetangga sebelah rumah di Ndalem Kronggahan. Si bocah gaul Hendi, anaknya Lik Hari terlihat surprise menjumpai saya di ruang depan wisma. Hendi adalah sebagian aset dusun kami yang telah ikut tergilas gelombang modernitas yang melanda pelosok gunung melalui tayangan sinetron bubrahnya. Hal tersebut dapat saya amati dari cara si bocah berpakaian dan potongan rambutnya yang disisir jari semi ngepang, menjulang vertikal bak penangkal petir.

           Hendi merupakan bocah yang longgor, ukuran tubuhnya subur untuk anak seusianya. Yang agak nyentrik lagi adalah kemampuan berpikirnya yang sangat jauh di bawah teman-temannya. Suata hari ketika dia baru memasuki sekolah barunya yang lumayan jauh dari dusun kami, sekitar 3 km, yang biasa ditempuh orang dengan by sikil, sepulang jam sekolah ketika mau pulang dia lupa jalan. Dia hanya mengikuti seseorang di depannya, hingga sampai ke dusun lain di seberang sungai Putih. Akhirnya dia hanya mringis karena kesasar tak tahu arah. Seorang petani di tepi jalan kemudian menanyainya, dan atas jasa baiknya diantarlah si Hendi pulang.

            Dia selalu nglucu, kalau menjawab soal ulangan yang tak bisa dijawabnya. Siswa lain barangkali kalau tidak bisa menjawab soal hanya mengumpulkan lembar jawaban kosong. Lain halnya si Hendi, dia akan meracau menulis seenak perutnya hingga membuat sang guru mrengut memikirkan tingkahnya. Seringkali dia menulis, “jawabe opo hayo bu guru?”,”yang bener si anu dan si ani pasti sering ihik…ihik”, atau “ah soal begini kok diteskan to?”, dan kadang tak jarang muncul ideom saru tumpahan curahan otaknya. Hal itulah yang menyebabkannya menjadi langganan tamu guru BPne. Kasihan memang….catatan akademiknya begitu memprihatinnya, sehingga sebenarnya dia seringkali tak layak untuk naik kelas. Lik Irah, ibunya seringkali bercerita kepada saya, bila satu waktu kebetulan saya pulang kampung.

            Cerita para bocah kemarin diwarnai oleh kegumunan mereka mengenai Jakarta. Jalan-jalane, gedung-gedunge, air mancur, Monas, taman mini, Ancol dll. Hal ini memang tak beda dengan diri saya yang selalu nggumun akan Njkarta, bahkan sampai saat ini. Bagi kebanyakan anak kampung, Njakarta terlalu mewah dan glamor, mereka kadang tidak pernah berpikir bahwa Njakarta banyak menyimpan berjuta masalah sosial dan moral. Kota ini tidak ada apa-apanya dengan ketentraman hidup yang selama ini direguknya dalam kesejukan alam Merapi.

Donya pancen tan kena kinira…………ampun pemrentah!!!! 

Posted by Nananging Jagad at 06:13:35 | Permalink | Comments (10)

Monday, January 15, 2007

HANTU DALAM KAYU

Dedicated for Mas Joko

        Salah satu sifat Allah adalah esa, atau tunggal, dalam teori fiqih disebut wahdaniyah. Oleh karena itu merupakan suatu kemustahilan jika dikatakan Tuhan berbilang atau lebih dari satu. Jika tuhan seseorang banyak, berarti dia memiliki tuhantuhantuhantuhantuhan……..jadilah hantu, kata sang begawan filsafat Damardjati Supadjar.

        Suatu malam Jum’at Kliwon dalam suatu sarasehan perbincangan di Ndalem KK, pembicaraan terseret arus suasana ke sekitar dunia perhantuan. Hantu sebenarnya satu konsep teoritis yang sudah eksis semenjak jaman klenik ala nenek moyang dulu, meskipun secara metodologis sulit dicerna dan dibuktikan secara ilmiah, namun sebagian orang mempercayainya sebagai suatu realitas dunia lain.

        Pembicaraan bermula dari pancingan saya bahwa di Ndalem KK, khususnya bilik ksatriyan di gandok utama, terdapat mitos keberadaan hantu, meskipun saya yang telah menempatinya selama dua tahunan tidak pernah sekalipun menemuinya. Mas Joko, yang kala itu baru semingguan menjadi ksatria baru di Ndalem KK, kemudian terhanyut untuk kemudian menuturkan pengalamannya melewati “malam pertama” di biliknya.

        Alkisah di tengah malam, Mas Joko sulit untuk memejamkan mata, padahal badannya sudah didera kelelahan yang teramat sangat. Balik kanan, balik kiri, guling kanan, guling kiri, namun tetap sulit untuk tertidur. Akhirnya dia memiringkan badan ke arah tembok, dengan salah satu telinga terganjal di atas bantal. Mendengarkan swaraning asepi barangkali itulah yang coba dilakukannya.

Tiba-tiba radar telinganya menangkap suara aneh……”krek…..krek….krek….kriuk….kriuk”. Degub jantungnya bertambah kencang oleh rasa mencekam dalam batinnya. Sejam dua jam suara tersebut terus berlangsung. Dengan mengumpulkan rasa keberaniannya, Mas Joko menengok ke kolong peraduannya. Tak terlihat apapun. Kemudian dengan segala kenekatan dibongkarnya kasur tidurnya, lalu ditempelkannya lekat-lekat telinganya ke galar yang ada. Suara itu bukannya kian surut, malahan semakin terdengar keras.

        Selidik punya selidik ternyata suara tersebut berasal dari dalam kayu palangan galar yang ada. Sebuah kayu sengon muda yang masih setengah basah. Akhirnya Mas Joko yakin bahwa suara tersebut bukan suara hantu, dugaannya adalah suara semacam ulat penggerek batang yang orang Ndalem Kronggahan menyebutnya “gendhon”. Diambilnya bilah palangan tersebut, kemudian dinyalakannyalah korek api untuk nylomot kayu tersebut. Pada posisi yang diperkirakan, terdengar semakin keras suara sang gendhon, lalu dengan sebilah cutter, dibedahnya kayu palangan dan ternyata benar, didapatinya gendhon sang hantu dalam kayu.

        Senin petang, 8 Januari 2007, tiba-tiba Mas Joko yang baru sempat menikmati kehangatan Ndalem KK selama sebulan, mohon pamit untuk undur diri kembali ke Jogja. Sebenare Mas Joko ini seorang keturunan wong Chino yang berasal dari Pontianak, namun karena terlanjur krasan ketika ngangsu kawruh di padhepokan UKDW, kemudian memutuskan untuk menjadi kawula dalem ing Ngayojakarta Hadiningrat. Demikian setelah berkeluarga, anak dan istrinya diboyong pula ke kawasan Kwarasan. Mas Joko pesen agar silaturahmi diantara kami dapat terus terjalin, dan apabila satu waktu ke Jogja berharap pada kami untuk dapat singgah di rompoknya. Mat jalan Mas, mugi rahayu ingkang sami pinanggih………

Posted by Nananging Jagad at 13:30:50 | Permalink | Comments (13)

Thursday, January 4, 2007

SALAH TANGKAP

Kisah di malam Tahun Baru…..

            Tahun baru biasanya selalu dinantikan oleh setiap orang dengan tradisinya masing-masing. Ada yang melakukan tirakatan dan lek-lekan ala Ndalem Kronggahan, tiup terompet ala bangsawan kuthagara, pesta kembang api model Ancol, dan satu lagi yang pasti tidur nglengkur gaya Wonogalih yang saya amalkan.

Bukan karena apa-apa di malam tahun baru kemarin saya tidur lebih awal habis Isya’, tetapi karena sirah ini terus cenut-cenut akibat gempuran serangan sekawanan tawon ndas yang menyarangkan rudalnya di pelipis kiri saya. Persitiwanya terjadi di siang harinya, ketika selesai menyembelih sapi hewan kurban, kemudian simbok memintaku menemaninya ngundhuh salak di tegal. Ketika sedang mapras dahan salak, yang ternyata tanpa saya ketahui ada sarang tawon ndas sebesar kendi, walhasil sang tawon merasa tersinggung dan langsung mubal menyerang saya. Tak kurang dari tiga antupan mengenai pelipisku, dan sudah pasti meninggalkan aboh dan rasa kecenutan.

Kisah antik lainnya dialami Mas Ipar saya yang kebetulan di malam tahun baru tersebut kehabisan pulsa phonselnya sehingga terpaksa keluar rumah sekitar jam 20.00. Setelah membeli pulsa di sebuah wartel perempatan Tuguran, samping Secaba Rindam IV/Diponegoro, tiba-tiba HPnya berdering dan langsung dijawabnya.

“Ning ngomah ora Mas?”, tanya si Ahmad di seberang.

“Iki lagi golek pulsa, sedelo ngkas yo mulih, langsung wae dinteni ngomah yo!, jawab Mas Ipe.

“Yoo……..”, sahut si Ahmad.

Belum sempat menutup telpon, tiba-tiba datang tiga orang menyergap Mas Ipe dan berteriak “jangan bergerak!!!”.

“Ono opo iki?”, tanya Mas Ipe sedikit gugup karena kaget.

“Jangan banyak tanya….”, jawab seorang diantara penyergap dan yang lainnya berusaha meraih kunci sepeda motor, satu orang lainnya menarik tangan Mas Ipe ke belakang punggung.

Mas Ipe sedikit berontak sambil berusaha menjelaskan, “kalau mau tangkap saya, lapor dulu sama komandan saya, jangan sembarangan begini”.

Seorang polisi keluar dari sebuah mobil di tepian jalan sambil menggandeng seorang yang diborgol, kemudian berjalan mendekati posisi penangkapan Mas Ipe.

“Bukan ini Pak.”, kata orang yang diborgol.

Rupanya orang diborgol tersebut merupakan merupakan penunjuk jalan bagi satuan regu anti narkoba Polda DIY yang mendapatkan kabar akan terjadi sebuah transaksi narkoba di Magelang. Menurut Polisi tersebut sang tersangka mengendarai sepeda motor hitam, memakai celana hitam, berjaket coklat dan berhelm cakil, persis yang dikenakan Mas Ipe. Ketika Mas Ipe keluar wartel dan menerima telpon si Ahmad, rupanya teman tersangka, si penunjuk jalan, disuruh oleh Polisi untuk menelpon tersangka, dan ndilalahnya Mas Ipe juga langsung angkat HP.

Akhirnya kesalahpahaman tersebut dapat diklarifikasi, dan Mas Ipe menjelaskan bahwa dirinya merupakan anggota kesatuan Rindam IV/Diponegoro, dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, segera Kanit Narkoba Polda DIY yang mengkomandoi langsung minta maaf dan segera pamit tanpa mendapatkan orang yang diincarnya.

Beberapa saat berselang, sekawanan siswa dan pengajar Secaba berlarian keluar ksatriaan sambil berteriak “Pak Sakimun diajar wong ning prapatan, ayo cepet-cepet”. “ Sopo sing kurang ngajar?”, tanya beberapa rekan Mas Ipe.

“ Rapopo kok, mung salah tangkap, Pulisine wis lunga”, jawab Mas Ipe lugas.

Untung satuan unit Polisi kesasar tersebut sudah sempat pergi, kalau tidak barangkali akan terjadi lagi tawuran antara tentara dan polisi sebagaimana pernah terjadi di beberapa sudut tanah air. Mulane ati-ati dalam bertindak, ampun grusa-grusu Pak Pulisi!!!

Posted by Nananging Jagad at 07:01:09 | Permalink | Comments (17)