Friday, March 23, 2007

NYASAR di AL IZHAR

REFLEKSI 20 TAHUN

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

AL IZHAR

PONDOK LABU, 11 MARET 2007

Sebuah tempat yang penuh dengan bunga-bungaan atau bisa dibilang taman bunga, begitulah kurang lebih makna kata al izhar, dan siang itu kami, saya dan seorang rekan nyasar di Al Izhar, sebuah lembaga pendidikan Islam di kawasan Pondok Labu. Berawal dari sms seorang teman di Komunitas Kenduri Cinta yang meminta perkenan saya untuk hadir dalam acara CNKK tepat pukul 13.00 WIB di Al Izhar Pondok Labu.

Tanpa berpikir rumit dan bertele-tele, kami nekad berangkat meski dengan referensi informasi lokasi yang masih kabur dan meragukan. Tapi akhirnya tanpa menemui kendala berarti sampai juga kami di lokasi. Selidik punya selidik, ternyata acara yang akan berlangsung tersebut merupakan kegiatan tasyakuran dua puluh tahun keberadaan lembaga Al Izhar.

Al Izhar merupakan lembaga pendidikan di bawah Yayasan Anakku yang menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Melihat sekilas namanya, seolah mirip dengan Al Azhar. Memang pada awal berdirinya lembaga ini merupakan bagian dari Al Azhar dan bernama Al Azhar Pondok Labu. Dua tahun berjalan kemudian terjadi pemisahan manajemen dan menjadilah Al Izhar.

Puncak acara tasyakuran tersebut diisi dengan penampilan gamelan musik Kiai Kanjeng yang dimotori Cak Nun dan Mbak Via. Di sela-sela hingar musik yang dimainkan, terjadi diskusi yang melibatkan siswa-siswi, para guru dan wali murid. Tema diskusi berkisar tentang dunia pendidikan dalam konteks Islam.

Diskusi diawali dengan pancingan pertanyaan Cak Nun mengenai berapa prosentase pendidikan agama dan umum di Al Izhar. Hampir semua hadirin terjebak ke dalam pola pikir, bahwasanya ilmu dikelompokkan menjadi dua kelas besar yaitu ilmu agama dan ilmu umum. Apakah paradigma tersebut sudah tepat dan benar?

Cak Nun kemudian mengupas dengan melemparkan pertanyaan ke dua, apakah bila kita belajar ilmu biologi, belajar tentang pohon, dahan, ranting dan daun, kita bisa meninggalkan keberadaan Tuhan, ataukah kita sadar bahwa itu semua ciptaan-Nya? Ternyata secara nalar, belajar ilmu apapun kita tiada akan pernah bisa lepas dari konteks Tuhan karena memang hakikat ilmu itu sendiri merupakan metode untuk mengungkap keberadaan dan keagungan Tuhan, dan semata-mata ilmu itu milik-Nya jua. Dan ini berarti sebenarnya semua ilmu itu merupakan ilmu agama yang islamis.

Agama itu bukan sekedar sebuah departemen, sehingga di pertanian harus ada sentuhan agamanya, di pasar harus ada agama, di pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya harus ada sentuhan agama, dlsb. Agama tidak bisa dilembagakan ataupun dikotak atau dibingkaikan dalam satu disiplin pandangan yang sempit. Agama bagaikan rasa manis yang harus hadir dalam soto, dalam sate, dalam sirup, dalam lodeh, dalam wajik, dlsb tentunya dalam konteks komposisi dan proporsi yang pas.

Dalam konteks ilmu pengetahuan, setiap ilmu yang membawa kepada kepatuhan dan mendorong sikap taqarub kepada Tuhan, berarti itu merupakan bagian dari agama. Agama melintasi dimensi simbolisme. Syahadat, sholat, puasa, zakat, haji dan segala dimensi ibadah mahdzoh hanyalah kompor bukannya hidangan masakan. Ibadah hanyalah hanyalah urusan dapur, metodologi dan cara untuk bertadabur dalam rangka bertaqarub kepada-Nya. Demikian pula musik dan notasi nada hanyalah alat, sehingga semestinya tidak ada musik Islam, Kristen, Jawa, Sunda, Batak, Dayak dlsb. Musik ya hanya sekedar musik, suatu alat yang bebas nilai dan manusialah yang akan memaknainya dengan polesan nilai moralitas dan spiritualitas sehingga musiknya bisa menjadi bernilai religius.

Di atas tingkatan orang sekedar beribadah adalah segolongan orang berilmu dan lebih tinggi lagi adalah orang yang beramaliah dengan ilmunya. Makna dari kata amal adalah bekerja keras, sehingga konteks “kotak amal” menjadi salah kaprah dalam terminologi bahasa. Dalam pengertian tersebut kita seringkali terlupa dan lalai sehingga seringkali tindakan serta sikap kita merendahkan martabat para pekerja keras. Ini berarti kita harus menghormati martabat para tukang becak, para buruh bangunan, buruh angkut, buruh pabrik, pedagang kaki lima dlsb. Para pekerja keras, orang pinggiran kata Franky, belum tentu kedudukannya di mata Tuhan lebih rendah dan hina dibandingkan para hartawan dan pejabat. Di mata Tuhan ketaqwaan dan ketinggian akhlaklah yang menjadi standar derajat dan kemuliaan seseorang.

Oleh karena itu generasi Islam harus dididik dan dibekali ilmu pengetahuan dan mampu menerapkan konsep amal ilmiah dan ilmu amaliah, artinya setiap amal harus dilandasi dengan ilmu dan setiap ilmu harus diamalkan. Demikian diharapkan peran lembaga Al Izhar, sebagai taman bunga yang siap sedia membentuk buah, akan mampu menghasilkan generasi unggul berbalut akhlakul karimah untuk disumbangkan bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara serta tegaknya panji Islam. Amiiiiiin.

Posted by Nananging Jagad at 02:57:37 | Permalink | Comments (21)

Thursday, March 15, 2007

SARI ILMU (2)

BUMI MEMINTA LANGIT MENAGIH

Sari Ilmu Kenduri Cinta Maret 2007


Bumi meminta langit menagih, begitulah tema sentral diskusi bulanan di Taman Ismail Marzuki kali ini. Malam itu tampak sedikit istimewa karena saat acara baru dimulai beberapa saat, langitpun langsung memberikan curahan air hujannya, bahkan bisa dibilang sepanjang acara hingga pukul 03.00 dini hari, langit tiada pernah berhenti mencurahkan tangisnya.

Suasana diskusi yang sumringah berselang seling dengan alunan musik Kiai Kanjeng menambah seru pembicaraan para jama’ah. Bahkan menjelang tengah malam kami diajak memasuki RUANG RINDU dengan kehadiran segerombolan anak-anak band Letto yang dipimpin Sabrang Mowo Damar Panuluh(Noe) yang kebetulan merupakan yuwaraja bagi Cak Nun, pengasuh KC. Canda ala bapak dan anakpun berlangsung sedemikian hangatnya hingga menimbulkan gelak tawa dan sesekali diselingi ledekan “kethek”. Sentral diskusi berupaya mendudukkan secara obyektif dan seproporsional mungkin, kedudukan alam raya dalam tata kosmos pewujudan keseimbangan peradaban manusia.

Manusia dalam menjalani kehidupan tidak akan terlepas atas keterkaitan dan ketergantungan terhadap lingkungan hidup. Keserasian dan keharmonisan hidup hanya akan tercapai apabila terdapat keseimbangan fungsi dan daya dukung lingkungan terhadap manusia. Tindakan manusia yang terlalu mementingkan kepentingan diri pribadi tanpa menimbang kepentingan generasi mendatang dan kelestarian lingkungan hidup, akan menimbulkan bencana dimana-mana.

Dalam teori penciptaan makhluk oleh Sang Khalik, alam sebenarnya mempunyai sifat netralitas atau bebas nilai. Sebagaimana malaikat yang bebas dari nafsu dan keinginan pribadi, alam juga digariskan untuk tunduk dan patuh terhadap sunatullah-Nya. Alam tidak mempunyai nafsu, sehingga jelas alam tidak bisa marah ataupun susah apalagi bosan. Sehingga kurang pas jika kita kemudian menuduh bahwa alam mulai enggan bersahabat dengan kita.

Dengan demikian setiap bencana alam yang datang menimpa manusia seratus persen akibat kelalaian manusia dalam memperkosa dan mengeksploitasi alam secara semena-mena. Sebagai contoh, kasus air. Air diperintahkan oleh Tuhan melalui sunatullah atau hukum alam, bahwasanya air secara gravitasi akan mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Ketika saluran dan sarana resapan air diambil, bahkan dihilangkan demi kepentingan manusia tertentu, air akan tetap patuh pada kodrat sejati tugasnya. Air akan berusaha mencari celah untuk mengalir dalam rangka menjalankan sunnah-Nya. Akhirnya semua kemungkinan ditempuh oleh air dengan menerjang tanggul, menggenangi pemukiman manusia dan menenggelamkan tanah desa dan kota. Maka terjadilah banjir bandang. Jelas disini terlihat bahwa seratus persen air tidak bersalah apalagi marah.

Hal utama yang menjadi good point adalah bahwa alam senantiasa patuh dan tunduk kepada-Nya, jadi hakikat bumi tidak akan dan pernah meminta kurban akibat ulah manusia, langit tidak akan menagih tumbal dari anak cucu Adam. Manusia sendirilah yang berulah, sehingga jatuhlah kurban jiwa dan harta benda. Manusialah yang mengakibatkan timbulnya kurban dan tumbal sebagai akibatkeserakahannya merusak alam. Jadi monggolah sadar para menungso………!!!!!!!


Posted by Nananging Jagad at 00:40:58 | Permalink | Comments (27)

Friday, March 9, 2007

NEW PERSPEKTIF BARU

Wimar’s World

Sensor dan Somasi

Menyimak acara baru bertajuk Wimar’s World yang ditayangkan oleh JakTv seakan mengulang acara serupa di era 90-an berjudul Perspektif(Baru). Memang tidak mengherankan jika terdapat kemiripan, selain sang host acara yang sudah akrab di kalangan pemirsa setia yaitu si kribo Wimar Witular yang merupakan mantan juru bicara Presiden Gus Dur, juga pola diskusi yang dilemparkan tidak jauh dari format acara Perspektif(Baru).

Rabu malam, 7 Maret 2007, di tengah maraknya pemberitaan musibah kecelakaan pesawat Garuda di Jogja, talkshow ini malah mengambil tema sedikit menyimpang berupa kebebasan pers terkait kasus somasi Menkominfo kepada acara News.com Republik Mimpi.

Somasi tersebut berisi keprihatinan sang Mentri yang menerima berbagai aspirasi bahwa skenario tokoh maupun tata cara pengungkapan kritik di News.com dinilai sebagai tindakan mengolok-olok lembaga kepresidenan. Semestinya kelembagaan leadership dari tingkat presiden sampai lurah harus dihormati dan “disakralkan” sehingga memiliki kewibawaan(dibaca: kekuasaan) untuk mewujudkan visi pembangunan(dibaca: melanggengkan kekuasaan). Beliau mengaku mendapat banyak sms yang mengaku tidak senang dengan format acara News.com. Berdasarkan itulah, beliau berkeyakinan bahwa publik merasa acara tersebut tidak mempunyai manfaat yang signifikan, dan sudah selayaknya untuk didiskusikan bersama dan ditinjau ulang lagi.


Pertanyaan di benak saya kemudian muncul, apakah kepemimpinan presiden saat ini masih dianggap sakral atau paling tidak dihormati di masyarakat? Anda semua bisa mensurvei secara tidak langsung, seberapa banyak rumah warga kita yang masih memasang gambar Garuda Pancasila dengan diapit presiden dan wakilnya di sisi kanan kirinya. Seberapa banyak siswa SD yang mampu menghafal nama-nama menteri kabinet? Jawabnya pasti tidak sebanyak dulu lagi, ya… telah terjadi erosi dan degradasi angka yang cukup signifikan.

Sementara itu SBY(Si Butet Yogya) menyampaikan titah bahwasannya apa yang dilakukannya di News.com selama ini sebagai suatu cara melakukan pendidikan politik kepada masyarakat dalam kerangka kecerdesaan humor dan dibingkai suatu nilai estetika seni artistik yang tinggi untuk mengungkapkan kritik kepada para pemangku kepentingan. Format kritik yang disampaikan melalui News.com merupakan suatu sindiran halus nan lucu untuk menyampaikan sesuatu kepada penguasa dimana jurang dan gunung pemisah diantara rakyat dan pemerintah dicoba untuk dicairkan dengan rasa humor, sehingga kedua belah pihak merasa sejajar, elegan dan tidak emosi satu sama lain.

Ketika kemudian sang host menanyakan kepada sang Mentri, apakah derpatemennya saat ini juga mempunyai kewenangan untuk melakukan somasi terkait pemberitaan maupun isi muatan suatu media massa. Ataukah hal itu merupakan petunjuk Bapak Presiden sebagaimana dulu Harmoko sering mengutip? Karena kabarnya SBY asli dan beberapa mantan presiden merasa senang dan tidak merasa terolok-olok oleh kelucuan aktor-aktor dalam Republik Mimpi. Sang Mentri menjawab bahwa hal itu sudah tidak lagi menjadi kewenangannya.

Lhaa teru…..us? Dalam kapasitas apakah si Sofyan ini berkomentar?. Persoalannya sedari awal diskusi Pak Sofyan seolah-olah memposisikan diri sebagai seorang Menkominfo. Abu Sofyan menyampaikan bahwa dirinya bertindak atas nama pribadi sebagai anak bangsa yang meiliki keprihatinan terhadap pendistorsian lembaga leadership. Secara pribadi ia merasa terpanggil untuk melakukan penegakan etika dan budaya dalam penyampaikan pikiran. Apakah seorang Abu Sofyan sudah merasa bisa menjadi guru bangsa untuk penegakan moralitas anak bangsa? Oooo…..atas nama pribadi to.

Lha teruss….kemudian untuk masalah etika dan kode etik penyiaran maupun penyampaian opini publik melalui media masa siapa yang berwenang memberikan penilaian? Oooo itu tugas KPI, jawab Abu Sofyan. Kemudian kenapa KPI tidak menyampaikan catatan terhadap News.com? Apakah memang dari sisi etika media tidak ada persoalan, lalu kenapa seorang Abu Sofyan mempersoalkannya?Kemana niich KPI……?

Nah kalau atas nama pribadi, kemudian Abu Sofyan ini mewakili kelompok masyarakat mana? Ya berdasarkan sms yang masuk kepadanya tadi, jawab beliau. Apakah sms itu sudah jelas mewakili aspirasi masyarakat secara mayoritas? “Ataukah untuk mengetahui pendapat masyarakat perlu diadakan referendum secara menyeluruh”, tantang SBY. Sang host kemudian menawarkan untuk membuka polling bagi publik melalui situs perspektif.net. Kita lihat saja bersama bagaimana reaksi masyarakat…..

        Ketika kemudian pertanyaan berlanjut apakah somasi yang disampaikan akan mempunyai implikasi hukum, seperti penuntutan dlsb? Sang Abu Sofyan mengatakan bahwa dirinya juga ahli hukum karena S1 Hukum, S3 di ekonomi modal. Lho lho lho……jaka sembung??? Malah kemudian ditanya terus latar belakang pendidikan yang terkait dengan komunikasi, internet yang mana?sehingga kompeten menduduki jabatan mentri Kominfo. Beliau malah mejawab, memang dia hanya berlatar belakang praktisi media saja. Edaaaan…..wis wis wis mandeg, jangan dilanjut!!!!. Diskusinya kok jadi nggladrah ra genah…….Dagelan kabeh ki negoro. Kacian Pak Mentri semakin terdesak. Ampuuuun pemrentah!!!!
Posted by Nananging Jagad at 00:50:11 | Permalink | Comments (23)

Monday, March 5, 2007

CNKK’s Event

Assalamualaikum wr wb,
        
Mengharapkan kehadiran rekan-rekan dalam acara bulanan:
        KENDURI CINTA NOVEMBER 2007
        dengan tajuk
        "LONTHONG OPOR"
(Olone Kothong-Olone Diporo-poro)
bersama:
Emha Ainun Najib
Jose Rizal Manua
Muhammad Sobari
Kiai Budi Hardjono
Romo Beni 
 
didukung juga oleh:
Kiai Kanjeng Sepuh
mBah Surip 
Brantas
dan siapa saja...... 
*********************
Hari Jum'at,  09 November 2007
jam 20.00 WIB - selesai
 
Parkir Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat
GRATIS.......LESEHAN.......BAROKAH
Wassalamu'alikum wr.wb.

Panitia Penyelenggara
Informasi: Adi - 0818217616, Rusdi - 0812004328
 
Posted by Nananging Jagad at 01:19:24 | Permalink | Comments (26)

Thursday, March 1, 2007

Al Wudun bin Menyun

ROSO SAKIT Itu……

Al kisah sudah kurang lebih empat hari ini, saya diberi nikmat berupa sebuah miniatur gunung sisa lumpur Lapindo Brantas di janggut sisi kanan saya. Awalnya saya kira gundukan nylekit itu hanya merupakan cikal bakal sebuah jerawat yang sebenarnya jarang mendera para priyagung. Sejak hari pertama bintik kecil itu muncul, si Enjeli cucune Bu Ageng selalu mengunyel-ngunyelnya seakan mendapatkan mainan baru yang unik.

Lha kok hari-hari berikutnya bengkak itu kian membesar dan menyadikan roso kaku dan senut-senut di sekitar tulang rahang saya. Meski tanpa ada pemberitaan dari Badan Vulkanologi maupun BPPTK, saya kemudian berinisiatif melakukan investigasi akan hal apa gerangan yang telah terjadi dan langsung saya putuskan, melihat kecenderungan peningkatan gunung mini tersebut, bahwasanya saya harus memasuki kesiapan Siaga I. Yang paling nggak lazim sebenarnya adalah posisi al wudun tersebut yang mendungul di atas janggut yang ”nawon kemit” tersebut. Selidik punya selidik, sepertinya di daerah persendian rahang kanan tersebut merupakan jalur patahan yang sangat memungkinkan terjadinya tumbukan lempeng ”ngisor gulu” dan ”nduwur janggut” yang mengakibatkan pengangkatan lempeng dan timbullah apa yang disebut fenomena al wudun tersebut(ketok ngawure to…).

Mengenai fenomena al wudun sendiri hanya pernah terjadi ketika usia balita saya, itupun posisinya selalu tersembunyi di sekitar ”brokong” dan tidak pernah neko-neko bin kreatif menggusur daerah lain. Pernah dulu waktu sedang aktif-aktifnya al wudun menyerang brutu saya, sampai ditemukan beberapa deret pegunungan wudun, sehingga dengan terpaksa simbok saya melarang pakai celana dan dipakaikannya rok mbakyu saya. Sudah barang tentu hal tersebut menjadi bahan olokan dan gosip tak sedap antar tetangga. Usia saya waktu itu sekitar tiga tahunan, dan kemana-mana saya harus mbrangkang sambil ngerrok.

Ihtiar yang selalu dijalani simbok waktu itu biasanya masih dengan cara-cara tradisional warisan nenek moyang. Obat yang paling manjur katanya didudutkan pupus pohon salak untuk diambil pondoh(pangkal pupus) untuk kemudian dikunyah terus ditempelkanlah ramuan tersebut di pucuk al wudun. Resep lainnya adalah dengan ngupili al wudun minal upil(kalau nggak percaya jangan pernah nyoba). Ditunggu beberapa hari tentu al wudun tersebut akan mateng untuk diproses lebih lanjut. Terapi selanjutnya adalah pembedahan wudun dengan cara mencukilmatawudun yang berupa ”kaldera” berbentuk ”strato”, untuk kemudian melalui kawah terbuka tersebut dilakukan pemlothotan gunung dengan sadis dan ngoyo hingga menimbulkan roso sakit yang luar biasa. Dikuras sampai habis-bis darah kotor yang berwarna merah hitam pekat tersebut bersama lelehan nanah yang iiiihhhhh amit-amit medeni hiii……tapi habis itu rek, uuu… lueegone ati dan tinggal menunggu proses recovery saja.

Upaya lain yang dilakukan berkenaan dengan kehadiran al wudun biasane yang disertai dengan timbulnya berbagai pringkilan atau ”panjer” pada lekuk-lekuk persendian dekat lokasi penggunungan, seperti di sendi siku, kelek ataupun di selangkangan. Nah untuk gejala ini, dulu di kampung saya ada Mbah Dul yang sering dimintai tolong untuk mengurut mencairkan panjer tersebut. Ketika pasien datang, Mbah Dul langsung mengambil minyak, bisa minyak klentik ataupun minyak mambu, untuk mengurut pringkilan. Biasanya beliau memberitahukan berapa jumlah pringkilan, yang menunjukkan tingkat keparahan penyakit. Pringkilan tersebut kemudian diurut dengan disertai pringisa  kesakitan para pasien untuk kemudian diberikan sugesti dan donga bahwa ”nggak popo lan mesti bakal waluyo jati peparinge kang sejati”. Tinggal menjalani proses resep simbok saya di atas.

Al wudun kelihatannya hanyalah penyakit sepele wal ndesit, tapi dari catatan sejarah, banyak para pemimpin dan tokoh dunia yang ternyata pernah mengalami fenomena al wuduniyyah ini. Salah satu contoh yang terkenal adalah raja ke dua Majapahit, Sang Prabu Jayanegara. Bahkan penyakit ndesit inilah yang kemudian memberikan kesempatan kepada Tabib Tanca untuk meracuni sang raja sebagai upaya nglingsir keprabon yang dipimpim oleh Kuti, seorang perwira darmaputra. Dan wal hasil sang prabupun meninggal dan tahta berhasil diduduki oleh kaum pembrontak untuk beberapa saat.

Kalau di era kemajuan sekarang ini sih fenomena al wudun tidak terlalu menjadi majalah dan lebih mudah serta praktis penangannya. Sudah banyak tersedia di pasaran obat oles berupa salep, tinggal dioles dan tunggu kempesAl wudun bin bisul……heeem, pernahkah anda mengalaminya juga???? sendiri sang gunung itu.

Posted by Nananging Jagad at 01:18:19 | Permalink | Comments (30)