Tuesday, June 19, 2007

KEPEMIMPINAN SEJATI

REFLEKSI 20 TAHUN UNIVERSITAS PARAMADINA

 

Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang telah mampu meniadakan dirinya dari dalam diri sendiri, sebagaimana Nabi Muhammad yang telah meniadakan diri sendiri dalam setiap tarikan nafasnya. Dalam diri Muhammad tidak ada lagi Muhammad. Di dalam diri Muhammad yang ada hanyalah dua pihak, Allah dan umat.

Ini berarti bahwa seorang Muhammad tiada lagi pernah sempat untuk memikirkan diri sendiri. Bagi dirinya hidup mulia dan disanjung oleh segenap semesta alam adalah tidak penting dibandingkan dengan urusan Tuhan dan umatnya. Muhammad meniadakan diri, moksa dan meleburkan dirinya dalam cintanya kepada Tuhan dan umatnya.

Di depan Allah, Muhammad tidak pernah meminta dan memikirkan sesuatu kecuali pengampunan serta petunjuk untuk keselamatan setiap umatnya. Dia tiada pernah egois meminta sesuatu untuk dirinya sendiri. Yang selalu menjadikan kegelisahan bagi diri Muhammad adalah bagaimana menjadikan umatnya menjadi manusia-manusia terpilih, sosok-sosok insan kamil yang sanggup menjadi wakil Tuhan, menjadi khalifatullah fil ardzi, menjadi semulia-mulianya makhluk untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Di sisi lain ketika Muhammad berhadapan dengan umatnya, adalah risalah dan wahyu ilahi yang diamanatkan kepadanya yang disampaikan. Dia tidak pernah meminta dihormati sebagaimana raja, dia tidak pernah meminta dilayani sebagaimana seorang kaisar, dia tetaplah seorang nabi pembawa petunjuk. Dia memilih untuk menjadi abdan nabiya(nabi yang pengabdi), bukan mulkan nabiya(nabi yang seorang raja). Dia tiada pernah mengambil keuntungan harta dan benda atas status kenabiannya. Sekali lagi dia, Muhammad, meniadakan dirinya sendiri dari dalam dirinya sendiri.

Demikianlah semestinya seorang pemimpin yang amanah. Dia tiada pernah memikirkan suatu cara untuk memperkaya diri sendiri dan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan para kroninya. Di hadapan Tuhan, dia harus berfikir bahwasanya kekuasaan yang diembannya adalah amanat Allah, dia akan tunduk kepada Allah dan menjalankan amanat sesuai aturan yang telah digariskanNya, yang dipikirkannya hanyalah bagaimana memakmurkan rakyatnya. Di hadapan rakyat, dia akan bersikap arif dan bijaksana, mengerti kesusahan dan penderitaan rakyat, tidak akan bersikap adigang adigung dan adiguna menggunakan kekuasaannya. Dia akan takut melukai dan bahkan menyengsarakan rakyat karena bila ia berbuat demikian, hal itu akan membuat Tuhan marah dan menimpakan azabNya.

Itulah sebenarnya hakikat dari konsep manunggaling kawula lan Gusti. Demikianlah sebagian uraian hikmah yang disampaikan oleh Budayawan Muhammad Ainun Nadjib dalam acara Reflesi 20 Tahun Universitas Paramadina Jakarta yang mengambil tema “Revolusi Akal Sehat, Merawat Kewarasan Ruang Publik”

Di sisi lain, tujuan pendirian Paramadina oleh Cak Nur merupakan pembentukan suatu , lembaga pemikiran sebagai wahana dan instrumen dalam rangka mewujudkan ide, gagasan dan konsep masyarakat madani. Masyarakat madani merupakan konsep masyarakat yang diterapkan oleh Baginda Nabi dalam mengatur tata pemerintahan Madinah dengan segala pluralitas masyarakatnya. Diharapkan oleh Cak Nur, hadirnya Paramadina bisa senantiasi menjadi oase bagi setiap komponen masyarakat dan bangsa Indonesia yang serba plural dan majemuk untuk secara damai berdampingan bersama, bersatu padu dalam mewujudkan negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghofur….Amien.

Posted by Nananging Jagad at 01:47:46 | Permalink | Comments (10)

Friday, June 15, 2007

GENDAM MAUT

 

HIPNOTIS via SMS

Pada suatu keremangan senja menjelang lengsering sang surya menjemput gema adzan maghrib di sudut kota wali Demak, kebetulan saya baru selesai ngayahi tugas saya sebagai penggawa negara untuk melakukan inspeksi terhadap suatu fasilitas rontgen di sebuah klinik, seorang ibu tergopoh-gopoh mendekati saya. Sang ibu sambil ngemong beberapa anak kecil, cucu-cucunya, menyalami saya dan kemudian dengan ramahnya berbincang menanyakan beberapa hal dalam bahasa Jawa kromo inggil yang sangat halus.

 

Beliau menanyakan keberadaan tugas saya, kemana lagi tujuan kami selanjutnya, berapa lama lagi, asal-usul saya dan sedikit bertanya mengenai keluarga. Saya sampaikan kepadanya, bahwa kami bertiga(satu tim) sedang bertugas inspeksi terhadap fasilitas rontgen di beberapa rumah sakit wilayah Semarang, Demak, dan Kudus. Dan senja itu kami akan langsung melanjutkan perjalan ke Kudus. Sang Ibu malah mempersilakan kami untuk menunggu sambil sekalian malaksanakan sholat Maghrib di tempatnya.

Beliau kemudian setengah berkaca-kaca dan terisak, bertutur bahwa Ibu Anisah, sang menantu pemilik klinik yang baru saya kunjungi tersebut, baru saja menerima musibah dan cobaan dari Yang Kuasa. Rupanya Ibu Anisah baru saya ditipu oleh seseorang dan beritanya sampai dimuat di harian terkemu di Jawa Tengah dan menjadi buah bibir di tengah masyarakat.

Ceritanya begini kisanak, pada suatu malam di kliniknya, Ibu Anisah menerima sms dari seseorang. Ketika kemudian ia membuka sms tersebut dan membacanya, seketika kesadarannya hilang terhipnotis dan seseorang datang menemuinya untuk kemudian mengajaknya keluar klinik. Orang tersebut kemudian mengajak Ibu Anisah berputar-putar keliling kota untuk kemudian menuju sebuah ATM. Kemudian disuruhnya sang Ibu untuk menarik tunai tabungannya secara bertahap. “Dan……duh Gusti, 49 juta rupiah berhasil digasak sang penyihir, masya Allah”, isak Ibu Mertua lemes dn tanpa sadar air mengalir dari kelopak matanya.

Saya menjadi terharu dan iba, serta saya coba untuk nglelipur, membesarkan hati sang Ibu Mertua tersebut agar tabah. Dan bahwasanya semua yang terjadi tersebut merupakan kehendak Allah dan pastilah ada hikmah indah di baliknya.

Maka dari itu kisanak, di era kecanggihan teknologi saat ini, semua wahana dan cara bisa dihalalkan orang untuk mengeruk keuntungan secara tidak terpuji atas hak milik orang lain. Penipuan dan berbagai kecurangan acapkali kita dengar di berbagai media, tidak terkecuali melalui ponsel. Oleh karena itu kisanak, berhati-hatilah!!! Kejahatan terjadi bukan hanya karena kesempatan yang ada, namun juga keterlenaan kita. Bersikaplah sumeleh kepada Sang Kuasa dan waspadalah……..waspadalah!!!!

 

Posted by Nananging Jagad at 04:39:52 | Permalink | Comments (17)

Tuesday, June 12, 2007

TAFSIR MIMPI

SENJAKALANING SEORANG PENGGEDHE

Alkisah pada suatu malam lewat lingsir wengi, mendekati sepertiga malam akhir, saya mengikuti sholat tarawih yang akan diimami oleh seorang Ndoro Penggedhe. Saya berdiri tepat di belakang Ndoro Penggedhe, sedangkan di sisi kanan saya ikut bermakmum Ndoro SBY. Setelah beberapa saat sholat akan dimulai dan semua makmum sudah siap…..eee ternyata sang imam malah diam mematung tanpa memberikan komando. Karena Ndoro Penggedhe diam seribu bahasa, para makmum menjadi bingung dan penasaran. Tidak beda juga halnya dengan Ndoro SBY, beliau kemudian berujar,” Sampeyan itu gimana to, semua makmum sudah siap mengikuti komando sang imam, malah Sampeyan diam dan bengong……..sudah-sudah diganti saja, Sampeyan segera lengser dan mundur. Sampeyan tak becus jadi imam!”

Setelah Ndoro Penggedhe lengser keimaman, kemudian tanpa diduga tampuk posisi imam digantikan oleh tiga orang bocah cilik yang jauh lebih fasih bacaan Qur’annya. Mereka memimpin sholat secara bergantian, masing-masing bocah pertama dan ke dua memimpin empat raka’at, dan bocah terakhir menutupnya dengan witir.

Ternyata saudara, itu hanyalah sekedar mimpi di pagi buta pertengahan Februari 2007 yang lalu. Hal tersebut sempat saya ceritakan kepada seorang teman sejawat di pondok penggawean saya. Ketika teman tersebut kemudian mendesak saya menerangkan secara jlentreh dan runtut maksud, arti dan tafsiran dari mimpi tersebut, secara sedikit diplomatis dibumbui dobosan saya katakan, ” Bahwasanya mimpi saya tersebut terjadi di pagi hari akhir sepertiga malam”.

Menurut penuturan para pinisepuh, kejadian mimpi berdasarkan periode waktu terjadinya dikelompokkan menjadi tiga, yaitu titiyoni, gondoyoni, dan puspotajem. Titiyoni artinya kejadian mimpi di awal malam, biasanya merupakan refleksi dari pikiran yang tidak mampu ditinggalkan oleh sesorang menjelang tidur seperti rasa gelisah, stress, kalut dan lelah dengan aktivitas kerja dan rutinitas keseharian. Mimpi jenis ini tidak ada artinya sama sekali dan sering dialami oleh seseorang yang tidur terlalu sore.

Jenis mimpi yang kedua disebut gondoyoni, terjadi di pertengahan malam hingga menjelang lingsir wengi. Mimpi inipun sebagaimana titiyoni tidak mempunyai makna khusus dan disebut hanya sekedar sebagai kembange turu, bunga tidur. Lain halnya dengan mimpi ketiga, puspotajem. Mimpi ini terjadi setelah lewat waktu lingsir wengi menjelang pagi hari. Mimpi ini dikatakan oleh para sesepuh sebagai isyarat jaman, tanda-tandaning kasejaten. Dipercaya sebagai firasat atau kabar ghoib yang diberikan oleh Tuhan terhadap sesuatu hal yang akan terjadi.

Berlanjut ke pertanyaan sejawat saya di atas, saya sampaikan bahwasanya Ndoro Penggedhe yang ada di mimpi saya tersebut akan segera dilengserkan dari jabatannya terkait dengan satu kasus yang semua orang di kantor sudah tahu sama tahu. Dan ternyata, jagad dewo batara……dua minggu yang lalu, di pagi hari ketika saya baca sebuah surat kabar terkemuka, diberitakan bahwa dua orang pejabat eselon atas telah ditangkap Tim KPK dan ditahan di kepolisian terkait mark up proyek pengadaan tanah di Bogor. Ampuuuuuun pemrentah…………

Posted by Nananging Jagad at 02:07:12 | Permalink | Comments (9)