Friday, July 13, 2007

KENDURI CINTA

BAJU ITU TANGGAL DI HADAPAN TUHANMU

ITULAH malam paling menyakitkan yang pernah kualami.Tapi akhirnya aku tahu bahwa ada perbedaan besar antara rasa sakit dengan penyakit. Penyakit itu destruksi terhadap hakekat hidup. Tapi sakit justru sanggup membawamu memasuki sebuah situasi sakral yang misterius. Ada semacam tetesan kebahagiaan yang diiming-imingkan oleh rasa sakit, oleh luka dan kepedihan. Aku yakin engkaupun tahu bahwa ternyata rasa sakit dan kepedihan sesungguhnya adalah kebahagiaan yang tidak menjumpai tempat persemayamannya di dalam jiwamu.
Sudrun menghardikku sepanjang malam, sebelum akhirnya ia mendadak lenyap entah ke mana tatkala fajar berakhir. la kemudian digantikan kehadirannya oleh cahaya matahari, yang pagi itu lain sama sekali dengan cahaya yang pernah kukenali sebelumnya, ketika kutatap dengan mataku dan kuhayati dengan batinku.
Aku merasa bukan aku. Aku merasa lahir kembali sebagai aku yang sama sekali bukan yang kemarin.
Aku pernah menjadi seorang Bupati dan aku menyangka bahwa aku adalah Bupati, sehingga ketika aku tak lagi menjabat sebagai Bupati aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku pernah menjadi seorang Menteri, di saat lain aku menjadi seorang Jendral dengan jabatan dan kewenangan besar. Aku juga pernah menjadi seorang bos besar dari sebuah perusahaan, kemudian menjadi pemimpin panutan beribu-ribu orang yang setiap kali ketemu setia mencium punggung tanganku.
Ketika kemudian aku berangkat tua, aku mulai tak bisa mengelak untuk mengerti bahwa sesungguhnya aku bukan bos besar, bukan penguasa dan bukan pemimpin. Dan akhirnya tatkala orang-orang mengakat kerandaku dan memasukkanku ke lubang kuburan yang begitu amat sempit dibandingkan yang pernah kubayangkan tentang kebesaran hidupku: aku sungguh-sungguh memahami bahwa yang dikuburkan ini bukanlah menteri, bukan bos besar, bukan pemimpin masyrarakat. Yang meringkuk di kuburan dan tak bisa mengelak dari tangan Mungkar dan Nakir ini adalah diri yang sama sekali lain, yang selama hidupku justru jarang kusapa dan kuperhatikan.
Pada saat itulah tumbuh kecerahan pikiran dan sekaligus penyesalan. Betapa si bupati, si menteri, si bos besar dan si pemimpin ummat, seharusnya sudah sejak awal kukuburkan sendiri; dan semestinya aku melawan habis-habisan apabila beribu-ribu orang itu mencoba menggali, menghidupkan, mengangkat di atas kepala mereka sambil menyanjung-nyanjung sesuatu yang telah kukuburkan itu.
Aku bukan bupati, karena yang disebut bupati itu hanyalah bajuku. Aku bukan menteri, sebab yang bernama menteri itu hanyalah nama dari tugasku. Aku bukan bos, bukan pemimpin, bukan kiai, bukan ulama, bukan budayawan dan bukan apa saja – karena semua itu sekedar inisial untuk menandai pekerjaan hidup sosialku. (“Kiai Sudrun Gugat”, Emha Ainun Nadjib, Grafiti Press, 1995)
 
Posted by Nananging Jagad at 02:31:26 | Permalink | Comments (4)

Wednesday, July 4, 2007

Indonesia Tak Butuh Iblis

Dalam kehidupan politik dan kebudayaan di Indonesia sering disebut-nyebut kata iblis, sebagaimana sering juga disebut-sebut kata setan, malaikat, tuhan atau Tuhan, fir’aun, dajjal, atau hantu, monster, gendruwo, dlsb. Orang menyebut iblis atau setan biasanya tidak untuk menuding iblis atau setan itu sendiri, melainkan untuk memberi gelar kepada sesama manusia.
Misalnya ada lima kategori manusia. Kategorisasi ini memakai idiom fiqih Agama, tapi tidak dimaksudkan debagai prinsip hukum, melainkan budaya. Ada ‘manusia wajib’, artinya orang yang orang lain tak mau kehilangan dia, karena dia baik dan dicintai. Ada ‘manusia sunat’, di mana orang merasa eman kalau nggak ada dia, meskipun tidak menggebu-gebu mempertahankannya. Ada ‘manusia mubah’ atau ‘manusia halal’, yakni yang wujuduhu ka’adamihi, ada dia kita nggak untung, nggak ada dia kita nggak rugi. Ada ‘manusia makruh’, di mana orang merasa lebih baik nggak ada dia daripada direpoti olehnya.
Terakhir yang paling gawat: ‘manusia haram’. Orang bersikeras agar dia tak ada, agar dia dijatuhkan dari kursinya, agar ia diadili dan dihukum, bahkan didoakan agar segera mati. Bahkan kalau ada orang mati, lainnya menyesal: “Kok bukan si Anu itu yang dipanggil Tuhan…”
Namun harus dicatat, ‘manusia wajib’ di mata manusia, belum tentu sama di mata Allah. ‘Manusia haram’ di pandangan manusia, belum pasti Tuhan berpandangan demikian.(EAN/99 - PmBNet)
Posted by Nananging Jagad at 05:42:24 | Permalink | Comments (9)