Friday, September 28, 2007

ELING SEMBAHYANG

PEPELING

Cipt. Ki Anom Suroto

Wis wancine tansah dielengke

Wis wancine podo nindakake

Adzan wus kumandang wayahe sembahyang

Netepi wajib dawuhe pangeran

Sholat dadi cagaking agomo

Limang wektu kudu tansah dijogo

Kanti istiqomah lan sing tumakninah

Luwih sampurno yen berjamaah


Subuh Luhur lan Ashar

Sholat sayekti ngadohke tindak mungkar

Magrib lan Isyak jangkepe

Prayogane ditambah sholat sunate

 

Jo sembrono iku prentah agomo

Elingono ning ndonyo mung sedelo

Sabar lan tawakal pasrah sing kuwoso

Yen  kepingin  mbesuk munggah swargo

 

Posted by Nananging Jagad at 03:21:54 | Permalink | Comments (3)

Tuesday, September 25, 2007

TAMU TUHAN

KIAI SUDRUN ATAUKAH NABI KHIDZIR?

Malam itu sengaja Tuhan mengguyurkan limpahan air sejuknya di langit Jakarta. Suasana di masjid malam itu menjelang sholat Isya’ yang akan dilanjut sholat tarawih. Mendadak seseorang dengan tubuh tambun mengeruyak barisan jamaah di barisan terdepan. Orang tersebut memakai sarung kumel dan menenteng sepotong tongkat pipa. Baju yang dikenakan nampak kusut dan dia juga memakai topi mini yang terlihat tidak cukup untuk dipakainya di ujung kepalanya yang bulat besar.
Bau orang tersebut, yak ampun, super “sengak” sehingga membuat jamaah yang lain menahan nafas. Orang misterius tersebut datang dengan menenteng gembolan dan “gombalan” dalam sebuah tas plastik hitam besar dan langsung meletakkannya di depan imam. Spontan jamaah yang lain mengingatkannya untuk memindahkan bungkusannya tersebut agar tidak mengganggu “pandangan” yang dapat mengurangi kekhusukan jamaah. Setelah memindahkan gembolannya, sang Bapak langsung mendesak barisan shof terdepan.
Di tengah prosesi tarawih, sang Bapak nylonong keluar, gak tahu kencing, wudlu, atau berbuat apa, tak seorang yang memperhatikannya atau jikalaupun para jamaah memperhatikannya, mereka juga tetap diam membisu agar tak batal sholatnya. Rakaat kedua sang Bapak kembali ke barisan dan langsung menyambung sholat, tanpa mikir rakaat yang semestinya dia hutang dari Tuhan.
Saat istirahat sholat, saat jamaah lain khusuk mengikuti dzikir yang dipandu sang Bilal, sang Bapak ini menjawil jamaah di seberang sampingnya seraya meminta sebotol aqua yang terlihat tergeletak di depan shof. Yang empunya aqua langsung memberikannya, meski dengan penuh tanda tanya. Habis sebotol air diembat, dia melirik botol yang lain, dia ambil dan sedikit ngomong kepada pemilik botol dan langsung mengembatnya pula. Dua botol air habis, dia pegang si botol, diamatinya merek botol tersebut, dielus-elus, seolah-olah barang antik yang sangat berharga dan baru pertama kali dijumpainya. Kemudian dia bilang ke pemilik botol, buat saya ya!Botol itupun dibawa sang Bapak kemudian disimpan menyatu dalam gombalannya tadi.
Fenomea aneh……Saya hanya bisa diam “nggumun”, siapakah sang Bapak. Apakah gerangan beliau Kiai Sudrun yang sering dilegendakan orang? Ataukah dia Khidzir yang belum sempat tuntas mengajarkan ilmu hikmah bagi Musa?Atau jangan-jangan dia adalah Tuhan sendiri yang sengaja “ngejawantah” untuk menyapa makhlukNya sendiri? Nyolowadi memang…….mbuh ah.

 

Posted by Nananging Jagad at 08:00:49 | Permalink | Comments (4)

Monday, September 17, 2007

KENDURI CINTA SEPTEMBER

PEMULIAAN CITRA, PEMBUSUKAN CINTA

Malam sehabis tarawih ke tiga itu tetap digelar acara rutin bulanan di halaman Taman Ismail Marzuki Cikini. Tema diskusi yang sengaja diangkat merupakan fenomena rutin tahunan terkait hadirnya Bulan Suci Ramadhan. Sebagaimana kita ketahui bersama, situasi budaya bangsa kita dalam menyambut bulan puasa senantiasa gegap gempita dengan ritual-ritual pemaknaan lahiriyah semata. Mulai dari tayangan-tayangan “islamis” di media elektronik, sinetron islamis, kusi religius, sms taqwa, qur’an seluler, gosip islamis, dlsb. Belum lagi berbagai tawaran iklan berbagai macam produk barang dengan berbagai variasi diskon dan bingkisan lebarannya………Fenomena apakah ini?

 

Sekali lagi, barangkali tepat bidikan teman saya, Marhaban ya Ramdhan……selamat datang bulan sok alim. Lingkungan kita, mulai dari rumah tangga, media massa, tatanan dan tataran kehidupan sosial kita sepertinya senantiasa menempatkan sisi formalitas sensualitas “agama” sekedar dalam tataran dan wacana kulit sosial. Dalam beragama kita seringkali lebih mementingkan raut muka, wadag lahiriah, citra dan gengsi kemanusiaan kita. Kita tidak pernah terdidik dan tergembleng untuk sedikit demi sedikit belajar seiring waktu untuk lebih mempelajari secara lebih mendalam mengenai hakikat setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada manusia.

Hampir di setiap Ramdhan kita senantiasa disuguhi dengan banyaknya tayangan yang dikemas secara “islamis” untuk jadi komsumsi kaum muslim yang tengah beribadah puasa. Sinetron ilahi, dengan pemeran para artis lengkap dengan busana muslim, jilbab, kerudung, hingga lengkap dengan sarung dan kupluk identitas seorang muslim yang akan segara ditanggalkan oleh sang artis ketika bulan Ramdhan pergi meninggalkan kita, untuk kemudian diganti lagi dengan model pakaian trendi dan seksi yang mempertontonkan urat dan aurat. Islam dengan segala simbolisasinya hanya dibutuhkan media selama bulan puasa untuk “sebenarnya” merauk keuntungan sebesar-besarnya para pemegang modal permediaan dengan memanfaatkan momentum dan trend yang sedang hangat di masyarakat. Tentunya memang tidak semua acara dikemas demikian, namun tampaknya sulit dipungkiri bahwa kita sedemikian sulit untuk menyebutkan jenis dan acara yang memang sengaja dikemas untuk tujuan kemashuran agama yang secara tulus ikhlas dipersembahkan hanya khusus untuk keridzoaan-Nya semata.

Seoalah memang di jaman gombalisasi ini, segala sesuatu diukur dengan parameter materi. Barangkali sebagai seorang muslim kita sangat mendambakan tayangan yang semurninya dibuat untuk menggapai nilai religiositas denga tingkat estetika yang tinggi tanpa diembeli pamrih duniawi. Kita tentunya tidak ingin agama hanya sekedar dimaknai secara dangkal dan sempit hanya pada tataran fisik dan ritual semata. Jangan sampai ritualitas agama disembah sedmikian rupa sehingga kita malah lupa terhadap tujuan penyembahan yang sejatinya hanya untuk Tuhan. Agama dan segala ritualitasnya hanyalah sarana dan metode untuk menuju kepangkuan ilahi, bukan tujuan akhir pengabdian dan penyembahan manusia.

Oleh karena itu penting untuk dilakukan ritualitas agama yang dilakukan dengan dasar rasa iman serta menggunakan metodologi pengamalan sesuai yang diajarkan Kanjeng Nabi. Iman pada intinya menuntut adanya kesatuan pengertian, komitmen dan tekad antara keyakinan di dasar lubuk kalbu, terucap pada lidah dan pelavalan lisan kita, dan tentunya yang paling inti dilaksanakan oleh segenap anggota tubuh kita. Dan itulah kesejatian cinta seorang makhluk kepda khaliknya.

Cinta adalah sesuatu yang bersifat fitrah, esensial dan sangat hakiki. Segala perbuatan yang dilandasi atas nama cinta tentunya akan terpancar melalui sebuah citra dalam naungan nur ilahi rabbi dan menebarkan sebaik-baiknya manfaat bagi alam raya semesta. Jadi citra merupakan kulit, wadah serta fenomena penampakan lahiriah semata. Seyogyanya memang antara esensi rasa dalam kedalaman jiwa dan kalbu harus dilakukan sepenuh hati dan memancarkan sebuah citra orisinil dan tanpa adanya kepalsuan. Ke depan mudah-mudahan kemasan acara yang ada di media kita benar-benar menjadi hidangan yang asli tanpa embel-embel kepalsuan, sehingga benar-benar menjadi sarana pendidikan untuk menjadi menusia yang lebih berperadaban sebagai “menungso” titahing jawoto ing marcopodo………..

Menungso merupakan figur jujur yang berani tampil apa adanya sesuai dengan fitrah ilahi yang digariskan Tuhannya. Menungso harus mampu bersikap andhap asor, tawadzu, rendah hati di antara sesamanya. Oleh karena itu bagi manusia sejati bersikap ksatria lebih dipandang sebagai suatu kemuliaan. Kemunafikan dan topeng palsu yang dicitrakan oleh banyak orang dengan lisptik kepalsuan duniawi berbalut bedak topeng kedustaan tidak layak untuk disandangnya. Agama menjadi menyatu dalam setiap gerak dan aliran nadi nafas dan darah, meanunggal ke dalam sanubari jiwa terdalam yang harus menyatu padu terejawantah dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Dan pancaran citra yang alamiah ilahiyah inilah yang merupakan citra sejati tanpa kepalsuan. Semoga adanya bulan puasa ini bisa menjadi suatu kawah candradimuka untuk menggembleng kita menuju kejernihan akal dan pikiran untuk berani berlaku jujur terhadap diri sendiri dan orang lain tanpa pembalutan topeng kemunafikan.

Oleh karena itu meskipun orang awam, kita harus lebih jeli mana yang disebut “kiai temen” mana yang “kiaitaiment”, beda antara daitemen dengan daitaiment. Kiaitainment ataupun daitaiment,juga ……taiment yang lain merupakan turunan dari infotainment, artinya just the show, hanya suatu tontonan yang tidak bisa dijadikan tuntunan dan peniatan awal hanya pada tataran keuntungan material saja, uang, popularitas, gensi dlsb……..waspadalah saudara!!!!.

 

.

 

 

Posted by Nananging Jagad at 02:42:27 | Permalink | Comments (2)

Monday, September 10, 2007

SAMBUT RAMADHAN

SELAMAT DATANG “BULAN SOK ALIM”

 

Ramadhan memang bulan penuh hikmah dan berkah bagi mereka yang mengerti dan atas petunjuknya mampu memanfaatkan moment penting tersebut sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan bahwasanya di bulan suci tersebut segala pintu kebaikan dan jalan untuk memperbanyak ibadah menuju surga dibukakan pintu lebar-lebar, sedangkan segala jalur penyesatan dan penjerumusan derajat manusia yang mengantarkannya ke neraka jahanam ditutup serapat-rapatnya. Setan dan iblis dibelenggu, cuti tahunan sementara waktu,  sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya menggoda manusia yang tak taat aturan Tuhan.

Di bulan Ramadhan, semua aktivitas manusia seakan terserap hanya untuk memikirkan ritual puasa semata. Ibu-ibu selalu lebih sibuk di dapur menyiapkan hidangan buka puasa. Anggaran belanja rumah tanggapun, sebagian besar dialokasikan untuk kepentingan menu istimewa sahur dan buka puasa. Para pembantu dan ibu rumah tangga memborong sembako dari mall-mall dan supermarket. Tak heran hal tersebut menimbulkan terjadinya kondisi pasar dimana ketika permintaan meningkat dan penawaran turun, sehingga seolah-olah terjadilah kelangkaan barang kebutuhan sehari-hari, dan tentu saja harga sembako melonjak tinggi. Kiranya hal demikian tidak pernah terjadi di negeri Madinah di jaman Nabi, karena fokus perhatian umat Islam di kala itu bukan pemaknaan Ramadhan sebagai ritual semata, namung secara hakiki Ramadhan dipandang sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri, bertaqarub ilallahu, untuk berlatih mencapai predikat manusia taqwa.

Lain lagi cerita khas di republik kita, Indonesia. Ramadhan senantiasi disambut dengan gegap gempita. Mulai koran, radio, televisi mengemas berbagai acara bernuansa “islamis”. Mulai sinetron Aisyah, Takdir Ilahi, Tobat, Anah Sholeh,dll. Semua acara dikemas dalam baju keislaman, talk show, kuis dibawakan oleh para artis dengan baju agamis. Orang menebar salam dan senyum dimanapun. 

Pertanyaannya adalah adakah semua fenomena itu tulus, murni dan memang dilakukan dengan penuh kesadaran tinggi untuk menggapai ridzo Tuhan? Ataukah semuanya itu sekedar tuntutan dunia tontonan yang kebetulan musimnya lagi memasuki bulan dan edisi khusus, dalam artian semua itu hanya untuk memenuhi tuntutan kehausan “candu” dari masyarakat modern saat ini yang sengaja digali untuk merauk keuntungan material sebesar-besarnya? Dunia memang sudah edan, semua dinilai dengan parameter rupiah semata.

Ramadhan sebenarnya hanyalah cermin, kacabenggala kehidupan yang merupakan bayangan dari tingkah laku manusia sendiri.  Manusia yang baik akan mempergunakan momentum waktu yang baik tersebut semata-mata untuk menggapai kemulian hidup hakiki dunia dan akhirat di sisiNYa. Bagi manusia jenis ini, Ramadhan akan diisi dengan berbagai ibadah dan ritual sebagaimana ditauladankan oleh Nabi. Dengan demikian Ramadhan akan menjadi kaca jernih yang semakin menampakkan kejernihan jiwa, tulus ikhas batiniah, kesholehan, derajat ketaqwaan, bagaikan sinar nur ilahi yang memancar ke segenap penjuru semesta raya.

Sebaliknya bagi manusia prakmatis, yang ingin sekedar mendapatkan “image” sebagai manusia sholeh, Ramadhan akan memberikan bayangan kusam yang semakin menampakkan kotoran jiwa, kerendahan akhlak dan mentalitasnya. Maunya sok alim di hadapan Tuhan,namun yang didapat justru kehinaan derajat sebagai hambaNya.  Betapa murkanya sang Tuhan ketika melihat manusia mempermainkan dirinya, dengan berpura-pura seolah-olah taat di bulan Ramdhan, namun kemudian berkhianat di sebelas bulan berikutnya. Apakah seorang koruptor yang membelanjakan uang hasil korupsinya  untuk umroh tiap bulan terus disebut bukan koruptor? Maka wahai manusia, waspadalah terhadap semua fenomena kepalsuan dalam kehidupanmu……..”BECIK KETITIK ALA KETARA”.

Posted by Nananging Jagad at 09:13:01 | Permalink | Comments (8)

Friday, September 7, 2007

QUO VADIS REPUBLIK BHI

VACUM OF POWER

 

Seiring terbertiknya kabar angin mengenai Sang Presiden BHI yang akan winisudo sebagai pinonganten, bagaimanakah nasib selanjutnya Republik BHI? Apakah sudah terbentuk beberapa kaukus dan kubu yang berminat untuk melengserkan keprabonan ndalem?

Nampaknya detik-detik ke depan ini akan menjadi sangat krusial dan kritis bagi eksistensi Republik BHI. Adakah suatu rentang waktu ketidakjelasan proses suksesi sehingga terdapat jeda waktu status quo? Ataukah suksesi keprabon sudah sekian lama dipikirkan oleh segenap wargo dalem, sehingga pergeseran sang penguasa akan berlangsung secara mulus dan sempurna? Tunggu saja ginarising pepesthening kang akarya jagad………… 

 

Posted by Nananging Jagad at 08:04:37 | Permalink | Comments (7)