Monday, January 28, 2008

PAMBIOWORO

Wus tilair ing marcopodo kalis ing rubeda, titah dalem kang maha kuwasa, mios jaler, ing wanci lingsir wengi tabuh kalih enjing, surya 12 Suro 1941 Jawa (12 Muharam 1421 H) kaleres 21 Januari 2008 mapan ing Magelang Hadiningrat. Sang ponang jabang bayi banjur kaparingan tetenger:

RADYA HERMAWAN PUTRA

Apalah arti sebuah nama, demikian disampaikan oleh seorang simbah penyair dari masa lampau di negeri sebrang. Namun dalam hal ini sang bopo kurang berkenan dengan konsep nama tanpa makna tersebut hingga kemudian othak-athik gathuk berdasarkan wangsit wingit yang pernah diterimanya.

Nama sebagaimana tersebut di atas berasal dari dua kombinasi kata: Radyaputra + Hermawan

Tinjauan pertama:

# Radyaputra:

1. sisi keilmuan:

radya diandaikan atau dipersepsikan berasal atau mirip dengan kata radial;radiasi. Hal demikian dikarenakan kebetulan sang bopo bekerja di lingkungan medan radiasi. Radial merupakan proses pemancaran sesuatu dari suatu titik pusat pancaran tertentu ke segala penjuru secara simetris atau konvergen, bisa berupa berkas cahaya, panas, atau energi lain. Radiasi merupakan proses perpindahan energi tanpa melalui media perantara, sebagaimana energi panas matahari yang dipancarkan ke segenap penjuru Bimasakti. Oleh sebab itu diharapkan ke depan sang ponang jabang bayi yang menyandang nama tersebut dapat memancarkan nilai positif ke segala penjuru dimensi kehidupan, laksana anak matahari yang menyinari semesta sebagai sumber penghidupan bagi sesama makhluk Tuhan.

2. sisi ontologi linguistik:

menurut kamus bahasa Baoesastro(1935), radya berakar kata sama dengan radyan;rahardyan;raden. Radya atau radyan berarti kerajaan bisa juga raja itu sendiri, sedangkan rahardyan atau raden merupakan orang mempunyai sifat-sifat dapat memengku sebuah fungsi dan misi kerajaan dalam arti luas. Dengan demikian radyaputra merupakan anak kerajaan, anak bangsa, putra pertiwi yang diharapkan dapat menjunjung tinggi martabat tanah air, bangsa dan negara, dapat menghidupi kehidupan serta memayu hayuning bawana, mengasah mingising budi, lan memasuh malaning bumi. Dalam rangka mewujudkan tugas mulia tersebut sang radyaputra akan mendukung namun juga sekaligus didukung oleh sedulur sekawan keblat gangsal pancer.

Sekawan keblat yang dimaksud adalah:

a. raja; dapat berarti kesatuan dari unsur birokrat, teknokrat, alim ulama dan pemegang nilai-nilai kearifan lokal;

b. sentono dalem; diartikan sebagai trah, kerabat atau keluarga besar;

c. abdi dalem; diartikan kanca sejajar,teman karib, sahabat;

d. kawulo dalem; dimaksudkan rakyat atau masyarakat luas.

Sedangkan satu pancer kelima yang dimaksud adalah Tuhan. Dengan berusaha melaksanakan tugas mulia tersebut, diharapkan sang radyaputra kelak dapat menjadi abdi(abdullah) sekaligus manusia paripurna(insan kamil) sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan untuk memakmurkan bumi(kalifahtullah fil ardli).

3. sisi historis jagad pekeliran:

Dikisahkan bahwa Suryoputro alias Suryoatmojo alias Suryoyoga adalah anak sang Dewo Suryo yang dititipkan kelahirannya melalui telinga Dewi Kunthi sehingga dikenal juga sebagai Basukarno(basu:anak; karno:telinga). Dengan demikian lebih dari segalanya sang Basukarno adalah kakak tertua dari para Pandhawa Lima. Sesaat setelah kelahirannya, sang Basukarno dilarung atau dihanyutkan di sungai Gangga sehingga diketemukan sais kereta Prabu Radeya, kemudian diberi peparab Radeyaputra;radyaputra. Kelak di saat detik-detik menjelang meletusnya Bharatayudha, Radyaputra memilih membela tanah air yang telah menghidupinya dan kerabat yang menyantuninya yaitu Astina. Sebagai suatu strategi perang, Ibu Kunthi diperintahkan Basudewa Khrisna untuk membujuk Radyaputra agar bergabung dengan adik-adiknya di Pandhawa. Radyaputra menolak permintaan sang ibu, namun sebagai bukti kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya dan juga sebagai bukti dharma bakti kepada sang ibunda yang telah membuangnya di masa kecil, semua jimat kesaktian diserahkan kepada sang ibu demi kemenangan Pandhawa dan dia berjanji tidak akan mempergunakan senjata kunto(senjata pamungkasnya) saat menghadapi Arjuna, sehingga bahkan dia gugur di tangan Arjuna adiknya sendiri.

Dengan menyandang nama radyaputra, diharapkan kelak sang ponang jabang bayi dapat meneladani rasa narimo ing pandhum, memiliki jiwa jembar samodra, berjiwa sabar dan pemaaf sehingga tidak memiliki sifat pendendam bahkan terhadap orang yang telah menyia-nyiakannya sekalipun. Bakti kepada sang ibuadalah dharma tertinggi dengan perngorbanan segenap jiwa dan raga. Setia kepada janji dan tanah tumpah darah sampai hembusan nafas terakhir(dan memang istri Basukarno bernama Dewi Setyawati).

Tinjuan kedua:

# Hermawan:

Her, warih, tirto, banyu, atau toya adalah dasanama(synonime) dari air. Air merupakan sumber kehidupan, air sejati bersifat suci dan menyucikan. Sifat air adalah mbanyu mili, dia akan mengikuti kodrat alam sesuai perintah Tuhan. Namun ketika aliran air terbendung atau mampat, maka ia akan menjelma menjadi air bah yang sanggup meluluhlantakkan setiap penghadang dan penghalang di hadapannya.

Ma merupakan akronime dari manungso(manunggaling kridho lan roso), manusia, titah sewantah jalma limrah.

Wan adalah kata ganti kepemilikan sifat seorang pria.

Dengan demikian Hermawan dapat diartikan sebagai sosok pria yang mempunyai sifat atau perwatakan air.


Demikian othak-athik gathuk seorang bopo sebagai doa terhadap sang atmojonya agar kelak menjadi orang yang berbakti dan berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara terlebih bagi agamanya. Lepas dari segala harapan dan doa kridhaning ati ora biso mbedhah kuthaning pasthi, budi dayane menungso ora biso ngungkuli garising Kang Maha Kuwasa.

Bagaimana pendapat kisanak?

Posted by Nananging Jagad at 04:57:40 | Permalink | Comments (22)

Wednesday, January 16, 2008

OPO TUMON?

PROGRAM
KETAHANAN PANGAN NASIONAL

“Sebuah Kisah Ironi Bagi Petani”

Dalam satu kesempatan rapat kabinet terbatas di Departemen Pertanian 15 Januari 2008, Presiden Susi menyampaikan bahwa terjadinya bencana alam yang menimpa tanah air akhir-akhir ini juga banyak menimpa daerah-daerah sentra produksi pangan nasional. Hal tersebut membuatnya khawatir bahwa bencana alam yang terjadi akan disusul dengan bencana kelaparan akibat tidak adanya ketahanan pangan nasional yang mampu menyediakan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Untuk itu diluncurkanlah di awal tahun ini program untuk peningkatan ketahanan pangan nasional.

Dana yang dianggarkan untuk program tersebut mencapai sembilan triliun rupiah, ini berarti terdapat peningkatan anggaran di Departemen Pertanian sebesar 40% yang secara khusus akan digunakan untuk pembangunan kembali infrastruktur penunjang sektor pertanian seperti bendungan, saluran irigasi, penyediaan bibit unggul dan sarana produksi, serta prasarana pasca panen. Selain dipicu oleh berbagai bencana alam di tanah air, program tersebut juga sebagai respon adanya kekurangan stok berbagai produk pertanian untuk kebutuhan dalam negeri, seperti kedelai dan gandum, bahkan juga beras yang terpaksa harus diimpor dari luar negeri.

Nampaknya pemerintah tidak akan pernah kehabisan ide dan kreativitas untuk menciptakan suatu program baru. Hanya pertanyaan masyarakat adalah sejauh mana program yang dicanangkan pemerintah dapat berjalan efektif dan mendapat respon dari pelaku di lapangan, sehingga dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Di pertengahan Juni 2005, barangkali masih segar di ingatan kita, Presiden Susi meluncurkan program revitalisasi pertanian, kehutanan dan kelautan. Program tersebut identik dengan program ketahanan pangan, namun apa lacur, bagaimana kabar program tersebut, apakah berhasil, ataukah gagal total?

Sepertinya suatu program pembangunan di era pemerintahan Presiden Susi ini hanya abang-abang lambe, sekedar pemanis bibir, sehingga antar suatu program dengan program lainnya tidak terintegrasi dengan baik, sehingga selalu amburadul dalam implementasinya di lapangan. Disamping itu seringnya terjadi perubahan struktur organisasi dan pergantian pejabat menjadi penghambat keberlanjutan program yang telah dicanangkan sebelumnya, sehingga masalah keberlangsungan dan kelanjutan program tidak dapat tertangani dengan baik. Masih ingat barangkali, di era Menteri Pertanian Prakoso dicanangkan Gema Palagung(Gerakan Masyarakat Palawija dan Jagung), era Bungaran Saragih dengan program agribisnis dan agroindustrinya, dan sekarang era Anton telah berubah dua kali pencanangan program, ditambah pola impor berbagai bibit unggul varietas pertanian dari luar negeri seperti RRC dan Thailand. Nampaknya program hanya tinggal program di dunia awang uwung.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pembina HKTI, Siswono Yudhohusodo mengatakan bahwa yang paling penting untuk dilakukan pemerintah adalah peletakan pondasi yang kokoh bagi suatu kebijakan politik pertanian yang terencana dan terimplementasi dengan baik, sinergis, dan berkelanjutan. Kebijakan yang dibuat secara parsial dan terpotong-potong tidak akan menuai hasil yang optimal.

Pertumbuhan penduduk di muka bumi berkembang sangat pesat mencapai satu miliar jiwa per tahun. Hal tersebut jelas harus diiringi dengan penyediaan cadangan pangan yang mencukupi sehingga ke depan harga pangan akan senantiasa naik secara signifikan. Sebagai satu contoh harga cpo sepuluh tahun yang lalu US$ 220 kini telah mencapai US$ 880 per tonnya. Indonesia sebagai negara tropis dengan luas lahan pertanian jutaan hektar sangat berpeluang untuk menjadi negara penghasil komoditas produk tropis terbesar di dunia. Hanya saja kebijakan pemerintah nampaknya sangat mengesampingkan peluang tersebut.

 

Kebijakan yang seringkali dibuat malahan sering memukul sektor pertanian di dalam negeri sendiri. Di negara belahan dunia manapun negara selalu memproteksi produk pertanian dalam negeri dengan penerapan bea masuk impor yang tinggi sebagaimana Jepang yang menerapkan angka 400%, Taiwan 140%. Kebalikan dengan negara kita, bahkan untuk kedelai, pemerintah menghapuskan sama sekali bea masuk menjadi 0%, hal ini jelas akan mejadikan Indonesia sebagai pasar yang dibanjiri kedelai dari berbagai negara. Negara seperti Amerika Serikat sebagai penghasil kedelai terbesar jelas akan berpesta pora menikmati keadaan tersebut, sedangkan nasib petani kedelai kita akan semakin hancur karena sistem pertanian yang tidak didukung kebijakan yang menunjang. Beberapa dekade yang lalu, saat bea masuk kedelai masih tinggi, para petani bergairah menanam kedelai hingga mencapai luas lahan 1,4 juta hektar dan mampu mensuplai kebutuhan nasional hingga 80%. Saat ini dengan bea masuk 10%, kedelai luar mulai membanjir, hingga petani kedelai melesu dan luas lahan berkurang menjadi 700 ribu hektar dan hanya mensuplai 60% kebutuhan nasional. Bayangkan dengan bea masuk 0%! Apa yang akan terjadi?

 

Contoh lain kebijakan yang salah juga terjadi untuk komiditas coklat atau kakao. Pada saat produksi bagus pemerintah menerapkan PPn sebesar 10% untuk pabrik pengolahan kakao di dalam negeri, sedangkan bea ekspor diterapkan 0%. Akibatnya banyak pabrik pengolahan yang gulung tikar dan kakao kemudian banyak lari ke luar negeri yang disambut dengan sangat baik oleh sebuah perusahaan di Johor yang menjadikannya sebagai pengolah kakao terbesar di Asia Tenggara. Dan lucunya kemudian produk coklatnya banyak dijual kembali ke Indonesia. Nampaknya hal tersebut bisa terjadi kemungkinan karena dua hal, pertama bodohnya pembuat kebijakan, atau hal yang ke dua adanya kolusi dan manipulasi untuk keuntungan oknum tertentu.

Dalam kondisi demikian, dimanakah keberpihakan pemerintah kepada petani, kepada anak bangsa sendiri? Apakah nasib petani selamanya hanya menjadi komoditas bagi kepentingan penguasa semata? Sepertinya petani dari jaman ke jaman hanya senantiasa dijadikan sebagai tumbal atas nama stabilitas pangan dan pembangunan nasional. Mohon renungkanlah kembali. Ampuuuuun pemrentah….!!!
Posted by Nananging Jagad at 04:15:44 | Permalink | Comments (12)

Monday, January 14, 2008

KIAMAT SUDAH DEKAT

SI MISKIN MEMBANGUN GEDUNG TINGGI
“salah satu fenomena tanda-tanda kiamat besar”
Seminggu berlalu di mesjid sebelah diselenggarakan sebuah tausiah mengambil tema “KIAMAT SUDAH DEKAT”. Dilihat dari judulnya sekilas nampak kesan sinetron banget yo! Tapi penyampaian Subkhi Al Buchori cukup menarik dan kocak. Diawali dengan pandangan mengenai penyambutan tahun baru dengan tradisi peniupan trompetnya. Hal tersebut dinilainya sebagai menyangi malaikat Isrofil yang bertugas meniup sangkakala tanda bumi akan segera hancur musnah tiada sisa yang dikenal sebagai fenomena kiamat besar(kubra).

Beberapa tanda-tanda akan datangnya hari kiamat besar dibagi menjadi tanda-tanda besar dan kecil. Tanda besar diantaranya terbitnya matahari dari arah barat, datangnya nabi-nabi palsu, bangkitnya Nabi Isa untuk memberantas ya’juj wal ma’juj. Sedangkan tanda kecil diantaranya datangnya hujan yang tidak menyuburkan bumi, seringnya lapisan batuan bumi diguncangkan melalui gempa, banyaknya populasi perempuan dibandingkan pria, banyak ibu yang melahirkan tuannya, banyak orang miskin yang membangun gedung tinggi, dan masih ada beberapa contoh lainnya.

Hal yang menarik adalah ketika di akhir pekan kemarin saya sempat mudik, pulang kampuang di kampuang nan jauh di mato lereng Gunung Merapi. Ruar biasa….. baru sekitar tiga bulan tidak ngaruhke dusunku tercinta tersebut, sudah terdapat beberapa perubahan pemandangan yang sangat mencolok. Memasuki mulut dusun, langsung disuguhi sebuah bangunan mentereng nan menjulang tinggi yang dibangun oleh seorang “juragan baru” yang saat ini sedang mendulang won di Korea dan tengah berada di puncak karirnya. Sebuah rumah bergaya kemewahan kota dengan bertingkat tinggi.

Bergeser kira-kira 500 meter memasuki jalan utama dusun terlihat sebuah rumah setengah jadi bertingkat dua berdinding batako yang belum tersentuh plesteran. Rumah ini dibangun oleh seorang “cukong” yang mengaku sebagai pemborong yang barusan menerima uang gusuran rumahnya di Tangerang. Sang cukong kemudian mudik dan membangun rumah tersebut dengan sejumlah anggaran yang sangat fantastis yang selalu tergembar-gemborkan menjadi perbincangan warga dusun.

Kemudian tepat di ujung dusun, juga berdiri sebuah bangunan rumah bertingkat lagi, yang nampak masih jauh dari selesai. Konon rumah tersebut dibangun sebuah pasangan keluarga baru yang keduanya mantan TKI di Malaysia.

Hal penting yang menjadi keprihatinan saya sebenarnya adalah bahwa kisah pembangunan rumah-rumah gedung berukuran tinggi menjulang oleh para OKB tersebut dilatari oleh suasana keprihatinan yang terjadi di internal keluarga masing-masing. Untuk rumah yang pertama, sebuah keluarga kecil yang ditinggalkan sang kepala keluarga mengadu nasib di Korea. Kurangnya perhatian dari ayah nampaknya membuat si sulung menjadi sulit terkontrol untuk ukuran anak seusianya sehingga menjadi anak “kurang cerdas” diantara sebayanya. Dan yang lebih memrihatinkan, “tanda-tanda kepremanan” sudah nampak di depan mata. Ugal-ugalan pake motor untuk anak seusia kelas enam esde di sebuah kampung terpencil nampaknya menjadi aib tersendiri bagi sebuah keluarga. Nampaknya sang bapak di rantau sangat kurang bijak dalam “ngejor” semua kebutuhan sang anak yang berakibat menjadi bumerang di masa depan. Kejadian kedua terkait pembangunan rumah mewahnya adalah jatuhnya kurban seorang tukang bangunan akibat tersengat listrik pada saat pemasangan atap. Hal tersebut dikarenakan tinggi rumah yang menyundul kawat listrik PLN. Tak tanggung-tanggung, dua orang menjadi kurban meskipun tidak sampai meninggal, namun memerlukan perawatan di rumah sakit sekitar 2 minggu, dan hingga kini, dua bulan berselang dari kejadian naas tersebut sang tukang masih terbaring lemah di pembaringan.

Rumah tinggi ke dua juga nyundul kawat listrik PLN, namun tidak ada korban. Keprihatinan muncul karena setelah pembangunan rumah yang tidak diiringi dengan kecukupan dana pendukung membuat proyek mogol di tengah jalan, ibarat pepatah besar pasak daripada tiang. Gaji para tukang yang seharusnya dibayarkan terpaksa sampai saat ini masih diutang. Hal tersebut membuat pasangan suami istri yang baru pulang kampung setelah “sukses” menjadi orang “kaya” sering ricuh dan terjadi pertengkaran hebat yang membuat geger warga dusun. Dan sebagai puncaknya, si istri minggat dari rumah tanpa kabar jelas keberadaannya hingga kini. Dan tragisnya tiga orang anak ditinggalkan telantar, yang paling kasihan barangkali si bungsu yang baru berusia dua tahuan-an.

Rumah tinggi ke tiga tidak perlu saya lanjutnya……..gak jauh berbeda. Hal yang membuat saya nggumun, apakah fenomena OKB warga dusun kami, yang sebenarnya hanyalah orang “kere”(mohon maaf) yang sedang munggah bale tersebut ada hubungannya dengan salah satu tanda kecil akan datangnya tiupan Sang Terompet Isrofil?Bagaimana menurut kisanak sedoyo?

Posted by Nananging Jagad at 02:51:30 | Permalink | Comments (3)

Monday, January 7, 2008

FAKTA JAKARTA

TIKUS-TIKUS DI KEDOYA

Adalah Mas Edi, pria berpenampilan kalem dan berambut gondrong dengan kaca minus yang malam itu turut nguda roso. Dia adalah seorang wartawan mantan redaktur bertema budaya di sebuah koran besar bergelar Media Indonesia. Dia secara terbuka dan lugas menyampaikan pemaparan mengenai intrik-intrik yang terjadi di dalam rumah tangga koran besar tersebut yang diistilahkannya sebagai “pelembagaan agama dalam institusi media massa. Hal tersebut perlu disampaikannya sebagai suatu pembelajaran publik tanpa mau mendeskriditkan kelompok atau agama tertentu.

Media massa semestinya menyampaikan informasi kepada publik secara transparan, obyektif dan netral. Apabila disimak banyak koran besar yang telah mengambil posisi menuju kondisi ideal tersebut. Ambillah contoh, Kompas. Koran ini di sisi manajemen dan pemegang saham didominasi oleh kalangan Katolik. Namun dalam hal pemberitaan suatu berita tidak pernah mensortir pemberitaan menyangkut kejadian atau dakwah agama tertentu. Demikan halnya dengan Republika yang berangkat dari ICMI dan dimotori oleh para kuli tinta muslim.

Di Media Indonesia, dari jajaran petinggi mulai dari direktur dan wakil direktur, para redaktur didominasi oleh kalangan agama tertentu. Dan nampaknya hal itu berlangsung tidak secara alamiah, namun dengan suatu rekayasa terstruktur dan sistematis. Dalam suatu perekrutan pegawai baru, dari dua belas yang diterima, sepuluh diantaranya pasti berasal dari agama tertentu. Pernah ada suatu kasus penerimaan seorang jurnalis wanita muda kemudian dianulir karena yang bersangkutan diketahui mengenakan jilbab. Secara struktur dan kebijakan sangat terasa diskriminasi terhadap karyawan muslim di sana.

Dalam soal pemberiataan di bulan haji ini, menurut survey dan rating pemasang iklan tertinggi adalah liputan mengenai ibadah haji dan kegiatan umat Islam menyambut Idul Adha, dan berita tersebut sangat layak dimuat bahkan menjadi headline dan ditempatkan di halaman utama. Namun kebijakan dari para ndoro petinggi menitahkan bahkan berita tersebut jangan dimuat. Demikian halnya ketika terjadi domonstrasi besar-besaran oleh PKS di berbagai kesempatan juga laporan beritanya selalu dianulir oleh para petinggi.

Dalam pergaulan keseharian, pada saat rekan-rekan muslim melaksanakan sholat jum’at, karyawan dan jajaran direksi yang beragama lain kemudian secara sporadis selalu melaksanakan misa dengan alunan nyanyian gerejawinya seakan tak mau kalah dengan para muslim yang tengah khusuk beribadah. Hal ini mendorong Mas Edi menyusun buku berjudul ”Senandung Gereja di Kedoya” yang akan membeberkan kebusukan yang terjadi di media raksasa tersebut.

Hal tersebut oleh Mas Edi disampaikan kepada Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni, Dirjen Bimas Islam Prof Nazarrudin Umar, dan Direktur Pasca Sarjana UIN Prof Azuramardi Azra, dan pesan moral dari mereka adalah agar Mas Edi dan rekan-rekan yang masih bertahan di dalam sistem terus berusaha memperjuangkan aspirasi warga muslim.

Beberapa redaktur penting dan lebih senior dari Mas Edi kemudian mengundurkan diri setelah menempuh berbagai cara untuk memperjuangkan idealisme kode etik jurnalistik. Pihak manajemen kemudian merekrut para wartawan ”muslim abangan” yang bisa mereka ”tawar” dan dapat bekerja sama sekaligus untuk melegitimasi bahwa mereka tidak membawa misi pelembagaan agama. Seorang rekan dari anggota Jaringan Islam Liberal bahkan dengan suka rela membatalkan puasa Ramadhan ketika diajak makan siang oleh para bos. Dan hal tersebut dijadikan senjata oleh para ndoro bahwa ternyata si A dapat bertoleransi tinggi terhadap agama lain, dan yang lainnya semestinya juga bisa melakukan hal yang sama.

Berbagai cara telah ditempuh oleh Mas Edi dan rekan-rekan yang bertahan, mulai dari cara halus dan sopan sampai cara kasar tanpa sopan-santun lagi. Di tempat-tempat tertentu pada dinding tembok, semisal di toilet banyak karyawan yang mencoretkan umpatan dan keluhan…..si A redaktur brengsek, bajingan, dll. Bahkan pernah mereka melancarkan aksi membuat spanduk besar disertai karangan bunga raksasa yang memberikan selamat kepada seorang pejabat yang mengundurkan diri, padahal kenyataannya pejabat tersebut tidak mundur.

Akhirnya Mas Edi memilih jalan pengunduran diri dan mencoba memperjuangkan idealisme di luar kandang Kedoya. Proses hukum sedang berjalan dan atas bantuan serta mediasi Menteri Agama kasus-kasus tak wajar tersebut akan diangkat ke meja hijau di 2008. Seorang teman sejawat Mas Edi juga tengah menuliskan kesaksiannya dalam buku yang kelak diberinya judul Tikus Tikus di Kedoya.

Posted by Nananging Jagad at 08:14:55 | Permalink | Comments (2)