OPO TUMON?
PROGRAM
KETAHANAN PANGAN NASIONAL
“Sebuah Kisah Ironi Bagi Petani”

Dalam satu kesempatan rapat kabinet terbatas di Departemen Pertanian 15 Januari 2008, Presiden Susi menyampaikan bahwa terjadinya bencana alam yang menimpa tanah air akhir-akhir ini juga banyak menimpa daerah-daerah sentra produksi pangan nasional. Hal tersebut membuatnya khawatir bahwa bencana alam yang terjadi akan disusul dengan bencana kelaparan akibat tidak adanya ketahanan pangan nasional yang mampu menyediakan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Untuk itu diluncurkanlah di awal tahun ini program untuk peningkatan ketahanan pangan nasional.
Dana yang dianggarkan untuk program tersebut mencapai sembilan triliun rupiah, ini berarti terdapat peningkatan anggaran di Departemen Pertanian sebesar 40% yang secara khusus akan digunakan untuk pembangunan kembali infrastruktur penunjang sektor pertanian seperti bendungan, saluran irigasi, penyediaan bibit unggul dan sarana produksi, serta prasarana pasca panen. Selain dipicu oleh berbagai bencana alam di tanah air, program tersebut juga sebagai respon adanya kekurangan stok berbagai produk pertanian untuk kebutuhan dalam negeri, seperti kedelai dan gandum, bahkan juga beras yang terpaksa harus diimpor dari luar negeri.
Nampaknya pemerintah tidak akan pernah kehabisan ide dan kreativitas untuk menciptakan suatu program baru. Hanya pertanyaan masyarakat adalah sejauh mana program yang dicanangkan pemerintah dapat berjalan efektif dan mendapat respon dari pelaku di lapangan, sehingga dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Di pertengahan Juni 2005, barangkali masih segar di ingatan kita, Presiden Susi meluncurkan program revitalisasi pertanian, kehutanan dan kelautan. Program tersebut identik dengan program ketahanan pangan, namun apa lacur, bagaimana kabar program tersebut, apakah berhasil, ataukah gagal total?
Sepertinya suatu program pembangunan di era pemerintahan Presiden Susi ini hanya abang-abang lambe, sekedar pemanis bibir, sehingga antar suatu program dengan program lainnya tidak terintegrasi dengan baik, sehingga selalu amburadul dalam implementasinya di lapangan. Disamping itu seringnya terjadi perubahan struktur organisasi dan pergantian pejabat menjadi penghambat keberlanjutan program yang telah dicanangkan sebelumnya, sehingga masalah keberlangsungan dan kelanjutan program tidak dapat tertangani dengan baik. Masih ingat barangkali, di era Menteri Pertanian Prakoso dicanangkan Gema Palagung(Gerakan Masyarakat Palawija dan Jagung), era Bungaran Saragih dengan program agribisnis dan agroindustrinya, dan sekarang era Anton telah berubah dua kali pencanangan program, ditambah pola impor berbagai bibit unggul varietas pertanian dari luar negeri seperti RRC dan Thailand. Nampaknya program hanya tinggal program di dunia awang uwung.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pembina HKTI, Siswono Yudhohusodo mengatakan bahwa yang paling penting untuk dilakukan pemerintah adalah peletakan pondasi yang kokoh bagi suatu kebijakan politik pertanian yang terencana dan terimplementasi dengan baik, sinergis, dan berkelanjutan. Kebijakan yang dibuat secara parsial dan terpotong-potong tidak akan menuai hasil yang optimal.
Pertumbuhan penduduk di muka bumi berkembang sangat pesat mencapai satu miliar jiwa per tahun. Hal tersebut jelas harus diiringi dengan penyediaan cadangan pangan yang mencukupi sehingga ke depan harga pangan akan senantiasa naik secara signifikan. Sebagai satu contoh harga cpo sepuluh tahun yang lalu US$ 220 kini telah mencapai US$ 880 per tonnya. Indonesia sebagai negara tropis dengan luas lahan pertanian jutaan hektar sangat berpeluang untuk menjadi negara penghasil komoditas produk tropis terbesar di dunia. Hanya saja kebijakan pemerintah nampaknya sangat mengesampingkan peluang tersebut.
Contoh lain kebijakan yang salah juga terjadi untuk komiditas coklat atau kakao. Pada saat produksi bagus pemerintah menerapkan PPn sebesar 10% untuk pabrik pengolahan kakao di dalam negeri, sedangkan bea ekspor diterapkan 0%. Akibatnya banyak pabrik pengolahan yang gulung tikar dan kakao kemudian banyak lari ke luar negeri yang disambut dengan sangat baik oleh sebuah perusahaan di Johor yang menjadikannya sebagai pengolah kakao terbesar di Asia Tenggara. Dan lucunya kemudian produk coklatnya banyak dijual kembali ke Indonesia. Nampaknya hal tersebut bisa terjadi kemungkinan karena dua hal, pertama bodohnya pembuat kebijakan, atau hal yang ke dua adanya kolusi dan manipulasi untuk keuntungan oknum tertentu.
ketahanan pangan di sini udah ga ada semenjak sawah jadi perumahan, jalan raya, pabrik dan sebagainya.
ketahanan pangan disini ngaco pol…
giliran bikin peta rawan pangan untuk laporan, tiap daerah ngelaporin seminimal mungkin biar ga diomelin atasan.
giliran bikin peta rawan pangan untuk dikasih bantuan, tiap daerah ujuk2 ngelaporin semaksimal mungkin kalo daerahnya rawan pangan.
ketahanan pangan tuh program buat rakyat tahan gak makan….
BTW kalo nurut saya yang salah mah si om yang di rspp. revolusi hijau itu….
setuju ma komentar bung mikow aku.
bahasanya selalu hiperbola. ” Ketahanan Pangan “..membingungkan dan sekaligus ironis. Tipikal bahasa bahasa orde baru.
#mas Hedi:
betul banget,sekarang yang digalakkan pemrentah malah tanam beton dan moll je…
#bung mikow:
namanya juga orientasi otak proyek,prinsip ekonomi harus diamalken to?
#kang Slamet:
kalo soal rakyat tahan lapar itu mah gak usah diajari, mereka paling ahli dan pengalaman di bidang tersebut.
#ki brotoseno:
ternyata idealisme orba masih tumbuh subur di negri ini, sekti bener rupanya pak Harto!
ketahanan pangan?
Bencana atau nggak pangan indonesia nggak pernah tahan, selalu keropos.
Hemph.. saya jadi inget dulu Soeharto dan kroninya pada tahun 90an ingin membikin lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan. Bukannya sukses, tapi gak jalan. Ekosistem rusak, penduduk rugi krn banjir melulu dan tanah gak bisa ditanemin apah2.. Ganti ajalah namanya jadi Lahan Gambut Sejuta Nista..
#dodot:
Iyo bener banget, ketahanan memang hanya sampai pada tahap retorika populis to!
#titiw:
Lahan gambut sejuta hektar?…hemm gak pernah terdengar lagi memang, gimana kelanjutannya yo?
sebagai penggemar kopi, saya sakit hati karena harus membayar sangat mahal untuk secangkir kopi di salah satu negeri penghasil kopi terbaik
#mpokb:
begitulah mpok bila negeri kita tidak memiliki katahan pangan, hingga tidak mempunyai kemandirian untuk sekedar menentukan harga sesuatu produk….
Mengapa tidak memulai dari kita sendiri untuk mengembangkan ketahanan pangan? Saya sudah lama lelah berucap dan tidak pernah bersambut, maka akhirnya saya coba lakukan sesuatu. Salah satu yang saya garap melalui niriah.com (portal bisnis dan ekonomi syariah) adalah pemberdayaan pertanian yang mencakup sisi finansial, teknis dan bisnis (pemasaran). Kami bahkan membangun lembaga keuangan mikro syariah untuk sebagai organ pelaksananya.
Sudah terlalu lama kita terlena oleh buaian hutang. Saya memilih untuk memulai dengan karya nyata. Mau bantu?