Senin, Januari 28, 2008

PAMBIOWORO

Wus tilair ing marcopodo kalis ing rubeda, titah dalem kang maha kuwasa, mios jaler, ing wanci lingsir wengi tabuh kalih enjing, surya 12 Suro 1941 Jawa (12 Muharam 1421 H) kaleres 21 Januari 2008 mapan ing Magelang Hadiningrat. Sang ponang jabang bayi banjur kaparingan tetenger:

RADYA HERMAWAN PUTRA

Apalah arti sebuah nama, demikian disampaikan oleh seorang simbah penyair dari masa lampau di negeri sebrang. Namun dalam hal ini sang bopo kurang berkenan dengan konsep nama tanpa makna tersebut hingga kemudian othak-athik gathuk berdasarkan wangsit wingit yang pernah diterimanya.

Posted by Nananging Jagad at 11:57:40 | Permanent Link | Comments (22) |

Rabu, Januari 16, 2008

OPO TUMON?

PROGRAM
KETAHANAN PANGAN NASIONAL

"Sebuah Kisah Ironi Bagi Petani"


Dalam satu kesempatan rapat kabinet terbatas di Departemen Pertanian 15 Januari 2008, Presiden Susi menyampaikan bahwa terjadinya bencana alam yang menimpa tanah air akhir-akhir ini juga banyak menimpa daerah-daerah sentra produksi pangan nasional. Hal tersebut membuatnya khawatir bahwa bencana alam yang terjadi akan disusul dengan bencana kelaparan akibat tidak adanya ketahanan pangan nasional yang mampu menyediakan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Untuk itu diluncurkanlah di awal tahun ini program untuk peningkatan ketahanan pangan nasional.

Posted by Nananging Jagad at 11:15:44 | Permanent Link | Comments (12) |

Senin, Januari 14, 2008

KIAMAT SUDAH DEKAT

SI MISKIN MEMBANGUN GEDUNG TINGGI
"salah satu fenomena tanda-tanda kiamat besar"
Seminggu berlalu di mesjid sebelah diselenggarakan sebuah tausiah mengambil tema "KIAMAT SUDAH DEKAT". Dilihat dari judulnya sekilas nampak kesan sinetron banget yo! Tapi penyampaian Subkhi Al Buchori cukup menarik dan kocak. Diawali dengan pandangan mengenai penyambutan tahun baru dengan tradisi peniupan trompetnya. Hal tersebut dinilainya sebagai menyangi malaikat Isrofil yang bertugas meniup sangkakala tanda bumi akan segera hancur musnah tiada sisa yang dikenal sebagai fenomena kiamat besar(kubra).
Posted by Nananging Jagad at 09:51:30 | Permanent Link | Comments (3) |

Senin, Januari 07, 2008

FAKTA JAKARTA

TIKUS-TIKUS DI KEDOYA

Adalah Mas Edi, pria berpenampilan kalem dan berambut gondrong dengan kaca minus yang malam itu turut nguda roso. Dia adalah seorang wartawan mantan redaktur bertema budaya di sebuah koran besar bergelar Media Indonesia. Dia secara terbuka dan lugas menyampaikan pemaparan mengenai intrik-intrik yang terjadi di dalam rumah tangga koran besar tersebut yang diistilahkannya sebagai "pelembagaan agama" dalam institusi media massa. Hal tersebut perlu disampaikannya sebagai suatu pembelajaran publik tanpa mau mendeskriditkan kelompok atau agama tertentu.

Posted by Nananging Jagad at 15:14:55 | Permanent Link | Comments (2) |