Jumat, Agustus 24, 2007

PITULASAN ala nDALEM KRONGGAHAN

PITULASAN - Lutungan

Pitulasan, begitulah ungkapan para simbah di dusun kami meyebut peringatan HUT Kemerdekaan RI setiap tahunnya. Dan alhamdulillah, tidak seperti tahun kemarin, pada pitulasan kali ini saya berkesempatan bali ndeso untuk ikut mangayubagyo. Tiba di ndalem romo petang menjelang maghrib. Tanpa dinyana Mbah Soma, tetangga samping rumah kami yang baru saja mudik setelah sekian lama menetap di Lampung, manyambut saya.

Mbah Soma sudah sudo rungon, tak mampu lagi mempergunakan indra pendengarnya secara optimal, sehingga beliau seringkali bicara ndleming tanpa peduli lawan bicara. Secara berapi-api Mbah Soma langsung memulai cerita historik mengenai perjuangang melawan Londo. " Jaman mbiyen aku melu berjuang. Dhek jamane Jepang ono hero, PETA, sukarela,lha aku melu sukarela." begitu ungkap beliau. Sukarela di sini maksudnya adalah para petani yang dipekerjakan untuk romusha.

Yang luar biasa dari simbah satu ini adalah meski usianya sudah udzur, 106 tahun, namun semangat beliau untuk rutin berjaah lima waktu di mesjid sangat tinggi. Meski jalan sudah thuyuk-thuyuk ngandhong opo mbecak paribasane, namun beliau selalu mewasiatkan kepada anak cucu agar rajin belajar dan mengaji. Hanya dengan bekal agama dan kemuliaan budi pekertilah manusia akan dapat berguna bagi nusa, bangsa dan agama sehingga dapat mikul dhuwur mendhem jero terhadap kedua orang tuanya.

Sebagai tradisi di dusun kami setiap pitulasan adalah acara lutungan. Lutungan di tempat lain lebih dikenal sebagai panjat pinang. Hanya saja ada yang sedikit berbeda dan unik dari acara lutungan kami. Para lutung, pemanjat jambe, berkostum hitam areng, dan dicat warna-warni, dan beberapa mengeanakan topeng buto, cakil dll. Para lutung berjoged ria dengan diiringi alunan gamelan ala kubro siswo dengan nyanyian lagu-lagu perjuangan dan dakwah islam. Saking barasyik mashuknya para lutung, tak jarang banyak yang sampai ndadi dan tak kalah hebat dengan pemain jathilan. Mereka bisa memecah kelapa, makan beling, minum air kembang dll. Para lutung berjoged mengelilingi jambe dan satu dua memanjat pinang licin setinggi sekitar 15 meter. Hadiah di atas menunggu, diantarane kaos, sepatu, voucer, olie, krupuk, slondhok dll. Acara berlangsung meriah dan banyak penonton dari desa lain dengan seksama menyaksikan sampai acara berakhir di jam 12 malam.

Satu hal perenungan, apakah sebenarnya kita sudah merdeka? merdeka dari kemiskinan, dari kebodohan dan keterbelakangan???? Jawabnya tentu belum. Bahkan bangsa kita tidak semakin dewasa untuk memperkuat persatuan. Kita semakin terpecah belah dan mementingkan kroni, golongan, suku dan kelompok masing-masing. Haruskan kita dijajah secara politik olah bangsa lain lagi untuk bisa bersatu sebagaimana angkatan 45? JIka memang demikan monggo kita sowan bareng-bareng ke Ratu Yuliana dan ucapkan " mbok monggo negari kulo dipun jajah malih!!!!".

Ampuuun pemrentah..........!!!!!!!!

 

Posted by Nananging Jagad at 12:04:10 | Permanent Link | Comments (5) |
Komentar
1 - Lah kok boten mampir wonten Negari SAGAN - NewYorkYoKarto Hadiningrat ?

Sakniki pun dijajah malih kok kalihan "Balung Piyambak".

.:: he509x™ ::.
 (Comment this)

Ditulis oleh: MaNongAN at 2007/08/30 - 04:57:10
2 - wah sayang ra ono poto lutung karo simbah. (Comment this)

Ditulis oleh: de at 2007/08/30 - 07:08:31
3 - endonesa :) (Comment this)

Ditulis oleh: bahtiar at 2007/08/30 - 08:54:21
profile
4 - MaNongAN,Njiih mbokmenawi sanes wekdal saged mampir teng kedhaton sampeyan Kang.... (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/09/06 - 18:21:47 in reply to: 1
profile
5 - de,Lha itu dia....lutunge pada angus semua je... (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/09/06 - 18:25:48 in reply to: 2
Tulis komentar