SAMBUT RAMADHAN
SELAMAT DATANG "BULAN SOK ALIM"

Di bulan Ramadhan, semua aktivitas manusia seakan terserap hanya untuk memikirkan ritual puasa semata. Ibu-ibu selalu lebih sibuk di dapur menyiapkan hidangan buka puasa. Anggaran belanja rumah tanggapun, sebagian besar dialokasikan untuk kepentingan menu istimewa sahur dan buka puasa. Para pembantu dan ibu rumah tangga memborong sembako dari mall-mall dan supermarket. Tak heran hal tersebut menimbulkan terjadinya kondisi pasar dimana ketika permintaan meningkat dan penawaran turun, sehingga seolah-olah terjadilah kelangkaan barang kebutuhan sehari-hari, dan tentu saja harga sembako melonjak tinggi. Kiranya hal demikian tidak pernah terjadi di negeri Madinah di jaman Nabi, karena fokus perhatian umat Islam di kala itu bukan pemaknaan Ramadhan sebagai ritual semata, namung secara hakiki Ramadhan dipandang sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri, bertaqarub ilallahu, untuk berlatih mencapai predikat manusia taqwa.
Lain lagi cerita khas di republik kita, Indonesia. Ramadhan senantiasi disambut dengan gegap gempita. Mulai koran, radio, televisi mengemas berbagai acara bernuansa "islamis". Mulai sinetron Aisyah, Takdir Ilahi, Tobat, Anah Sholeh,dll. Semua acara dikemas dalam baju keislaman, talk show, kuis dibawakan oleh para artis dengan baju agamis. Orang menebar salam dan senyum dimanapun.
Pertanyaannya adalah adakah semua fenomena itu tulus, murni dan memang dilakukan dengan penuh kesadaran tinggi untuk menggapai ridzo Tuhan? Ataukah semuanya itu sekedar tuntutan dunia tontonan yang kebetulan musimnya lagi memasuki bulan dan edisi khusus, dalam artian semua itu hanya untuk memenuhi tuntutan kehausan "candu" dari masyarakat modern saat ini yang sengaja digali untuk merauk keuntungan material sebesar-besarnya? Dunia memang sudah edan, semua dinilai dengan parameter rupiah semata.
Ramadhan sebenarnya hanyalah cermin, kacabenggala kehidupan yang merupakan bayangan dari tingkah laku manusia sendiri. Manusia yang baik akan mempergunakan momentum waktu yang baik tersebut semata-mata untuk menggapai kemulian hidup hakiki dunia dan akhirat di sisiNYa. Bagi manusia jenis ini, Ramadhan akan diisi dengan berbagai ibadah dan ritual sebagaimana ditauladankan oleh Nabi. Dengan demikian Ramadhan akan menjadi kaca jernih yang semakin menampakkan kejernihan jiwa, tulus ikhas batiniah, kesholehan, derajat ketaqwaan, bagaikan sinar nur ilahi yang memancar ke segenap penjuru semesta raya.
Sebaliknya bagi manusia prakmatis, yang ingin sekedar mendapatkan "image" sebagai manusia sholeh, Ramadhan akan memberikan bayangan kusam yang semakin menampakkan kotoran jiwa, kerendahan akhlak dan mentalitasnya. Maunya sok alim di hadapan Tuhan,namun yang didapat justru kehinaan derajat sebagai hambaNya. Betapa murkanya sang Tuhan ketika melihat manusia mempermainkan dirinya, dengan berpura-pura seolah-olah taat di bulan Ramdhan, namun kemudian berkhianat di sebelas bulan berikutnya. Apakah seorang koruptor yang membelanjakan uang hasil korupsinya untuk umroh tiap bulan terus disebut bukan koruptor? Maka wahai manusia, waspadalah terhadap semua fenomena kepalsuan dalam kehidupanmu........"BECIK KETITIK ALA KETARA".










senang membaca ini, bermanfaat buat saya, salam!!! (Comment this)
semoga lancar dan berbarokah, amin,, (Comment this)
Njiiih, matur nuwun.....moga puasa ini membawa kebaikan bagi semua. (Comment this)