Senin, September 17, 2007

KENDURI CINTA SEPTEMBER

PEMULIAAN CITRA, PEMBUSUKAN CINTA

Malam sehabis tarawih ke tiga itu tetap digelar acara rutin bulanan di halaman Taman Ismail Marzuki Cikini. Tema diskusi yang sengaja diangkat merupakan fenomena rutin tahunan terkait hadirnya Bulan Suci Ramadhan. Sebagaimana kita ketahui bersama, situasi budaya bangsa kita dalam menyambut bulan puasa senantiasa gegap gempita dengan ritual-ritual pemaknaan lahiriyah semata. Mulai dari tayangan-tayangan "islamis" di media elektronik, sinetron islamis, kusi religius, sms taqwa, qur'an seluler, gosip islamis, dlsb. Belum lagi berbagai tawaran iklan berbagai macam produk barang dengan berbagai variasi diskon dan bingkisan lebarannya.........Fenomena apakah ini?

 

Sekali lagi, barangkali tepat bidikan teman saya, Marhaban ya Ramdhan......selamat datang bulan sok alim. Lingkungan kita, mulai dari rumah tangga, media massa, tatanan dan tataran kehidupan sosial kita sepertinya senantiasa menempatkan sisi formalitas sensualitas "agama" sekedar dalam tataran dan wacana kulit sosial. Dalam beragama kita seringkali lebih mementingkan raut muka, wadag lahiriah, citra dan gengsi kemanusiaan kita. Kita tidak pernah terdidik dan tergembleng untuk sedikit demi sedikit belajar seiring waktu untuk lebih mempelajari secara lebih mendalam mengenai hakikat setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada manusia.

Hampir di setiap Ramdhan kita senantiasa disuguhi dengan banyaknya tayangan yang dikemas secara "islamis" untuk jadi komsumsi kaum muslim yang tengah beribadah puasa. Sinetron ilahi, dengan pemeran para artis lengkap dengan busana muslim, jilbab, kerudung, hingga lengkap dengan sarung dan kupluk identitas seorang muslim yang akan segara ditanggalkan oleh sang artis ketika bulan Ramdhan pergi meninggalkan kita, untuk kemudian diganti lagi dengan model pakaian trendi dan seksi yang mempertontonkan urat dan aurat. Islam dengan segala simbolisasinya hanya dibutuhkan media selama bulan puasa untuk "sebenarnya" merauk keuntungan sebesar-besarnya para pemegang modal permediaan dengan memanfaatkan momentum dan trend yang sedang hangat di masyarakat. Tentunya memang tidak semua acara dikemas demikian, namun tampaknya sulit dipungkiri bahwa kita sedemikian sulit untuk menyebutkan jenis dan acara yang memang sengaja dikemas untuk tujuan kemashuran agama yang secara tulus ikhlas dipersembahkan hanya khusus untuk keridzoaan-Nya semata.

Seoalah memang di jaman gombalisasi ini, segala sesuatu diukur dengan parameter materi. Barangkali sebagai seorang muslim kita sangat mendambakan tayangan yang semurninya dibuat untuk menggapai nilai religiositas denga tingkat estetika yang tinggi tanpa diembeli pamrih duniawi. Kita tentunya tidak ingin agama hanya sekedar dimaknai secara dangkal dan sempit hanya pada tataran fisik dan ritual semata. Jangan sampai ritualitas agama disembah sedmikian rupa sehingga kita malah lupa terhadap tujuan penyembahan yang sejatinya hanya untuk Tuhan. Agama dan segala ritualitasnya hanyalah sarana dan metode untuk menuju kepangkuan ilahi, bukan tujuan akhir pengabdian dan penyembahan manusia.

Oleh karena itu penting untuk dilakukan ritualitas agama yang dilakukan dengan dasar rasa iman serta menggunakan metodologi pengamalan sesuai yang diajarkan Kanjeng Nabi. Iman pada intinya menuntut adanya kesatuan pengertian, komitmen dan tekad antara keyakinan di dasar lubuk kalbu, terucap pada lidah dan pelavalan lisan kita, dan tentunya yang paling inti dilaksanakan oleh segenap anggota tubuh kita. Dan itulah kesejatian cinta seorang makhluk kepda khaliknya.

Cinta adalah sesuatu yang bersifat fitrah, esensial dan sangat hakiki. Segala perbuatan yang dilandasi atas nama cinta tentunya akan terpancar melalui sebuah citra dalam naungan nur ilahi rabbi dan menebarkan sebaik-baiknya manfaat bagi alam raya semesta. Jadi citra merupakan kulit, wadah serta fenomena penampakan lahiriah semata. Seyogyanya memang antara esensi rasa dalam kedalaman jiwa dan kalbu harus dilakukan sepenuh hati dan memancarkan sebuah citra orisinil dan tanpa adanya kepalsuan. Ke depan mudah-mudahan kemasan acara yang ada di media kita benar-benar menjadi hidangan yang asli tanpa embel-embel kepalsuan, sehingga benar-benar menjadi sarana pendidikan untuk menjadi menusia yang lebih berperadaban sebagai "menungso" titahing jawoto ing marcopodo...........

Menungso merupakan figur jujur yang berani tampil apa adanya sesuai dengan fitrah ilahi yang digariskan Tuhannya. Menungso harus mampu bersikap andhap asor, tawadzu, rendah hati di antara sesamanya. Oleh karena itu bagi manusia sejati bersikap ksatria lebih dipandang sebagai suatu kemuliaan. Kemunafikan dan topeng palsu yang dicitrakan oleh banyak orang dengan lisptik kepalsuan duniawi berbalut bedak topeng kedustaan tidak layak untuk disandangnya. Agama menjadi menyatu dalam setiap gerak dan aliran nadi nafas dan darah, meanunggal ke dalam sanubari jiwa terdalam yang harus menyatu padu terejawantah dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Dan pancaran citra yang alamiah ilahiyah inilah yang merupakan citra sejati tanpa kepalsuan. Semoga adanya bulan puasa ini bisa menjadi suatu kawah candradimuka untuk menggembleng kita menuju kejernihan akal dan pikiran untuk berani berlaku jujur terhadap diri sendiri dan orang lain tanpa pembalutan topeng kemunafikan.

Oleh karena itu meskipun orang awam, kita harus lebih jeli mana yang disebut "kiai temen" mana yang "kiaitaiment", beda antara daitemen dengan daitaiment. Kiaitainment ataupun daitaiment,juga ......taiment yang lain merupakan turunan dari infotainment, artinya just the show, hanya suatu tontonan yang tidak bisa dijadikan tuntunan dan peniatan awal hanya pada tataran keuntungan material saja, uang, popularitas, gensi dlsb........waspadalah saudara!!!!.

 

.

 

 

Posted by Nananging Jagad at 09:42:27 | Permanent Link | Comments (2) |
Komentar
1 - Selamat datang komersialisasi agama :( (Comment this)

Ditulis oleh: Hedi at 2007/09/17 - 18:30:18
2 - ustad juga manusia. tapi kadang kita lupa dan terlalu mengharap kesempurnaan dari mereka. (Comment this)

Ditulis oleh: mpokb at 2007/09/28 - 19:12:24
Tulis komentar