TAMU TUHAN
KIAI SUDRUN ATAUKAH NABI KHIDZIR?
Malam itu sengaja Tuhan mengguyurkan limpahan air sejuknya di langit Jakarta. Suasana di masjid malam itu menjelang sholat Isya' yang akan dilanjut sholat tarawih. Mendadak seseorang dengan tubuh tambun mengeruyak barisan jamaah di barisan terdepan. Orang tersebut memakai sarung kumel dan menenteng sepotong tongkat pipa. Baju yang dikenakan nampak kusut dan dia juga memakai topi mini yang terlihat tidak cukup untuk dipakainya di ujung kepalanya yang bulat besar.Bau orang tersebut, yak ampun, super "sengak" sehingga membuat jamaah yang lain menahan nafas. Orang misterius tersebut datang dengan menenteng gembolan dan "gombalan" dalam sebuah tas plastik hitam besar dan langsung meletakkannya di depan imam. Spontan jamaah yang lain mengingatkannya untuk memindahkan bungkusannya tersebut agar tidak mengganggu "pandangan" yang dapat mengurangi kekhusukan jamaah. Setelah memindahkan gembolannya, sang Bapak langsung mendesak barisan shof terdepan.
Di tengah prosesi tarawih, sang Bapak nylonong keluar, gak tahu kencing, wudlu, atau berbuat apa, tak seorang yang memperhatikannya atau jikalaupun para jamaah memperhatikannya, mereka juga tetap diam membisu agar tak batal sholatnya. Rakaat kedua sang Bapak kembali ke barisan dan langsung menyambung sholat, tanpa mikir rakaat yang semestinya dia hutang dari Tuhan.
Saat istirahat sholat, saat jamaah lain khusuk mengikuti dzikir yang dipandu sang Bilal, sang Bapak ini menjawil jamaah di seberang sampingnya seraya meminta sebotol aqua yang terlihat tergeletak di depan shof. Yang empunya aqua langsung memberikannya, meski dengan penuh tanda tanya. Habis sebotol air diembat, dia melirik botol yang lain, dia ambil dan sedikit ngomong kepada pemilik botol dan langsung mengembatnya pula. Dua botol air habis, dia pegang si botol, diamatinya merek botol tersebut, dielus-elus, seolah-olah barang antik yang sangat berharga dan baru pertama kali dijumpainya. Kemudian dia bilang ke pemilik botol, buat saya ya!Botol itupun dibawa sang Bapak kemudian disimpan menyatu dalam gombalannya tadi.
Fenomea aneh......Saya hanya bisa diam "nggumun", siapakah sang Bapak. Apakah gerangan beliau Kiai Sudrun yang sering dilegendakan orang? Ataukah dia Khidzir yang belum sempat tuntas mengajarkan ilmu hikmah bagi Musa?Atau jangan-jangan dia adalah Tuhan sendiri yang sengaja "ngejawantah" untuk menyapa makhlukNya sendiri? Nyolowadi memang.......mbuh ah.









