Rabu, Oktober 03, 2007

PIWULANG PARA PINISEPUH

KETUPAT:Laku kang papat

Tradisi lebaran di bumi Nusantara semenjak jaman nenek moyang senantiasa melekat erat dengan ketupat, nasi putih yang dibalut janur. Ketupat atau dalam bahasa Jawa disebut sebagai kupat, sebenarnya tidak sekedar tampil secara fisik sebagai hidangan khas hari raya untuk kudapan para sanak sedulur yang atang bersilaturahmi.

Kupat sejatinya memendam makna dan pesan ruhaniah yang dalam dari para wali. Lebaran berakar kata "lebar", yang bermakna sesudah atau selesai, di sini mempunyai pengertian suatu peringatan dalam ujud Hari Raya Idul Fitri setelah selama sebulan dididik di kawah candradimuka melalaui serangkaian pembelajaran puasa Ramadhan, sholat tarawih, tadarus Qur'an, serta dilengkapi penyaluran infaq, sodaqoh dan zakat fitrah. Serangkaian pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadikan manusia menjadi bertaqwa, sehingga saat lepas dari Ramdhan lahir kembali sebagai pribadi nan suci dalam suasana lebaran. Dan tentu saja diharapkan bekal kebiasaan yang dilakukan di bulan Ramadhan dapat menjadi bekal dan tradisi di sebelas bulan berikutnya.

Di saat penghujuang bulan suci Ramadhan,para wali dan para sesepuh berpesan agar dalam merayakan Idul Fitri hendaknya harus dilakukan tanpa melupakan kupat:laku papat(empat tindakan). Apakah yang dimaksud dengan laku papat tersebut? Laku papat yang pertama adalah membayar zakat fitrah bagi semua jiwa muslim besar dan kecil, tua dan muda, tanpa kecuali. Laku yang kedua adalah mengumandangkan kalimat Allah, berupa takbir, tahmid dan tahlil di malam menjelang 1 Syawal. Kemudian laku yang ketiga adalah mendirikan sholat Id di pagi hari saat matahari terbit hingga sepenaggalah. Dan laku keempat yaitu bersilaturahim kepada para tetangga, sanak saudara dan handai taulan.

Kupat terbungkus dalam daun kelapa muda yang disebut janur. Kelapa sebagaimana telah kita pelajari di dunia kepanduan sebagai tanaman nan serba guna yang dapat dimanfaatkan semua unsur pohonnya, mulai ujung akar hingga pucuk daun. Janur, dalam tata sastra bahasa Jawa bisa dijarwo dhosokkan menjadi "sejatining nur". Sejatinya cahaya yaitu nur illahi, cahaya Allah, sebagaimana ditegaskan bahwasanya Allahunnurusamaa wati wal ardl, Allah adalah cahaya langit dan bumi.

Demikianlah pesan para sesepuh yang amat luhur. Dengan jembatan empat laku utama tersebut diharapkan ibadah puasa Ramadhan dan semua ibadah sunnah yang menyertainya dapat lebih sempurna dan lengkap sehingga insan manusia akan menaiki peringkat derajat di mata Tuhan yang lebih tinggi sebagaimana makna "syawalun" atau peningkatan.

Sumber: Ceramah Prof.Dr. Bambang Pranowo.

Posted by Nananging Jagad at 09:02:56 | Permanent Link | Comments (2) |
Komentar
1 - Salam mas,

Semoga malam 10 terakhir ramadan ini memberi lebih keberkatan dan rahmat buat kita semua. Amin. (Comment this)

Ditulis oleh: jowopinter at 2007/10/03 - 14:59:40
profile
2 - Amiiien Kang...... (Comment this)

Ditulis oleh: Nananging Jagad at 2007/10/05 - 09:45:56 in reply to: 1
Tulis komentar