NATURALIS MISTIS
RINGIN - Simbol Nan Kaya Makna

Orang Jawa menyebut pohon beringin sebagai ringin. Semenjak jaman awal sejarah di era animismedan dinamisme tradisional, pohon ini merupakan simbol bagi suatu persemayaman roh para leluhur. Berawal dari situlah kemudian keberadaan pohon ini pada suatu tempat tertentu dianggap sebagai papan yang angker, wingit atau papan kiwo, karena jarang orang mendekatinya. Dengan demikian nampaknya kurang begitu mengena ketika pohon ini dipilih sebagai simbol persatuan dalam sila ke tiga Pencasila.
Setelah era pencerahan dengan hadirnya agama dengan sistem monoteisme, ternyata tidak bisa menghapus secara tuntas ritus dan situs ringin sebagai simbol keangkeran tempat bersemayamnya roh halus dan para setan jin parayangan beserta danyang pengauasa alam gaib. Bahkan di pelosok Gunung Kidul Selatan, masyarakat setempat masih mengagungkan dan memuja beberapa ringin yang dijadikan resan oleh warga setempat. Setiap dusun di daerah tersebut memiliki papan keramat tempat bersemayam roh danyang dusun, dapat berupa batu besar yang disebut watu dukun atau pohon besar tertentu yang disebut resan.

Resan merupakan tempat melakukan ritus pemujaan dan persembahan sesaji. Di sanalah orang yang akan mempunyai hajatan meminta restu para danyang, bahkan untuk sekedar urusan turnamen sepak bola antar kecamatan pada saat bersih dusun atau rasulan yang diselenggarakan tiap tahun, harus juga meminta restu untuk kemenangan timnya. Bahkan untuk orang yang sakit juga dicarikan tombo di bawah resan tersebut.
Dalam setiap tata kota sebuah kedaton di Jawa, dua buah ringin selalu ditanam di tengah alun-alun yang kemudian karena dipagari disebut sebagai ringin kurung. Dua ringin di alun-alun kraton Jogja misalnya disebut sebagai Dewandaru dan Kalpataru, merupakan simbol dua dimensi kehidupan manusia. Dimensi vertikal menyangkut hubungan manusia dengan Sang Khalik dan dimensi horisontal menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya, baik makhluk hidup maupun lingkungan alam semesta. Pesan yang ingin disampaikan adalah perlu ada keseimbangan tata kelola hubungan yang harmonis diantara keduanya bagi terciptanya keselarasan hidup.
Namun demikian memang seringkali nuansa mistis yang malah menjadi fokus perhatian masyarakat terhadap pohon ringin. Hal serupa tampak jelas terhadap ringin kurung di alun-alun selatan kraton Jogja sendiri yang diyakini sebagai tempat bersemayam para jin. Nuansa mistis tersebut diaktualisasikan dalam wujud tantangan masangin, dimana seseorang berjalan lurus dari sisi utara ringin dengan mata tertutup untuk melewati sisi tengah diantara dua ringin kurung. Dan ternyata tidak semua orang bisa melewati jalur tersebut dengan benar, konon bila seseorang memiliki hati nurani yang tercemar atau tidak bersih akan diganggu jin sehingga jalannya menjadi berbelok.
Terlepas dari nuansa mistik beraroma syirik tersebut, sebenarnya banyak ahli sejarah berpendapat bahwasanya dikeramatkannya suatu pohon, hutan atau sungai tertentu oleh nenek moyang kita merupakan suatu pesan moral atau sasmita untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup bagi tetap terciptanya keseimbangan alam. Sebagaimana pernah ditulis pada sebuah cerpen Kuntowijoyo mengenai sebuah pohon ringin kramat di lereng Gunung Lawu, yang ketika kemudian ditebang oleh para agamawan, menyebabkan sumber air kehidupan bagi desa tersebut mati sehingga terjadilah kekeringan akibat terganggunnya harmonisasi alam.
Bagaimana pula dengan nasib ringin di kota megapolitan Njakarta Hadiningrat. Ternyata tidak begitu berbeda dengan kepercayaan di daerah. Salah satu contoh ringin di sebelah utara HCB(Harmoni Center Busway) yang mengundang banyak tanya bagi sebagian orang. Konon pada saat pembangunan HCB pohon tersebut akan ditebang, banyak pihak protes dengan berbagai alasan. Ada yang murni karena untuk menjaga kerindangan dan keasrian lingkungan, ada yang merasa terusik tempat pemujaannya. Masih konon lagi, ketika pekerja proyek berusaha menebang ringin tersebut, beberapa diantaranya jatuh sakit bahkan ada yang diceritakan sampai meninggal dunia karena diganggu roh halus penunggu pohon. Sampai-sampai sang pimpinan proyek membuka sayembara berhadiah Rp 50 jt bagi pekerja yang berhasil menebang ringin tersebut.

Prokontra berkembang kian memanas, bahkan beberapa orang kemudian memagari pohon tersebut dengan kain papan catur khas Bali dan menempatkan seperangkat sesaji di bawah sang ringin. Setahun berjalan setelah kejadian ontran-ontran tersebut, sang ringin hidup meranggas gersang nan merana sampai akhirnya 1 Oktober 2007 sekelompok aktivis pemuda dari ormas tertentu membabatnya habis. Oh beringin tua betapa naas akhir kisah hidupmu............










ndak pohon kelapa wae??
itu kalo mau ndaftar sayembara tengpundi niku mas? :D (Comment this)