KENDURI CINTA
ROMANTISME
PERJALANAN BUDAYA
Kenduri Cinta malam itu terasa sangat istimewa dan beraroma romantisme, karena malam tersebut Cak Nun mengawali acara dengan mengajak semua jamaah untuk mengenang kembali karya besar beberapa anak bangsa yang telah banyak dilupakan oleh generasi muda penerus bangsa. Hal tersebut dimaksudkan agar kita bisa menemukan akar asal usul keberadaan kita, dan lebih bisa memaknai dan menghargai sebuah karya. Pada kesempatan tersebut sengaja diangkat kembali kisah hidup WS Rendra, Umbu Landu Paranggi dan beberapa tokoh sastra yang lain.
Sengaja malam itu dengan iringan wadyabala Kiai Kanjeng fullteam, dibawakan aransemen beberapa lagu lama dan juga dikombinasikan dengan lagu baru dari generasi baru. Sebagai penampilan iftitah, untuk menghangat suasana dan sedikit bernostalgia satu dasa warsa ke belakang, introsingel album Kado untuk Muhammad. Lagu kedua “Sebelum Cahaya” dibawakan oleh Mbak Via yang dibantu oleh sang anak tiri Sabrang.
Kemudian Cak Nun menguraikan kondisi bangsa khususnya carut-marut masalah keseharian yang dihadapi oleh warga ibukota, seperti kemacetan tiada akhir, ancaman bahaya banjir, kehidupan materialisme, dan segala tetek bengek bahan baku stress yang ada di Njakarta. Kemudian jamaah diajak kembali untuk memetakan segala permasalahan tersebut, meletakkan dalam porsi yang tepat sehingga dapat ditemukan alternatif ide solusinya. Lewat sebuah lagu yang diciptakan di tahun 1976 yang dikatakan sebagai lagu masa depan, yang tidak pernah dikenal apalagi diapresiasi, sebuah lagu ciptaan sang penyair besar “Presiden Malioboro”, Umbu Landu Paranggi berjudul Apa Ada Angin di Jakarta.
Kisah kemudian berlanjut saat Cak Nun mengembara di awal 80an di negeri tetangga Philipina dan berkawan dengan seorang aktivis LSM penentang Markos. Sang aktivis tersebut memaksa Cak Nun untuk ikut blusukan di belantara raya, jlajah deso milangkori berkejaran dengan tentara negara. Adalah seorang wanita bernama Selena, sang marsinahnya Philipina yang membela harkat dan martabat kaumnya, serta menjadi tumbal untuk menghantarkan Qory Aquino merebut pemerintahan. Ya sebuah lagu dengan dialek khas Tagalog, berjudul Selena dibawakan Cak Nun dengan penuh penjiwaan.
Masih berkembara di sudut pedesaan, sebuah lagu berjudul Salam dari Desa yang diciptakan oleh Leo “Imam Sukarno” Kristi. Syair lagu yang kemudian diurai tuntas sebagai simbol penjajahan kota atas desa dimana segala komoditas dan kekayaan desa diboyong ke pusat kota untuk kepentingan para pemilik modal. Hingga semua tiada tersisa lagi, sawah ladang bukan kami punya. Namun satu hal nampaknya masih tersisa dan akan tetap bersemayan dalam lubuk hati penghuni desa, kasih sayang kami punya.
Perjalanan berlanjut ketika banyak orang yang seringkali salah paham dan keliru menyapa Cak Nun. Suatu saat ketika di Kuala Lumpur tiba-tiba datang menghampiri seseorang dengan menunjuk Cak Nun seraya bertanya, “Bimbo ya?......Bimbo kan?”. Juga seringkali di Jakarta orang salah menafsirkan antara Cak Nur dan Cak Nun. Sebuah lagu dibawakan untuk mengapresiasi kebesaran Bimbo, Flamboyan.........berjatuhan, berserakan........Perjalanan nostalgia kemudian ditutup sementara dengan lagu Ruang Rindu yang dibawakan langsung oleh Sabrang.
Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengangkat tema diplomasi kebudayaan dalam rangka menegakkan nilai dan spiritualitas kemanusiaan dengan nara sumber Mas Ian Leonartbeth, Mrs Vionna(atase kebudayaan Autralia), dan Ibu Linda(mantan atase kebudayaan RI di Berlin).
Diskusi kemudian diselingi dengan penampilan Trio Gorilla(Mbak Bertha, mBah Surip, dan Endang) yang membawakan lagu Mak Erot, Sleepingbed, dan Tak Gendhong. Pembicaraan berlanjut dengan uraian Sabrang mengenai fenomega “surip-isme”, dimana lebih dari 50 kali jamaah disuguhi dengan lagu dan penampilan mBah Surip yang selalu itu-itu saja, namun setiap kali orang tertawa dan bergembira tanpa ada perasaan jenuh atau bosan. Rupanya bukan lagi masalah lagu baru atau lama, bukan lagi masalah dimensi bahasa dan penampilan, tapi lebih tinggi lagi ternyata, satu sama lain sudah mencapai pada hubungan frekuensi tingkat tinggi yang mengkomunikasikan hati. Dan itulah bahasa cinta sejati....bahasa kemanusiaan.
Diskusi berlanjut mengenai masalah keberadaan aliran sesat dan strategi per-inteligen-an oleh Mas Iwan dari BIN, dan Pak Wahyudi dari PETA(Pejuang Tanpa Akhir). Disampaikan bahwasanya Indonesia akan sangat tertinggal pembangunannya dengan negara lain akibat friksi-friksi antar anak bangsa yang banyak memakan sumber daya. Negara lain sudah mapan menari dengan dunia nuklir, sementara negara kita masih terus berpolemik, dan di tingkat penentu kebijakan tidak berani secara tegas mengambil keputusan strategis.










btw, masih jauh ternyata dari kantor .... apalagi kalo jalan kaki *ghubraks*
17 malem 18 ..... sampe jam 3 pagi? trus gak berangkat ke acara "Ngunduh Mantu" Presdir B-HI? *garuk² lagi*
kapan² dicari waktu dan rekan seiman-seperjuangan deh *Insya 4JJI*
.::he509x™::.
(Comment this)