Senin, Januari 14, 2008

KIAMAT SUDAH DEKAT

SI MISKIN MEMBANGUN GEDUNG TINGGI
"salah satu fenomena tanda-tanda kiamat besar"
Seminggu berlalu di mesjid sebelah diselenggarakan sebuah tausiah mengambil tema "KIAMAT SUDAH DEKAT". Dilihat dari judulnya sekilas nampak kesan sinetron banget yo! Tapi penyampaian Subkhi Al Buchori cukup menarik dan kocak. Diawali dengan pandangan mengenai penyambutan tahun baru dengan tradisi peniupan trompetnya. Hal tersebut dinilainya sebagai menyangi malaikat Isrofil yang bertugas meniup sangkakala tanda bumi akan segera hancur musnah tiada sisa yang dikenal sebagai fenomena kiamat besar(kubra).

Beberapa tanda-tanda akan datangnya hari kiamat besar dibagi menjadi tanda-tanda besar dan kecil. Tanda besar diantaranya terbitnya matahari dari arah barat, datangnya nabi-nabi palsu, bangkitnya Nabi Isa untuk memberantas ya'juj wal ma'juj. Sedangkan tanda kecil diantaranya datangnya hujan yang tidak menyuburkan bumi, seringnya lapisan batuan bumi diguncangkan melalui gempa, banyaknya populasi perempuan dibandingkan pria, banyak ibu yang melahirkan tuannya, banyak orang miskin yang membangun gedung tinggi, dan masih ada beberapa contoh lainnya.

Hal yang menarik adalah ketika di akhir pekan kemarin saya sempat mudik, pulang kampuang di kampuang nan jauh di mato lereng Gunung Merapi. Ruar biasa..... baru sekitar tiga bulan tidak ngaruhke dusunku tercinta tersebut, sudah terdapat beberapa perubahan pemandangan yang sangat mencolok. Memasuki mulut dusun, langsung disuguhi sebuah bangunan mentereng nan menjulang tinggi yang dibangun oleh seorang "juragan baru" yang saat ini sedang mendulang won di Korea dan tengah berada di puncak karirnya. Sebuah rumah bergaya kemewahan kota dengan bertingkat tinggi.

Bergeser kira-kira 500 meter memasuki jalan utama dusun terlihat sebuah rumah setengah jadi bertingkat dua berdinding batako yang belum tersentuh plesteran. Rumah ini dibangun oleh seorang "cukong" yang mengaku sebagai pemborong yang barusan menerima uang gusuran rumahnya di Tangerang. Sang cukong kemudian mudik dan membangun rumah tersebut dengan sejumlah anggaran yang sangat fantastis yang selalu tergembar-gemborkan menjadi perbincangan warga dusun.

Kemudian tepat di ujung dusun, juga berdiri sebuah bangunan rumah bertingkat lagi, yang nampak masih jauh dari selesai. Konon rumah tersebut dibangun sebuah pasangan keluarga baru yang keduanya mantan TKI di Malaysia.

Hal penting yang menjadi keprihatinan saya sebenarnya adalah bahwa kisah pembangunan rumah-rumah gedung berukuran tinggi menjulang oleh para OKB tersebut dilatari oleh suasana keprihatinan yang terjadi di internal keluarga masing-masing. Untuk rumah yang pertama, sebuah keluarga kecil yang ditinggalkan sang kepala keluarga mengadu nasib di Korea. Kurangnya perhatian dari ayah nampaknya membuat si sulung menjadi sulit terkontrol untuk ukuran anak seusianya sehingga menjadi anak "kurang cerdas" diantara sebayanya. Dan yang lebih memrihatinkan, "tanda-tanda kepremanan" sudah nampak di depan mata. Ugal-ugalan pake motor untuk anak seusia kelas enam esde di sebuah kampung terpencil nampaknya menjadi aib tersendiri bagi sebuah keluarga. Nampaknya sang bapak di rantau sangat kurang bijak dalam "ngejor" semua kebutuhan sang anak yang berakibat menjadi bumerang di masa depan. Kejadian kedua terkait pembangunan rumah mewahnya adalah jatuhnya kurban seorang tukang bangunan akibat tersengat listrik pada saat pemasangan atap. Hal tersebut dikarenakan tinggi rumah yang menyundul kawat listrik PLN. Tak tanggung-tanggung, dua orang menjadi kurban meskipun tidak sampai meninggal, namun memerlukan perawatan di rumah sakit sekitar 2 minggu, dan hingga kini, dua bulan berselang dari kejadian naas tersebut sang tukang masih terbaring lemah di pembaringan.

Rumah tinggi ke dua juga nyundul kawat listrik PLN, namun tidak ada korban. Keprihatinan muncul karena setelah pembangunan rumah yang tidak diiringi dengan kecukupan dana pendukung membuat proyek mogol di tengah jalan, ibarat pepatah besar pasak daripada tiang. Gaji para tukang yang seharusnya dibayarkan terpaksa sampai saat ini masih diutang. Hal tersebut membuat pasangan suami istri yang baru pulang kampung setelah "sukses" menjadi orang "kaya" sering ricuh dan terjadi pertengkaran hebat yang membuat geger warga dusun. Dan sebagai puncaknya, si istri minggat dari rumah tanpa kabar jelas keberadaannya hingga kini. Dan tragisnya tiga orang anak ditinggalkan telantar, yang paling kasihan barangkali si bungsu yang baru berusia dua tahuan-an.

Rumah tinggi ke tiga tidak perlu saya lanjutnya........gak jauh berbeda. Hal yang membuat saya nggumun, apakah fenomena OKB warga dusun kami, yang sebenarnya hanyalah orang "kere"(mohon maaf) yang sedang munggah bale tersebut ada hubungannya dengan salah satu tanda kecil akan datangnya tiupan Sang Terompet Isrofil?Bagaimana menurut kisanak sedoyo?

Posted by Nananging Jagad at 09:51:30 | Permanent Link | Comments (3) |
Komentar
1 - Kalau rok mini2 semakin tinggi dan "gunung-gunung gundul dan tidak tinggi" semakin terlihat itu tanda-tanda besar apa kecil Kang? :D (Comment this)

Ditulis oleh: -=«GoenRock®»=- at 2008/01/14 - 21:24:58
2 - @atas : gunung yg mana toh? :D (Comment this)

Ditulis oleh: mikow at 2008/01/15 - 10:57:52
3 - semoga kita tidak "menangi" jaman ketika terompet itu disebul, kang....... (Comment this)

Ditulis oleh: sluman slumun slamet at 2008/01/15 - 21:33:16
Tulis komentar