GEMPA JOGJA
SASMITA DARI JOGJA
Berbagai kejadian bencana alam yang sangat luar biasa dan maha dahsyat nampaknya belum mampu menjadi pelajaran dan wahana mawas diri bagi manusia yang seakan buta terhadap “sasmita” dari Sang Penguasa Jagad Raya. Belum sempat hilang ingatan kita dengan berbagai rangkaian peristiwa bencana mulai dari tsunami Aceh, banjir dan tanah longsor di berbagai daerah, hingga kehebohan geliat Gunung Merapi, kita kembali terhenyak kaget dengan kedahsyatan gemba bumi yang melanda Yogyakarta pada Sabtu, 27 Mei 2006 kemarin.
Bagi sebagian masyarakat Jawa yang masih berpegang kepada mitologi “ilmu titen”, mempercayai bahwa dalam siklus selang waktu di antara 8 tahun(1windu), 32 tahun (1 zaman) dan 100 tahun (1 abad) seringkali merupakan sasmita terhadap akan terjadinya suatu peristiwa yang maha dahsyat. Adalah barangkali sosok Mbah Maridjan yang diberikan sedikit ilmu titen untuk
Belum usai perhatian pemerintah untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan meletusnya sang Merapi, dunia dikejutkan oleh gempa yang tak pernah terlintas di benak kita akan menimpa daerah “swapraja” Ngayojakarta Hadiningrat. Dan yang lebih menakjubkan ketika kemudian gempa diketahui berpusat di dasar Laut Selatan yang secara mitologi merupakan kesatuan “kerajaan ghaib” penopang berdirinya dinasti Mataram Islam. Ketika kita menganalogikan Laut Selatan dengan Merapi, sebenarnya Laut Selatan juga mempunyai juru kunci seperti sosok Mbah Mitro yang berdiam di Ngetal Tegalarum Imogiri dan juga ada Mbah Tomo di pertapan Kembanglampir Girisekar Panggang. Adakah kedua sosok sang juru kunci tersebut sebelum peristiwa gempa menimpa menerima sasmita-sasmita sebagaimana Mbah Maridjan terhadap Merapi. Pada dasarnya setiap juru kunci merupakan tokoh sentral terhadap suatu pola kearifan lokal yang memiliki pemahaman yang “linuwih” terhadap gejala dan sifat alam yang menjadi wilayah tanggung jawabnya.









