Senin, May 29, 2006

GEMPA JOGJA

SASMITA DARI JOGJA

Berbagai kejadian bencana alam yang sangat luar biasa dan maha dahsyat nampaknya belum mampu menjadi pelajaran dan wahana mawas diri bagi manusia yang seakan buta terhadap “sasmita” dari Sang Penguasa Jagad Raya. Belum sempat hilang ingatan kita dengan berbagai rangkaian peristiwa bencana mulai dari tsunami Aceh, banjir dan tanah longsor di berbagai daerah, hingga kehebohan geliat Gunung Merapi, kita kembali terhenyak kaget dengan kedahsyatan gemba bumi yang melanda Yogyakarta pada Sabtu, 27 Mei 2006 kemarin.

Bagi sebagian masyarakat Jawa yang masih berpegang kepada mitologi “ilmu titen”, mempercayai bahwa dalam siklus selang waktu di antara 8 tahun(1windu), 32 tahun (1 zaman) dan 100 tahun (1 abad) seringkali merupakan sasmita terhadap akan terjadinya suatu peristiwa yang maha dahsyat. Adalah barangkali sosok Mbah Maridjan yang diberikan sedikit ilmu titen untuk

memahami fenomena Gunung Merapi sehingga beliau senantiasa setia terhadap tugasnya selaku juru kunci Merapi. Ketika opini publik digiring oleh media massa yang menggambarkan seolah Merapi dengan “wedhus gembelnya” seperti monster yang siap menelan banyak korban jiwa dan harta benda dari masyarakat yang berdiam di sekitarnya, beliau tetap memegang filosofisnya bahwa Merapi adalah sahabat yang sedang punya “gawe” sehingga peningkatan aktivitas dipandangnya sebagai suatu kewajaran.

Belum usai perhatian pemerintah untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan meletusnya sang Merapi, dunia dikejutkan oleh gempa yang tak pernah terlintas di benak kita akan menimpa daerah “swapraja” Ngayojakarta Hadiningrat. Dan yang lebih menakjubkan ketika kemudian gempa diketahui berpusat di dasar Laut Selatan yang secara mitologi merupakan kesatuan “kerajaan ghaib” penopang berdirinya dinasti Mataram Islam. Ketika kita menganalogikan Laut Selatan dengan Merapi, sebenarnya Laut Selatan juga mempunyai juru kunci seperti sosok Mbah Mitro yang berdiam di Ngetal Tegalarum Imogiri dan juga ada Mbah Tomo di pertapan Kembanglampir Girisekar Panggang. Adakah kedua sosok sang juru kunci tersebut sebelum peristiwa gempa menimpa menerima sasmita-sasmita sebagaimana Mbah Maridjan terhadap Merapi. Pada dasarnya setiap juru kunci merupakan tokoh sentral terhadap suatu pola kearifan lokal yang memiliki pemahaman yang “linuwih” terhadap gejala dan sifat alam yang menjadi wilayah tanggung jawabnya.

Mengingat kembali terhadap sasmita yang disampaikan oleh Mbah Tomo kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, beliau menyampaikan bahwa: “amenangi jaman edan wong cilik poyang paying, kelangan bandha tegese ora kelangan apa-apa, kelangan nyawa mung kelangan separo ananging kelangan kapercayan/kapribadhen pada karo kelangan sak kabehe....” Apakah pernyataan tersebut relevan terhadap kejadian gempa yang banyak menelan korban jiwa dan harta benda kali ini? Apakah ketika manusia sudah banyak yang meninggalkan tata nilai, norma dan kaidah hukum yang digariskan oleh Tuhan, kemudian Tuhan menyampaikan peringatan melalui berbagai gejala alam dan manusia tetap tidak menemukan arti kesadaran sejati, maka tibakah waktunya Tuhan menghukum makhluknya? Mungkin lebih bijak bagi kita untuk mencoba mawas diri dalam pengertian "mulad sarira hangrasa pribadhi" dan menanyakannya kembali kepada rumput yang bergoyang..........
Posted by Nananging Jagad at 10:16:02 | Permanent Link | Comments (3) |
Komentar
1 - wah ... wangsit mantep iki .... :) (Comment this)

Ditulis oleh: pembaca setia at 2006/05/29 - 12:06:25
2 - seperti kata pak tino sidin karya diciptakan atas dasar inspirasi oleh orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakannya (sebenarnya seh bukan kt pak tino sidin). menurut aq tulisan mas nanang dah bagus tapi terlalu banyak kata kiasan yang mungkin sebagian orang awam kurang mengerti arti dan maksud dari kata yang dimaksud. terutama bagi orang yang bukan dari suku jawa. (Comment this)

Ditulis oleh: astri at 2006/05/29 - 16:28:52
3 - Apa juru kunci Parangtritis kurang ampuh ya? mbok suruh belajar ke mbah Maridjan gitu... (Comment this)

Ditulis oleh: ipoul_bangsari at 2006/05/30 - 10:25:23
Tulis komentar