Senin, Juni 05, 2006

SEMANGAT JOGJA(4)

 

Berita Seorang Sahabat.........

 

Terhenyak, kaget dan seakan tidak percaya, itulah yang terbersit di benakku ketika si Bos Yerri bercerita baru mendapatkan sms dari seorang rekan di Jogja pada sore itu, 28 Mei 2006. Sms tersebut mengabarkan bahwa Pak Waris, salah seorang dosen muda pengasuh padhepokan Gajah Mada yang sekaligus senior kami dan merupakan suami dari mBak Wibie teman seangkatan kami, telah berpulang ke rahmatullah pada peristiwa gempa mengenaskan, Sabtu 27 Mei 2006. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

       Kedua suami istri tersebut selama ini sebenarnya sedang melanjutkan menuntut ilmu di kota Bandung. Pada kesempatan liburan panjang tersebut mereka sengaja pulang ke rumah orang tua Pak Waris yang bertempat tinggal di wilayah Pundong, mBantul. Selain menyangkut suatu persoalan yang mesti diselesaikan sesegera mungkin, kepulangan itupun sekaligus untuk berpamitan dikarenakan kemungkinan besar hingga waktu lebaran nanti keduanya tidak dapat pulang terkait dengan kandungan mBak Wibie yang diperkirakan kelahirannya di seputar hari raya. Semenjak akan berangkat sebenarnya serasa ada firasat yang tidak mengenakkan dimana di hari yang ditentukan dan tiketpun sudah berada di tangan, Pak Waris merasa berat dan malas untuk budhal. Namun dengan kebulatan tekad akhirnya diputuskan untuk tetap berangkat pulang ke mBantul.

Pada saat kejadian gempa pagi itu, mereka sekeluarga bersama dengan tetangga sekitar berlari menuju sebuah SMP yang berada di kampung tersebut untuk mencari subuah tanah lapang dengan harapan dapat menyelamatkan diri. Namun bagi suami istri muda tersebut, untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak, karena justru di sekolah tersebut Pak Waris terkena runtuhan sekolah dan meninggal di tempat. Sedangkan mBak Wibie mendapatkan luka yang serius di bagian alis mata kanan dan bagian ibu jari kanan. Luka di kening yang mengucurkan darah sangat deras tersebut kemudian secara darurat diperban dengan sebuah jarit yang diberikan oleh seorang tetangga. Kemudian mBak Wibie dibawa ke rumah sakit di Bantul sebelum kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit DKT Kotabaru untuk perawatan luka. Selama kurang lebih sehari semalam berada di rumah sakit tersebut, banyak rekan, sahabat dan teman sejawat yang berkesempatan datang menjenguk. Hari Senin bersamaan dengan sang ayah yang baru datang dari Bogor semalam sebelumnya, mBak Wibie kemudian diputuskan untuk dibawa ke Bogor melalui Solo.

Setiba di Bogor kemudian perawatan mBak Wibie dilanjutkan di Rumah Sakit Azra selama beberapa hari, sampai akhirnya diijinkan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Cibinong.

Seminggu setelah gempa kami berempat (aku, nDoro Sinyo dan Harvit kemudian disusul Iqbal’97) berkesempatan menengok ke Cibinong. Sejenak mBak Wibie menceritakan peristiwa memilukan tersebut dengan tegar dan tenang serta sekan sudah pasrah dan dapat menerima takdir Tuhan yang telah berlaku atas keluarganya tersebut, sehingga hal itu membuat hati kamipun merasa lega dan bersyukur. Kamipun turut mendoakan semoga kesabaran santiasa dilimpahkan dan kelak mBak Wibie dapat menjalankan persalaninan putranya dengan selamat.

Kita semua yakin bahwa semua cobaan berasal dari Tuhan sebagai bukti tanda kasih sayang terhadap makhluk-Nya sehingga mau senantiasa mensyukuri segala karunia nikmat-Nya dan bersabar atas kesulitan hidup yang menimpa. Kitapun yakin bahwa rekan dan saudara kita dapat tegar dan akan segera bangkit untuk melanjutkan roda hidup masing-masing tanda termangu terlalu lama meratapi nasib akibat bencana kemarin sebagaimana mBak Wibie kami bangkit. Adalah bijaksana ketika Ngersa Dalem dan Bupati mBantul menginstruksikan agar warganya segera beraktivitas kembali mengurusi sawah dan ladangnya tanpa berpangku tangan mengandalkan bantuan terlalu lama. Gempa memang telah meluluh-lantakkan rumah tempat tinggal mereka, namun Tuhan masih menyisakan sawah dan ladang sebagai penopang mereka untuk melanjutkan hidup. Aset panenan untuk musim panen depan di mBantul saja diperkirakan senilai Rp. 300 M, sehingga jangan sampai aset yang sedemikian besar terlantar dan tidak bermanfaat karena terlalu mengandalkan dana bantuan pemerintah yang senilai Rp. 100 M.

Kita tahu bahwa masyarakat di Jogja dan Klaten adalah tipologi kawula yang senantiasa prihatin dan sakmadya dalam menjalani hidup sehingga dalam kondisi apapun tetap tangguh, tatag lan tanggon menghadapi cobaan dan terpaan badai. Jiwa dan semangat kemandirian, berdikari, berdiri di atas kaki sendiri dan pantang berpikir kridha lumahing asta kepada pihak lain adalah sikap dan pendirian hidup kita. Seluruh pelosok tanah air bahkan seantero penjuru dunia berdoa bagi kebangkitan saudara kita korban gempa Jogja-Jateng. Bersama Tuhan kita bisa................

Posted by Nananging Jagad at 09:57:56 | Permanent Link | Comments (4) |
Komentar
1 - mrinding aku moco iki ... :( (Comment this)

Ditulis oleh: pembaca setia at 2006/06/05 - 11:34:49
2 -  (Comment this)

Ditulis oleh: ipoul_bangsari at 2006/06/05 - 16:43:43
3 - Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
semoga sekeluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
dan semoga mbak wibie dan calon jabang bayi-nya tabah dalam menghadapi cobaan berat ini. (Comment this)

Ditulis oleh: DhEn BaGoeSe NgarSO at 2006/06/06 - 08:38:36
4 - turut berduka cita... (Comment this)

Ditulis oleh: Bag0nK at 2006/06/07 - 13:17:47
Tulis komentar