Selasa, Juni 13, 2006

JANOKO

Janoko bali nDeso

 

         Sore pukul 17.00 aku ayunkan langkah menuju stasiun Senen untuk memulai perjalanan panjang yang sudah tertunda sekitar dua tahunan untuk napak tilas menemui salah satu sangkanku yang ada di sudut tenggara Jawa Tengah. Gandrungmangu itulah tujuanku, sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Cilacap. Menjelang jam 18.00 loket tiket dibuka dan segera aku pesan dua buah tiket satu untuk diriku dan satu lagi untuk nDoro Sinyo sahabatku yang mudik ke mBangsari, sebuah desa di mBantarsari tetangga kecamatan.

          Pukul 19.45 kereta Citrajaya yang kutunggu memasuki jalur 1 dan segera diserbu penumpang yang sedari tadi tak sabaran. Bergegas aku masuk ke gerbong 3 dan kucari tempat duduk sesuai yang tercantum di tiket yang kubeli. Beberapa saat aku temukan kursiku dan segera kuatur bawaanku agar dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Beberapa penumpang masih simpang siur mencari tempat duduknya karena beberapa diantaranya salah memasuki gerbong dan bahkan ada yang saling berebut tempat duduk dengan nomor sama tanpa mau mengalah satu sama lainnya. Setelah dijelaskan oleh petugas dan penumpang sekitarnya untuk mengecek kembali nomor gerbong sesuai dengan tiket yang dipesan, akhirnya persoalan tersebut berhasil diselesaikan dengan tuntas.

Di tengah kesemrawutan penumpang yang hilir mudik, tanpa sengaja kulihat seorang penumpang membawa sebuah gandewa, busur panah besar terkalung di pundaknya. Maka secara spontan aku bisikkan ke nDoro Sinyo di sampingku “ Janoko bali ndeso Dab!!!”, karena terbersit di benakku Raden Arjuna, sang penengah Pandawa yang menenteng sebuah busur panah di pundaknya menuju Padang Kuruseta. Selidik punya selidik ternyata yang dibawa oleh sang Janoko yang unik ini bukannya gandewa tetapi sebuah knalpot sepeda motor yang dibelinya di kota sebagai souvenir kepulangannya ke kampung halaman. Sepanjang perjalanan tak habis pikir dan tanpa sengaja sering kuamati sang Janoko sampai akhirnya ia mendarat selamat di Sidareja, sebuah kota kecil sebelum Gandrung tempat tujuanku.

Sang Janoko yang satu ini mungkin merupakan perwakilan dari perwujudan dialektika desa dan kota yang senantiasa bersanding secara kontras. Di satu sisi terdapat fenomena terserapnya sumber daya baik alam maupun manusia dari desa ke kota lewat proses eksploitasi dan urbanisasi, namun di sisi yang lain masyarakat desapun senantiasa menggeliat dengan adopsi terhadap perkembangan teknologi modern. Pemuda desa yang pada umumnya merupakan generasi penerus petani kebanyakan kurang berminat lagi untuk meneruskan kehidupan bercocok tanam di sawah dan ladang serta lebih memilih untuk mengadu nasib di kota.

Hal tersebut bisa terjadi karena pola pikir yang memandang kehidupan petani sebagai bagian kelas sosial yang kurang bergengsi dan senantiasa identik dengan keterbelakangan baik segi intelektual maupun taraf ekonominya. Alasan kedua mungkin seiring dengan peningkatan tingkat pendidikan generasi muda di pedesaan, generasi berpendidikan tersebut lebih memilih profesi sesuai dengan keahlian yang diperolehnya dari bangku sekolah atau kuliah yang seringkali mengharuskannya hijrah mengadu nasib ke lain daerah, kota atau bahkan negara lain. Alasan berikutnya barangkali karena memang keluarga generasi muda tersebut tidak lagi memiliki lahan garapan yang layak, karena kebanyakan dari petani kita merupakan petani gurem yang sekedar menggarap lahan yang luasnya pas-pasan atau malahan hanya menjadi penggarap atau buruh lahan orang lain. Dengan demikian pandangan masyarakat terutama generasi muda masa kini memandang sektor pertanian kurang menjanjikan untuk dijadikan sandaran penghidupan mereka.

Memang harus diakui mungkin hal tersebut sudah menjadi kaharusan jaman, namun perlu ada suatu kompromi yang adil sehingga masyarakat desa dan kota bisa berdampingan secara harmonis dan saling menguntungkan satu sama lain. Perlu ada keseimbangan berpikir agar sang janoko-janoko tersebut  tidak terlampau luntur jiwa kepribadiannya oleh arus kehidupan kota yang seringkali tidak bersahabat dengan budaya mereka. Justru harus diyakinkan bahwa dengan pengembaraan sang Janoko di kota besar mampu menjadikan “kawah candradimuka” baru sebagai pertapaan yang mampu menempa diri mereka menjadi sosok ksatria utama penebar kebajikan di setiap langkah hidupnya. Semoga jiwa sang Janoko senantiasa hidup di tengah masyarakat kita...........

Posted by Nananging Jagad at 15:42:06 | Permanent Link | Comments (7) |
Komentar
1 - Weleeeh.. Citrajaya salah satu jalur sepur yg blum pernah aku naiki. Hmmm... kapan ya, bisa nyoba. Jadi sekarang masih di Cilacap?

"Bisa dicoba tu Mbak, jalure Senin-Kroya via Bandung...di Cilacap hanya dua hari je " (Comment this)

Ditulis oleh: Hany at 2006/06/13 - 16:58:13
2 - dolan-dolan teroooos...
enaknya 5 hari kerja... jadi ngiri... :(

" Wah jangan gitu Mas, jadi nggak enak bodi nich :-)"  (Comment this)

Ditulis oleh: Bag0nK at 2006/06/13 - 21:37:23
3 - wah pulang kampung ya...selamat kangenan dg keluarga...

PS: matur suwun, predikatku wis diganti :D

"Ya itu memang termasuk salah satu kampungku Mas, tapi klo kampung halamanku di Merapi Mas..........." (Comment this)

Ditulis oleh: Hedi at 2006/06/14 - 11:39:28
4 - Bisa aja ya...
Disangka gandewa taunya knalpot sepeda motor...:) (Comment this)

Ditulis oleh: ulin at 2006/06/14 - 15:52:21
5 - janoko - janoko ... :) (Comment this)

Ditulis oleh: bahtiar at 2006/06/14 - 16:08:17
6 - tak kiro judule arep "janoko nggowo kukilo"...

"......kukilone lagi flu je Dab!" (Comment this)

Ditulis oleh: ipoul_bangsari at 2006/06/15 - 13:03:19
7 - Hihihihihi Janoko ni yeeeeee (Comment this)

Ditulis oleh: Topik at 2006/06/16 - 12:24:59
Tulis komentar