KABAR MERAPI
MERAPI LEBIH TENANG
Selasa, 13 Juni 2006, Kantor BPPTK Yogyakarta menetapkan status aktivitas Gunung Merapi diturunkan dari Awas menjadi Siaga seiring dengan makin berkurangnya frekuensi terjadinya guguran lava maupun luncuran awan panas “si wedhus gembel”. Hal itu tentu saja membuat saya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari warga lereng Merapi merasa lega dan sedikit tenang. Meskipun dikatakan bahwa endapan kubah lava yang terbentuk selama periode 2006 sebesar kurang lebih 3 juta m3, namun apabila terjadi luncuran tidak akan mencapai daerah pemukiman penduduk.
Dengan penurunan status tersebut paling tidak bisa menenangkan warga untuk kembali beraktivitas mengolah sawah dan ladang yang untuk beberapa hari ini ditinggal untuk mengungsi atau bagi warga yang daerahnya relativ masih aman dan tidak mengungsi bisa bertani kembali secara lebih normal. Semalam kabar tersebut saya klarifikasi ke rumahku di sisi barat Merapi, dan memang dikabarkan hujan abu dan bahkan pasir yang beberapa hari lalu mengguyur desaku telah berhenti meskipun masih sesekali terdengar gemuruh ledakan dari puncak Merapi.
Untuk beberapa rentang waktu dimana Merapi berada pada puncak aktivitasnya, memang adanya hujan abu sangat mangganggu kegiatan pertanian di desaku. Beberapa varietas tanaman pertanian yang tidak tahan terhadap guyuran abu memang kebanyakan layu kemudian mengering, hal ini terutama terjadi terhadap jenis tanaman sayur-sayuran seperti sledri, loncang, wortel, tomat, kubis dan sawi. Namun tanaman utama seperti padi dan tanaman palawija berumur sedang masih bisa bertahan terhadap abu vulkanik. Dengan demikian secara umum tanaman pertanian tidak mengalami kerusakan yang terlampau berat.
Dikisahkan oleh tetanggaku bahwa adanya hujan abu sedikit mengganggu kegiatannya ngarit untuk sapi dan kerbaunya karena kolonjonone terlapisi debu dan pasir sampai beberapa milimeter sehingga memerlukan proses pencucian rumput sebelum diberikan kepada hewan ternak. Di samping itu kegiatan di sawah atau ladang juga terganggu dengan adanya debu beterbangan yang mengganggu pernafasan warga meskipun mereka sudah mengenakan atribut sang hanoman (masker). Dalam kondisi demikian warga harus waspada dan selalu menjaga kondisi tubuh agar tidak mengalami gangguan saluran pernafasan.
Di balik kendala “sementara” yang dihadapi warga tersebut, sesungguhnya ada beberapa keuntungan terkait dengan turunnya abu vulkanik Merapi. Abu yang mengandung beberapa unsur kimia seperti belerang ternyata cukup efektif untuk secara alamiah memberantas hama tanaman sayuran berupa ulat dan serangga. Manfaat yang akan dirasakan oleh warga kami untuk jangka panjang adalah meningkatnya unsur hara tanah akibat pengkayaan oleh abu vulkanik yang menimbulkan meningkatnya kesuburan tanah. Daerah kami semenjak dulu memang terkenal sebagai daerah utama penghasil tanaman holtikultura terutama jenis sayur mayur.
Belum lagi keberadaan material berupa pasir dan batu yang mengendap di beberapa sungai wilayah kami seperti Kali Putih, Kali Blongkeng dan Kali Lamat merupakan sumber penghidupan bagi beberapa tetanggaku yang berprofesi sebagai penambang pasir tradisonal.
Dengan demikian adanya Merapi yang punya gawe beberapa bulan ini merupakan keberkahan tersendiri bagi kami warga lereng Merapi. Marapi adalah anugrah penghidupan kami. Terima kasih Tuhan.











"Iyo nduk!...wingi keypade sing f ilang je." (Comment this)
"....rabbana ma kholaqta hadza bathila...." (Comment this)
dulu katanya derajat keparahan batuk berbanding lurus dengan derajat aktivitas merapi... :)
"....durung je Mas, iki malah kumat lagi wong kebanyakan begadang." (Comment this)