DOLAN - DOLAN
Dolan SUROBOYO

Untuk sekedar mengisi waktu akhirnya kami, aku dan rekanku, mencoba sedikit plesiran di pusat kota Pahlawan. Pertama kami bertandang ke WTC sekedar ingin tahu aktivitas di tempat tersebut. Ternyata WTC Surabaya semacam duplikatnya Roxy di Jakarta, merupakan pusat penjualan ponsel dan segala thethek bengeknya. Puas melihat WTC, kami kemudian bergeser ke utara mengunjungi Surabaya Plaza. Di tempat ini fokus kami hanya pada toko buku Gunung Agung untuk menjelajahi koleksi buku yang ada di situ. Capek muter-muter di situ, kami meneruskan anjangsana ke Monumen Kapal Selam di tepian Kali Mas.
Kapal selam KRI Pasopati 410 salah satu kapal selam TNI AL dari satuan Kapal Selam Armada RI kawasan Timur. KRI Pasopati termasuk jenis SS type whisky class di buat di Vladi Rusia tahun 1952. Masuk jajaran TNI AL (Satselarmatim) tanggal 29 Januari 1962 dengan tugas pokok menghancurkan garis lintas musuh (anti shipping), mengadakan pengintaian dan melakukan "silent raids". KRI Pasopati juga berperan aktif menegakkan kedaulatan negara dan hukum di laut yurisdiksi nasional, misalnya dalam operasi Trikora. KRI Pasopati terlibat langsung di garis depan, memberi tekanan-tekanan psikologis terhadap lawan, sehingga Irian Barat/Jaya [sekarang Propinsi Papua], dapat kembali ke dalam wilayah RI.
Pengunjung di monumen ini dapat melihat dan masuk ke dalam kapal dan mengamati dari dekat ruang kendali, ruang perwira, ruang tamtama, ruang peluncuran torpedo dll. Di samping melihat dan masuk ke dalam kapal selam, pengunjung juga disuguhi pemutaran diorama TNI AL di sebuah home theatre yang cukup nyaman.

Nampaknya memang dalam tatanan sistem arsitektur bangunan modern, mushola dianggap sebagai klilip sehingga keberadaanya harus tidak terlalu mecolok agar tidak mengganggu pemandangan. Tuhan ditempatkan di sudut-sudut pengap gedung dan di bawah selang-selang ruang parkir. Di era modern barangkali manusia sudah kurang atau bahkan merasa tidak membutuhkan Tuhan sehingga Tuhan ditaruh di belakang tumitnya. Tuhan bukanlah sesuatu yang penting dan menentukan. Semoga ini hanya pesismisme saya saja.
Di mushola tersebut kami bertahan sambil beristirahat mengendorkan otot kaki yang lemas sampai waktu Maghrib untuk kemudian kami cabut menuju terminal Bungurasih. Aku menuju Mount Island di barat Merapi, sedangkan rekanku ke kota Mapatih Nambi, Lamongan. Begitu kisah sehari di Suroboyo.......










g foto-foto karo tourist guide sing neng kapal selam KRI PASOPATI:(
BTW, Kang koe ki entuk fotone soko endi?
perasaan ki, dewe lali g nggowo kamera. (Comment this)
rek ayo rek *jreng!*
mlaku mlaku nang tunjungan
rek ayo rek
rame2 bebarengan...
cak ayo cak
sopo gelem melu aku... (Comment this)