Rabu, Juni 28, 2006

MASALAH BANGSA

ANAK SEKOLAH
 
            Malam itu sehabis sembahyang Isya’ di masjid, aku yang sudah hampir tiga bulan tidak mampir di kampung halamanku, ditanggap crito oleh beberapa karib lama di perempatan depan rumah Pak Dukuh. Tema pembicaraan awal berkisar pada peristiwa gempa Jogja untuk kemudian disambung episode Merapi kami yang sedang punya gawe. Dusunku yang terletak kira-kira 11 km barat Merapi malam itu makin tampak kelam karena semua pemandangan berlapis putih abu dan sedikit lapisan pasir muntahan Merapi, sehingga sesekali masih menyisakan sesak nafas dan rasa perih di mata ditambah hawa dingin angin gunung mengawali musim panas tahun ini.

Pembicaraan kemudian berlanjut dengan tema aktual setiap bulan Juni-Juli begini, pengumuman kelulusan siswa sekolah. Kang Muhadi menceritakan tentang ketidaklulusan keponakan perempuannya, Si Lilik. Ia merasa menyesal bahwa keponakan yang sudah yatim tersebut menghabiskan banyak biaya, ternyata hasilnya hanya sebuah ketidaklulusan. Ia merasa kurang sreg dengan kakangnya, Pakdhenya Lilik, yang ngotot prunannya harus sekolah. Padahal waktu itu sang keponakan sudah dilamar orang dan menyatakan tidak berkeberatan. Kang Muh berpendapat, “ Lha kalo anak perempuan itu sekolah mahal-mahal ndak lulus lagi buat apa? Biaya habis banyak, lagian kalo sudah nikah kan tidak dipakai ijazahnya”.

Rupanya masih ada juga warga di dusunku yang masih berpikir cekak soal pendidikan terutama jika yang bersangkutan adalah makhluk kaum hawa. Apakah memang penalaran berpikir Kang Muh yang baru sampai segitu, ataukah karena memang karena besarnya biaya pendidikan yang semakin melambung dan tak mungkin terjangkau bagi orang dusun seukuran Kang Muh. Di era privatisasi dan komersialisasi pendidikan saat ini, bagi kami warga dusun, pendidikan bagaikan supermarket dan mal-mal yang menjajakan beraneka barang yang bagi rata-rata kami merupakan impian yang sangat mustahil.

Belum sempat berlanjut pengembaraan anganku, Kang Samat nimbrung,” Sebenarnya tidak ada yang sia-sia dibelanjakan untuk tabungan pendidikan. Meskipun si Lilik tidak lulus, namun paling tidak dengan pendidikan yang pernah dilaluinya telah membuka cakrawala pandang yang lebih luas sebagai bekal yang sangat berharga untuk kehidupannya kelak.” Saya sempat kagum dengan pernyataan Kang Samat yang dulu pernah menamatkan pendidikannya sampai tingkat STM. Ternyata di dusunku di lereng gunung, yang adoh ratu mung cedhak watu, ada juga kesadaran tentang pendidikan yang tumbuh.

Kang Samat menambahkan, “Rendahnya mutu pendidikan saat ini lebih banyak disebabkan pengaruh negatif lingkungan”. Dia mencontohkan banyaknya stasiun televisi yang bermunculan membuat siswa lebih betah nonton tv daripada belajar di malam hari. Anak sekarang kurang sekali rasa prihatinnya dibanding jaman dulu. Sekarang anak sekolah sudah banyak yang megang motor, sehingga kalau habis pulang sekolah banyak menghabiskan waktu keluyuran tak karuan. Siswa yang naik kendaraan umum, sehabis jam sekolah, bahkan tak jarang yang bolos, hobinya thethek di terminal. Berbeda dengan anak dulu, pulang sekolah ya langsung pulang tanpa mampir-mampir meski sekedar ke rumah teman kalau memang tidak ada perlunya, apalagi yang harus ngonthel 8-10 km nanjak Merapi. Di samping faktor lingkungan juga terlihat kebijakan pemerintah dalam hal kurikulum dan standar pendidikan yang rendah, masak nilai rata-rata untuk kelulusan 4 koma. Jaman dulu murid selalu ditakuti kalau nilai rata-rata kurang dari angka 6 pasti tidak naik kelas atau tidak lulus. Ini berarti sekarang tidak ada lagi cambuk yang mampu memaksa siswa untuk mau tak mau rajin belajar.

Memang kondisi dulu lain kondisi sekarang, esuk dele sore tempe. Barangkali memang suatu keharusan jaman harus demikian. Namun apakah ini suatu kemajuan atau kemunduran jaman, pasti kita masih punya nurani untuk menjawabnya.

Obrolan kemudian berlanjut ke si Uud, anak Lik Yono, si anak cerdas yang barusan lulus SD. Saya sendiri yakin dengan potensi kecerdasan anak satu ini, karena dulu saya pernah intens mendampinginya di TPA. Bahkan sore sebelumnya, saya sempat berpapasan dengannya pada saat ia akan ngumbulke layangan di tegalan kosong. Dia sempat pula nagih kepadaku, seperti biasa setiap saya mudik, “ Lik, mangkih bar maghrib didongengi nggih”.Usut punya usut rupanya ia bukan saja hanya bisa ngumbulke layangan namun ternyata ia sendiri yang membuat layangan tersebut. Bahkan banyak pesanan layangan yang mengalir padanya. Uud membuat layangan bidho dengan bahan plastik mulsa hitam sisa penutup bedhengan di sawah. Saya lihat hasil karyanya rapi dan indah dan ketika kulihat layangannya mengudara juga mempesona.

Bocah Angon : Uud berdiri paling kanan

Permasalahan yang dihadapi si Uud adalah keinginan orang tuanya untuk menyekolahkannya di MTs terdekat dimana dari segi mutu dipandang kurang menunjang bakat kepandaiannya. Hal tersebut didorong karena perasaan pekewuh Lik Yono sarimbit dengan salah seorang tokoh masyarakat yang cukup berpengaruh di desa kami.

Untuk hal yang satu ini giliran Lik Hari yang nimbrung. “Kalo aku namanya anak pinter ya disekolahke di tempat yang mutu, nasib dia nanti mau jadi apa kan tak ada yang tahu, sehingga harus diihtiari sungguh-sungguh. Ra usah pekewuh karo Bu Hadi, wong anake Bu Hadi yo ra ono sing sekolah MTs kono to?.” Lik Hari pernah menyampaikan hal tersebut ke Lik Yono, bahkan waktu itu si Uud juga njawab ke Lik Hari. “ Mbah nek kados kula niki ajeng dadi nopo to? Dadi tentara yo ra nyonggah wong ra iso dhuwur”, begitu jawab Uud yang memang berperawakan pendek dibanding teman sebayanya.

Mendengar hal itu, saya menjadi terharu, anak sekecil dia sudah sebegitu pasrah sumarah mengenai jalan hidupnya. Ataukah ia sekedar nglulu sebagai suatu protes terhadap sikap bapaknya? Barangkali masih banyak anak bernasib senada dengan Uudku ini.

***************

Posted by Nananging Jagad at 14:18:53 | Permanent Link | Comments (16) |
Komentar
1 - mengharukan! hidup di desa itu tenang dan masyarakatnya nrima apa adanya pemberian Alloh SWT. kebahagiaan dan keberhasilan bisa datang dari mana aza. (Comment this)

Ditulis oleh: awi at 2006/06/28 - 16:00:42
profile
2 - awi, Sikap mayoritas orang dusun adalah senantiasa menerima apapun pemberian Tuhan sebagai suatu keharusan dengan penuh kesadaran bahwa menjalani hidup harus sakmadyo untuk mendapatkan ketentraman lahir dan batin...... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/06/28 - 16:49:48 in reply to: 1
3 - dawuhe mriyayeni.. :) (Comment this)

Ditulis oleh: ariwwok at 2006/06/28 - 17:54:44
4 - tepat sekali! berhala adalah berhala kekinian indonesia... (Comment this)

Ditulis oleh: ipoul_bangsari at 2006/06/28 - 21:26:30
5 - piye kabare, mas anang? sehat? syukurlah... :) (Comment this)

Ditulis oleh: sahrudin at 2006/06/28 - 23:31:51
profile
6 - ariwwok, Mosok to Mas?..hakikat priyayi memang menjunjung tinggi nilai luhur, bukan berasal dari kedarah-biruannya. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/06/29 - 08:24:17 in reply to: 3
profile
7 - ipoul_bangsari, Globalisasi zaman memang telah membawa pergeseran tata nilai, termasuk di dalamnya terdapat reinterpretasi dan reaktualisasi berhala-berhala produk modernitas peradaban baru. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/06/29 - 08:26:44 in reply to: 4
profile
8 - sahrudin, Alahmdulillah sehat Mas,minggu kemarin sempat pulang Mgl tengok kampung. Merapi sudah reda kok, tinggal ngruwat abu yang belepotan di dahan, daun dan batang tanaman untuk kemudian menumbuhkan kesuburan baru bagi harapan penghidupan petani ndeso...... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/06/29 - 08:29:43 in reply to: 5
9 - Kagem pendidikan anak, kedah gadah Plan A lan Plan B. Amargi biaya sekolah ingkang saged nyebabaken tiyang sepuh biayakan. Manawi mboten keconggah mlebet SMA, nggih kursus mawon, mbengkel utawi masak...lsp. Mangke saged gadah ketrampilan kangge ngupoyo upo. Buka bengkel, buka warung utawi rumah makan.
Kan kathah tiyang lulusan SD utawi SMP ingkang sukses ananging mboten nate kuliah. Malah kathah ugi sarjana ingkang ujung-ujungipun bakulan (sales), utawi namung dados buruh... (Comment this)

Ditulis oleh: Mbah Dipo at 2006/06/29 - 10:53:41
profile
10 - Mbah Dipo, Injiiih leres Mbah, estunipun pancen wonten jalur pendidikan formal, informal lan non-formal. sedaya saged kangge srana ngangsu kawruh kangge nggayuh pangupo jiwo... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/06/29 - 11:05:18 in reply to: 9
11 - Bicara masalah pendidikan, menurutku kadang2 tidak adil buat anak2 di indonesia, bagaimana tidak, anak yang ortunya mampu bisa les privat ini itu, bisa juga kuliah sampai ke LN, sedangkan anak dari lingkungan yang kurang mampu bisa sekolah saja sudah senang apalagi bisa sampai kuliah. Aku kadang sering membayangkan semua anak2 Indonesia dari sabang sampai merauke pasti akan senang sekali kalo bisa sekolah bebas tanpa biaya sampai kuliah seperti disini, karena tidak semua anak2 dari golongan mampu encer otaknya begitu pula sebaliknya banyak anak2 kurang mampu yang pandai tapi tak punya kesempatan sekolah sampai jenjang tinggi. (Comment this)

Ditulis oleh: ely at 2006/06/29 - 13:58:26
profile
12 - ely, Memang kalo negri ini ingin maju dan mengejar ketertinggalannya maka investasi di bidang pendidikan harus besar dan segala potensi kecerdasan anak bangsa diakomodir untuk mendapatkan peluang yang sama tanpa pandang bulu asal-usul dan strata sosial.
Senantiasalah bersyukur bagi yang diberi anugrah mengenyam pendidikan sampai jenjang yang tinggi..... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/06/29 - 14:14:16 in reply to: 11
13 - jaman memang selalu berubah... dulu waktu saya masih kecil orang2 yg sudah "dewasa" selalu mengatakan bahwa anak2 generasi saya waktu itu tidak serajin/sepandai generasi mereka...
kini saya pun mengatakan hal yang sama... anak2 generasi sekarang koq tidak seperti generasi saya dulu ya...? hihihi... (Comment this)

Ditulis oleh: bagonk.net at 2006/06/29 - 20:10:02
profile
14 - bagonk.net, Barangkali hakikat problematika manusia itu tetap, tetapi kontekstualisasinya yang berbeda tiap generasi pada setiap jamannya masing-masing, bagai kaset yang berulang-ulang diputar....itulah sunatullah barangkali, cakramanggilingan, gilir gumantining jaman. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/06/30 - 08:24:54 in reply to: 13
15 - Wah ceritanya menarik mas....
bikin saya ngebayangin in the spot sama orang-orang itu...

perubahan poal pikir selain membutuhkan pendidikan juga memerlukan peningkatan kesejahteraan mas (Comment this)

Ditulis oleh: catuy at 2006/06/30 - 09:38:47
profile
16 - catuy, Ya, betul....jer basuki mawa bea, setiap keinginan dan cita-cita membutuhkan srana(dana,waktu,sikap dll)
Bagaiman orang mau menyekolahkan anak, jika untuk kebutuhan sehari-hari saja harus gali lubang tutup lubang bahkan untuk sekedar makanpun kekurangan. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/06/30 - 10:19:52 in reply to: 15
Tulis komentar