THEKLEK
THEKLEK ala nDalem Kebun Kacang
Siang-siang tanpa aktivitas di hari liburan kadang terasa gerah dan menjemukan di dalam nDalem Kebun Kacang. Untuk sekedar memanjakan mata yang terkena teror serangan kantuk, seringkali kuhabiskan waktu rebahan sambil rengeng-rengeng campur sarinan dan membayangkan seolah klekaran di bawah sebatang waru doyong yang suejuk. Eunak hemm.......seakan tiada lagi kenikmatan dunia yang dapat melebihinya.
Suatu siang mengalunlah sebuah tembang campur sarinya Om Manthous.......” horotoyo nganggo theklek kecemplung kalen, tinimbang golek Dik, becike aluwung balen........” kebetulan pada waktu itu nDalem kami sedang kedatangan tamu agung, si Topik teman seperjuangan di Jogja yang telah sejak lama ditasbihkan sebagai cucune Mbah Marto. Sambil ngobrol ngalor ngidul, Topik bercerita tentang keadaan Dik Fuad yang lagi nandang wuyung. Selidik punya selidik aku bertanya wanodya mana yang gerangan dapat memikat lekat hatinya Dik Fuad. Apakah si Atun, pengelola restoran Mc Atun yang selalu menjadi langganan makan malam para ksatria nDalem ini.
Kemudian Topik yang memang punya otak dan selalu otak-atik ngelmu perdetektifan dengan dibantu si Bagor, menyampaikan analisisnya. Menurut data dan fakta yang berhasil dihimpunnya dan beberapa kali mewancarai Dik Fuad, dia meyakinkan bahwa sang wanodya yang digandrungi Dik Fuad adalah seorang lulusan Pakultas Geograpi dan ternyata masih tetangga desa di pelosok Buluspesantren, Kebumen sono. Mereka bertemu secara tak sengaja pada sebuah even yang diselenggarakan di bilangan Jakarta Selatan. Disebabkan kesamaan dan persamaan asal usul keduanya kemudian menjadi semakin akrab dan dekat, sehingga kemudian berlakulah teori atau lebih pasnya disebut kutukan para leluhur ”tresno jalaran soko kulino”. Wuaaduh...........
Mendengar cerita mengenai kisah percintaan dua insan dengan kesamaan asal usul tersebut, kemudian diinspirasi oleh lagunya Om Manthous lalu kami membangun suatu teori dan menelurkan suatu istilah bagi perjalan kisah asmara Dik Fuad sebagai ”theklek kecemplung kalen”. Secara sederhana dapat diartikan bahwa seseorang yang telah memasuki jenjang kedewasaan dan terlambat menceburkan diri dalam dunia percintaan mempunyai kecenderungan untuk mencari sang belahan jiwa dari bagian masa lalunya. Hal tersebut dimaksudkan untuk memimalisir resiko dan kemungkinan terjadinya kegagalan di tengah perjalanan karena secara garis besar masing-masing pasangan telah mengetahui perjalanan hidup pasangannya dan relatif lebih mengenalnya.
Dari teori theklek kecemplung kalen tersebut, kemudian seiring berjalannya waktu, Dik Fuad menjadi semakin jarang mempunyai waktu luang bagi kebersamaan nDalem kami seperti waktu-waktu sebelumnya. Hari liburan lebih sering dihabiskannya bersama dengan sang pujaan hati, sehingga apabila ada teman yang mencarinya, kamipun menjawabnya bahwa Dik Fuad sedang sibuk dengan thekleknya. Kemudian istilah theklek mengalami pergeseran dan penyempitan makna di dalam khasanah budaya nDalem Kebun Kacang sehingga eksistensinya dipersamakan untuk menggantikan kata cewek bin themon alias kenya.
Virus theklek itupun kemudian menyebar dan menjadi perbendaharaan kata di nDalem kami. Begitupun ketika Topik mengalami ketersandungan dengan teman TTM-nya di nDalem sebelah gang, dikarenakan tragedi tembak di tempat yang sempat terjadi di sekitar perempatan BI, maka secara spontan kamipun mengistilahkannya tragedi theklek. Bang Sitepu si Direktur Bank yang Batak tulen, pernah suatu malam minggu nylonong keluar dari nDalem kami dan ketika kutanyakan mau kemana, dibilangnya ”Cari theklek, Mas.............”










dulu temen saya di Malang kalo nyebut cewe, sego pincuk...ndableg tenan :p (Comment this)
kekekekek... (ngguyu dhewe)
dadi kelingan.... :P (Comment this)
puncak kebahagiaan "surga" dunia yang terpatri pada seorang putri impian sekaligus sebagai calon ibu pemilik "surga" di bawah telapak kaki.
nb : wessssssssssss keren tulisane :P (Comment this)
mirip critane Kiamat Sudah Dekat, dimulai juga dgn peris-
tiwa teklek diakhiri dgn resepsi...:) (Comment this)