ASAL USUL
Kawula dan Raja
Oleh: Mohamad Sobary
Sri Sultan Hamengku Buwana X, juru kunci Merapi, juru kunci Parangtritis, Adipati(Bupati) Bantul, dan para kawula “ Kadipaten” itu, dua minggu lalu berkumpul di tengah reruntuhan Wanakrama.

Raja, perangkat keraton, dan para kawula bertemu bukan untuk sesambat atau mengeluh tanda tak berdaya, melainkan untuk bangkit dari reruntuhan.
Apa yang sekarang hilang itu, asalnya dulu tidak ada. Maka, apa yang sudah tak adakemebali ke tak ada sesuai sunatullah. Tetapi, karena sejarah harus berlanjut dan Tuhan masih menyerahkan keberlanjutan ini di tangan manusia, maka muncullah tekad bersama: tekada kawula dan raja yang hari itu secara simbolis maupun riil menyatu raga, menyatu sukma, menegakkan kembali hidup dari awal.
Kawula dan raja-sperti ucapan penyair kita, Goenawan Mohamad-ibarat kata, “bersiap untuk kecewa, dan bersedih tanpa kata-kata”, karena sedih apalah gunanya. Hidup harus diisi dengan kerja.
Bangun lagi rumah rakyat seadanya dan semampunya, dengan corak dan warna lokal seperti dulunya. Bila suatu saat datang lagi gempa dan segalanya rusak lagi, maka tugas kitalah untuk memebangunnya kembali. Dan bila gempa datang lagi, kita wajib bangun lagi. Bangun lagi....
Emha Ainun Nadjib, dengan perangkat Kiai Kanjengnya, tampil dan memimpin jalannya pertemuan. Ia memberi kerangka serta kemudian memberinya isi, dan isi ini yang membuat-ibaratnya-ruh warga Bantul muncul kembali.
Bersihkan puing-puing. Singsingkan lengan baju. Dan pelan-pelan kita bangkit bersama. Dan bersihkan semua bendera partai dari seluruh tlatah Bantul. Tetapi, kibarkan Sang Saka Merah Putih. Hanya satu bendera itu boleh berkibar. Selebihnya, silakan kembali ke neraka.
Semua orang jengkel melihat orang-orang tak tahu malu, yang mengerek bender partai, bendera perusahaan, dan bendera-bendera kepentingan lain, berkibar-kibar di tengah derita rakyat dan reruntuhan rumah-rumah, toko, warung dan segenap milik mereka.
Emha menggenggam data tak menggembirakan. Dan berseru, kalau menolong, ya menolonglah, dengan ikhlas dan kita terima dengan ikhlas pula. Jangan sodorkankepentingan kalian, yang buruk bagi kami dan tak etis bagi siapapun. Bila di balik niat menolong itu tersembunyi kepentingan-kepentingan yang tak ada sangkut pautnya dengan derita kamanusiaan, lebih baik jangan menolong.
Jauhkan semua jenis kepentingan, juga kepentingan “mengagamakan” orang lain, yang kelihatannya bagus, maupun-dan apalagi-kepentingan dajjal, yang mengotori Bantul dan sekitarnya.
Pendek kata, kita meinta dijauhkan dari tangan-tangan dan hati yang-kata Ebiet G Ade-masih juga “tega berbuat nista”, dalam situasi semuram ini.
Dan rajapun, Sri Sultan Hemngku Buwana X, kemudian memberikan siraman hati yang duka itu dengan sikap empati dan pengertian yang dalam.
“ di tempat ini, dulu, leluhur Anda semua, juga leluhur saya, Sultan Agung, membangun. Maka, marilah kita memetik teladan itu untuk memberi kita kekuatan membangun kembali segenap milik kita yang hancur akibat gempa.

Kita diajak untuk ada tak ada bantuan, bangkit, mandiri. Dari Bantul kita membangun. Kalau pemerintah pusat memberi bantuan, ya kita terima, karena itu memang tugasnya.
Saya mendengarkan pidato demi pidato dengan gelisah, karena harus segera pulang ke Jakarta dengan pesawat yang tak mau tahu di bantul sedang ada apa. Idiom “dari Bantul untuk untuk Indonesia” itu membuat saya bangga. Saya mendengar jelas Emha memanggil-manggil lewat pengeras suara agar saya muncul, tetapi saya jawab dengan sms.
Saya sibuk merenungkan bencana. Ini bencana lokal, bukan nasional. Karena itu, bebaskan kami untuk bisa menanganinya dengan cara kami, dengan cita rasa kami.
Di tingkat nasional bencana lebih banyak dan tak tertangani. Kami tahu diri. Maka, Bantul tak boleh mengharap mereka terlibat terlalu jauh. Apalagi bila ingin menjadi aktor utama dan mendesak kami menjadi figuran. Tidak. Bantul bukan Aceh.
Sejak minggu sebelumnya, Ngarso Dalem sudah menyampaikan tekad bahwa disini tak akan dibenarkan hadirnya pemborong atau orang-orang yang membangun rumah tanpa koordinasi dengan pemda. Orang lain yang tak tahu kami dan tak paham akan apa yang enak dan nyaman menurut ukuran budaya kami, tak dibenar datang ke sini membangun rumah-rumah. Kegagalan di tempat lain tak perlu dijejalkan untuk menjadi kegagalan di tempat ini. Kami tak ingin menjadi ajang kegagalan.
Terus terang maaf, derita ini tak boleh “diproyekkan”. Derita tak boleh menjdai komoditas nasional dan internasional. Ini perlu ditegaskan karena sekarang banyak jiwa manusia yang sudah menjadi batu.
Gempa ya gempa. Derita ya derita. Ini kewajaran hidup. Suka duka itu pakaian jiwa. Semua ada faedahnya. Kebudayaan Jawa menyimpan banyak energi untuk bertahan dalam derita.

Gempa membikin kita berpikir lebih jauh akan makna hidup dan penyerahan, atau hidup dan kegigihan. Kita harus menyerah seperti apa, dan harus gigih seperti apa? Ini tiba-tiba menjadi pertanyaan ruwet.
Saya tak bisa mengukur kebesaran Allah itu seberapa dan seperti apa, tetapi saya bisa merasakan betapa kecil manusia yang merambat-rambat di kulit Bumi, bagai semut di jagat raya yang luas ini.
Maha besar Allah dengan segenap firman dan takdir-takdirNya, dalam kasih dan sayangNya, dalam teguran dan cubitanNya, yang tak juga kunjung kita mengerti kasihNya seperti apa, sayangNya seperti apa. Dan bagaimana pula ukuran maha pelindungNya? Kita tak punya ukuran.
Tuhan, dalam meomen kesatuan macam ini, pada saat kawula dan raja secara simbolik maupun nyata menyatu, dalam satu raga, satu jiwa, dimana rahasia berkah dan kasih sayangMu kau sembunyikan?
Tuhan, kami tak jemu meminta kepadaMu. Bila satu pintuMu Kau tutup, kami akan jongkok dengan wajah dan jiwa tunduk di depan pintuMu yang lain.
Di sini kami tetap mengetuk, seperti Chairil Anwar, “dan kamipun tak bisa berpaling”(dari mengharap rahmatMu).










Mat mampir Mas (Comment this)
Kalo bicara tentang orang2 yg masih tega punya maksud tertentu dengan dalih menolong memang selalu ada di setiap musibah, orang2 bertopeng yang benar2 gedhek mukanya, apalagi yang mengatas namakan agama dan partei, wah...hanya memperkeruh suasana.
Salut aku dengan ajakan bangkit bersama itu, memang nggak perlu nunggu, apalagi minta2 bantuan dari pemerintahan pusat yang sudah nyata2 terlihat mengkoordinir bantuan saja nggak becus.
(Comment this)