Rabu, Juli 05, 2006

IRONIS

SEPAK BOLA

Putaran semifinal Piala Dunia 2006 kembali dikejutkan dengan rontoknya tim raksasa unggulan yang sekaligus bertindak sebagai tuan rumah, Jerman. Di pertandingan yang menentukan tersebut secara mengejutkan, Jerman dilibas di menit-menit akhir babak kedua perpanjangan waktu. Tragis memang.

Mengiringi pertandingan Piala Dunia di Jerman, Griya Tembi Yogyakarta menyelenggarakan lomba pembuatan gambar komedi bertema "sepak bola yang semakin terpinggirkan". Negara sebesar Indonesia boleh jadi memiliki katakanlah 22 orang bibit unggul pesepak bola profesional. Namun harapan tersebut nampamknya hanya sekedar isapan jempol, mengingat di lingkungan kita betapa sulit menemukan ajang lapang untuk sekedar sepak-sepakan. Tata kota maupun tata lingkungan kita tidak mengapresiasi kebutuhan ruang publik berupa lapangan bola. Masih mending di dusunku waktu kecil dulu, masih ada tetangga yang memiliki pelataran rumah luas yang bisa dimaanfaatkan. kalaupun tidak di pelataran, kami biasa memanfaatkan lebaran pari atau ladang kering atau bahkan jalan dusun. Ironis memang, jika kita menginginkan negeri kita juga bisa unjuk gigi berlaga di pentas internasional tanpa fasilitas untuk menempa, minimalnya secara alamiah, anak negeri untuk mengasah bakat bolanya. Lain ladang memang lain belalang. Negeri kita seperti biasa selalu mempunyai kenginan muluk tanpa kemampuan memadai. Bangsa tak mau "jer basuki mawa bea" dalam hal ini.

Sepak Bola merupakan sebuah olahraga yang paling banyak digemari di planet bumi. Tidak kecuali Indonesia. Tahun 2006 ini ada peristiwa besar dalam dunia persepak bolaan. Di Jerman pada tanggal 9 Juni 2006 telah dibuka perhelatan akbar sepak bola “Piala Dunia.” Bersamaan waktunya, di Jakarta, tepatnya di Goethe Institut, sebuah lembaga Pendidikkan dan Kebudayaan di bawah Kedutaan Besar Jerman, diadakan pengumuman juara hasil lomba Komik Sepak Bola dengan tema “Yuk main Bola, tetapi di mana?”

Kenapa komik Sepak Bola? Menurut Bettina Radner, Director Information & Library Departement, dimaksudkan untuk ikut berpartisipasi memeriahkan Piala Dunia yang berlangsung di Jerman. Sedangkan tema yang diangkat untuk membidik ke-ironis-an yang terjadi pada olah raga sepak bola ini. Menurut Dinyah Latuconsina ketua panitia lomba, di Indonesia khususnya di Jakarta, arena yang tersedia untuk bermain sepak bola sangat terbatas. Sementara harapan pemerintah melalui Menteri Olahraga dan PSSI, disemarakan oleh club-club yang dibentuk dan di hidupi oleh perusahaan perusahaan swasta, mengharapkan sepak bola di Indonesia maju dan berprestasi. Ini kan sangat ironis. Bagaimana akan mendapatkan bibit-bibit yang baik, jika tidak ada tempat yang layak untuk bermain sepak bola?

Di antara 53 peserta lomba Komik Sepak Bola, dipilih 5 pemenang, meliputi Pemenang I, II, III, harapan I & II. Penyelenggara merasa puas, karena karya para pemenang dapat menampilkan apa yang diharapkan panitia tentang ironisme yang terjadi dalam dunia sepak bola.

Untuk Pemenang pertama, dengan judul “Lapangan Tanpa Batas” karya Herjaka. HS, dari Rumah Budaya Tembi Jogyakarta, dengan visualisasi wayang. Di dalam karyanya herjaka menangkap bahwa dunia sepak bola mempunyai makna luas, tidak sekedar apa yang tampak dan terjadi di lapangan hijau, tetapi dapat dibidik dari segi politik, budaya dan ekonomi. Dunia sepak bola merupakan pertarungan antara ke dua belah pihak. Pertarungan tersebut tidak hanya berlangsung di lapangan hijau, tetapi juga terjadi di luar lapangan.

Pada halaman pertama digambarkan pihak oposisi yang diwakili oleh Togog dan bilung membuat jebakan kepada lawannya, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Togog berhasil menjebak lawannya.

Bola yang ditendang Bagong dengan enaknya ditangkap oleh seorang Raksasa yang duduk santai di mulut gawang (halaman 2). Semar dan kelompoknya tidak berkutik, ketika bola itu tidak segera dilempar di lapangan.

Bahkan bola yang menjadi focus utama pertandingan sepak bola dilempar di keranjang, tempat anak raksasa sedang mandi bola (halaman 3).

Raksasa merupakan simbol kekuatan besar yang bermain dibelakang layar, untuk mencapai tujuan tertentu. Maka ketika raksasa ikut bermain, simbol bola di lapangan yang menjadi satu-satu focus sebuah permainan, dapat diubah fungsinya masuk keranjang “mandi bola” untuk sekedar memberi rasa senang.

Olah raga sepak bola memang dapat menembus batas. Tidak hanya terjadi di lapangan sepak bola, tetapi juga terjadi di luar lapangan, di setiap aspek kehidupan. Yuk Kita Main Bola, tetapi di mana? tempatnya sudah habis untuk pemukiman. Ya kita main sepak bola disetiap aspek kehidupan yang berjubel. (hjk)

Sumber: Griya Tembi

Posted by Nananging Jagad at 12:07:46 | Permanent Link | Comments (13) |
Komentar
1 - Yang ada di Indonesia tuh, sempak bola.
dan klo di Jerman adanya sepak ballack.
Sari Kang njiplak?????
hehehehehe............. (Comment this)

Ditulis oleh: Dhen Bagoese Ngarso at 2006/07/05 - 17:06:27
2 - anak-anak jaman sekarang main bolanya di PS... :) (Comment this)

Ditulis oleh: bagonk.net at 2006/07/05 - 19:08:36
profile
3 - Dhen Bagoese Ngarso, Wuaduh..... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/06 - 08:45:56 in reply to: 1
profile
4 - bagonk.net, Lha iya, itulah salah satu pelampiasannya. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/06 - 08:46:45 in reply to: 2
5 - Semoga kekalahan Jerman atas Italia tidak membuat Ballack cs down & kehilangan semangat juang saat melawan Portugal nanti untuk memperebutkan tempat ke-3. (Comment this)

Ditulis oleh: awi at 2006/07/06 - 11:25:23
6 - iso-isone gawe crito nganti okeh ngono ... :) (Comment this)

Ditulis oleh: bahtiar at 2006/07/06 - 11:26:20
7 - ironinya lagi, kebanyakan penonton bola sudah merasa berolah raga. padahal kan cuma nonton olah raga belum berolahraga beneran, hebat kan? (Comment this)

Ditulis oleh: ipoul_bangsari at 2006/07/06 - 15:03:44
8 - wong Indonesia isane agi Olah Mata... lek-lekan nganti isuk jago kluruk.. mangkat kantoran keturon neng ndalan.

mbareng weruh duit, baru raganya ikut ngolah....

lak mekaten to nggih....?? (Comment this)

Ditulis oleh: Mbah Dipo at 2006/07/06 - 23:09:25
profile
9 - Mbah Dipo, Inggih leres Mbah niku, ngendikane ngetrapaken "prinsip ekonomi" Mbah..... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/07 - 09:02:38 in reply to: 8
profile
10 - ipoul_bangsari, Namanya juga penonton, pasti merasa paling hebat dan paling bisa, biasa itu mah... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/07 - 09:04:09 in reply to: 7
profile
11 - bahtiar, Soal crita mah mbanyu mili Kang! (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/07 - 09:19:35 in reply to: 6
12 - Kehidupan memang bisa dianggap apa saja, bisa dianggap sebagai permainan ataupun gambling (judi), tergantung kito yang manjalankannyo...:) (Comment this)

Ditulis oleh: ulin at 2006/07/07 - 17:52:37
13 - aku seneng gambar pertama, asyik dab, hehehe (Comment this)

Ditulis oleh: Hedi at 2006/07/08 - 01:18:59
Tulis komentar