Senin, Juli 10, 2006

HUT KOPERASI

KEPRIHATINAN BU PRIHATIN...................

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya tulis, namun sepertinya Tuhan menahanku untuk menunggu waktu yang tepat guna mempostingya. Tanpa sadar dan kuketahui dengan pasti, ketika suatu malam takdir melangkahkan kakiku dan membawaku menghadiri suatu Gelar Budaya Koperasi di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 Juli 2006 kemarin. Baru kali ini saya tahu HUT Koperasi Indonesia ternyata jatuh pada tanggal 12 Juli. Acara tersebut menghadirkan beberapa tokoh budayawan, peneliti, pemerhati dan pelaku dunia perekonomian sektor marjinal. Realitas ternyata masih menggambarkan betapa masih suramnya nasib para pengusaha kecil golongan ekonomi lemah kita yang berusaha mengembangkan usahanya dengan bergabung, menggalang kekuatan melalui koperasi. Tulisan di bawah ini setidaknya merupakan salah satu gambaran betapa masih buramnya potret anggota koperasi yang dari hari ke hari belum terangkat juga kesejahteraannya, bahkan semakin terseok dan terlindas oleh era globalisasi yang semakin menyudutkan mereka menuju kematian usahanya.

        Sabtu, 27 Mei 2006, seiring dengan tersebarnya kabar terjadinya isu tsunami terkait dengan kejadian gempa bumi Jogja yang waktu itu aku rasakan juga goyangannya, aku meluncur dari Gandrungmanis menuju kota Cilacap untuk suatu keperluan. Sehabis angon ponakanku, kami sedikit plesiran menengok Pantai Teluk Penyu dan PPNC di sampingya yang dulu pernah kutinggali selama beberapa bulan. Setelah urusan kami di Cilacap selesai, dalam perjalanan pulang kami singgah di sebuah sanggar kerja pembuatan boneka di tepian Jalan Raya Cilacap – Wangon untuk sedikit kulakan karena kakakku memang seorang yang bakulan di Gandrung. Sanggar tersebut berada di Desa Tritih Lor Kecamatan Jeruk Legi, beberapa menit dari Bandara Tunggul Wulung.

Sanggar tersebut dikelola oleh sepasang suami istri setengah baya. Pada saat kedatangan kami, sang tuan rumah, sebutlah Ibu Prihatin menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami untuk melihat-lihat dan memilih boneka yang kami inginkan. Beraneka ragam dan ukuran boneka diproduksinya secara tradisional dengan mengandalkan tenaga beberapa karyawan yang juga merupkan tetangga Bu Prihatin.

Sambil kami memilih boneka yang dipesan, sedikit saya berkesempatan berbinsang dengan sang ibu. Beliau bercerita bahwa usahanya tersebut merupakan usaha yang dirintisnya sendiri sejak usia muda. Setelah sekian lama berusaha, sebenarnya pesanan semakin banyak dan berasal dari berbagi kota besar di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Semarang dan Jogjakarta. Terpaan badai krismon beberapa waktu yang lalu memang sempat dirasakan, namun usahanya masih dapat bertahan bahkan kemudian bangkit dan mulai berkembang. Di jaman Mega, bahan bakar minyak sempat dinaikkan beberapa kali dan hal itu membuat usahanya berjalan tersendat. Masa awal kepemimpinan SBY, dengan kenaikan BBM yang tinggi membuat usahanya seakan ngos-ngosan untuk sekedar bertahan dan kondisi tersebut berlangsung hingga kini.

        Pokok utama permasalahan yang dihadapi Bu Prihatin adalah langka dan mahalnya bahan dasar yang harus didatangkannya dari Bandung. Kemudian masalah berikutnya adalah sulitnya mencari, membina dan melakukan regenerasi tenaga kerja yang benar-benar bisa dididik trampil. Selama ini tenaga kerja yang dipekerjakan berasal dari daerah sekitar dan umumnya para remaja putri dan ibu-ibu muda. Tiga hal kendala yang dihadapi terkait dengan tenaga kerja ini. Pertama, tenaga kerja wanita yang lajang biasanya mengundurkan diri ketika memasuki jenjang perkawinan. Kedua, banyaknya terjadi eksodus tenaga kerja potensial yang memilih untuk mengadu nasib menjadi TKI di negeri orang karena tergiur oleh pendapatan yang lebih besar. Kendala berikutnya, tuntutan dari Pemda untuk menerapkan segala ketentuan perlindungan dan pemenuhan hak tenaga kerja seperti uang tunjangan, Jamsostek, pesangon dlsb, padahal menurutnya pekerjanya kebanyakan belum bisa memenuhi tuntutan perilaku sikap pegawai yang profesional seperti masalah disiplin jam masuk kerja yang sering tidak ditaati.

Di samping bercerita tentang permasalahan usahanya, Bu Prihatin juga merasa sedih dengan iklim usaha kecil khususnya pedagang yang semakin terdesak oleh para pemodal besar seperti maraknya jaringan Alfamart, Indomart, Hypermart dll. ”Pedagang kecil terdesak oleh ekspansi minimarket, sedangkan pasar tradisional kalah bersaing dengan supermarket dan mall”, ungkapnya. Dia mengisahkan dulu di jaman Pak Karno, pemerintah mempunyai kepentingan untuk melindungi ekonomi rakyatnya sehingga dibuat kebijakan pembatasan ruang gerak pedagang China hanya pada tingkat kota kabupaten. Dia mengusulkan agar para pedagang kecil saat ini untuk bersatu dalam menghadapi para pemilik modal besar, dengan cara mengajukan surat keberatan kepada bupati baik langsung maupun melalui Kadin untuk melakukan pembatasan pendirian minimarket di daerah tertentu, hal ini mengingat bahwa dengan adanya otonomi daerah maka Pemda Kabupaten atau Kotalah yang mempunyai banyak kewenangan untuk mengatur hal tersebut.

Isu globalisasi memang seringkali mengorbankan pertumbuhan usaha kecil dan menengah yang merupakan pilar utama perekonomian negara, sebagaimana telah terujinya usaha kecil dalam menghadapi badai krismon. Di sinilah sebenarnya peran pengambil kebijakan sangat menentukan. Apakah negara dan bangsa kita bisa berdikari dan mandiri sehingga mampu menjadi negara yang bermartabat di mata dunia? Apakah pemerintah cukup peka dan mendengar keluh kesah Bu Prihatin kita yang lain?Ampun pemerintah.....................

****************
Posted by Nananging Jagad at 09:11:19 | Permanent Link | Comments (11) |
Komentar
1 - ini hari apa? nganti lali dino dab... (Comment this)

Ditulis oleh: ipoul_bangsari at 2006/07/10 - 10:13:16
profile
2 - ipoul_bangsari, Arek yen wis sugih, kakehan duwit ngono kuwi....dina wae nganti lali. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/10 - 10:53:44 in reply to: 1
3 - ngerti-ngerti kok jum'at maning ... :( (Comment this)

Ditulis oleh: melu nge-lalli at 2006/07/10 - 12:08:58
4 - Negara kita memang perlu belajar untuk bersatu, tanpa itu selamanya kita tak akan maju, orang2 pada mentingin egonya sendiri2 , yang kaya makin kaya, yang miskin tambah kere.

 (Comment this)

Ditulis oleh: ely at 2006/07/10 - 20:16:26
profile
5 - ely, Yang miskin jangan bersediiiih, yang kaya jangan tinggi hati...memang kita sekarang berdiri sebagai bangsa yang tidak jelas kemana arah dan tujuannya, para penyelenggara negarapun tak jelas visi dan misinya, smoga Tuhan masih mengasihani kita... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/11 - 08:30:58 in reply to: 4
6 - "...tuntutan dari Pemda untuk menerapkan segala ketentuan perlindungan dan pemenuhan hak tenaga kerja seperti uang tunjangan, Jamsostek, pesangon dlsb, padahal menurutnya pekerjanya kebanyakan belum bisa memenuhi tuntutan perilaku sikap pegawai yang profesional..." --> ini nih yang kadang2 jadi dilema... :( (Comment this)

Ditulis oleh: bagonk.net at 2006/07/11 - 09:50:52
profile
7 - bagonk.net, Itulah, kembali lagi ke permasalahan hak dan kewajibannya. Dan kecenderungan sikap mental kita sekarang ini lebih mengutamakan hak di atas segala-galanya, ya to? Lak cilaka kuwi......... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/11 - 09:57:57 in reply to: 6
8 - yg repot lagi, ternyata koperasi juga tempat orang² buat korupsi...hikss...udah sulit bernafas masih diperes...nasib :( (Comment this)

Ditulis oleh: Hedi at 2006/07/12 - 13:04:32
profile
9 - Hedi, Bahkan ada juga korupsi unit desa....yo ra? (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/12 - 13:42:02 in reply to: 8
10 - Untuk lebih membantu industri kecil dan menengah, sebaiknya pemerintah harus menyalurkan produk2 dari industri tersebut ke luar negeri, tentunya dengan harga tinggi, sehingga mereka terbantu, produksi meningkat, keuntungan yang di dapat cukup besar sehingga permasalahan mahalnya bahan dasar dan tenaga kerja terselesaikan. (Comment this)

Ditulis oleh: ulin at 2006/07/12 - 15:24:10
profile
11 - ulin, mOga saja pemerintah peka dengan aspirasi wong cilik.... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/12 - 16:50:18 in reply to: 10
Tulis komentar