HUT KOPERASI
Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya tulis, namun sepertinya Tuhan menahanku untuk menunggu waktu yang tepat guna mempostingya. Tanpa sadar dan kuketahui dengan pasti, ketika suatu malam takdir melangkahkan kakiku dan membawaku menghadiri suatu Gelar Budaya Koperasi di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 Juli 2006 kemarin. Baru kali ini saya tahu HUT Koperasi Indonesia ternyata jatuh pada tanggal 12 Juli. Acara tersebut menghadirkan beberapa tokoh budayawan, peneliti, pemerhati dan pelaku dunia perekonomian sektor marjinal. Realitas ternyata masih menggambarkan betapa masih suramnya nasib para pengusaha kecil golongan ekonomi lemah kita yang berusaha mengembangkan usahanya dengan bergabung, menggalang kekuatan melalui koperasi. Tulisan di bawah ini setidaknya merupakan salah satu gambaran betapa masih buramnya potret anggota koperasi yang dari hari ke hari belum terangkat juga kesejahteraannya, bahkan semakin terseok dan terlindas oleh era globalisasi yang semakin menyudutkan mereka menuju kematian usahanya.
Sabtu, 27 Mei 2006, seiring dengan tersebarnya kabar terjadinya isu tsunami terkait dengan kejadian gempa bumi Jogja yang waktu itu aku rasakan juga goyangannya, aku meluncur dari Gandrungmanis menuju kota Cilacap untuk suatu keperluan. Sehabis angon ponakanku, kami sedikit plesiran menengok Pantai Teluk Penyu dan PPNC di sampingya yang dulu pernah kutinggali selama beberapa bulan. Setelah urusan kami di Cilacap selesai, dalam perjalanan pulang kami singgah di sebuah sanggar kerja pembuatan boneka di tepian Jalan Raya Cilacap – Wangon untuk sedikit kulakan karena kakakku memang seorang yang bakulan di Gandrung. Sanggar tersebut berada di Desa Tritih Lor Kecamatan Jeruk Legi, beberapa menit dari Bandara Tunggul Wulung.
Sanggar tersebut dikelola oleh sepasang suami istri setengah baya. Pada saat kedatangan kami, sang tuan rumah, sebutlah Ibu Prihatin menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami untuk melihat-lihat dan memilih boneka yang kami inginkan. Beraneka ragam dan ukuran boneka diproduksinya secara tradisional dengan mengandalkan tenaga beberapa karyawan yang juga merupkan tetangga Bu Prihatin.
Sambil kami memilih boneka yang dipesan, sedikit saya berkesempatan berbinsang dengan sang ibu. Beliau bercerita bahwa usahanya tersebut merupakan usaha yang dirintisnya sendiri sejak usia muda. Setelah sekian lama berusaha, sebenarnya pesanan semakin banyak dan berasal dari berbagi kota besar di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Semarang dan Jogjakarta. Terpaan badai krismon beberapa waktu yang lalu memang sempat dirasakan, namun usahanya masih dapat bertahan bahkan kemudian bangkit dan mulai berkembang. Di jaman Mega, bahan bakar minyak sempat dinaikkan beberapa kali dan hal itu membuat usahanya berjalan tersendat. Masa awal kepemimpinan SBY, dengan kenaikan BBM yang tinggi membuat usahanya seakan ngos-ngosan untuk sekedar bertahan dan kondisi tersebut berlangsung hingga kini.

Di samping bercerita tentang permasalahan usahanya, Bu Prihatin juga merasa sedih dengan iklim usaha kecil khususnya pedagang yang semakin terdesak oleh para pemodal besar seperti maraknya jaringan Alfamart, Indomart, Hypermart dll. ”Pedagang kecil terdesak oleh ekspansi minimarket, sedangkan pasar tradisional kalah bersaing dengan supermarket dan mall”, ungkapnya. Dia mengisahkan dulu di jaman Pak Karno, pemerintah mempunyai kepentingan untuk melindungi ekonomi rakyatnya sehingga dibuat kebijakan pembatasan ruang gerak pedagang China hanya pada tingkat kota kabupaten. Dia mengusulkan agar para pedagang kecil saat ini untuk bersatu dalam menghadapi para pemilik modal besar, dengan cara mengajukan surat keberatan kepada bupati baik langsung maupun melalui Kadin untuk melakukan pembatasan pendirian minimarket di daerah tertentu, hal ini mengingat bahwa dengan adanya otonomi daerah maka Pemda Kabupaten atau Kotalah yang mempunyai banyak kewenangan untuk mengatur hal tersebut.
Isu globalisasi memang seringkali mengorbankan pertumbuhan usaha kecil dan menengah yang merupakan pilar utama perekonomian negara, sebagaimana telah terujinya usaha kecil dalam menghadapi badai krismon. Di sinilah sebenarnya peran pengambil kebijakan sangat menentukan. Apakah negara dan bangsa kita bisa berdikari dan mandiri sehingga mampu menjadi negara yang bermartabat di mata dunia? Apakah pemerintah cukup peka dan mendengar keluh kesah Bu Prihatin kita yang lain?Ampun pemerintah.....................










(Comment this)