LEGENDA
DEGAN WAHYU
Legenda Ki Ageng Pemanahan
Sebuah cerita buat priyayi mBangsari
Sampai di rumah nDoro Sinyo, aku langsung disambut oleh kedua Romo lan Ibunya selayaknya “priyagung” dari “kuthagara”. Dengan keramahan khas mBangsari, mereka menyuguhkan air degan lengkap dengan uba rampenya kepadaku seraya berucap untuk calon “narendra” masa depan. Begitu mendengar ungkapan narendra aku terhenyak heran dan teringat akan legenda Ki Ageng Pemanahan pendiri dinasti Mataram.

Dengan pertimbangan agar sekali teguk air degan dapat habis maka Ki Ageng Giring menaruh degannya di pawon rumahnya untuk pergi ke ladang dengan maksud nanti setelah bekerja di ladang dan kehausan maka dia akan segera pulang dan menenggak habis air degannya.
Tanpa diduga sebelumya, tiba-tiba datanglah Ki Ageng Pemanahan mampir ingin menengok sahabat karibnya. Setibanya di depan rumah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan mendapati rumah sahabatnya kosong tanpa penghuni. Ia kemudian njujuk ke pawon dan mendapati sebuah degan yang ranum di sebuah babagran pawon sahabatnya. Ia berpikir mungkin sahabatnya sengaja menyediakan degan tersebut bagi sang tamu yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Tanpa berpikir panjang degan tersebut kemudian diboboknya untuk kemudian ditenggaknya sekali tenggak habis.
Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng Giring dari ladang. Ia langsung menuju pawon bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibobok orang dan isinya sudah habis. Ia keluar ke belakang rumah dan didapatinya sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai menikmati semilir angin di bawah waru doyong. “Adi Pemanahan? kapan tiba di gubugku ini Di?” tanyanya. “Baru saja Kakang, aku sekedar mampir setelah menengok Alas Mentaok atas perintah Kanjeng Sultan”,jawab Ki Ageng Pemanahan. “Dan Kakang, karena perjalanan jauh yang telah ketempuh tadi aku langsung njujug di pawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang” lanjut Pemanahan.
“Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat. “Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari”,ia menegaskan. Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini. Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikut nunut mukti.”
Pemanahan kemudian menjawab, “ Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa. Dan untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”.Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.
Kelak di kemudian hari terbuktilah oleh sejarah, Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama setelah keruntuhan Kerajaan Pajang. Dan setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwana I, kekuasaan berganti jalur setelah pusat pemerintahan baru berpindah ke Kartasura.










-=he509x™=- (Comment this)