Jumat, Juli 14, 2006

LEGENDA

DEGAN WAHYU

Legenda Ki Ageng Pemanahan

Sebuah cerita buat priyayi mBangsari

        Dengan sepeda motor, nDoro Sinyo menjemputku sore itu untuk kemudian mengglandangku dari Gandrung menengok istananya di nDalem mBangsari. Menurut riwayat mBangsari merupakan nama daerah yang diberikan oleh para pinisepuh, yang di kemudian hari desa tersebut secara resmi berganti menjadi Desa Bulaksari. Nama resmi desa jarang disebut oleh masyarakat setempat dibandingkan mBangsari, sebuah kontradiksi kearifan masyarakat lokal yang berusaha mempertahankan historis asal usul desanya dengan kebijakan pemerintah yang seringkali tidak bijak.

Sampai di rumah nDoro Sinyo, aku langsung disambut oleh kedua Romo lan Ibunya selayaknya “priyagung” dari “kuthagara”. Dengan keramahan khas mBangsari, mereka menyuguhkan air degan lengkap dengan uba rampenya kepadaku seraya berucap untuk calon “narendra” masa depan. Begitu mendengar ungkapan narendra aku terhenyak heran dan teringat akan legenda Ki Ageng Pemanahan pendiri dinasti Mataram.

         Alkisah di masa pemerintahan Kerajaan Pajang tersebutlah dua orang sahabat karib, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring terkenal sebagai seorang petani pertapa sekaligus penyadab nira kelapa yang hidup di tengah pegunungan selatan, sedangkan Ki Ageng Pemanahan merupakan abdi dalem Sultan Hadiwijoyo. Dalam satu pertapaannya Ki Ageng Giring mendapatkan ‘wahyu gagak emprit’ berwujud sebuah degan dimana barang siapa meminum air degan tersebut sekali tenggak maka anak turunnya akan menjadi raja-raja besar di tanah Jawa.

Dengan pertimbangan agar sekali teguk air degan dapat habis maka Ki Ageng Giring menaruh degannya di pawon rumahnya untuk pergi ke ladang dengan maksud nanti setelah bekerja di ladang dan kehausan maka dia akan segera pulang dan menenggak habis air degannya.

Tanpa diduga sebelumya, tiba-tiba datanglah Ki Ageng Pemanahan mampir ingin menengok sahabat karibnya. Setibanya di depan rumah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan mendapati rumah sahabatnya kosong tanpa penghuni. Ia kemudian njujuk ke pawon dan mendapati sebuah degan yang ranum di sebuah babagran pawon sahabatnya. Ia berpikir mungkin sahabatnya sengaja menyediakan degan tersebut bagi sang tamu yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Tanpa berpikir panjang degan tersebut kemudian diboboknya untuk kemudian ditenggaknya sekali tenggak habis.

Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng Giring dari ladang. Ia langsung menuju pawon bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibobok orang dan isinya sudah habis. Ia keluar ke belakang rumah dan didapatinya sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai menikmati semilir angin di bawah waru doyong. “Adi Pemanahan? kapan tiba di gubugku ini Di?” tanyanya. “Baru saja Kakang, aku sekedar mampir setelah menengok Alas Mentaok atas perintah Kanjeng Sultan”,jawab Ki Ageng Pemanahan. “Dan Kakang, karena perjalanan jauh yang telah ketempuh tadi aku langsung njujug di pawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang” lanjut Pemanahan.

“Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat. “Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari”,ia menegaskan. Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini. Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikut nunut mukti.”

Pemanahan kemudian menjawab, “ Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa. Dan untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”.Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.

Kelak di kemudian hari terbuktilah oleh sejarah, Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama setelah keruntuhan Kerajaan Pajang. Dan setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwana I, kekuasaan berganti jalur setelah pusat pemerintahan baru berpindah ke Kartasura.

Posted by Nananging Jagad at 16:22:18 | Permanent Link | Comments (10) |
Komentar
1 - wah berarti nanti setelah keturunan ketujuh, sampeyan harus ngasih jalan pada turunan priyayi mBangsari ya :D (Comment this)

Ditulis oleh: Hedi at 2006/07/14 - 18:24:07
2 - golek ‘wahyu gagak emprit’ aaaahh... :D (Comment this)

Ditulis oleh: tifoso at 2006/07/14 - 22:03:02
3 - cerita yang menarik, sering2 ya nulis seperti ini, jadi tambah IP tentang sejarah jawa. Kenapa bangsari dipanggil sinyo ya? memang matanya sipit? (Comment this)

Ditulis oleh: ely at 2006/07/15 - 23:12:01
profile
4 - Hedi, Ooo kalo itu sudah kita kompromikan kok Kang.... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/17 - 08:27:47 in reply to: 1
profile
5 - tifoso, Wahyu gagak emprit dalam era perubahan saat ini barangkali sudah menjelma ke bentuk fisik yang telah berevoliusi barangkali, sehingga kemungkinan tidak lagi berujud degan. Oleh karena itu perlu suatu reinterpretasi pemaknaan atas wahyu tsb.... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/17 - 08:31:25 in reply to: 2
profile
6 - ely, Nuwun Mbake atas dorongannya, mBangsari disebut nDoro Sinyo bukan karena masalah mata, wong matanya jelas mendolo mblalak-mblalak je.....disebut demikian karena penampakan kulit sinyo yang putih bule tanpa perawatan dan ramuan khusus sehingga kalo cewek nJakarta bingung pingin memutihkan kulit, priyayi yang satu ini malah bingung bagaimana menghitamkannya gitu, dan juga lebih terinspirasi pada romannya Romo Mangun yang burung manyar.... (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/17 - 08:36:15 in reply to: 3
7 - wong Bangsari seumur hidup ngombe degan. tapi kok ora ono sing dadi narendra? piye iki? (Comment this)

Ditulis oleh: ipoul_bangsari at 2006/07/17 - 09:26:50
profile
8 - ipoul_bangsari, Tenang ae...nanti setelah generasi ke tujuh kita rundingkan lagi. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/07/17 - 09:35:37 in reply to: 7
9 - wah berarti ....... denBaguse mBangsari lan masAnang mbesok bade nyaosi "BESANAN". Selamat deh !

-=he509x™=- (Comment this)

Ditulis oleh: MaNongAn at 2006/07/25 - 21:43:40
10 - La kalo muridnya ki ageng Giring itu siapa ya tolong kirim ke aan41geo@yahoo.com beritanya (Comment this)

Ditulis oleh: aan at 2008/01/08 - 21:59:18
Tulis komentar