RENUNGAN
SURUP: Bencana Tidak Mampu Mengubah Binatang Menjadi Manusia
Judul di atas diangkat menjadi tema pada suatu acara kajian rutin di Taman Ismail Marzuki pada Jum’at malam, 14 Juli 2006. Surup, waktu senja, merupakan suatu pertanda peralihan dari keadaan terang di siang hari menuju gelap di malam hari.

Bila seseorang memasuki era kegelapan, paling tidak terdapat dua kemungkinan keberlanjutan peradaban hidupnya. Pertama dengan sedikit harapan yang tersisa, melihat kondisi negara kita, barangkali dalam gelap malam tersebut akan muncul secercah sinar harapan sebagai pelita penuntun agar manusia tidak salah langkah dan mampu melewati malam dengan selamat hingga menuju fajar harapan baru. Ke dua, surup bisa juga dimaknai sebagai berakhirnya suatu peradaban manusia, bisa jadi berupa kiamat nashuha(sebagaimana pernah saya tuliskan).
Bang Ali Shahab seorang putra Betawi asli dan seorang sutradara kawakan yang pernah mengusung film serial Rumah Masa Depan pada kesempatan tersebut menyampaikan, “Bencana alam beruntun yang menimpa bangsa kita hanyalah merupakan bencana yang kecil, sedangkan bencana yang jauh lebih besar dan dahsyat dampaknya adalah bencana moral”. Bencana moral menurutnya sedikit banyak merupakan dampak negatif dari penayangan berita, informasi, sinetron dan film rendahan yang belakangan banyak diproduksi atas nama komersialisasi di berbagai media negri ini.
Dalam forum yang sama sebulan sebelumnya, bertepatan dua minggu pasca gempa Jogja, sempat terlempar satu keyakinan bahwa gempa yang terjadi di Bantul merupakan awal dari gempa-gempa berikutnya yang akan datang secara beruntun paling tidak sampai kurun waktu enam bulan ke depan.
Ternyata saudaraku, dua hari baru berlalu kami mendiskusikan ‘surup’, tsunami kembali menerjang pantai selatan Jawa dan merenggut korban(lagi) terutama di Pengandaran dan Cilacap Timur.
Belum hilang keterkejutan dan rasa shock kita, gempa kembali mengguncang ujung barat Jawa pada Rabu petang disertai dengan isu tsunami, meskipun tidak terbukti terjadi. Kabar tersebut cepat menyebar terutama melalaui siaran salah satu televisi swasta kita, bahkan saya yang pada waktu tersebut berada di Surabaya dan sedang dalam perjalanan kembali ke kota setelah mengantar ‘Bapak’ ke Juanda mendapatkan kabar dari seorang rekan di Jakarta.

Dua kejadian bencana beruntun di depan mata kita, dan korban nyawapun kembali melayang. Apakah hal tersebut ada hubungannya dengan mimpi kehilangan dua gigi depan saya Senin dini hari? Nyawa-nyawa hidup seakan sudah sangat tidak berharga di republik ini. Dimana-mana seakan akan alam sudah memusuhi kita.
Memang, jika kita sadar dan mau bercermin, apakah yang layak diberikan oleh Tuhan atas ‘setoran’ kita kepada-Nya? Bencana bahkan azab mungkin sudah sangat layak diberikan kepada bangsa kita. Hari ke hari, dari waktu ke waktu hanya maksiat dan tindakan bermoral rendah yang kita lakukan.
Manusia sudah kian terpuruk oleh perbuatannya hingga terperosok kepada kehinaan dunia binatang. Apakah tepat pengkambinghitaman tersebut? Kiai sesat mana yang mengajarkan binatang berwatak serakah? Binatang adalah makhluk yang berhenti makan ketika porsi kebutuhannya telah terpenuhi, dan mereka tidak berlebihan. Manusialah yang serakah. Manusia yang selalu lapar sehingga tidak mampu lagi membedakan makanan dengan triplek, mana empal mana aspal, mana madu mana batu. Semua ingin dimakannya. Itulah manusia.
Bencana yang sudah beruntun datang dan menjadi hidangan utama di meja makan kita, ternyata tidak pernah mampu menggerakkan hati nurani kita untuk kemudian sadar dan bangkit memperbaiki diri. Sampai kapan kita akan terpuruk di tengah peradaban global yang menggila ini?
Anugrah dan bencana adalah kehendaknya................kita harus tabah menghadapi. Barangkali sepenggal bait lagu Ebiet tersebut menjadi relevan kembali untuk direnungkan. Jangan ndablek rai gedhek..............
**********************










ada-ada saja orang-orang itu... :( (Comment this)
Foto2nya cantik2 banget, di pantai manakah? (Comment this)
eniwei, kejadian bencana beruntun di negri ini kok kayak pas jaman dulu kita ngeliat bangladesh yg bertubi2 kena bencana.... hmmmm ada apa....
ohyah, ku link yaa :) (Comment this)
Hmm pembahasan tentang Surupnya bagus...Hmm kita semua memang harus introspeksi diri...di 'tegur' sama yang di atas koq ngga sadar2 sih...sudah dikasih begitu banyak kenikmatan kok ngga puas2 ya...tapi itulah manusia ngga pernah puas...di'tegur' dulu baru puas...
Semoga teguran ini tanda Tuhan masih sayang sama kita, tanda bahwa Tuhan tidak ingin kita semakin bobrok, tanda Tuhan ingin kita menyadari kekhilafan kita dan memperbaikinya sebelum terlambat..Amin... (Comment this)
(TUHAN memang Maha Adil).
-=he509x™=- (Comment this)
aku pengen main ke sana tapi sampai sekarang belum kesampaian :) (Comment this)